
"Makan ini semua, tuan ?" Nina nampak menelan ludahnya dalam-dalam membayangkan bagaimana rasanya telur buatannya yang sudah ia campur dengan beberapa sendok garam.
"Hmm." sahut Victor dengan berdehem.
"Mana bisa seperti itu, tuan. Ini kan pesanan anda, akan sangat tidak sopan jika saya yang memakannya." tolak Nina halus.
"Makan, saya tidak suka penolakan." tegas Victor dengan tatapan tajam.
Nina semakin menelan ludahnya. "Baik, tuan." ucapnya, lalu segera menggeser piring ke hadapannya.
"Ya Tuhan ini asin banget." keluh Nina dalam hati saat baru memasukkan sepotong telur ke dalam mulutnya.
Victor yang melihat itu nampak menahan tawanya, bahkan kini ia menelan ludahnya bulat-bulat saat gadis itu dengan cepat menghabiskan telur dadar keju miliknya.
"Wow sepertinya sangat enak." sindirnya saat melihat Nina telah menghabiskan seporsi telur dadar itu.
"Tentu saja sangat enak, tuan mau mencobanya ?" tawar Nina namun Victor hanya menanggapinya dengan tersenyum miring.
Lalu ia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan meletakkannya diatas meja. Setelah itu ia segera bangkit dari duduknya.
"Ingin mengerjai saya? kamu salah orang, Nona." bisik Victor tepat di telinga Nina, setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan restoran tersebut.
Nina yang masih terduduk di kursinya mendadak merasakan jantungnya berdegup dengan kencang. Bagaimana tidak, wajah Victor tadi begitu dekat dengannya.
Napas mint laki-laki itu pun masih terasa hangat di lehernya, bahkan aroma parfumnya sangat menusuk hidungnya.
"Sadar Nina, dia itu iblis yang berwujud manusia tampan."
Nina mengingatkan dirinya agar tidak jatuh lebih dalam pada pesona Victor dan tak berapa lama kemudian perutnya terasa mual.
Dengan langkah cepat ia berlari ke toilet untuk memuntahkan seluruh isi perutnya.
Sementara itu sepanjang jalan Victor nampak mengulas senyumnya membayangkan bagaimana raut wajah Nina tadi yang dengan terpaksa menghabiskan seporsi telur miliknya.
"Dasar bodoh." gumamnya.
Setelah itu ia membeli makanan di pinggir jalan lalu membungkusnya untuk ia makan di kantornya nanti.
Beberapa hari kemudian.....
"Kakak suaranya sangat bagus." puji Ricko saat melihat seorang laki-laki berseragam putih abu-abu sedang bermain gitar di bawah pohon yang berada di luar sekolahnya.
"Benarkah? jadi kamu akan memberiku uang ?" sahut laki-laki itu, ternyata ia adalah seorang pengamen jalanan.
"Ricko tidak punya uang kak, tapi apa kakak mau bekalku ?" Ricko mengulurkan kotak bekalnya yang berisi beberapa potong kue.
"Tidak usah Dek, kamu makan saja. Kakak mau lanjut lagi." tolak laki-laki itu seraya melangkahkan kakinya pergi.
"Tunggu, kak." teriak Ricko.
__ADS_1
"Ricko sudah kenyang, Mommy terlalu banyak membawakannya. Lagipula sebentar lagi juga pulang, sayangkan kalau tidak di habiskan." bujuk Ricko, entah kenapa ia teramat kasihan melihat pengamen berbadan kurus itu.
"Baiklah adik baik." Dean nampak menghela napasnya, kemudian kembali duduk di bawah pohon besar tersebut.
"Kenapa kakak mengamen, memang kakak tidak punya Ayah ?" tanya Ricko polos, mengingat ia dulu juga pernah mengamen karena belum bertemu dengan Ayahnya saat itu.
"Tentu saja punya, hanya saja kakak sedang kesepian." sahut Dean seraya menggigit kue pemberian Ricko.
"Memang orang tua kakak kemana ?" tanya Ricko penasaran.
Dean seperti bukan pengamen jalanan yang biasa ia temui, meski berbadan kurus tapi laki-laki itu terlihat sangat tampan dan terawat.
"Ada, Baiklah terima kasih makanannya. Kakak harus kembali ke asrama." Dean nampak berdiri setelah menghabiskan beberapa potong kue milik Ricko.
"Kak, tunggu. Siapa nama kakak, bisakah kita berteman ?" ucap Ricko menahan tangan Dean.
Dean tersenyum lalu memandang sekolah di depannya itu.
"Kamu orang kaya, aku tidak pantas berteman denganmu. Terima kasih kuenya lain kali aku pasti membalasnya." sahutnya kemudian.
Setelah itu Dean berlalu pergi dari sana dengan membawa gitar kesayangannya.
"Kakak mirip sekali dengan kakek." gumam Ricko seraya menatap kepergian Dean.
Sementara itu Ariana yang dalam perjalanan dari kantornya bersama suaminya, nampak memicingkan matanya saat melihat laki-laki muda sedang melangkahkan kakinya di pinggir jalan dengan membawa gitarnya.
"Dean? kenapa dia mengamen apa Papa tidak memberikannya cukup uang ?" gumam Ariana.
"Eh, tidak." sahut Ariana, bukan waktu yang tepat untuk membahas Dean.
Suaminya itu pasti masih belum menerimanya, tapi Ariana berjanji perlahan akan membujuk laki-laki itu agar bisa menerima Dean sebagai adiknya dan membawanya tinggal di rumah mereka.
"Jangan bohong, kamu pasti lagi lihat laki-laki tampan di luar sana kan ?" cibir Demian.
"Kamu benar Mas, adikmu sangat tampan dan mirip denganmu." gumam Ariana dalam hati.
"Nggak kok, hanya lihat kendaraan lalu lalang saja." dusta Ariana.
"Baguslah kalau begitu." sahut Demian lega.
"Tapi sekali-sekali bolehkan melihatnya, hitung-hitung cuci mata." canda Ariana namun justru di tanggapi serius oleh suaminya tersebut.
"Astaga Mas, aku belum mau mati." pekik Ariana saat Demian mengerem mendadak, beruntung jalanan sepi dan posisi mobil sedikit menepi jadi tidak mengganggu kendaraan lain yang lewat.
Demian langsung melepaskan seatbeltnya dengan kasar lalu mecondongkan tubuhnya ke arah sang istri.
"Kamu bilang apa tadi sayang? apa suamimu ini kurang tampan hingga kamu ingin melirik laki-laki lain di luar sana, hm ?" ucapnya kesal.
Jarak mereka saat ini sangat dekat, bahkan Ariana bisa merasakan hembusan napas suaminya itu terasa hangat menyapu wajahnya.
__ADS_1
"Bu-bukan begitu Mas, aku hanya becanda. Iya hanya becanda tadi." sahut Ariana gugup, sepertinya suaminya itu marah beneran.
Demian terlihat sangat kesal, kemudian ia memegang tengkuk istrinya itu lalu melum😘t bibirnya dengan sedikit kasar.
Namun bukannya memberontak, Ariana justru menikmati ciuman suaminya tersebut. Ariana menyukai jika laki-laki itu melakukannya dengan sedikit agresif karena akan membuatnya merasakan sensasi lain.
Mereka nampak saling melum😘t, menyesap dan menghisap satu sama lainnya, bahkan kini bibir Demian sudah berada di ceruk leher istrinya itu.
Menghirup dalam-dalam aromanya yang selalu membuatnya candu, lalu di kecupnya kecil-kecil kulit leher wanita itu hingga membuatnya mendesah nikmat.
Demian seakan lupa sedang berada di mana saat ini, mendengar erangan istrinya membuatnya semakin menggila.
"Ah, sial." umpatnya saat mendengar suara klakson panjang di belakangnya.
"Apa mereka tidak melihat, jalanan ini masih sangat luas untuk di lewati." gerutunya lagi.
Setelah itu ia segera memakai seatbeltnya kembali lalu mulai melajukan mobilnya.
Ariana yang sedang merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan dan terbuka nampak menahan senyumnya.
"Jangan mengejekku sayang, tunggu hukumanmu di rumah." ujar Demian saat istrinya itu menertawainya.
"Dengan senang hati, Mas." sahut Ariana menggoda.
"Dasar nakal, jadi ingin cepat-cepat sampai."
"Kita menjemput Ricko dulu, Mas." Ariana mengingatkan.
"Iya sayang, aku ingat."
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di depan sekolahnya Ricko.
"Lelah sayang ?" tanya Demian saat Ricko masuk ke dalam mobilnya.
"Nggak, Dad." sahut Ricko seraya mendudukkan dirinya di kursi penumpang di belakang sang ayah.
"Sayang Daddy dulu, Nak." ucap Demian yang langsung membuat Ricko memeluknya dari belakang, lalu Demian menciuminya dengan gemas.
"Apa kamu habis bermain bola, hm ?" tanya Demian.
"Iya, kok Daddy tahu ?"
"Bau asem, sayang." sahut Demian yang langsung membuat Ricko beserta ibunya tertawa bersamaan.
Tak berapa lama kemudian ponsel Demian nampak berdering nyaring.
"Ada yang telepon, Mas." ujar Ariana.
Demian langsung mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang sudah menghubunginya.
__ADS_1
"Olive ?" sahut Demian seraya menatap sang istri.