
"Apa kamu yakin menemukan ini di kamar nyonya Dena ?" tanya Juno saat ia mengunjungi Villa yang di tempati Dena beberapa waktu lalu.
"Benar tuan, waktu itu saya menemukannya di kamar nyonya Dena saat sedang bersih-bersih. Lalu saya diam-diam menyimpannya, namun saya tidak mempunyai waktu yang tepat untuk memberikannya pada anda." sahut seorang pelayan kepercayaan keluarga Edgar tersebut.
"Baiklah, terima kasih."
Kemudian Juno langsung membawa obat pencegah kehamilan milik Dena pergi, setelah ini ia harus menyelidikinya lebih lanjut.
Setelah mendapat informasi dari orang suruhannya bahwa Dena pernah mengunjungi sebuah klinik obgyn beberapa hari yang lalu, Juno langsung pergi mengeceknya dan benar saja ternyata nyonya mudanya itu saat ini sedang hamil muda.
Hari itu juga Juno segera terbang ke Singapura untuk memberitahukan pada Edgar, sebelum laki-laki itu mengurus perceraiannya ke pengadilan melalui pengacaranya.
Sementara itu Dena yang memutuskan untuk memperjuangkan cintanya, pagi itu setelah menitipkan sang Putra pada mertuanya ia segera berangkat ke Singapura.
Ia ingin meminta maaf pada suaminya karena sebelumnya telah memanfaatkan pernikahannya, ia tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya karena telah membuat anak-anaknya besar tanpa seorang ayah.
Untuk itu ia menerima tawaran ayah mertuanya untuk mengurus proyeknya yang sedang bermasalah di Singapura sekaligus untuk menemui suaminya itu.
Setelah sampai di Singapura, ia segera menuju sebuah gedung perkantoran tempat di adakan meeting siang itu.
Ia akan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum menemui suaminya di Apartemennya.
Sebelumnya ia mendapatkan kabar dari sang ayah mertua, jika Edgar akhir-akhir ini kurang sehat. Jadi laki-laki itu lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam Apartemen daripada di kantornya.
"Maaf Bu, sedang mencari siapa ?" tanya seorang resepsionis saat Dena baru masuk ke dalam kantor tersebut, sepertinya karyawan itu tidak mengetahui siapa Dena karena sebelumnya sang ayahlah yang sering mengunjungi kantor ini.
"Saya Dena Winata, perwakilan dari perusahaan Winata. Hari ini saya ada jadwal meeting dengan para investor di kantor ini." sahut Dena dengan tersenyum ramah.
"Oh Maaf Bu, saya tidak tahu jika anda istri tuan Edgar. Mari saya tunjukkan tempat meetingnya." resepsionis tersebut langsung mengajak Dena menuju sebuah ruangan meeting di sana.
Saat pintu baru di buka, Dena nampak sedikit terkejut ternyata ruangan tersebut sudah di penuhi oleh peserta meeting yang berjumlah sekitar sepuluh orang.
Dena langsung menundukkan kepalanya dengan hormat saat mereka menyapanya, setelah itu ia segera menuju tempat duduk yang sudah tersedia atas nama perusahaannya.
Namun Dena lebih terkejut lagi saat apa yang dia lihat di seberangnya itu, ternyata suaminya juga berada di sana.
__ADS_1
Laki-laki itu nampak duduk bersama dengan seorang wanita cantik dan dewasa yang terlihat akrab dengannya, sesekali wanita itu nampak tertawa kecil di sela obrolannya.
Edgar yang mengetahui kehadiran Dena di ruangan tersebut nampak menatapnya datar, laki-laki itu seakan menganggap biasa kehadiran istrinya itu.
"Aku pikir dia sakit ternyata asyik-asyikan sama wanita lain, sialan." umpat Dena dalam hati, secepat itukah laki-laki itu move on bahkan sidang perceraian mereka saja belum di mulai.
"Selamat datang nyonya Dena, suatu kehormatan bagi kami bisa bekerja sama dengan sepasang suami istri yang ternyata adalah dua pimpinan dari perusahaan besar." sapa salah satu investor di sana.
"Terima kasih, tuan. Meski kami suami istri tapi kami selalu profesional jika berhubungan dengan pekerjaan." sahut Dena dengan ramah, senyumnya nampak indah karena polesan lipstik merah di bibirnya itu.
Edgar yang melihat itu nampak mengepalkan tangannya, ia tidak suka jika wajah cantik istrinya di nikmati oleh pria lain.
Apalagi beberapa investor tersebut nampak begitu tertarik dengan Dena, istrinya itu yang terlihat tegas dan lugas dalam berbicara membuat para lelaki itu enggan mengalihkan pandangannya.
Masalah perusahaan yang sebelumnya alot kini perlahan menemui titik terang, setelah Dena memberikan beberapa masukannya dan di terima dengan baik oleh mereka.
"Baiklah kita semua sepakat untuk melanjutkan proyek ini, anda sangat beruntung tuan Ed karena memiliki istri yang hebat dan juga cantik seperti nyonya Dena." ucap salah satu dari mereka memuji Dena.
"Terima kasih, tuan." sahut Edgar.
Ia juga ingin memastikan apa masih layak pernikahannya untuk di perjuangkan atau di lepaskan.
"Jadi kamu istrinya Edgar ?" sapa wanita itu yang sepertinya enggan beranjak dari sisih suaminya, tatapannya nampak tak ramah pada Dena.
"Dena Winata." Dena mengulurkan tangannya dengan tersenyum ramah, ia berusaha tak terprovokasi dengan wanita itu meski sepanjang meeting tadi wanita itu terlihat sekali tertarik dengan suaminya.
"Maya." wanita yang bernama Maya itu langsung menyambut jabat tangan Dena.
"Senang bertemu anda, anda bukan sekretarisnya suami saya kan ?" ucap Dena dengan menekankan kata suami, seakan mengingatkan pada wanita itu jika saat ini Edgar masih menjadi suaminya.
Mendengar ucapan Dena, Maya langsung tertawa kecil dan terdengar seperti sebuah ledekan.
"Apa penampilan saya seperti seorang sekretaris ?" ucapnya kemudian.
Dena nampak mengedikkan bahunya. "Saya tidak pernah memperhatikan penampilan seseorang." sahut Dena masih dengan mengulas senyumnya meski hatinya saat ini sedang panas.
__ADS_1
Apalagi saat menatap suaminya yang hanya diam saja seakan pembicaraan dirinya dengan wanita di sampingnya itu hanya basa basi sesama wanita.
"Aku sahabatnya Edgar waktu kuliah dulu, kami lama tidak bertemu dan ternyata perusahaan kami juga sedang mengadakan kerja sama." ucap Maya menjelaskan.
"Oh sahabat lama? atau mantan kekasih yang ingin menjalin hubungan kembali ?"
Dena nampak tersenyum sinis, namun ia harus menahan emosinya.
"Ed, bagaimana dengan makan siang kita. Kamu tadi bilang kan akan makan siang bersamaku ?" ucap Maya pada Edgar kemudian.
"Kamu juga bisa ikut gabung dengan kami." ucapnya lagi seraya menatap Dena.
Sedangkan Dena hanya mengulas senyumnya tipis, ternyata wanita itu benar-benar tidak menghargainya sebagai istrinya Edgar.
Bagaimana bisa dengan terang-terangan dia mengajak suaminya makan bersama di depannya.
Ternyata seorang penggoda tidak hanya harus cantik, tapi juga harus berani dan tak tahu malu. Baiklah dirinya juga bisa menjadi penggoda bagi suaminya sendiri.
"Sayang, bukannya kamu tadi janji akan mengajakku jalan-jalan di sini ?" ucap Dena dengan nada manja seraya menatap Edgar, biasanya suaminya itu tidak bisa menolaknya jika dirinya sudah bersikap manja seperti ini.
Edgar yang terkejut dengan sikap Dena yang sebelumnya ia perkirakan akan bersikap dingin padanya, ternyata wanita itu justru menunjukkan sikap sebaliknya.
Benarkah wanita itu sedang cemburu saat ini, memikirkan itu Edgar mendadak senang.
"Astaga aku lupa sayang, maaf ya May sepertinya lain kali saja kita makan siangnya." ucap Edgar kemudian.
Mendengar penolakan Edgar, Maya terlihat kesal namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah itu ia segera pamit meninggalkan kantor tersebut dengan kesal.
Kini di ruang rapat tersebut hanya tinggal Dena dan Edgar saja, mereka yang sedang duduk berseberangan nampak saling bertatapan.
"Ck, belum juga bercerai sudah secepat itu cari pengganti." cibir Dena kesal seraya bangkit dari duduknya dengan membawa beberapa berkas di tangannya.
Edgar yang melihat istrinya akan pergi, ia segera beranjak lalu mendekati wanita itu.
Posisi Dena yang masih berdiri di antara dua kursi membuatnya kesulitan untuk menghindar saat Edgar tiba-tiba memepet dirinya.
__ADS_1
"Kamu bertingkah seperti ini seolah sedang cemburu saja ?" ucap Edgar seraya menatap istrinya itu dari dekat.