
Setelah melepaskan genggaman tangannya, Dena segera berlalu pergi. Di lihat dari cara Edgar menatap wanita itu, Dena menyadari ternyata suaminya masih memendam rasa dengan cinta pertamanya tersebut.
Memikirkan hal itu Dena merasakan sesak di dadanya, lebih baik ia pergi dari sana. Toh pesta tersebut tetap berjalan meski tanpa kehadirannya.
Namun ia langsung menghentikan langkahnya saat merasakan cekalan pada tangannya.
"Sayang, kamu mau pergi kemana ?" ucap Edgar mencegah sang istri pergi.
"Kemana pun asal bukan di sini." sahut Dena dengan menahan air matanya agar tidak terjatuh, entahlah sejak hamil ia jadi sangat sensitif dan cengeng padahal sebelumnya dia selalu bisa mengendalikan emosinya.
"Hey sayang, bahkan kita belum menemui mereka. Bagaimana kita bisa pulang? apa kamu baik-baik saja, hm? apa ada yang sakit ?" Edgar nampak sangat khawatir apalagi melihat wajah pucat sang istri.
"Iya, aku sakit." sahut Dena menatap lekat suaminya itu.
"Katakan mana yang sakit sayang? ayo kita ke dokter sekarang." ajak Edgar sedikit panik karena istrinya itu tiba-tiba merasa sakit padahal sebelumnya baik-baik saja.
"Ini, ini yang sakit." sahut Dena seraya menunjuk dadanya dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang." Edgar nampak terkesiap, ada apa dengan istrinya itu.
"Sayang, kamu kenapa hm? katakan apa salahku ?" imbuhnya lagi tak mengerti.
Dena nampak tersenyum sinis, sungguh munafik sekali suaminya. Apa laki-laki itu tak menyadari jika perbuatannya sungguh menyakiti hatinya.
"Kamu tidak tahu apa salahmu hah ?" sungut Dena dengan kesal.
"Aku tidak tahu makanya katakan di mana salahku ?" sahut Edgar tak mengerti.
"Sepertinya kamu terlalu larut dengan masa lalumu sampai lupa memperhatikan masa depanmu, kalau memang belum selesai dengan masa lalumu jadi untuk apa kita menjalani hubungan ini." cibir Dena, setelah itu ia menghempaskan cekalan suaminya di lengannya kemudian ia berlalu meninggalkan pesta tersebut.
Edgar nampak mengacak rambutnya dengan kasar, setelah itu ia mengejar istrinya itu.
"Sayang, tunggu. Kamu mau kemana, putra kita masih di dalam loh." ucapnya membujuk ibu hamil tersebut.
Dena yang sudah sampai di parkiran terlebih dahulu, nampak terengah-egah.
"Sayang dengarkan dulu penjelasanku." ucap Edgar saat berhasil mengejar sang istri.
Dena yang melihat suaminya nampak malas menatap laki-laki itu. "Mana kuncinya aku mau pulang." Dena mengangkat telapak tangannya di depan Edgar meminta kunci mobilnya.
__ADS_1
"Tapi putra kita masih di dalam Sayang, kasihan kan kalau kita ajak pulang bahkan acaranya pun belum di mulai." bujuk Edgar dengan lembut.
"Kamu saja yang temani, siapa tahu mau sekalian mengenang masa lalu." sahut Dena tak ramah.
Edgar yang baru mengerti penyebab kemarahan sang istri, langsung tertawa nyaring hingga membuat Dena menatapnya heran.
"Jadi istriku yang cantik ini sedang cemburu, hm ?" ucapnya kemudian.
"Siapa yang cemburu, rugi cemburu." dusta Dena.
"Benarkah? kalau tidak cemburu kenapa tiba-tiba marah-marah, hm ?" Edgar nampak mengangkat tangannya untuk menyentuh istrinya tersebut, namun wanita itu langsung menepisnya.
Tapi Edgar tak menyerah begitu saja, ia mengulurkan tangannya lagi lalu menyentuh kedua lengan wanita itu dengan sedikit erat.
"Apa kamu cemburu saat aku menatap wanita itu, hm ?" tanya Edgar namun Dena diam tak menjawabnya.
"Namanya Ariana, aku tidak tahu bagaimana perasaan ku dulu pada wanita itu. Namun saat itu aku benar-benar mengagguminya dan menganggap dia satu-satunya wanita yang layak menjadi calon istriku." lanjutnya lagi yang langsung membuat Dena semakin geram, namun ia tidak berniat untuk menyelanya. Ia akan menunggu suaminya itu selesai bercerita.
"Namun waktu itu Ariana lebih memilih Demian, meski laki-laki itu banyak sekali menyakitinya. Tapi begitulah cinta sejati pasti akan kembali pada pemiliknya." lanjut Edgar lagi.
"Jadi bisa di bilang waktu itu perasaanku hanya bertepuk tangan dan kami memutuskan untuk bersahabat saja." imbuhnya.
"Lalu apa sampai sekarang kamu masih menyukainya ?" lirih Dena, ia sedikit lega ternyata hubungan suaminya dengan wanita itu ternyata bertepuk sebelah tangan.
"Dan sekarang aku justru merasakan berdebar-debar saat kamu pergi meninggalkan ku." imbuhnya lagi.
"Apa aku sedang di rayu ?" cibir Dena, klise sekali cara laki-laki itu merayunya, dasar buaya.
Edgar langsung menarik istrinya itu hingga membuat wanita itu menabrak dada bidangnya, setelah itu Edgar memeluknya dengan erat sebelum sang istri memberontak.
"Apa kamu tidak mendengar bagaimana debaran jantungku saat ini, aku panik saat kamu pergi dan aku takut kamu meninggalkan ku lagi." ucap Edgar bersungguh-sungguh.
Dena yang sedang berada di dalam pelukan suaminya, ia nampak merasakan debaran jantung laki-laki itu berdetak dengan cepat. Benarkah suaminya sepanik itu dan takut kehilangannya.
"Maafkan aku jika sikapku tadi melukaimu, tapi percayalah aku hanya ingin mengetest persaanku saja." lanjutnya lagi.
Dena yang mendongakkan kepalanya menatap sang suami, nampak melihat kesungguhan di mata laki-laki itu. Seketika ia merasa bersalah karena menuduh suaminya tanpa bertanya dahulu.
"Aku juga minta maaf." ucapnya sembari mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Kamu tidak bersalah sayang, Ngomong-ngomong kamu tahu dari mana kalau aku pernah menyukainya perasaan aku belum cerita ?" ucap Edgar penasaran.
"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mama dan kak Kristal kalau mbak Ariana itu cinta pertamamu." sahut Dena.
"Tapi kami tidak pernah pacaran, jadi kamu jangan khawatir oke? tidak ada kenangan indah di antara kami." ralat Edgar yang langsung membuat Dena mengulas senyumnya.
Kemudian mereka nampak saling berpelukan dengan erat, seakan takut kehilangan satu sama lainnya.
Sementara itu di negeri nan jauh sana, Sera yang mulai membiasakan diri tinggal di sebuah rumah sederhana yang jauh dari pemukiman warga itu nampak sedang duduk termenung di belakang rumahnya.
Tubuhnya terlihat sangat kurus, wajahnya pucat seakan tak teraliri darah. Ia terlihat masih sangat syok dengan kisah hidupnya yang tiba-tiba berubah drastis.
Kini ia hanya bisa pasrah dengan hidupnya, meski Martin sudah jarang menyiksanya lagi namun ia masih ketakutan dengan laki-laki itu.
"Aku mau pergi, jangan coba-coba untuk kabur kalau tidak mau menjadi santapan binatang buas di sini." ucap Martin yang langsung membuyarkan lamunan Sera.
"Ma-mau kemana ?" tanyanya hati-hati agar tidak membuat pria itu marah, karena jika Martin marah dia tak segan-segan menyiksa dan memperkosanya.
"Persediaan makanan hampir habis." sahut Martin dingin, setelah itu ia berbalik badan lalu bergegas pergi.
Melihat kepergian Martin, entah Sera merasa senang atau tidak. Di sisi lain ia senang akhirnya tidak ada laki-laki itu yang selalu membuatnya ketakutan.
Namun di sisi lain tempat tinggalnya saat ini berada di tengah hutan, ia takut jika tiba-tiba ada hewan buas yang mendatanginya.
Beberapa hari kemudian, Martin tidak kunjung pulang. Entah kemana perginya laki-laki itu, meski Sera membencinya tapi ia sudah terbiasa ada laki-laki itu di sisihnya.
Saat ia mendengar deru suara mobil, Sera yang sedang mencuci pakaiannya langsung berlari keluar. Entah kenapa hatinya merasa senang saat laki-laki itu datang.
Namun langkahnya terhenti saat melihat Martin turun dari mobil dengan seorang wanita, mereka nampak mengeluarkan beberapa barang dari dalam mobilnya.
"Hey budak, cepat bawa masuk barang-barang ini." teriak Martin pada Sera.
"I-iya." Sera bergegas mendekat lalu mengambil barang-barang tersebut.
"Ini Helena kekasihku, untuk sementara waktu dia akan tinggal di sini. Bersikap baiklah padanya dan layani dia." perintah Martin lagi.
Sera nampak melebarkan matanya namun setelah itu ia hanya bisa mengangguk pasrah. "Ba-baik." ucapnya.
Setelah itu Martin mengajak kekasihnya masuk ke dalam kamarnya sedangkan Sera nampak berada di dapur untuk menyiapkan makanan.
__ADS_1
Saat sedang melewati kamar yang biasa Martin tempati, Sera nampak mendengar suara ******* yang saling bersahutan dari dalam.
"Dasar bajingan." umpat Sera, kemudian ia bergegas kembali ke dapur. Entah kenapa hatinya tiba-tiba sakit mendengar itu.