
"Benarkan ternyata mbak Ariana, saya pikir salah orang. Tadi kenapa tiba-tiba pergi saat Nina panggil ?" ucap Nina setelah berada di meja Ariana.
"A-aku tadi buru-buru, kamu kerja di sini sekarang ?" sahut Ariana.
"Cuma part time kok mbak, setelah ini lanjut di tempat biasa." sahut Nina nampak senang bertemu dengan teman lamanya itu yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri.
"Lama tidak bertemu, mbak Ariana sudah hamil aja." lanjutnya lagi.
"Ya begitulah, kamu bagaimana kabarnya ?" tanya Ariana.
"Seperti biasa mbak pagi sampai siang part time disini, sorenya di karaoke lanjut malamnya di club." ucap Nina dengan mengulas senyum cerianya dan itu yang membuat Ariana menyukai gadis itu selain polos Nina juga tak gengsian dengan pekerjaannya.
"Kamu masih bertahan di club itu juga ?" tanya Ariana.
"Ya mau gimana lagi mbak, namanya juga tulang punggung keluarga kan harus bekerja keras dan bersemangat." sahut Nina tanpa beban padahal hidupnya penuh sekali dengan beban.
Diam-diam Victor memperhatikan gadis yang kini berdiri tak jauh di hadapannya itu, ada poin plus menurutnya dari gadis itu yaitu pekerja keras dan nampak cantik alami dengan polesan make up tipisnya.
Kemudian ia nampak mengangkat sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman tipis, namun mengingat pekerjaan gadis itu ia langsung memasang wajah dinginnya kembali.
"Loh anda yang menjemput Ricko kapan hari kan ?" tanya Nina saat melihat Victor yang sedang duduk di hadapannya.
"Jadi kalian sudah pernah bertemu sebelumnya ?" tanya Ariana penasaran.
"Sekali saja, waktu aku mau ke karaoke karena kangen Ricko jadi aku mampir ke sekolahnya." sahut Nina.
"Bagus kalau begitu, itu berarti kalian berjodoh." ucap Ariana dengan kesimpulannya sendiri yang langsung membuat Nina dan Victor menolak bersamaan.
"Tidak." sahut mereka berdua.
"Nah kan, dari jawaban kalian saja sudah kompak. Pasti kalian berjodoh." ucap Ariana memaksa dan itu membuat Demian geleng-geleng kepala menatap sang istri.
"Berjodoh dengan kenebo kering ini mbak? saya nggak mau mbak. Mending jomblo deh seumur hidup." tolak Nina yang langsung membuat Victor melotot menatapnya.
"Kenapa begitu? Victor ganteng loh." bujuk Ariana namun itu justru membuat Demian protes padanya.
"Aku tidak suka kamu memuji laki-laki lain, sayang. Bagaimana pun juga aku lebih tampan dari Victor." protes Demian.
"Diamlah mas, jangan kacaukan usahaku." sela Ariana seraya menatap tajam suaminya.
"Keterlaluan kamu sayang, tunggu hukumanmu di rumah." Demian rasanya tak suka di abaikan seperti ini.
"Tenang saja, aku yang di atas nanti." ucap Ariana setengah berbisik namun masih terdengar oleh Victor dan Nina.
__ADS_1
"Baiklah, sambil duduk di sofa sepertinya lebih asyik." sahut Demian menanggapinya.
"Hah, itu mah enak di kamu mas bisa langsung kenyang." protes Ariana.
"Biarin saja, akan ku habisi sampai tak bersisa." sahut Demian seraya menatap milik sang istri yang nampak semakin membesar meski di balut oleh dress tertutup.
Sedangkan Victor dan Nina nampak melotot sekaligus menelan ludahnya bulat-bulat saat mendengar perdebatan tak berfaedah pasangan mesra di depannya tersebut.
Bagaimana tidak, mereka yang pemula harus rela mendengarkan kata-kata yang membuat badannya panas dingin membayangkan.
Ehmmm
Nina dan Victor nampak kompak berdehem yang langsung membuat Ariana menyudahi perdebatannya.
"Jadi mau pesan makanan apa ini ?" tanya Nina mengalihkan pembicaraannya.
"Tunggu sebentar, aku belum selesai denganmu Nina." ujar Ariana.
"Apalagi toh mbak, dekat-dekat dengan mbak lama-lama otak suciku terkontaminasi." sahut Nina bernada sindiran namun itu justru membuat Victor berdecak pelan.
"Sok suci." gumam Victor.
"Apa tuan, bilang ?" Nina menatap tajam Victor.
"Urusan kita belum selesai Nina, kamu belum jelasin kenapa kamu tidak menyukai Victor." desak Ariana.
Nina nampak menghela napasnya, sabar Nina.
"Bagaimana saya menyukai tuan ini mbak, lihat wajahnya kaku tak berekspresi seperti kanebo kering. Sama saja saya pacaran sama pohon." sahut Nina yang langsung membuat Demian tertawa nyaring.
Oh astaga Nina cari mati kamu, lihatlah wajah Victor sekarang seakan ingin menerkamnya.
"Astaga Victor sepertinya setelah ini kamu harus sering-sering ikut senam tertawa agar wajahmu tidak seperti kanebo kering lagi." ledek Demian.
"Terima kasih tuan atas pujiannya." sahut Victor lagi-lagi tanpa ekspresi.
"Baiklah, sepertinya usahaku gagal. Aku juga tidak mungkin memaksamu kalau kamu tidak suka." ujar Ariana dengan mimik sedih yang di buat-buat, hingga membuat Nina jadi merasa tidak enak.
"Bukan begitu mbak, hatikan tidak bisa di paksa." ucap Nina jujur namun itu justru membuat Victor merasa di tolak mentah-mentah.
Diam-diam laki-laki itu mengepalkan tangannya, Ariana yang melihat itu nampak bersorak dalam hati.
"Kena kamu, Nina." gumam Ariana, ia yakin meski Victor tidak menyukai Nina tapi laki-laki itu pantang di injak harga dirinya.
__ADS_1
Pasti setelah ini laki-laki itu akan mengejar Nina bagaimana pun caranya dan Ariana yakin setelah mengenal kepribadian Nina, Victor akan menyukainya.
"Baiklah ayo pesan makanan, bayi-bayi kacangku sudah sangat lapar." ujar Ariana kemudian.
Setelah itu mereka segera memesan makan siangnya, karena jam istirahat kantor juga akan usai.
Hari itu setelah Ariana menceritakan semuanya tentang ibu dan ayah mertuanya yang kini tak berada di rumah, Demian memutuskan pulang lebih awal.
"Besok lagi di lanjutin mas, tidur yuk." Ariana yang baru masuk ke dalam kamarnya setelah menemani Ricko tidur, langsung berbaring di sebelah suaminya yang nampak sedang sibuk memeriksa pekerjaan di ipadnya.
"Sebentar lagi, sayang. Kamu tidur duluan ya." sahut Demian dengan pandangan masih mengarah pada layar monitornya.
Ariana mencebikkan bibirnya, akhir-akhir ini suaminya itu sangat dingin di ranjang. Padahal sebelumnya sehari tak mendapatkan jatahnya sudah kelimpungan.
"Ada apa dengan dirimu, Mas." gumam Ariana.
Ternyata hukuman yang di ucapkan laki-laki itu tadi siang hanya bualan semata, lihatlah Ariana yang sengaja memakai gaun seksi sama sekali tak di liriknya.
Apa suaminya itu mulai tak selera padanya karena perubahan tubuhnya yang mulai membesar di mana-mana? entahlah, tapi karena hormon kehamilan yang sedang naik-naiknya membuat Ariana sangat menginginkan suaminya saat ini.
"Mau kemana sayang ?" tanya Demian ketika melihat sang istri beranjak lagi dari ranjangnya.
"Aku gerah mas." sahut Ariana seraya berjalan menuju lemari pendingin di sudut kamarnya.
Ariana yang akhir-akhir ini selalu merasa kegerahan akibat kehamilannya, ia selalu mengkonsumsi air dingin.
Sedangkan Demian yang menatap sang istri dari belakang nampak mendesah kasar, ingin sekali ia menerkam wanita itu tapi ucapan Dinda tempo hari membuatnya menahan hasratnya meski sangat menyakitkan baginya.
Apalagi melihat Ariana yang sedang meneguk air mineral tak jauh di hadapannya, terlihat begitu menggoda untuk ia sentuh.
Demian nampak meraup wajahnya dengan kasar apalagi kini istrinya itu nampak menanggalkan pakaiannya kemudian melangkah ke dalam kamar mandi.
"Sayang, kamu mau kemana ?" tanya Demian.
"Minum air tak membuatku merasa lebih baik, jadi sepertinya mandi saja." sahut Ariana jujur, akhir-akhir ini dia memang sering sekali mandi.
Demian yang sudah tak kuat menahan hasratnya, ia langsung beranjak dari duduknya lalu meraih tangan sang istri yang akan masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu menggodaku, sayang." ucapnya, kemudian langsung dilum😘tnya bibir sang istri dengan lembut tapi sedikit menuntut.
.
Tahan masih pagi wkwkwk, btw apa yang sudah di omongin Dinda ya hingga membuat Demian enggan menyentuh istrinya.
__ADS_1