
"Maaf tuan, anda sangat tidak sopan." Sera nampak bersungut-sungut kemudian langsung menjauh dari pangkuan Martin.
Sungguh pria itu ada saja ulahnya, tidak tahu apa jantung wanita itu kini seakan mau lompat dari tempatnya karena degupannya yang terlalu kencang.
Martin nampak menahan tawanya, entah kapan terakhir ia bisa sesenang ini. Beberapa tahun ini sejak Helena tiada dan Sera pergi yang entah kemana ia hanya fokus bekerja keras hingga membuatnya sesukses sekarang.
Meski ia sadar sedang menjilat ludahnya sendiri, karena dulu ia sangat membenci Sera namun tanpa ia sadari antara benci dan cinta itu jaraknya sangatlah dekat seperti senin dan selasa.
Dulu ia sangat membenci wanita itu namun sekarang ia justru berbalik mencintainya.
"Saya minta sekarang anda pergi dari rumah saya." perintah Sera seraya menunjuk pintu keluar.
"Apa seperti ini cara keluarga Mauren memperlakukan tamunya yang sedang merasa kehausan ?" cibir Martin dengan menaikkan sebelah alisnya.
Ia ingin melihat sampai batas mana kesabaran wanita itu menghadapinya hingga mau mengaku dengan sendirinya siapa dia yang sebenarnya.
Sera nampak mendesah kesal menatap laki-laki tak tahu malu itu.
"Sabar."
"Baiklah, anda mau minum apa ?" ucapnya kemudian dengan terpaksa demi menjaga kehormatan keluarga Mauren yang terkenal sangat ramah di lingkungannya tersebut.
"Kopi dengan sedikit krimer lalu ganti gulanya dengan madu." sahut Martin yang langsung membuat Sera melotot padanya.
"Anda pikir ini Cafe, tuan ?" ucapnya dengan kesal, sungguh tamunya itu sangat ngelunjak.
"Lalu adanya apa ?" tanya Martin kemudian.
"Kopi pahit." sahut Sera dengan sinis.
"Boleh juga itu, sepertinya minum kopi pahit dengan menatap Nyonya Mauren itu sudah lebih dari manis." sahut Martin dengan tersenyum mengejek.
Sera mendesah kesal, kemudian tanpa menanggapi pria itu lebih jauh ia segera berlalu menuju dapur. Namun ia nampak menaikkan sudut bibirnya saat mendengarkan Martin menggombalinya.
"Dasar, sejak kapan pria mengerikan itu bisa menggombal begitu." gerutunya dalam hati.
Beberapa saat kemudian Sera datang dengan membawa secangkir kopi.
__ADS_1
"Minumlah dan cepat pergi dari sini, itu kopinya sudah ada gulanya jadi tidak perlu melihat saya lagi yang ada nanti jadi asem." ucapnya seraya meletakkan secangkir kopi tersebut ke hadapan Martin yang nampak sedang sibuk dengan ponselnya.
"Terima kasih." sahut Martin, kemudian ia menyesapnya sedikit. Namun karena masih panas ia meletakkannya kembali di atas meja.
"Jadi jam berapa putriku pulang ?" ucapnya lagi seraya memperhatikan ponselnya.
"Merry putri saya tuan, bukan putri anda. Orang saya yang mengandung dan melahirkannya." sahut Sera kesal.
"Tapi saya yang menanam benihnya." tukas Martin dengan nada meledek.
"Kamu...."
"Ah tidak, aku tidak boleh terpancing dengan ucapannya yang ada nanti dia semakin curiga." batin Sera kemudian.
"Sudah saya bilang Merry adalah putriku dengan tuan Mauren." tegas Sera.
"Tapi kenapa wajahnya sangat mirip denganku daripada mantan suamimu itu? jangan-jangan kamu sudah mencuri benihku ya." tuduh Martin dengan menautkan kedua alisnya.
"Kamu...." Sera sepertinya kehabisan kata-kata menghadapi laki-laki tak tahu malu di hadapannya itu.
Mantan gebetan memang sangat meresahkan. Jadian kagak, ghosting iya, upz ðŸ¤
"Pernikahanku bisa di undur, bagiku urusan putriku yang paling penting." sahut Martin dengan enteng, seakan pernikahan hanya sebuah permainan baginya.
"Sudah berapa kali saya bilang Merry itu putri saya, kalau anda menginginkan anak silakan membuatnya dengan calon istri anda itu." tegas Sera bersungut-sungut, ingin rasanya ia menggali lubang dalam-dalam lalu mengubur pria itu hidup-hidup disana, sangat menyebalkan.
"Ehmm." Martin nampak berdehem pelan, kemudian ia membuka suaranya. "Sampai kapan kamu akan berbohong seperti ini, Sera Winata ?" ucapnya dengan serius seraya menatap tajam Sera.
"Akuilah jika kamu itu Sera Winata." imbuhnya lagi yang membuat Sera semakin kesal padanya.
"Tentu saja aku akan terus berbohong demi keselamatan Merry mengingat kamu pria yang sangat mengerikan." batin Sera seraya melirik pinggang Martin yang nampak sebuah senjata api terselip di sana.
Delapan tahun ternyata tak mengubah sifat pria itu, bahkan sepertinya sekarang Martin lebih mengerikan dengan kekuasaan yang dia miliki
"Mampus kamu Sera."
"Kamu tahu, saat aku mendengar semua anak-anak di sini memanggilmu dengan sebutan bunda. Aku semakin yakin jika kamu adalah Sera Winata, wanita yang beberapa tahun lalu kabur dari kediamanku. Karena sebutan itu hanya di ucapkan oleh orang-orang di negara asal kita, benar begitu ?" ucap Martin penuh selidik.
__ADS_1
Sepertinya bermain-main sedikit dengan wanitanya itu akan mengasyikkan menurutnya.
"Wajahmu, rambutmu dan wangi tubuhmu juga masih sama. Bahkan jika kamu mengizinkan, aku bisa menunjukkan di mana letak beberapa tai lalat dalam tubuh kamu itu." ucapnya lagi seraya memindai tubuh Sera yang pagi itu hanya memakai kimono mandi.
Meski tertutup tapi lumayan membuat otak Martin atau laki-laki lain traveling kemana-mana saat memandangnya.
Mendengar perkataan Martin serta cara laki-laki itu menatapnya yang seakan menelanjanginya, membuat Sera langsung menelan ludahnya.
Badannya tiba-tiba panas dingin, semoga laki-laki itu tak lagi menyiksanya seperti dahulu kala mengetahui kebenaran tentangnya.
Ia jadi menyesal kenapa dulu menyuruh anak-anaknya memanggilnya dengan sebutan bunda, bukan tanpa alasan sebenarnya.
Baginya sebutan bunda itu mempunyai makna yang sangat dalam, bunda di ibaratkan sosok ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya, yang selalu bertutur kata lembut tanpa ada celaan di dalamnya.
Sera tidak ingin menjadi seperti ibu kandungnya yang selalu mengajarinya kebencian dan kelicikan padanya.
Sera mendesah kesal, berbohong pun tak ada gunanya sekarang. Lagipula Martin sudah melakukan tes DNA pada putrinya, sepertinya ia harus segera melakukan sesuatu sebelum hasil tes itu keluar.
Haruskah ia membawa putrinya kabur? lalu bagaimana dengan kelima anak lainnya? ia tidak mungkin meninggalkan mereka di sini.
Namun jika Sera membawa anak-anaknya itu, bagaimana ia bisa menghidupi mereka semua. Bahkan jika ia kembali ke Indonesia pun tuan Winata belum tentu memaafkannya alih-alih ia akan di kurung seperti dulu.
"Tuhan, aku harus bagaimana ?"
Sera nampak frustrasi, ingin sekali ia menangis. Menumpahkan segala beban di pundaknya sekarang juga.
"Anda menginginkan tanah ini kan? ambillah, saya menjualnya."
Setelah beberapa saat terdiam, Sera akhirnya membuat keputusan. Biarlah dia di kutuk oleh mendiang tuan Mauren karena tak menjaga amanahnya.
Baginya saat ini keenam anaknya lebih penting, terutama Merry. Sera tidak ingin Martin merebut Merry darinya. Hanya bocah kecil itu satu-satunya keluarga kandungnya.
"Apa ?"
Martin nampak memicing setelah mendengar perkataan Sera yang tiba-tiba ingin menjual lahannya yang sebelumnya wanita itu mati-matian pertahankan.
"Apa yang sedang kamu rencanakan, Sera."
__ADS_1