
Setelah kembali ke dalam kamarnya, Demian tak melihat Ariana di ranjangnya. Sepertinya wanita itu sedang berada di dalam kamar mandi.
Namun ketika Demian akan membuka pintu kamar mandi tersebut, ternyata pintunya di kunci dari dalam, gagal deh padahal ia sengaja tak masuk kantor agar bisa berduaan dengan wanitanya itu.
"Mas, kamu nggak ke kantor ?" tanya Ariana ketika melihat Demian sedang duduk santai di atas sofa seraya bermain ponsel.
"Sepertinya hari ini aku mau menemani kamu di rumah saja, sayang." sahut Demian.
Mendengar jawaban suaminya, Ariana nampak menelan ludah, sepertinya alarm di otaknya sedang mengirimkan sinyal tanda bahaya padanya.
Ia tidak mau kejadian beberapa saat tadi terulang kembali, sungguh jika Demian melakukan itu lagi ia yakin akan benar-benar khilaf.
Apalagi di rumah tersebut tidak ada Ricko maupun Victor, hanya ada ARTnya yang tidak mungkin berani mengganggunya.
Jadi lebih baik dia harus cari cara untuk menghindari laki-laki itu.
"Tapi inikan bukan tanggal merah, mas. Bagaimana kamu bisa libur ?" tanya Ariana semoga saja laki-laki itu membatalkan rencana untuk seharian di rumah.
Demian menatap Ariana yang sedang duduk di depan meja rias, wanita itu nampak segar dengan kimono mandi yang melekat di tubuhnya serta kepalanya yang terbungkus oleh handuk.
Tiba-tiba bayangan mereka di ranjang tadi pagi menari-nari di kepalanya.
"Sial."
"Kamu lupa ya kalau aku bossnya." sahut Demian yang nampak masih menatap Ariana.
Ia memperhatikan leher jenjang wanita itu yang terdapat banyak tanda merah hasil perbuatannya tadi.
Oh astaga hanya dengan memikirkannya saja miliknya di bawa sana sudah terasa sesak.
"Bukannya seorang boss harus ngasih contoh yang baik buat karyawannya." ujar Ariana yang langsung membuyarkan lamunan Demian.
"Mereka sudah ku gaji besar sayang, kalau tidak becus kerja ya tinggal pecat saja." sahut Demian santai, namun tidak dengan Ariana karena ia harus membuat rencana agar Demian bisa pergi dari rumahnya tersebut.
Terlalu lama berdekatan dengan laki-laki mesum itu, membuat jiwa dan raganya meronta-ronta tak karuan.
"Memang kamu tidak bosan di rumah terus ?" tanya Ariana kemudian.
"Asal ada kamu, di manapun akan terasa menyenangkan sayang." sahut Demian, bukannya merasa terpuji justru Ariana semakin frustasi.
Kemudian ia berpikir sejenak dan setelah itu ia nampak menaikkan sudut bibirnya.
"Mas bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan saja ?" ucapnya memberi ide.
Tentu saja jalan-jalan di luar lebih baik daripada harus menghabiskan waktu seharian di rumah, karena laki-laki itu pasti akan membuatnya khilaf.
__ADS_1
"Bukan ide yang buruk." sahut Demian seraya bangkit dari duduknya, kemudian berlalu mendekati Ariana.
"Jadi calon istriku yang cantik ini mau kemana, hmm ?" imbuhnya lagi seraya memeluk Ariana yang sedang duduk di depan meja rias.
"Terserah saja." sahut Ariana, ia menatap bayangan Demian di dalam cermin.
Laki-laki itu nampak menyerukkan kepalanya di lehernya yang langsung membuat dirinya meremang karena terkena bulu-bulu halus dari rahangnya.
"Ke Vila mungkin." ucap Demian, ia nampak menghirup wangi tubuh Ariana yang selalu membuatnya candu.
Glek
Ariana menelan ludahnya, apa bedanya rumah dengan vila. Mereka pasti akan sama-sama menghabiskan waktu di atas ranjang dan bisa ia pastikan calon adiknya Ricko akan on the way.
"Bagaimana kalau ke mall saja ?" celetuk Ariana, semoga saja Demian setuju.
"Boleh juga, memang kamu ingin membeli apa sayang ?" Demian nampak menatap Ariana dari balik cermin.
"Ke mall kan nggak harus beli sesuatu Mas, biasanya bagi orang seperti kami ke mall itu hanya sebagai ajang cuci mata saja." sahut Ariana mengingat dirinya dulu yang miskin, setiap ke mall hanya untuk melihat-lihat barang branded tanpa mampu bisa membelinya.
"Cuci mata ?" Demian menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.
"Iya cuci mata, meski hanya melihat-lihat barang-barang di sana tanpa membelinya rasanya udah sangat senang. Apalagi disana banyak orang-orang cakep segar deh ini mata." Ariana nampak tersenyum mengingat pengalamannya waktu remaja dulu.
"Kita batal ke mall." ujar Demian kemudian.
Ia nampak berjalan menjauh, wanitanya itu benar-benar sukses membuatnya cemburu.
"Mas, kok batal ?" protes Ariana, ia bangkit dari kursinya lalu mengejar Demian yang berjalan ke arah balkon.
Demian tak menanggapinya, ia nampak menyalakan pematik rokoknya lalu mulai menghisap rokok di sela jarinya tersebut.
"Mas kamu merokok ?" Ariana melotot.
"Lagi ingin saja, sayang." sahut Demian.
"Jadi bagaimana, kita nggak jadi batalkan ke mall ?" ucap Ariana memohon.
"Kalau tujuanmu ke mall hanya untuk cuci mata, lupakan itu sayang." sahut Demian kesal.
Ariana nampak mencebikkan bibirnya, memang ke mall dia harus ngapain selain cuci mata. Karena barang-barang yang ingin dia beli sudah ia miliki semuanya.
Demian sudah memenuhi isi lemarinya dengan barang-barang branded, pakaian, tas maupun sepatu.
"Bagaimana kalau kita ke bioskop saja ?" ucap Ariana memberikan ide lain, sepertinya bukan hal buruk.
__ADS_1
Sepertinya ia akan menghabiskan waktunya dengan menonton film saja, di sana pasti ramai jadi Demian tidak akan bisa macam-macam.
"Astaga sayang, kenapa harus jauh-jauh ke bioskop? kita bisa menonton di rumah." tolak Demian.
"Tapi di bioskop filmnya baru semua, mas." rengek Ariana.
Demian nampak diam sejenak, kemudian ia mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil yang hampir tak terlihat. Entah apa yang sedang dia rencanakan.
"Baiklah, bukan ide yang buruk." ucapnya seraya mematikan puntung rokoknya.
Mendengar perkataan Demian, Ariana langsung tersenyum girang. Namun tanpa ia tahu laki-laki itu juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh maksud.
Beberapa saat kemudian mereka segera pergi ke sebuah bioskop yang ada di mall tak jauh dari rumahnya.
Sepanjang jalan Demian selalu menggenggam tangan Ariana dengan erat, seolah wanita di sampingnya itu hanya miliknya seorang.
Tentu saja hanya miliknya, bahkan jika ada laki-laki lain yang berani meliriknya sudah ia pastikan akan mencolok matanya.
Sesampainya di bioskop, Ariana lebih memilih film romantis kesukaannya daripada pilihan Demian sebuah film thriller yang dia yakini pasti akan banyak adegan yang menegangkan dan dia tidak suka itu.
Film mulai di putar dan lampu bioskop mulai di padamkan dan mungkin karena hari kerja jadi tak banyak pengunjung di sana.
Ariana begitu menghayati film pilihannya itu, namun tidak dengan Demian ia sepertinya mulai bosan. Bahkan sedari tadi ia tidak menontonnya karena sibuk bermain game di ponselnya.
Karena bosan akhirnya Demian mulai menjahili Ariana, penerangan yang temaram membuat laki-laki itu bebas untuk menyentuh wanitanya itu.
Demian nampak menyelipkan anak rambut Ariana ke belakang telinganya, kemudian di kecupnya pipi wanita itu.
Karena tidak ada tanggapan, Demian menurunkan bibirnya ke leher jenjang Ariana. Mengecupinya lalu sesekali menghisapnya hingga membuat Ariana langsung menahan napasnya.
"Mas." protes Ariana.
"Diamlah sayang, kamu nikmati saja filmmu." sahut Demian.
Ariana mendesah kesal, sepertinya menonton bukan ide yang bagus. Karena Demian selalu saja punya cara untuk menyentuhnya.
Pada akhirnya Ariana memilih keluar dari bioskop tersebut padahal filmnya belum selesai.
Demian yang sedang berjalan keluar dari bioskop tersebut nampak terkekeh ketika melihat wanita di sampingnya itu.
Bagaimana tidak, Ariana nampak mencebikkan bibirnya yang sedikit bengkak karena ulahnya tadi dan pakaian wanita itu juga sedikit berantakan.
Namun ketika mereka sedang berjalan melewati beberapa pertokoan, nampak seorang wanita paruh baya sedang memperhatikan mereka dengan wajah geramnya.
Wanita tersebut meremas pakaian yang ada di tangannya, ketika melihat Demian dan Ariana nampak mesra dengan saling bergandengan tangan.
__ADS_1