Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~118


__ADS_3

Nyonya Anggoro sepertinya tak begitu marah saat Dean memanggilnya dengan sebutan 'ibu,' apa itu berarti beliau meminta Dean untuk memanggilnya dengan sebutan 'Mama'?


"Ma-Mama ?" lirih Dean ragu-ragu bercampur takut karena sudah lancang memanggil wanita itu layaknya Demian memanggilnya.


"Apa? saya tidak dengar ?" ujar nyonya Anggoro dengan sedikit berteriak.


"Mama ?" sahut Dean dengan nyaring.


"Ya begitu lebih bagus." sahut Nyonya Anggoro yang langsung membuat Dean tersentuh bahkan hampir menangis.


"Tapi jangan salah paham, bukannya saya mau menerima mu sebagai anak ya karena dosa ibumu terlalu besar. Saya melakukan ini hanya tidak ingin orang-orang di luar sana menganggapku jahat." lanjutnya lagi dengan angkuh.


Dean yang teramat senang tak peduli dengan ucapan pedas nyonya Anggoro, ia langsung beranjak dari ranjangnya lalu mendekati wanita paruh baya itu.


"Eh, kamu mau ngapain ?" ujar nyonya Anggoro seraya menahan Dean saat ingin mendekatinya.


"Maaf saya sudah lancang ingin memeluk anda, saya terlalu bahagia dan terharu karena baru kali ini ada seseorang yang bisa saya panggil mama secara langsung." sahut Dean berkaca-kaca.


"Ck, dasar laki-laki cengeng. Baiklah tapi sebentar saja." Nyonya Anggoro nampak berdecak kesal namun pada akhirnya ia mengijinkan Dean memeluknya.


"Terima kasih, Ma." sahut Dean seraya memeluk wanita yang mulai saat ini akan menjadi ibunya itu.


Nyonya Anggoro nampak memejamkan matanya sejenak, hatinya tiba-tiba menghangat. Semenjak dahulu ia ingin mempunyai banyak anak, hanya saja setelah melahirkan Demian rahimnya bermasalah hingga membuatnya sulit mengandung lagi.


Dan sepertinya tak ada masalah jika ia menganggap Dean sebagai putranya sendiri, rumahnya pasti akan semakin ramai nantinya.


Lagipula anak itu juga sama tampannya seperti Demian, hanya saja Dean terlihat lebih sopan serta penurut dan itu lebih baik menurutnya daripada Demian yang lebih angkuh dan keras kepala.


"Papa nggak boleh ikutan peluk gitu ?" ujar Tuan Anggoro dengan wajah bahagianya karena pada akhirnya istrinya itu mau berbesar hati menerima anak dari selingkuhannya meski masih terlihat sangat gengsi.


Namun tuan Anggoro memakluminya karena memang dari dulu wanita paruh baya itu selalu menjunjung tinggi harga dirinya.


"Ayo, Pa." ajak Dean yang langsung membuat Tuan Anggoro memeluk Dean sekaligus sang istri, nyonya Anggoro nampak mengangkat sudut bibirnya namun hanya sekilas kemudian ia memasang wajah angkuhnya kembali.


"Terus Ricko di sini cuma jadi penonton gitu ?" rajuk Ricko seraya duduk berjongkok di sudut ruangan dengan tangannya menangkup kedua pipinya serta bibirnya yang mencebik, kentara sekali anak itu sedang ngambek karena iri.


"Astaga sayang, kamu tetap cucu kesayangan kami." Nyonya Anggoro segera melepaskan pelukannya lalu mendatangi cucunya tersebut kemudian mengajaknya berdiri.


Ricko langsung tersenyum nyengir. "Becanda Nek, Ricko senang kok kalau nenek sayang sama kak Dean. Kalau sudah sembuh kak Dean akan tinggal bersama kita kan ?" ucap Ricko dengan nada memohon, namun sepertinya nyonya Anggoro enggan untuk menjawabnya.


"Kakak akan kembali ke asrama saja, kan kakak bisa main ke sekolah kamu nanti." sela Dean, ia tidak mau terlalu banyak berharap.

__ADS_1


Nyonya Anggoro mau menerimanya saja, ia sudah sangat bersyukur apalagi ia di izinkan untuk memanggilnya sebagai ibunya.


Dean tidak mau serakah, ia cukup tahu diri sebagai anak yang lahir dari hasil perselingkuhan tidak layak untuk menempati istana milik mereka.


"Setelah sembuh kamu akan tinggal di Mansion." perintah nyonya Anggoro kemudian.


"Tapi, Ma...." Dean merasa tidak pantas.


"Kamu bilang akan menuruti perintah saya kan? bukannya kamu tadi juga bilang akan melakukan apapun demi menebus kesalahan ibumu itu ?" sela nyonya Anggoro ketus.


"Sudah kak turuti saja nenek, meski suka marah nenek sebenarnya baik loh. Jika nenek marah, nanti Ricko akan membela kakak." bisik Ricko meyakinkan hingga membuat Dean tersenyum tipis.


"Baik, Ma. Maaf merepotkan." ucap Dean pada akhirnya.


"Tentu saja sangat merepotkan." ketus nyonya Anggoro namun Dean sepertinya tak sakit hati dengan kata-kata pedas wanita itu.


Justru ia senang akhirnya bisa di terima di keluarga besar Anggoro, ia akan menerima konsekuensinya sebagai anak hasil perselingkuhan. Karena itu memang sudah takdir yang harus ia jalani, paling tidak mulai saat ini ia tidak sendirian lagi.


Sementara itu di tempat lain, Nina nampak baru mengerjapkan matanya.


"Jam berapa ini ?" gumamnya seraya mengambil ponsel di atas nakas.


"Astaga sudah jam dua belas." pekiknya terkejut.


Ketika Nina akan bangun ia merasakan nyeri luar biasa di daerah sensitifnya, tentu saja sakit karena semalam mereka melakukannya berkali-kali.


Suaminya itu seakan tak ada puasnya, bahkan demi menyenangkan hati laki-laki itu Nina berpura-pura tidak sakit ya meskipun rasanya memang sangat sakit.


Tapi paling tidak suaminya itu tidak memperlakukannya dengan kasar, bahkan laki-laki itu membuatnya begitu terlena semalam. Lihat saja, tanda-tanda percintaan di tubuhnya masih terukir jelas dan itu membuatnya megulas senyumnya.


"Suamiku benar-benar seperti harimau kelaparan." gumam Nina saat melihat bercak merah keunguan hampir di seluruh tubuhnya.


Kemudian dengan perlahan ia turun dari ranjangnya, ia sampai meringis kesakitan saat merasakan nyeri di bagian bawahnya.


Bayangan suaminya akan membopongnya keesokan harinya setelah melewati malam pertama hanya sebuah angan.


Namun Nina tidak kecewa, ia mencoba memahami suaminya yang memang sangatlah sibuk.


Sesampainya di dalam kamar mandi, ia segera masuk ke dalam bathup. Sepertinya berendam air hangat akan mengurangi rasa remuk pada tubuhnya karena pergulatannya semalam.


Memikirkan hal itu, Nina nampak tersipu malu. Ia bukan seorang gadis lagi sekarang, kini dirinya menyandang gelar sebagai nyonya Victor dan ia akan berusaha keras untuk menjaga rumah tangganya yang mungkin akan banyak guncangan ke depannya.

__ADS_1


Saat Nina mulai terlelap lagi di dalam bathupnya, ia merasakan sebuah sentuhan di tubuhnya. Mungkin ini hanya mimpi, pikirnya.


Namun sentuhan itu semakin lama membuat tubuhnya merinding. Tidak, ini bukan mimpi. Ia langsung membuka matanya dan betapa terkejutnya saat melihat suaminya itu sudah berada di dalam bathup yang sama dengannya.


"Mas, ka-kapan kamu datang ?" tanya Nina terkejut.


"30 menit yang lalu, sepertinya nyenyak sekali tidurmu sayang." sahut Victor dengan suara beratnya.


"Kenapa tidak membangunkan ku ?"


"Ini juga sedang berusaha membangunkan mu, sayang." ucap Victor seraya mengusap lembut milik wanita itu.


"Mas, aku sangat lelah." desis Nina, namun tak ia pungkiri sentuhan suaminya berhasil membangkitkan hasratnya.


"Sebentar saja, sayang. Aku janji akan melakukannya dengan pelan." tanpa menunggu jawaban istrinya, Victor langsung membopong wanita itu keluar dari bathupnya lalu membawanya keatas ranjangnya.


Setelah itu hanya terdengar lenguhan dari keduanya karena percintaannya yang mulai memanas kembali.


Sementara itu, Ariana yang nampak terlelap karena kelelahan setelah melakukan olahraga ranjangnya bersama suaminya tadi pagi. Ia langsung terbangun saat mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar.


"Tidur lagi sayang, biar aku yang membukanya." ujar Demian seraya meletakkan ipad di atas nakas.


"Kamu dari tadi nggak tidur, Mas ?" tanya Ariana.


"Aku sedang banyak kerjaan, sayang." sahut Demian, nampak beberapa berkas terlihat berantakan di atas nakasnya.


Demian segera melangkahkan kakinya keluar untuk melihat siapa yang sudah berani mengganggunya.


"Ada apa, Bik? saya sudah bilangkan jangan ganggu saya." tegur Demian pada ARTnya itu.


"Maaf tuan, seorang wanita sedang mencari nyonya besar." sahut ART tersebut.


"Memang Mama belum pulang ?" tanya Demian.


"Belum, tuan."


"Bilangin saja, Mama masih pergi." perintah Demian.


"Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi." sahut ART tersebut kemudian berlalu pergi, namun baru beberapa langkah Demian memanggilnya kembali.


"Memang siapa wanita itu, Bik? apa temannya Mama yang biasa main kesini ?" tanya Demian penasaran.

__ADS_1


"Belum pernah kesini sebelumnya tuan, tadi kalau tidak salah namanya Nyonya Jenny." sahut ART tersebut.


"Apa? Jenny ?"


__ADS_2