Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~150


__ADS_3

"Sampai kapanpun Mama tidak akan pernah merestui pernikahan kalian, Mama sangat kecewa padamu Ed. Karena kamu sudah membuang Sera wanita yang begitu baik dan lebih memilih wanita pembangkang itu." ujar Putri dengan nada kecewa.


"Dan buat kamu Dena, sebagai sesama wanita kamu benar-benar tidak mempunyai perasaan hingga tega melukai adik kamu sendiri." lanjutnya lagi seraya menatap tajam Dena.


Dena nampak terdiam karena saat ini ia tidak mempunyai bukti untuk membela diri, bahkan saat Edgar ingin membelanya Dena langsung menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau suaminya itu melawan kedua orangtuanya hanya karena dirinya.


Biarlah kali ini dia di hujat sedemikian rupa oleh keluarganya sendiri maupun keluarga suaminya, namun ia bersumpah suatu saat akan membungkam mulut mereka dengan kenyataan yang sebenarnya.


Setelah puas memojokkan Dena, mereka segera meninggalkan kamar tersebut dengan perasaan kecewa.


Sera yang masih belum menerima nampak terisak dalam pelukan ibunya, ia bersumpah akan membalas perbuatan Dena padanya.


Sementara itu Dena nampak enggan beranjak dari ranjangnya, selain karena moodnya yang berantakan. Miliknya di bawah saja juga masih terasa nyeri, sungguh suaminya itu tak pernah puas jika hanya bermain sekali.


"Kenapa melamun, hm ?" tanya Edgar saat laki-laki itu baru keluar dari kamar mandi.


Dena nampak mengangkat kepalanya menatap Edgar, kemudian ia menggelengkan kepalanya seraya mengulas senyumnya tipis.


Setelah itu Dena langsung membuang mukanya, saat Edgar yang hanya memakai handuk nampak berjalan ke arahnya.


"Maafkan orang tuaku ya, aku janji akan meyakinkan mereka agar bisa menerima mu." ucapnya saat mendekati istrinya.


"Aku nggak apa-apa kok, di musuhi bagiku sudah biasa." sahut Dena seraya mendongakkan kepalanya menatap Edgar yang sedang berdiri di hadapannya.


Edgar langsung duduk di sisi istrinya itu. "Mulai sekarang tidak akan ada yang berani memusuhi mu sayang, karena aku akan menjadi orang pertama yang membelamu." ucapnya sembari menggenggam tangan Dena.


"Terima kasih." sahut Dena dengan mengulas senyumnya.


"Kamu cepat ganti baju sana." lanjutnya lagi.


"Hm, sepertinya aku tidak memerlukan pakaian." sahut Edgar dengan kerlingan nakalnya.


"Pak Edgar jangan becanda, aku sangat lelah." protes Dena.


"Pak ?" Edgar memicing saat Dena masih menganggapnya sebagai atasannya sendiri.


"Sayang, ya sayang." sahut Dena dengan tersenyum nyengir.


"Astaga sayang kenapa kamu sangat menggemaskan sih, aku jadi ingin memakanmu." ucap Edgar menggoda.


"Jangan macam-macam, sayang. Aku sangat lelah." mohon Dena namun sepertinya suaminya itu tak mengindahkannya.


Laki-laki itu justru semakin merapatkan tubuh kekarnya. "Mendesah tidak akan membuatmu lelah sayang, kamu begitu nikmat bagaimana aku tidak ingin macam-macam." ucapnya dengan suara berat.

__ADS_1


Selanjutnya Dena hanya bisa pasrah saat laki-laki itu mengungkungnya kembali, menyentuhnya dengan lembut hingga membuatnya mengerang tak karuan.


Suaminya yang biasanya bersikap dingin ini tiba-tiba saja jadi sangat mesum, sepertinya ia harus mulai menyiapkan tenaga ekstra untuk itu.


"Jangan menyuruhku untuk berhenti sayang, karena kamu sangat nikmat." ucap Edgar di tengah hentakan tubuhnya memasuki istrinya itu.


"Aku sangat bersyukur mantan suamimu itu berselingkuh dengan Sera, karena hanya aku satu-satunya laki-laki yang akan menyentuhmu seperti ini." lanjutnya lagi yang langsung membuat Dena menatapnya heran.


"Bukannya kamu pernah mencintai Sera ?" tanya Dena, namun kemudian ia terpekik saat Edgar menghujamnya dengan dalam.


"Sayang, pelan." protes Dena.


"Aku tidak pernah mencintainya, hanya kamu yang ku cintai Dena Winata." tegas Edgar seraya mempercepat hentakan tubuhnya hingga membuat Dena tak bisa berkata-kata lagi karena selanjutnya hanya suara erangan yang keluar dari bibirnya.


Sampai pada puncaknya mereka nampak saling berpelukan dengan tubuh basah karena peluh keringat, setelah itu Edgar segera melepaskan miliknya lalu berguling di samping sang istri yang nampak kelelahan.


"Terima kasih." ucapnya seraya mengecup dahinya dengan sayang.


Setelah itu Dena nampak memunggungi suaminya, tidur sebentar sepertinya akan lebih baik. Pikirnya.


"Sayang." panggil Edgar saat Dena mulai memejamkan matanya, Edgar nampak memperhatikan punggung istrinya yang terbuka itu dengan seksama.


"Aku mengantuk sayang, tolong biarkan aku tidur sebentar." mohon Dena, ia tak pernah mengira suaminya itu begitu menginginkan dirinya dan jika ia menanggapinya bisa jadi mereka akan melakukan pertempuran lagi.


"Hmm, apa ?" sahut Dena dengan mata terpejam.


"Siapa yang melakukan ini ?" tanya Edgar seraya meraba punggungnya yang langsung membuat Dena membuka matanya.


"Apa kamu akan percaya jika aku mengatakan siapa yang melakukannya ?" lirih Dena.


Sedangkan Edgar yang penasaran langsung membalik tubuh Dena agar menghadap ke arahnya.


"Aku akan selalu mempercayai mu sayang, sekarang katakan siapa yang melakukannya ?" desak Edgar.


"Sera." sahut Dena menatap lekat Edgar.


"Sera ?" Edgar rasanya tidak percaya Sera bisa melakukan itu semua.


"Dari dulu Sera selalu menginginkan apa yang menjadi milikku, karena sikapnya itu membuat Mama Sita selalu menyiksaku jika aku tak mau mengalah dan Papa tidak pernah mempercayaiku jika aku mengadu." sahut Dena dengan mata berkaca-kaca.


Edgar langsung membawa istrinya itu ke dalam pelukannya. "Sudah tidak apa-apa, aku akan selalu melindungimu." ucapnya menenangkan.


"Mungkin suatu saat aku akan membalas perbuatan mereka satu persatu." ucap Dena dengan nada dingin dan itu langsung membuat Edgar mengurai pelukannya lalu menatap wajah sang istri.

__ADS_1


"Sayang aku tahu ini mungkin menyakitkan bagimu, tapi bisakan kamu mulai belajar melupakan semuanya? ada aku yang akan selalu melindungimu dan aku akan mencarikan dokter terbaik agar bisa menghapus bekas-bekas luka di tubuhmu." mohon Edgar, kemudian membawa istrinya itu ke dalam pelukannya kembali.


"Aku ingin kamu melupakan semuanya, ayo kita mulai hidup baru bersama Elkan. Aku janji akan selalu membahagiakan kalian." lanjutnya lagi.


Mendengar ucapan sang suami, Dena nampak tersenyum sinis dalam pelukan laki-laki itu.


"Kamu tidak pernah mengalaminya Ed jadi kamu gampang mengatakan itu, kamu orang baik aku tahu itu tapi maaf aku tak sebaik kamu. Mungkin bekas luka akan hilang dengan operasi tapi rasa trauma ku akan selalu ada sampai kapanpun."


Dena nampak kecewa dengan perkataan suaminya itu, tapi ia harus bisa tahan diri untuk saat ini karena ia masih memerlukan laki-laki itu untuk memuluskan rencananya.


"Sepertinya berendam air hangat akan membuatmu lebih rileks, sayang." ucap Edgar seraya beranjak dari tidurnya lalu dengan sekali hentakan ia membawa istrinya itu ke dalam gendongannya hingga membuat Dena terpekik kaget.


Kemudian Edgar membawanya ke dalam kamar mandi lalu meletakkannya dengan pelan ke dalam bathup.


"Mau ku temani, hmm ?" ucapnya lagi.


Dena mengulas senyumnya lalu menggelengkan kepalanya. "Aku sangat lelah." lirihnya yang langsung membuat Edgar terkekeh.


"Maaf ya." ucap Edgar merasa bersalah karena dari semalam sudah membuat istrinya itu kelelahan.


Setelah membersihkan dirinya Edgar segera meninggalkan sang istri, membiarkan wanita itu berendam.


"Jun, mulai saat ini siapkan beberapa orang untuk menjaga istriku. Aku tidak ingin Sera atau ibunya mengganggunya lagi dan carikan dokter bedah plastik terbaik." perintahnya saat menghubungi asistennya tersebut.


"Baik tuan." sahut Juno patuh dari ujung telepon.


Beberapa hari setelah itu, Edgar membawa Dena dan juga Elkan menempati sebuah rumah yang ia beli khusus untuk keluarga kecilnya itu.


Ia ingin membuat Dena nyaman dan merasa terlindungi dengan begitu ia yakin rasa trauma wanita itu perlahan akan sembuh.


Sungguh ia sangat mencintai istrinya itu dan ia tidak ingin wanita itu berlarut-larut berada dalam kebencian, Edgar percaya dengan sebuah karma dan Sera serta ibunya suatu saat pasti akan mendapatkan karmanya.


"Tuan, nyonya Dena telah menarik uang dengan jumlah yang sangat besar." ucap Juno siang itu.


Sudah dua hari ini Edgar dan Juno melakukan perjalanan bisnis ke Singapura, ia terpaksa meninggalkan wanita yang baru beberapa hari lalu itu menjadi istrinya.


Edgar hanya menanggapinya dengan biasa, mungkin istrinya itu ingin berbelanja pikirnya.


"Dan hari ini beliau melakukan perjalanan ke Jerman bersama Elkan dan juga bik mina." ucap Juno lagi yang langsung membuat Edgar melotot tak percaya.


"Apa ?"


.

__ADS_1


Maaf ya guys baru nongol beberapa hari ini Othor benar-benar sibuk, semoga nanti sore bisa up lagi 😁😁


__ADS_2