Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~243


__ADS_3

Keesokan harinya....


Ricko nampak mengerjapkan matanya saat mendengar notifikasi di ponselnya berkali-kali.


Bukannya segera mengambil ponselnya diatas nakas, pria itu justru terkekeh saat melihat sang istri yang masih berada di pelukannya.


Bayangan percintaannya semalam langsung memenuhi pikirannya, ia merasa bangga karena menjadi orang yang pertama untuk wanita itu.


"Terima kasih, sayang." gumamnya lalu mengecup puncak kepala istrinya itu dengan gemas.


Lalu mengusap lembut bahu polos wanita itu dengan lembut, namun itu justru memancing gairahnya.


"Bangunlah, sayang. aku menginginkan mu." bisiknya tepat di telinga Olive, namun wanita itu sama sekali tak bergeming.


Semalam Olive sangat kelelahan setelah melayani hasrat suaminya yang tak berkesudahan itu, kemudian ia langsung tertidur hingga kini.


Melihat istrinya yang sama sekali tak berkutik, Ricko nampak mengecupi bahunya. Bahkan ia tak segan menggigitnya dengan lembut hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.


Namun sepertinya wanita itu masih berada di alam mimpi, hingga tak membuatnya bergeming dari tidurnya.


Beberapa saat kemudian ponsel Ricko berdering dengan nyaring, lalu ia segera mengambilnya diatas nakas.


Ia menyesal kenapa semalam tak mematikan ponselnya, ia sudah berencana libur kerja hari ini dan akan menghabiskan waktunya bersama istrinya di rumah.


"Om Sony ?" gumamnya saat melihat siapa yang menghubunginya pagi-pagi seperti ini.


Kemudian ia segera menjawab panggilan tersebut. "Ya Om, ada apa ?" ucapnya.


"Rick, Sarah sedang di rumah sakit. Dari kemarin dia tidak mau makan bahkan ia mengancam akan bunuh diri jika kamu tak datang." mohon Sony, ayahnya Sarah.


"Bagaimana keadaan Sarah, Om ?" tanya Ricko memastikan.


"Buruk, cepatlah kemari." perintah Sony kemudian.


"Baiklah, saya akan segera kesana." sahut Ricko.


Ia nampak menghela napas panjangnya setelah menutup panggilannya.


"Maafkan aku." gumamnya seraya menatap Olive yang masih tertidur.


Kemudian dengan pelan ia memindahkan kepala Olive ke atas bantal, lalu membenarkan selimutnya.


Setelah itu Ricko bergegas ke kamar mandi, sepertinya pria itu mandi dengan kilat. Karena tidak sampai lima belas menit sudah nampak rapi dengan pakaian kerjanya.


"Istirahatlah, sayang. Kamu pasti sangat kelelahan." gumamnya saat menatap Istrinya yang masih terlelap di atas ranjangnya.


Kemudian ia mengecup keningnya lalu mengecup bibir tipisnya, setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan unit Apartemennya.


Setelah mendengar pintu tertutup, Olive nampak membuka matanya. Terlihat buliran bening membasahi pipinya.


Sebenarnya ia sudah bangun sedari tadi, namun ia enggan untuk membuka matanya.

__ADS_1


Ia tahu suaminya itu sedang berhasrat padanya, tapi sungguh ia masih sangat kelelahan bahkan miliknya di bawah sana masih terasa perih.


Mengingat Ricko semalam memasukinya berkali-kali hingga membuatnya tak berdaya di buatnya.


"Sampai kapan nona Sarah akan menjadi bayang-bayang hubungan kita, maaf sungguh aku tidak sanggup menjalani ini semua." gumamnya sembari terisak.


Kemudian dengan sisa-sisa tenaganya yang terkumpul, Olive nampak beranjak dari ranjangnya. Namun ia terkejut saat melihat bercak darah di atas seprei.


Ternyata sebelumnya Ricko telah membohonginya jika mereka sudah tidur bersama hingga terjadilah pernikahan mereka.


"Licik sekali kamu, Rick." gumamnya, meski ia tidak menyesal telah menikah dengan Ricko tapi ia tak membenarkan cara laki-laki itu.


Kemudian ia berlalu ke kamar mandi meski miliknya di bawah sana terasa perih, bahkan tubuhnya juga terasa remuk semua.


Tiga puluh menit kemudian, Olive nampak sudah rapi dengan pakaian casualnya. Celana jeans panjang dan sweater rajut.


Ia segera mengambil kopernya lalu memasukkan semua pakaiannya, ia sudah memutuskan untuk meninggalkan Ricko sampai laki-laki itu bisa membuat keputusan.


"Maafkan aku." gumamnya sembari meletakkan sebuah kertas berisi tulisan tangannya di atas nakas.


Kemudian ia segera meninggalkan Apartemennya tersebut sebelum Ricko datang.


Sementara itu Ricko yang baru tiba di rumah sakit langsung menuju kamar perawatan Sarah.


Wanita itu nampak terbaring di brankar dengan jarum infus menancap di punggung tangannya.


"Sayang, akhirnya kamu datang juga." Sarah langsung memeluk Ricko saat laki-laki itu mendekatinya.


"Kamu kenapa, Sar ?" tanya Ricko kemudian.


"Aku tidak mau putus dengan mu Rick, ku mohon beri aku kesempatan." iba Sarah.


"Kamu tidak bisa menyiksa dirimu seperti ini Sar, karena keputusan ku sudah bulat. Tolong ingat perjanjian kita dulu, dari awal aku tidak pernah menginginkan pertunangan ini tapi kamu yang memaksa dengan segala cara." tukas Ricko mencoba memberi pengertian.


"Tapi kamu bilang akan berusaha mencintaiku kan? lagipula apa kurangnya aku Rick, bahkan kamu bilang aku mirip dengan mendiang gadis kecil sahabatmu itu. Lalu kenapa kamu tidak mencoba untuk membuka hatimu untukku ?" Sarah nampak berapi-api.


"Karena kamu bukan dia." sela Ricko dengan sedikit meninggikan oktaf suaranya.


"Tapi dia sudah meninggal Rick dan aku bisa menggantikannya kalau kamu mau." potong Sarah dengan kesal.


"Dia memang sudah tiada, tapi dia tetap berada di sini di hatiku, di hati Mommy, Daddy dan Oma Opa. Dia tidak akan terganti dan ku mohon hentikan semua ini Sar, kamu tidak pernah mencintaiku tapi kamu hanya terobsesi padaku." tukas Ricko kemudian.


"Aku mencintaimu Rick, ku mohon tinggalkan wanita sialan itu. Dia pasti wanita j@l@ngkan yang rela membuka pakaiannya di hadapanmu. Kalau kamu mau aku juga bisa melakukannya untukmu." sahut Sarah seraya mencoba membuka pakaiannya, namun Ricko langsung menghentikannya.


"Hentikan, Sar. Lebih baik kita sudahi semuanya." ucapnya dengan geram, sungguh ia tidak terima jika istrinya itu di katai yang tidak-tidak oleh wanita itu.


"Tidak, aku tidak mau Rick. Jika kamu pergi aku akan bunuh diri." ancam Sarah yang membuat Ricko semakin geram.


Pria itu nampak mengeraskan rahangnya lalu menatap wanita itu dengan tajam.


"Meski kamu bunuh diri pun aku tidak akan peduli Sar dan hentikan semua sandiwaramu ini, kamu pikir aku bisa tertipu dengan sakitmu yang pura-pura ini." hardiknya hingga membuat Sarah menelan ludahnya.

__ADS_1


"Satu lagi kami sudah menikah dan tolong jangan ganggu aku lagi." tegasnya lagi seraya menunjukkan cincin pernikahan di jari manisnya.


Kemudian ia segera berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan geram.


Sebelumnya Ricko telah mencari tahu keadaan Sarah pada dokter yang menangani wanita itu dan siapa sangka ternyata Sarah sudah merencanakan semuanya untuk membohongi dirinya.


Ia bersyukur telah memiliki saham di rumah sakit tersebut, hingga dengan mudahnya ia menangani seorang dokter yang bekerja sama dengan Sarah.


Ricko akui dirinya memang terlalu berperasaan, ia selalu tidak tega dengan kelemahan orang lain. Namun ia tidak menyangka Sarah justru memanfaatkan kelemahannya itu.


Sesampainya di Apartemennya, Ricko langsung membuka pintu unitnya. Hampir dua jam ia meninggalkan istrinya itu, ia berharap wanita itu masih terlelap.


Namun saat membuka pintu kamarnya, ia langsung terkejut saat melihat kamarnya nampak sepi.


"Sayang, apa kamu di dalam ?" teriaknya sembari mengetuk pintu kamar mandi, tapi hingga beberapa kali ia mengetuk tak ada sahutan dari dalam.


"Sayang." panggilnya lagi.


Karena penasaran sekaligus tak sabar, Ricko segera memutar kenop pintu tersebut lalu membukanya.


Deg!!


Ricko langsung panik saat tak melihat istrinya di dalam sana, kemudian ia mencarinya di setiap sudut Apartemennya tersebut.


"Sayang ?" teriaknya namun sosok yang ia cari itu tidak kunjung muncul.


"Dimana kamu, sayang ?" Ricko nampak menghela napas panjangnya.


Kemudian pandangannya tak sengaja melihat kertas di atas nakas, kemudian ia mengambilnya lalu membacanya.


"Sayang, maaf untuk sementara waktu aku ingin sendiri. Aku akan memberikan mu waktu satu bulan untuk memantapkan hatimu, denganku atau nona Sarah. Jika kamu memilihku tolong selesaikan hubunganmu dengan nona Sarah dahulu, namun jika kamu memilih nona Sarah. Sungguh aku sangat ikhlas, aku akan menganggap hubungan singkat kita sebagai kenangan yang terindah dalam hidupku."


"Astaga sayang apa yang kamu lakukan, bahkan aku sudah mengakhiri semuanya dengan Sarah."


Ricko nampak mer3m@s kertas tersebut dengan kuat, kemudian ia menghantam dinding di belakangnya itu dengan keras.


"Aaarrgghh apa yang sudah ku lakukan padamu." rutuknya dengan menyesal.


Tangannya nampak mengalir darah segar karena hantamannya ke dinding tadi, namun ia tak peduli.


Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju walk in closet di mana pakaian istrinya itu biasa di simpan, namun lemari disana sudah terlihat kosong.


"Ternyata kamu benar-benar meninggalkan ku, sayang."


Ricko nampak menyesal, sungguh ia sangat terlambat mengambil tindakan. Namun saat ia akan pergi meninggalkan ruangan tersebut, kakinya tak sengaja menginjak sesuatu.


"Apa ini ?" gumamnya seraya memungut sebuah kalung di lantai.


"Ini..." Ricko nampak terkejut saat melihat kalung tersebut.


Sebuah kalung dengan leontin setengah hati yang di tengahnya nampak terukir dua buah huruf 'OR'.

__ADS_1


"Olive ?"


__ADS_2