
Sepanjang jalan Martin terlihat mengumpat, ia nampak menyetir mobilnya sendiri di tengah hujan deras. Karena Mattew harus melanjutkan meetingnya di club tersebut dan asistennya itu juga mungkin akan berakhir di ranjang bersama wanita-wanita jal@ng itu.
"Ah sayang, aku merindukanmu." gumamnya seraya melajukan mobilnya dengan kencang menuju kediamannya, bayangan istrinya yang seksi itu kini memenuhi kepalanya.
Lima belas menit kemudian, Martin sudah tiba di rumahnya. Ia segera menyerahkan kunci mobilnya pada securitynya, setelah itu ia berlalu masuk ke dalam rumahnya.
"Selamat malam, tuan." sapa beberapa pelayannya seraya memberikannya sebuah handuk untuk mengeringkan tubuhnya yang sedikit basah.
"Apa istri dan anak-anakku sudah tidur ?" tanya Martin.
"Sepertinya sudah, tuan." sahut pelayan tersebut seraya menatap jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sebelas malam.
"Baiklah, terima kasih." ucap Martin lalu menyerahkan handuknya kembali.
"Apa tuan sudah makan malam, kalau belum saya akan menyiapkannya ?" tawar pelayan paruh baya itu yang sudah bekerja sejak Martin membangun Mansionnya tersebut beberapa tahun yang lalu.
"Sudah, bik. Saya sudah makan tadi." tolak Martin.
Setelah itu ia segera berlalu ke kamarnya, membuka pintunya dengan pelan lalu melangkah masuk.
Saat baru masuk ke dalam kamarnya tersebut, matanya nampak mengernyit ketika melihat sosok yang ia rindukan sedang tidur diatas sofa.
Lalu matanya tertuju pada ranjang king sizenya yang penuh dengan anak-anaknya yang sudah terlelap tidur di sana.
Seketika ia langsung terkekeh melihat mereka yang nampak tidur dengan posisi tak beraturan.
"Bagaimana Daddy mau memberikan kalian adik, kalau kalian menguasai kamar Daddy seperti ini." gumamnya sembari mengecup kening anak-anaknya tersebut satu persatu.
Martin sangat menyayangi mereka semua sama seperti Sera menyayanginya, ia senang karena rumahnya sekarang terasa hidup dengan adanya mereka di sini.
Dahulu ia selalu tidur sendiri di kamar sebesar ini, namun sekarang ada istrinya yang selalu menghangatkan ranjangnya dan ada anak-anaknya yang membuatnya ramai seperti sekarang.
Karena kesepian ia dulu lebih suka tinggal di Apartemennya yang berada tak jauh dari kantornya, namun sejak menikah ia akan langsung pulang karena tujuan hidupnya ada di rumah ini sekarang.
Martin segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat dan bau alkohol yang ia minum di club tadi.
Ia tidak mau istrinya itu mencium aroma tersebut, apalagi mungkin parfum wanita-wanita penghibur yang sangat menyengat itu bisa saja menempel pada tubuhnya dan membuat Sera akan berpikir macam-macam padanya.
Padahal ia selalu berusaha untuk setia di manapun berada, meski godaan itu selalu datang setiap saat.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Martin nampak keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di bawah perutnya.
Hujan petir malam itu membuat malam terasa mencekam, namun itu justru membuat gairahnya seakan terbakar. Apalagi mengingat teman-temannya di club tadi yang sedang bercumbu ria dengan para jala@ng membuatnya semakin ingin menuntaskan gejolak dalam dirinya.
Dengan masih memakai handuknya ia segera mendatangi istrinya yang nampak tertidur pulas di bawah selimut tebalnya.
"Sayang, bangun." ucapnya lirih seraya mengecupi wajah istrinya.
Sera yang mendapatkan kecupan bertubi-tubi nampak menggeliat, namun ia tertidur kembali.
"Sayang." panggil Martin lagi, dirinya yang sedang duduk berjongkok di samping istrinya itu nampak menyingkap selimutnya lalu membuangnya ke lantai dengan begitu wanita itu pasti akan merasa kedinginan.
"Bangun sayang." ucapnya lagi seraya mengecupi bibir tipisnya lagi.
"Hm, Daddy kamu sudah pulang ?" Sera mengerjapkan matanya, ia nampak terkejut saat melihat suaminya di tengah temaramnya lampu.
"Aku merindukanmu." ucap Martin dengan mengulas senyum gemasnya, tangannya dengan lancang langsung merayap di atas perut wanita itu lalu menyusup ke dalam kimono mandinya.
Sepertinya istrinya tadi baru selesai mandi kemudian langsung tidur hingga lupa menggantinya dengan pakaian tidur.
"Ah, Daddy." Sera mengerang saat suaminya memainkan puncak gundukan kenyalnya hingga membuat rasa kantuknya seketika hilang.
"Aku tahu." sahut Martin lalu dengan sekali hentakan ia membawa istrinya itu dalam gendongannya lalu membawanya keluar dari kamarnya.
"Kita mau kemana ?" Sera nampak melingkarkan tangannya di leher laki-laki itu.
Bukannya menjawab, Martin justru *****@* bibirnya lalu ia membuka ruang kerjanya dan setelah masuk ia menutupnya kembali dengan kakinya.
Di dudukkannya istrinya itu diatas meja panjang yang biasa ia gunakan untuk meeting bersama dengan anak buahnya lalu ia kembali melahap bibir merah alami itu dengan rakus.
Tangannya pun terlihat aktif melepaskan kimono yang di pakai oleh wanita itu hingga kini istrinya itu nampak polos dalam kuasanya.
"Dad, dingin." keluh Sera saat kulit mulusnya terkena suhu ruangan yang terasa menusuk di tambah dengan hujan deras yang membuat udara semakin dingin.
"Call me honey, sayang." ucap Martin di sela-sela memanjakan tubuh wanita itu.
"Hm, honey please stop. Aku sudah tidak tahan." mohon Sera saat miliknya di bawah sana sudah di kuasai oleh laki-laki itu.
Melihat sang istri yang teramat frustrasi di atas meja kerjanya, Martin segera menjauhkan wajahnya dari sana lalu bersiap memasuki wanita itu dengan posisi berdiri.
__ADS_1
Tubuh Sera nampak menggeliat tak karuan di atas meja yang dingin itu saat hentakan demi hentakan laki-laki itu lakukan.
Puas bermain di sana, Martin membawa istrinya itu ke sofa dan melanjutkannya lagi di sana lalu mereka mengakhiri malam pertama yang tertunda itu di balkon ruang kerjanya di temani oleh hujan deras bercampur petir.
"Fantasi liarmu terlalu mengerikan." gerutu Sera saat baru mendapatkan pelepasan untuk ke sekian kalinya.
Wanita itu nampak duduk di atas pangkuan suaminya dengan peluh yang masih membasahi tubuh mereka, bahkan milik mereka masih menyatu di dalam sana.
"Kamu istriku sayang, tubuhmu adalah milikku. Terserah aku mau melakukannya di mana, kamu boleh protes hanya saat aku berbuat kasar padamu dan ku pastikan itu tidak akan terjadi." ucap Martin sembari memeluk tubuh polos itu dengan erat.
Hujan deras serta petir yang saling bersahutan tak membuatnya beranjak pergi dari sana, justru ia seperti menikmati suasana mencekam itu.
"Honey, ayo masuk aku takut." dengan badan gemetar karena petir yang menggelegar, Sera nampak memeluk Martin dengan erat.
"Ini sangat menyenangkan, sayang." Martin tertawa senang dan itu membuat Sera bergidik ngeri karena suaminya itu seakan mempunyai cadangan nyawa saja.
"Baiklah, sepertinya istriku yang cantik ini sangat penakut." Akhirnya Martin bangkit dari duduknya tanpa melepaskan penyatuan mereka, hingga membuat Sera menjerit tertahan dalam gendongannya.
"Kamu sepertinya sangat menikmatinya sayang." ledek Martin saat mendengar istrinya itu mengerang dalam pelukannya.
Kemudian ia membawa wanita itu ke sebuah ruangan yang ada di tempat kerjanya tersebut, nampak sebuah ranjang empuk di sana.
Lalu ia melanjutkan percintaannya lagi hingga keduanya kini nampak terkulai lemas
"Sayang katakan, kamu mau apa aku akan memberikan apapun yang kamu minta ?" ucap Martin setelah puas dengan istrinya itu.
"Hm, aku lelah." sahut Sera.
"Ayolah sayang, bahkan kita bisa beberapa ronde lagi kalau kamu mau." goda Martin.
"Daddy, please jangan macam-macam. Kamu sudah membuat tubuhku remuk." keluh Sera.
"Baiklah, jadi sekarang kamu mau minta apa aku pasti akan mengabulkannya ?" tukas Martin yang langsung membuat Sera mengulas senyumnya, sepertinya ia mendadak bersemangat.
"Beneran ?" ucapnya kemudian.
"Hm, katakan ?" Martin nampak mengulas senyumnya, ia merasa bahagia saat melihat istrinya juga bahagia seperti sekarang.
"Bagaimana kalau kita pindah ke Indonesia saja ?" pinta Sera, namun Martin langsung menyurutkan senyumnya. Rahangnya mengeras lalu tatapannya mulai dingin.
__ADS_1