Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~241


__ADS_3

"Aku menginginkan mu, apa boleh aku minta malam pertama kita sekarang ?" mohon Ricko dengan pandangan berhasrat.


Sedangkan Olive langsung memicing. "Bukannya ini malam kedua kita ?" ucapnya, mengingat bagaimana waktu itu mereka telah tidur bersama saat sama-sama mabuk.


Mendengar perkataan istrinya, Ricko nampak menelan salivanya. Hampir saja ia keceplosan, ia harus mencari alasan bisa-bisa malam pertamanya akan gagal lagi jika istrinya itu mengetahui kebohongannya.


"Maksudku malam pertama setelah pernikahan kita." tukasnya kemudian.


"Maafkan aku." Olive nampak mengiba, meski saat ini penampilannya sangat siap untuk di terjang oleh suaminya itu.


Gadis itu nampak memohon dengan wajah memelas hingga membuat hasrat Ricko menguar begitu saja.


"Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu siap." ucapnya dengan wajah kecewa, kemudian menarik selimut lalu menutupi tubuh polos istrinya tersebut.


Setelah itu ia berlalu pergi, namun saat mau melangkah Olive langsung memegang tangannya.


"Maafkan, aku." ucapnya sekali lagi dengan perasaan bersalah karena telah menolak keinginan suaminya.


Ricko tersenyum kemudian menunduk lalu mengecup kening istrinya itu.


"Aku akan mengatur jadwal bulan madu kita." ucapnya kemudian.


"Tapi...."


"Aku tidak suka penolakan, sayang." potong Ricko, setelah itu ia berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Melihat suaminya pergi, Olive nampak menyesal. "Aku juga menginginkan mu, tapi aku takut dengan hubungan yang belum jelas ini." gumamnya dalam hati.


Keesokan harinya....


"Pak Ricko sedang meeting, nona." tukas Olive saat melihat Sarah berjalan ke arahnya.


"Aku tidak sedang mencari Ricko, aku hanya ingin bertemu denganmu." sahut Sarah dengan ramah.


"Maaf kalau boleh tahu, ada apa ya nona ?" tanya Olive penasaran.


"Bisakah kita bicara sambil makan siang saja ?" ucapnya seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang kebetulan menunjukkan waktunya makan siang telah tiba.


"Hm, baiklah." Olive mengangguk setuju, kemudian ia segera mengambil tasnya.


Setelah itu mereka segera pergi ke Cafe seberang kantor tersebut.


"Jadi bagaimana hubunganmu dengan kak Dean? aku dengar dari tante Ariana kalian akan menikah ?" tanya Sarah sesampainya di Cafe.


"Saya belum memikirkan hal itu nona, jadi ada hal penting apa hingga membuat nona Sarah ingin menemui saya ?" tanya balik Olive, ia berharap wanita itu belum mengetahui hubungannya dengan Ricko.


"Kamu wanita yang to the point ya." tukas Sarah sembari terkekeh.


"Sebagai seorang asisten saya memang harus cepat tanggap, nona." tegas Olive.


"Baiklah, aku percaya itu. Kekasihku tidak mungkin merekrutmu kalau kamu tidak kompeten." sahut Sarah.


"Oh ya karena kita nanti akan menjadi keluarga, bisa kan kamu membantuku ?" mohon Sarah kemudian.


"Maksud anda ?" Olive nampak tak mengerti.

__ADS_1


"Aku mengenal Ricko sejak sekolah, bisa di bilang aku satu-satunya wanita yang dekat dengan dia dan kamu pasti bisa menebakkan seberapa dekat hubungan kami ?" tukas Sarah panjang lebar.


"Tentu saja kalian pasti sangat dekat." ujar Olive menanggapi, meski ia sedikit kecewa karena harusnya yang menjadi teman dekat Ricko dari kecil adalah dia.


"Tapi beberapa waktu lalu tiba-tiba Ricko ingin memutuskan pertunangan kami dan tentu saja aku menolaknya. Hanya aku satu-satunya wanita yang pantas bersamanya." ujar Sarah berapi-api.


"Kenapa bisa, bukannya pak Ricko sangat mencintai anda ?" pancing Olive kemudian.


"Dia tergoda dengan wanita lain." sahut Sarah.


"Benarkah ?" Olive jadi merasa bersalah.


"Wanita itu pasti bukan wanita baik-baik, wanita penggoda yang sudah membuat Ricko berpaling dariku." ucap Sarah dengan kesal.


Sedangkan Olive nampak menelan ludahnya, ingin sekali ia berteriak pada wanita itu jika dirinya bukan wanita penggoda.


Namun jika ia melakukan itu, bisa di pastikan Sarah akan langsung menerkamnya tanpa ampun.


"Jadi kamu mau kan membantuku ?" imbuh Sarah lagi dengan nada memohon.


"Saya tidak tahu harus membantu dalam hal apa, nona ?" Olive nampak tak mengerti.


"Tolong awasi kekasihku." sahut Sarah yang langsung membuat Olive lagi-lagi menelan salivanya.


"Sepertinya anda sangat mencintai pak Ricko, nona ?" tukas Olive.


"Tentu saja, siapa wanita yang tidak menyukainya selain tampan dia juga kaya." sahut Sarah.


"Hah ?" Olive langsung terperangah mendengar jawaban Sarah yang begitu jujur.


"Mak-maksudku sebagai seorang wanita kita tidak usah munafik, kamu atau semua wanita di dunia ini juga pasti sama sepertiku kan menginginkan seorang suami yang kaya dan tampan." sahut Sarah meralat perkataannnya.


"Tapi bukan berarti aku mempunyai suami miskin, paling tidak dia sederajat denganku." tukas Sarah.


Olive masih merasa tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Sarah, wanita cantik dan terhormat sepertinya ternyata sangat angkuh dan sombong.


Apa perangainya di depan Ricko dan keluarganya selama ini hanya kepalsuan belaka?


"Tapi bagaimana kalau pak Ricko tiba-tiba menjadi miskin, apa anda akan meninggalkannya ?" pancing Olive, ia jadi semakin tertarik mencari tahu sosok wanita itu.


"Itu tidak mungkin, dia pengusaha sukses dan kaya tujuh turunan." sahut Sarah.


"Tapi bukannya takdir bisa membolak-balikkan keadaan seseorang ?" Olive mencoba berargumen.


"yang jelas aku tidak bisa hidup miskin dan aku yakin Ricko tidak akan bangkrut." tegas Sarah yang langsung membuat Olive menghela napasnya, ia jadi semakin yakin untuk merebut Ricko dari wanita matre macam Sarah.


"Baiklah, kalau begitu apa yang bisa saya bantu ?" tanya Olive kemudian.


"Jadilah mata-mataku, laporkan semua kegiatannya terutama wanita yang dia temui." perintah Sarah.


"Baik." sahut Olive.


"Bagus, aku akan membayarmu mahal."


"Tidak perlu nona, saya ikhlas membantu anda." tolak Olive.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian tiba-tiba Ricko mendatangi mereka, setelah selesai meeting tadi pria itu tak mendapati istrinya di meja kerjanya.


Kemudian ia mencoba menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif, namun saat melihat mobilnya masih berada di tempat parkir ia tahu gadis itu pasti sedang makan siang di salah satu Cafe western seberang kantornya.


Lalu ia segera menyusulnya, namun saat melihat istrinya itu sedang bersama dengan Sarah ia nampak terkejut sekaligus khawatir.


"Sayang kamu kesini ?" Sarah terlihat bahagia saat Ricko mendatanginya.


Kemudian ia segera beranjak dari duduknya untuk memeluk laki-laki itu, namun Ricko langsung menghindar.


"Kenapa? biasanya kamu tidak pernah menolakku ?" tanya Sarah dengan kecewa.


"Sarah please, hubungan kita sudah berakhir. Harusnya kamu mengerti itu." tegas Ricko.


"Aku tidak mau sayang, aku tidak mau. Jika kamu meninggalkan ku aku akan mengakhiri hidupku." ancam Sarah dengan berderai air mata, kemudian ia mengambil gunting dari dalam tasnya untuk melukai dirinya namun Ricko langsung merebutnya.


"Kamu jangan gila, Sar." hardik Ricko seraya melemparkan gunting tersebut.


"Aku mencintaimu, ku mohon jangan tinggalkan aku." lirih Sarah yang kini dalam pelukan Ricko.


Ricko yang merasa tidak tega hanya bisa menenangkan wanita itu, bagaimana pun juga ia sangat menyayangi Sarah sebagai seorang sahabat.


Sedangkan Olive yang melihat itu nampak kecewa, namun ia mencoba berbesar hati.


Setelah itu diam-diam ia meninggalkan restoran tersebut meski belum sempat menyentuh makanannya.


Sepotong steak yang tadinya terlihat menggoda kini sedikitpun ia tak berselera.


Ia keluar dari restoran tersebut, lalu menyusuri jalan perkantorannya.


Kemudian ia duduk di kursi taman tak jauh dari kantornya tersebut, lalu airmata yang sedari tadi ia tahan kini mengalir deras.


"Kamu baik-baik saja, Nak ?"


Mendengar suara seseorang membuat Olive langsung mengangkat wajahnya.


"Nyonya ?" Olive nampak terkejut saat melihat Ariana sudah berada di hadapannya.


"Olive ?" Ariana pun terkejut saat gadis yang sedang duduk menunduk sambil terisak itu ternyata adalah Olive, sekretarisnya Ricko.


"Kamu baik-baik saja ?" tanya Ariana dengan khawatir.


"Saya baik-baik saja, nyonya." sahut Olive.


"Tapi kenapa kamu menangis? apa putra saya berlaku kasar padamu ?" tanya Ariana seraya duduk di samping gadis itu.


"Iya, putra anda mematahkan hati saya." teriak Olive dalam hati.


Kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Saya hanya rindu orangtua saya." dustanya.


Mendengar itu Ariana nampak berkaca-kaca, gadis itu mengingatkan pada dirinya sendiri.


"Ya aku mengerti, sebelumnya Dean sudah menceritakan segalanya. Kalau kamu sebatang kara, saya juga dulu seperti itu. Jadi saya tahu bagaimana rasanya." ucap Ariana lalu membawa Olive ke dalam pelukannya.


Mereka nampak cukup lama berpelukan, setelah merasa tenang kemudian Ariana mengurai pelukannya.

__ADS_1


"Menikahlah dengan Dean, kami pasti akan senang menerima kamu sebagai keluarga kami." bujuk Ariana.


Namun Olive langsung menggelengkan kepalanya. "Kenapa, apa sudah ada laki-laki lain yang kamu cintai ?" tanya Ariana kemudian.


__ADS_2