
"Wanita ini ?" gumam nyonya Anggoro, seketika ingatannya kembali pada 8 tahun silam.
Meski sudah 8 tahun berlalu nyonya Anggoro masih sangat mengingat jelas wajah Ariana, wanita yang sudah dia ancam dan usir agar tidak mendekati putranya.
Tapi kenapa setelah sekian lama, mereka justru bersama lagi. Tidak, nyonya Anggoro tidak akan membiarkan itu terjadi.
Baginya orang miskin hanya sebuah parasit yang akan memanfaatkan dan merongrong harta kekayaannya.
Dia juga tidak akan sudi mempunyai menantu dari kalangan rendahan, karena itu akan mempermalukan keluarganya. Apalagi teman-teman sosialitanya, akan di taruh di mana mukanya nanti.
"Dasar Demian bodoh, begitu banyak wanita kalangan atas yang mengantri ingin bersanding dengannya tapi kenapa dia justru terjerat pesona gadis rendahan itu." geram nyonya Anggoro.
Melihat raut wajah ibu mertuanya tersebut, Monica nampak tersenyum puas. Ia yakin ibu mertuanya tersebut tidak menyukai Ariana.
Karena Monica tahu nyonya Anggoro selalu melihat seseorang dari bibit, bebet dan bobot dan Ariana sama sekali tak masuk dalam kriteria wanita paruh baya tersebut.
Meski dirinya juga tidak sekaya dahulu, namun ia mempunyai darah ningrat yang mengalir di tubuhnya.
"Darimana kamu mendapatkan ini ?" ucap nyonya Anggoro dengan amarah tertahan.
"Kemarin mereka sudah menghabiskan waktu bersama." sahut Monica.
Nyonya Anggoro semakin geram, apa selama ini putranya itu diam-diam berhubungan dengan wanita rendahan itu. Pantas saja Demian sama sekali tak pernah menyentuh istrinya, karena dia sudah mempunyai kehangatan di tempat lain.
"Apa mama tahu siapa wanita ini? dia adalah istri dari karyawan Demian di kantor dan putranya adalah teman sekolahnya Olive. Sepertinya mereka benar-benar sengaja membuat skandal tanpa memikirkan nama baik keluarga dan perusahaan."
Monica semakin memanasi mertuanya tersebut dan ia yakin setelah ini wanita paruh baya itu akan segera bertindak untuk menyingkirkan Ariana.
"Omong kosong." hardik tuan Anggoro yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.
Sepertinya laki-laki paruh baya itu sedari tadi mencuri dengar pembicaraan istri dan menantunya tersebut.
"Pa, lihatlah anak kesayanganmu itu. Berani-beraninya dia berselingkuh dengan wanita murahan ini. Kita harus berbuat sesuatu pa, mama tidak mau nama baik keluarga kita akan tercoreng di mata publik." keluh nyonya Anggoro pada sang suami.
__ADS_1
Mendengar keluhan sang istri tuan Anggoro nampak tersenyum sinis.
"Apa kamu yakin mereka sedang berselingkuh? atau justru mereka sedang merajut hubungannya kembali yang sebenarnya sudah lama terjalin dan dikarenakan kelicikan seseorang mereka dulu terpisah." ujarnya.
Deg!!
Nyonya Anggoro dan Monica nampak menelan salivanya mendengar ucapan laki-laki paruh baya di depannya itu.
"Apa suamiku tahu 8 tahun yang lalu aku sudah mengusir wanita rendahan itu ?" batin nyonya Anggoro.
Sedangkan Monica nampak memikirkan ucapan ayah mertuanya tersebut.
"Apa maksud papa? apa sebelumnya mereka pernah menjalin hubungan ?"
Monica nampak mengingat-ingat wanita-wanita yang dulu pernah dekat dengan Demian. Sangat banyak menurutnya, namun hanya Kristal yang sempat menarik perhatian Demian kala itu sebelum wanita itu menikah dengan Gilang sahabatnya.
"Apa maksud papa mengatakan itu? apa papa sudah mengetahui hubungan mereka ?" ujar nyonya Anggoro penasaran.
"Asal kamu tahu wanita itu sudah melahirkan dan merawat calon penerus Anggoro dengan baik." sahut tuan Anggoro dengan bangga.
Deg!!
Nyonya Anggoro terperanjat, ia langsung mendudukkan dirinya di kursi. Sepertinya beliau sangat syok, ia tahu selama ini Demian memang seorang player tapi laki-laki itu selalu memilih wanita untuk di ajaknya tidur dan itu bukan wanita rendahan penyapu jalanan macam Ariana.
Dari kecil nyonya Anggoro mendidik Demian dengan jiwa hedonis, Demian sama seperti dirinya sangat membenci kemiskinan tapi kenapa ini semua bisa terjadi.
Sedangkan Monica nampak tak kuasa menahan air matanya, kini harapannya untuk rujuk dengan Demian sudah pupus setelah mengetahui ada penerus Anggoro lahir dari wanita lain.
Apa Ricko temannya Olive itu adalah putra Demian? Monica nampak mengingat-ingat lagi apa ia pernah bertemu Ariana sebelum ia menikah dengan Demian.
"Oh astaga, wanita itu. Kenapa aku baru menyadarinya."
Monica mengingat malam itu di mana Demian membawa seorang wanita cantik datang ke pestanya Gilang dan Kristal.
__ADS_1
Itu adalah untuk pertama kalinya Demian membawa wanita ke acara keluarga dan waktu itu Monica sangat cemburu, lalu ia mencoba merayu Demian dan meninggalkan Ariana di pesta itu sendiri.
"Tapi Pa, bukannya wanita itu sudah menikah. Bisa sajakan anak itu adalah anak wanita itu dan suaminya." ucap Monica kemudian.
"Omong kosong, wanita itu tidak pernah menikah dengan siapa-siapa dan dia membesarkan cucuku seorang diri." bentak tuan Anggoro.
Monica semakin terisak, baru kali ini ia melihat kemarahan ayah mertuanya itu. Sudah tidak di anggapnya kah dia sebagai menantu kesayangannya lagi.
"Lalu bagaimana denganku dan Olive Pa, aku sangat mencintai mas Demian, aku tidak ingin bercerai dengannya. Bukannya papa sudah berjanji pada kedua orangtuaku sebelum mereka meninggal kalau papa akan selalu menjaga kami." ujar Monica dengan isak tangisnya, semoga ayah mertuanya itu mau membantunya untuk rujuk kembali dengan Demian.
"Sampai kapanpun papa akan menjaga kalian, tapi masalah pernikahan kalian papa tidak mau ikut campur. Semua keputusan ada di tangan Demian." tegas tuan Anggoro.
"Ma ?" Monica nampak mengiba pada nyonya Anggoro, semoga ibu mertuanya itu berubah pikiran setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Bagaimana pun juga hanya dia wanita yang pantas menjadi menantu keluarga Anggoro dan bukan Ariana yang notabennya hanya wanita rendahan meski pun wanita itu sudah memberikan keturunan untuk Demian.
"Pergilah Mon, mama sedang tidak mau di ganggu." sahut nyonya Anggoro, ia masih duduk lemas di kursinya.
Mendengar ucapan ibu mertuanya itu, Monica nampak mengepalkan tangannya. Kemudian ia segera berlalu pergi meninggalkan mansion tersebut.
"Bagaimana ini, Pa ?" ujar nyonya Anggoro pada suaminya sesaat setelah Monica pergi.
Tuan Anggoro yang sedang membaca koran sembari menikmati secangkir teh nampak mengalihkan pandangannya pada sang istri.
"Mau bagaimana lagi, tentu saja Papa sangat senang. Akhirnya Anggoro sudah mempunyai calon penerus dan Mama tahu, anak itu begitu tampan seperti Demian." sahut tuan Anggoro dengan bangga.
Ia mengingat pertemuannya dengan Ricko kemarin dan yang membuat tuan Anggoro langsung menyukai Ricko adalah bocah kecil itu sangat sopan dan ramah.
Berbeda sekali dengan Demian waktu kecil yang sudah bersikap sangat arogan dan semena-mena pada siapapun. Lagi-lagi ia bersyukur pada Ariana karena telah membesarkan dan mendidik cucunya dengan sangat baik.
"Tapi anak itu lahir dari kalangan rendahan, Pa." ujar nyonya Anggoro.
"Dari kalangan rendahan atau bukan, darah yang mengalir di tubuh anak itu adalah darah Anggoro." tegas tuan Anggoro.
__ADS_1
"Tapi pa..."
"Sudahlah Ma, sepertinya aku harus segera berbicara dengan Demian berani sekali dia menyembunyikan cucuku dariku." sahut tuan Anggoro seraya bangkit dari duduknya, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan sang istri yang masih terlihat syok.