Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~103


__ADS_3

"Kamu pasti sangat merindukannya ya, Mas ?" ucap Ariana setelah Demian mematikan panggilan dari Olive.


Bocah kecil itu nampak mengabarkan pada Demian kalau ia sedang berlibur bersama kedua orangtuanya di Australia.


Sejak Monica bercerai dari Demian, wanita itu memutuskan menikah lagi dengan kekasihnya dan membawa serta Olive tinggal bersamanya di luar kota.


"Nggak apa-apa dia sudah bahagia dengan ayah kandungnya, lagipula sudah ada kalian dan dua calon bayi kita." sahut Demian seraya menatap wajah istrinya kemudian beralih menatap sang putra dari kaca spion depannya.


"Kalau kamu mau, Olive boleh kok tinggal bersama kita. Aku pasti akan menganggapnya seperti putriku sendiri." tawar Ariana yang langsung membuat Demian menatapnya.


"Kamu serius, sayang ?" ucapnya kemudian.


"Hm." Ariana menganggukkan kepalanya.


"Kenapa tidak, bukannya kamu menginginkan rumah kita ramai akan anak kecil. Sepertinya akan seru jika keluarga kita kedatangan anggota keluarga lagi seperti Olive." lanjutnya lagi.


"Dan Dean tentunya." imbuhnya dalam hati.


"Baiklah nanti akan ku kabari dia, tapi aku nggak yakin kalau Monica mengizinkannya." sahut Demian.


"Kamu senangkan sayang ada teman ?" tanya Ariana seraya menoleh pada putranya tersebut.


"Hm, lumayan ada teman berantem." sahut Ricko.


"Sayang, Olive itu saudaramu." tegur Ariana.


"Iya Mom, iya." sahut Ricko lagi.


Sedangkan Demian nampak terkekeh mendengar perdebatan ibu dan anak itu.


"Terima kasih, sayang. Kamu memang istriku yang paling baik." Demian langsung menggenggam tangan istrinya lalu mengecupnya.


Sedangkan Ricko nampak menatap datar jalanan dari dalam mobilnya, entah apa yang sedang bocah kecil itu pikirkan.


Sementara itu sudah beberapa hari sejak pertemuan terakhirnya dengan Nina waktu itu, Victor tak pernah bertemu lagi dengan gadis itu.


Ia tidak mau lagi terlalu kepo pada kehidupan gadis itu atau wanita manapun, baginya semua wanita hanya meresahkan dan mengacaukan pekerjaannya saja.


"Vic, nanti kamu gantikan saya meeting dengan klien kita yang dari Thailand itu, karena nanti malam saya harus mengantar istri ke dokter." perintah Demian.


"Baik, tuan." sahut Victor.


"Tadi beliau mengkonfirmasikan akan mengganti tempatnya di Club malam saja." lanjut Demian.


"Harus di tempat seperti itu, tuan ?"

__ADS_1


"Ya mau gimana lagi." Demian hanya mengedikkan bahunya.


"Club malam lagi."


Victor mendesah pelan, beberapa hari ini sebisa mungkin ia menghindari tempat itu tapi sepertinya keadaan tak mendukungnya.


Semoga saja nanti disana dia tidak bertemu lagi dengan gadis itu, bagaimana pun juga tipe wanita idamannya selama ini adalah wanita alim dan rumahan. Dia yakin cepat atau lambat pasti akan menemukan wanita seperti itu.


"Kamu ada masalah ?" tanya Demian saat melihat Victor tak bersemangat.


"Tidak, tuan. Saya baik-baik saja." sahut Victor.


"Baiklah, kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu lagi." perintah Demian kemudian.


Malam harinya setelah melakukan meeting hingga tengah malam di sebuah ruangan VIP di club tersebut, Victor memutuskan untuk segera pulang.


Namun saat melewati bar, matanya tak sengaja melihat Nina yang berada tak jauh darinya nampak di ganggu oleh beberapa pria di sana.


"Bukan urusanku, lagipula mungkin itu sudah biasa buat wanita itu. Sok suci, paling ujung-ujungnya juga berakhir di ranjang."


Victor berusaha untuk tidak peduli, ia langsung saja melangkahkan kakinya pergi. Namun baru beberapa langkah ia mendengar teriakan kesakitan seseorang.


Lalu ia berbalik badan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Tuan, bukannya tadi sudah saya katakan, saya hanya pelayan di sini jadi jangan memaksa saya untuk menemani anda." tegas Nina.


"Memang kamu tidak mau uang banyak hah? aku tahu kamu orang miskin pasti membutuhkan uang kan? jadi ayo layani kami. Kami akan membuatmu mendesah keenakan sepanjang malam." ucap pria itu lagi yang langsung membuat Nina geram dan langsung menghajarnya.


Dan sekejap kemudian pria itu tergeletak tak berdaya di atas lantai dengan wajah penuh lebam.


"Pelayan sialan, apa kamu ingin mendekam di penjara karena berani melukai teman kami hah ?" ucap salah satu teman pria gempal tadi.


"Saya hanya membela diri." bela Nina tak takut.


"Sekarang kamu ikut kami atau kami akan membawamu ke kantor polisi." ancam laki-laki itu.


Bukannya takut Nina justru tersenyum mengejek.


"Baiklah, kalau begitu ayo ke kantor polisi." tantang Nina kemudian yang langsung membuat pengunjung yang ada di sana nampak terkejut begitu juga dengan Victor.


"Menarik, besar juga nyalinya." gumam Victor, ia kini mendudukkan dirinya kembali di kursinya tanpa berniat untuk mendekat.


Beberapa pria yang mengganggu Nina itu terlihat geram karena ternyata ancamannya hanya di anggap angin lalu oleh gadis itu.


"Ayo katanya mau ke kantor polisi? takut laporan kalian tidak di terima? atau takut justru kalian yang akan mendekam di penjara ?" ejek Nina.

__ADS_1


"Kamu....." salah satu dari beberapa pria tersebut nampak melayangkan pukulannya, namun Nina langsung menangkisnya lalu menendang pria tersebut hingga terhempas ke lantai.


"Dengar ya tuan, di setiap sudut tempat ini ada banyak sekali kamera cctv dan semua perbuatan kalian pada saya tadi sudah terekam di sana jadi silakan mau lapor polisi atau segera pergi dari sini. Karena saya sebagai korban hanya berusaha melindungi diri saya sendiri." tegas Nina yang langsung membuat beberapa laki-laki tersebut diam tak berkutik.


"Sialan, kita salah cari mangsa." gerutu beberapa pria tersebut, mereka tidak menyangka selain pandai berkelahi gadis itu juga sangat cerdik.


Kemudian pada akhirnya mereka memilih pergi dari sana, apalagi melihat beberapa penjaga keamanan di klub tersebut sudah bersiap mengusirnya.


"Nina kamu baik-baik saja ?" ucap seorang pria pemilik bar tersebut saat baru datang.


"Saya baik-baik saja pak, maaf tempat ini jadi berantakan." sahut Nina.


"Sudah biarkan saja biar yang lainnya yang membersihkannya." sahut pria tampan tersebut yang Bernama Yudo.


"Terima kasih, Pak." Nina sangat menghormati pemilik Club tempat ia bekerja, pria itu sangat baik pada semua karyawannya terutama dirinya.


"Sekarang kamu kemasi barang-barangmu, aku akan mengantarmu pulang." perintah Yudo kemudian.


"Tapi saya masih mau lanjut bekerja pak." tolak Nina.


Karena pekerjaannya di sana di hitung berdasarkan jam kehadiran dan jika ia tidak lembur sampai Bar tutup, Nina takut gajinya akan berkurang.


"Kamu tenang saja, malam ini pekerjaanmu di hitung penuh." sahut Yudo meyakinkan.


"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya mengambil tas saya dulu." ucap Nina kemudian ia berlalu ke belakang.


Sedangkan Victor yang melihat interaksi mereka berdua nampak mengepalkan tangannya tak suka.


"Mari, pak. Saya sudah siap." ucap Nina saat menghampiri bossnya itu yang sudah menunggunya di meja bartender.


Ini bukan pertama kalinya Nina di antar oleh Yudo, mereka sudah seperti seorang sahabat.


"Baiklah, ayo." sahut Yudo dengan mengulas senyumnya, kemudian ia bangkit dari duduknya.


Namun ketika mereka akan berlalu pergi, Victor langsung menghentikan langkah mereka.


"Nina akan pulang bersama saya." tegas Victor.


"Tu-tuan Victor ?" Nina langsung menelan salivanya saat melihat pria itu.


Ia pikir tidak akan berurusan lagi dengan laki-laki itu, karena beberapa hari ini mereka tidak pernah bertemu lagi. Victor seakan menghilang dari hidupnya dan ia sangat senang akan hal itu.


"Memang anda siapa ?" tanya Yudo, setahunya Nina tidak pernah dekat dengan seorang laki-laki selain dirinya.


"Saya kekasihnya." sahut Victor memperkenalkan dirinya yang langsung membuat Nina melotot tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2