
Flash back 2 tahun yang lalu
"Nggak, aku nggak bisa di giniin. Enak saja, sudah mengambil kesucianku lalu kabur begitu saja. Memang kak Dean mau menikahi wanita yang nggak suci lagi."
Olive nampak menggerutu kesal saat baru saja di cerai oleh suaminya melalui pesan singkat.
Setelah mengusap air matanya yang membasahi pipi, ia bergegas merapikan pakaiannya lalu segera pergi ke Bandara.
Kali ini ia tidak pulang Apartemennya, melainkan ke rumah mertuanya sekaligus ayah angkatnya tersebut.
Dari balik gerbang pagar, Olive nampak menatap Rumah mewah tiga lantai tersebut, dimana sang ayah angkatnya itu kini tinggal.
Beberapa waktu yang lalu, ia pernah sekali di ajak oleh Dean ke rumah tersebut untuk makan malam bersama.
"Mencari siapa mbak ?" sapa seorang security saat melihat Olive berdiri di depan gerbang.
"Saya mencari Daddy, eh maksud saya tuan Demian." sahut Olive.
"Apa anda sudah membuat janji ?" tanya Security itu lagi.
Namun Olive langsung menggelengkan kepalanya, ia tidak membuat janji. Tapi ia datang kemari selain ingin mencari Ricko ia juga ingin membuktikan perkataan suaminya itu jika Demian sedang menunggu kepulangannya.
"Saya tidak bisa membukakan pintu jika mbak tidak ada janji, jadi tolong pergi dari sini." usir Security tersebut.
"Tapi pak, ini sangat penting." mohon Olive.
"Silakan pergi mbak atau saya usir paksa dari sini." perintah Security itu lagi dengan nada tegas dan sedikit membentak.
"Baik." Olive terlihat kecewa namun ia juga tidak ingin memaksakan kehendaknya, bagaimana pun setiap rumah pasti mempunyai aturan.
Setelah itu ia segera berlalu dari sana, namun ia nampak terkejut saat melihat sebuah mobil berhenti di depannya.
"Olive." panggil seorang pria yang tak lain adalah Dean, Dean baru saja pulang dari Jerman saat Demian menyuruhnya untuk pulang.
"Kak Dean ?" Olive nampak berkaca-kaca menatap pria itu, seakan ingin sekali mengatakan bagaimana hancurnya perasaannya saat ini.
"Kenapa di sini? kamu baik-baik saja ?" tanya Dean setelah berjalan mendekatinya.
Sedangkan Olive nampak menggelengkan kepalanya lalu mulai terisak.
"Astaga, kamu kenapa ?" Dean langsung membawa Olive ke dalam pelukannya.
"Ayo masuk ke dalam." ucapnya kemudian, setelah gadis itu mulai tenang.
"Pak kenapa tidak menyuruh dia untuk masuk ?" tegur Dean pada securitynya.
"Maaf pak, saya tidak tahu jika mbak ini temannya bapak." Security tersebut nampak bersalah.
"Dia bukan teman saya, tapi dia nona besar di rumah ini mengerti." tegur Dean lagi yang langsung membuat sang Security semakin bersalah.
__ADS_1
Begitu juga dengan Olive, ia mendadak termangu dengan ucapan Dean. Namun ia tidak bisa mengartikan perkataannya.
"Baiklah, ayo masuk." ajak Dean kemudian.
Setelah masuk ke dalam rumah tersebut, Demian yang sedang membaca surat kabar langsung beranjak dari duduknya saat melihat kedatangan Olive.
"Olive, Olive gadis kecilku ?" ucapnya tak percaya, ya beberapa hari yang lalu Ricko telah mengatakan kebenarannya jika Olive adalah gadis kecil yang mereka anggap telah tiada selama ini.
"Dad..." Olive nampak berkaca-kaca menatap ayahnya tersebut.
"Iya sayang, ini Daddy." Demian langsung mendatangi Olive lalu membawanya ke dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu sayang, Daddy tidak percaya kalau kamu masih hidup." Setelah mengurai pelukannya, Demian nampak menangkup kedua pipi Olive yang penuh dengan air mata.
Demian masih tak percaya, ia memandang Olive dengan dalam. Lalu membawanya kembali ke dalam pelukannya.
Beberapa saat kemudian mereka nampak berkumpul di ruang keluarga.
"Aku akan menghubungi Ricko agar tidak melanjutkan perjalanannya ke Amerika." tegas Demian yang terlihat geram setelah Olive menceritakan hubungannya dengan Ricko.
"Dasar anak kurang ajar, tidak bertanggung jawab." geramnya lagi, namun Dean langsung menenangkan.
"Ricko tidak sepenuhnya bersalah, dia melakukannya demi aku. Dia seharusnya membicarakannya dulu padaku, bukan kabur seperti ini. Kalau aku tahu mereka saling mencintai, aku juga pasti akan mundur." kali ini Dean yang menimpali.
"Baiklah, terima kasih Dean. Tolong hubungi Ricko sekarang, aku rasa dia masih transit di Singapura." perintah Demian kemudian.
"Tidak perlu kak, biarkan saja dia pergi. Itu berarti dia tidak sepenuhnya mencintaiku." tukasnya.
"Tapi Olive, bukannya kalian sudah menikah ?" bujuk Dean.
"Aku tidak masalah kok, sudah ada kalian di sini bersamaku. Aku sudah sangat bahagia, aku yakin jika kami berjodoh Tuhan akan menyatukan kami suatu saat nanti." tukas Olive dengan menahan air matanya, sungguh hatinya terasa sangat sesak.
"Maafkan Ricko ya, sayang." Ariana yang merasa bersalah langsung membawa Olive ke dalam pelukannya.
"Maafkan Mommy, Nak. Maafkan Mommy." imbuhnya lagi dengan tangisan penyesalan.
Flash back off
Olive nampak mengusap lelehan air matanya saat mengingat kejadian dua tahun silam itu.
Seandainya ia dulu mengizinkan Dean untuk menghubungi Ricko, mungkin saat ini mereka sudah bersama.
Namun Olive sangat kecewa dengan sikap Ricko yang sama sekali tak menghiraukan perasaannya dan pergi begitu saja.
Saat ia akan beranjak dari duduknya, tiba-tiba ia terkejut oleh kedatangan Ricko di ambang pintunya dengan membawa sebuah bantal dan selimut.
"Kamu mau ngapain ?" tanyanya dengan mengerutkan keningnya.
"AC di kamarku rusak, apa boleh aku numpang tidur di sini ?" sahut Ricko dengan wajah mengiba.
__ADS_1
"Apa ?" Olive langsung memicing menatapnya.
"Mana mungkin rusak, sejak kamu pergi AC mu tidak pernah di gunakan jadi bagaimana mungkin secepat itu rusak." sungut Olive.
"Aku bersumpah AC ku tidak mau menyala, apa kamu mau bantu mengeceknya ?" tukas Ricko lagi-lagi dengan nada memohon.
"Tentu saja, awas saja kalau kamu bohong." Olive segera berlalu keluar dari kamarnya, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Ricko dan tentu saja di ikuti oleh pria itu di belakangnya dengan wajah menahan tawa.
Karena sebelumnya ia sudah memotong kabel Acnya dan ia berharap rencananya akan berhasil untuk mendekati mantan istrinya itu lagi.
"Kok bisa nggak mau hidup sih." gerutu Olive saat menghidupkan AC di kamar Ricko.
"Benarkan rusak." tukas Ricko.
"Tapi ACnya tidak pernah di pakai, jadi bagaimana bisa rusak." sergah Olive masih belum percaya.
"Justru karena lama tidak di pakai, makanya cepat rusak." kilah Ricko.
"Tapi kan kamu tidak juga harus tidur di kamarku ?" protes Olive.
"Lalu aku tidur di mana ?"
"Di ruang tamu." sungut Olive.
"Tapi ruang tamunya belum di bersihkan, pasti banyak debunya dan tidak mungkin juga aku menyuruh bibi. Mereka pasti sudah istirahat." ucap Ricko beralasan.
"Pokoknya jangan tidur di kamar ku, enak saja." keukeh Olive menolak.
"Ya udah aku tidur di kamar kak Dean saja." sahut Ricko sembari melirik ke arah Olive, kemudian ia segera melangkahkan kakinya.
"Apa, di kamar kak Dean? nggak bisa, Ricko pasti akan melihat barang-barangnya kak Diana di sana."
Olive yakin Ricko belum mengetahui sandiwaranya, karena laki-laki itu sejak kedatangannya tadi sore bersikap biasa saja.
"Tunggu !!" teriak Olive kemudian, hingga membuat Ricko yang berada di ambang pintu langsung berbalik badan lalu menatapnya.
"Apalagi, aku sudah mengantuk." keluh Ricko.
"Kamar kak Dean pasti belum di bersihkan juga, jadi kamu boleh malam ini tidur di kamarku." tukas Olive yang langsung membuat Ricko melotot tak percaya.
Ingin rasanya ia bersorak, namun ia harus berakting sealami mungkin.
"Apa, aku tidak dengar ?" ucapnya.
"Kamu boleh tidur di kamarku." sahut Olive nyaring, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Ricko yang masih nampak tercengang.
"Yes."
Ricko nampak mengepalkan tangannya lalu meninju udara karena saking senangnya.
__ADS_1