
Sore itu Martin dan Sera baru menginjakkan kakinya di Jerman, hanya berdua dan tidak mengajak anak-anaknya. Karena tujuan Martin ke negara tersebut selain menghadiri undangan Dena, ia juga ingin berbulan madu dengan sang istri.
"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan papa dan kak Dena." Sera terlihat antusias saat baru memasuki hotel.
"Besok pasti bertemu, sayang." ucap Martin.
Mereka nampak melangkahkan kakinya menuju resepsionis untuk memesan kamar.
Brukk
Sera yang sedang fokus dengan ponselnya tiba-tiba menabrak seseorang.
"Nona kalau jalan hati-hati, lihatlah kamu sudah menghancurkan ponsel istriku." tegur Martin pada seorang pelayan hotel, kemudian ia mengambil ponsel Sera yang terjatuh di lantai. Sedikit retak, tapi masih menyala.
"Maaf tuan, tapi nyonya ini yang tidak melihat jalan karena fokus dengan ponselnya." pelayan tersebut membela diri.
"Nggak apa-apa Dad, aku yang salah." Sera langsung menengahi berharap suaminya tak memperpanjang masalah, lagipula dirinya yang memang salah karena terlalu fokus bermain ponsel.
"Maaf ya, apa kamu baik-baik saja ?" imbuhnya lagi dengan perasaan bersalah menatap pelayan itu.
"Saya baik-baik saja, nyonya." sahut sang pelayan.
"Lain kali berhati-hatilah." tegas Martin menatap pelayan tersebut, setelah itu ia menggandeng tangan istrinya menuju resepsionis.
"Beruntung sekali wanita itu, sepertinya sangat di cintai oleh suaminya." gumam pelayan tersebut seraya menatap kepergian Sera dan Martin.
"Olive, kamu sudah datang terlambat tapi kenapa masih diam di situ." tegur manager hotel saat menatap pelayan yang bernama Olive itu.
"Maaf pak hari ini restoran sedang ramai, saya juga harus menyusun tugas akhir semester." sahut Olive menatap managernya tersebut.
"Saya tahu kamu sangat sibuk, tapi kamu juga harus bisa menaati peraturan hotel ini. Mengerti ?" tukas manager itu.
"Baik, pak." sahut Olive patuh.
"Baiklah cepat lakukan tugasmu." perintah atasan Olive tersebut.
"Siap, pak." sahut Olive.
Olive Hudson, gadis kecil putri tiri dari Demian Anggoro itu kini tumbuh menjadi seorang gadis cantik berusia 21 tahun.
Kerasnya hidup yang ia jalani selama tinggal di luar negeri bersama kakek angkatnya yang menolongnya saat ia kecelakaan pesawat beberapa tahun silam itu, membuatnya menjadi gadis yang mandiri dan tangguh.
Sejak kakek angkatnya meninggal beberapa tahun yang lalu, ia harus bekerja keras menghidupi dirinya sendiri dan pendidikannya.
Di tengah rutinitasnya sebagai mahasiswa, ia juga bekerja paruh waktu di sebuah restoran dan juga hotel.
Sangat melelahkan? tentu saja, namun ia menjalaninya dengan ikhlas demi sebuah harapan agar suatu saat bisa kembali ke negara asalnya.
Sementara itu Martin dan Sera nampak masuk ke dalam lift menuju kamarnya.
__ADS_1
"Tuan, apa anda orang Asia? anda sangat tampan." puji seorang wanita yang baru masuk ke dalam lift itu juga.
Martin yang mendapatkan pujian hanya menatap datar wanita tersebut.
"Perkenalkan saya agen perjalanan, jika anda berminat saya bisa mengantar kemana pun anda mau ?" ucap perempuan cantik tersebut.
"Terima kasih Nona, saya dan istri saya sedang tidak ingin jalan-jalan." tolak Martin.
"Baiklah, tuan. Kalau berubah pikiran anda bisa menghubungi saya." wanita itu mengambil tangan Martin lalu menyerahkan sebuah kartu nama padanya.
"Kalau begitu saya permisi." imbuhnya lagi saat pintu lift terbuka, wanita itu nampak mengerlingkan sebelah matanya dengan genit ke arah Martin. Setelah itu ia segera berlalu sebelum pintu lift tertutup kembali.
"Apa? dia sedang menggodamu." rutuk Sera kesal.
"Dia hanya seorang agen perjalanan, sayang." sahut Martin.
"Tetap saja dia menggodamu." Sera mendengus kesal.
"Jangan di ambil hati." bujuk Martin.
"Tidak bisa, awas saja kalau ketemu lagi. Lagipula itu agen mau ngapain masuk hotel, jangan-jangan sedang open BO lagi." tuduh Sera semakin kesal dengan pemikirannya sendiri.
Martin nampak terkekeh saat melihat istrinya itu cemburu, itu berarti wanita itu benar-benar mencintainya.
"Kenapa Daddy senyum-senyum sendiri? jangan bilang kamu diam-diam akan menghubungi wanita itu ?" tuduh Sera menatap curiga suaminya.
Martin mengangkat sebelah alisnya dengan gemas. "Menurutmu ?" ucapnya menggoda.
"Mana kartu nama tadi." imbuhnya lagi seraya merebutnya dari tangan suaminya.
"Buat apa, sayang ?" tanya Martin dengan menahan kekehannya.
"Mau ku makan." sahut Sera seraya menyobek kecil-kecil kartu nama tersebut.
"Kamu lucu kalau sedang cemburu." tukas Martin dengan tertawa nyaring.
"Lagipula pikiranmu terlalu negatif, sayang." imbuhnya lagi, lalu melingkarkan tangannya di pinggang istrinya itu.
Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka dan mereka segera melangkah keluar.
"Siapa tahu Daddy ingin mencoba rasa barat, karena sudah bosan dengan rasa ketimuran." sindir Sera.
Martin yang mendengar itu semakin terkekeh, sepertinya sedikit mengerjai istrinya akan mengasyikkan.
"Aku sudah bosan dengan rasa kebaratan sayang dan sekarang lagi ketagihan dengan rasa ketimuran." ucapnya menggoda.
Sera langsung menghentikan langkahnya, hatinya bergemuruh mendengar ucapan suaminya itu.
"Sepertinya sekali-sekali aku juga akan mencoba rasa kebaratan." balasnya dengan kesal menatap suaminya itu.
__ADS_1
Martin langsung mengeraskan rahangnya. "Berani melakukan itu, maka ku pastikan peluru ku akan bersarang di kepala pria itu." geramnya yang langsung membuat Sera menelan ludahnya.
"Becanda Dad, yuk ah katanya ketagihan dengan ketimuran." bujuk Sera seraya mengapit lengan sang suami lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar hotel, sebelum emosi pria itu meledak lalu menghancurkan hotel tersebut.
Martin yang tadinya geram, kini nampak menaikkan sudut bibirnya saat sang istri mencoba merayunya.
Keesokan harinya....
"Hai, Ricko." sapa seorang gadis cantik saat melewati meja Ricko di sebuah restoran di seberang kampusnya.
Sedangkan Ricko hanya membalasnya dengan senyuman tipisnya.
"Siapa gadis itu? kekasihmu? kita baru duduk 15 menit di sini tapi sudah ada 3 gadis yang menggodamu, ingat Mommy mengizinkan mu melanjutkan kuliah di sini untuk mencari ilmu bukan mengencani setiap perempuan." tegur Ariana pada putranya tersebut.
"Apaan sih Mom, mereka cuma teman." sanggah Ricko.
"Biarin saja sayang, putra kita sudah 21 tahun. Kalau kamu terlalu mengekangnya dia bisa tidak laku." bela Demian, sepertinya pria paruh baya itu tak sejalan dengan pemikiran sang istri.
"Kalau sudah bertemu jodohnya pasti laku kok, jadi laki itu yang mahalan dikit jangan seperti barang diskon di obral sana sini." tukas Ariana yang langsung membuat Demian menelan ludahnya, ucapan istrinya benar-benar menusuk pas di jantungnya.
"Iya Mommy sayang, Ricko ngerti kok." sahut Ricko.
Sedangkan Dena dan Edgar yang sedari tadi mendengarkan perdebatan keluarga sahabatnya itu nampak terkekeh, apalagi saat melihat Demian mati kutu karena ucapan istrinya.
Sementara itu di bagian belakang restoran tersebut, nampak seorang gadis cantik baru masuk ke dalam ruang khusus karyawan di sana.
"Baru datang kamu ?" tegur pemilik restoran tersebut pada Olive.
"Maaf pak, terlambat." sahut Olive.
"Cepat ganti pakaianmu, lalu antar makanan ini ke meja nomor tujuh." perintah pria tersebut, Olive adalah mahasiswi yang bekerja paruh waktu di sana.
"Baik, pak." sahut Olive, kemudian bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian pelayan.
"Meja nomor tujuh ya pak ?" tanyanya lagi setelah ia sudah nampak rapi.
"Hm."
Olive segera membawa nampan tersebut dengan senyum mengembang di bibirnya. Meski harus bekerja keras setiap hari tapi Olive selalu bersemangat.
Apalagi alasan ia bekerja di restoran ini adalah karena bisa bertemu dengan Ricko, sahabat kecilnya dulu.
Olive yang selalu memantau sosial media Ricko, sangat senang saat mengetahui laki-laki itu melanjutkan kuliah strata 2 nya di negara ini.
Meski mereka tidak satu kampus tapi Olive mempunyai cara agar bisa melihat Ricko dari dekat yaitu bekerja di restoran di depan kampus laki-laki itu.
Walaupun Ricko sama sekali tak mengenalinya, tapi bagi Olive hanya sekedar bisa melihatnya saja sudah membuatnya sangat bahagia.
"Meja nomor 7." gumam Olive seraya mencari meja nomor 7, namun langkahnya langsung terhenti saat melihat pria paruh baya yang sudah sangat ia rindukan.
__ADS_1
"Daddy." gumamnya saat melihat Demian yang berada di meja nomor 7 tersebut.