
"Sayang, kamu baik-baik saja ?" Edgar langsung menghentikan makannya.
"Entahlah, perutku tiba-tiba mules. Sepertinya aku mau melahirkan." sahut Dena.
"Apa ?" Edgar langsung panik, di letakkannya sendok dan garpu di atas piringnya kemudian ia segera menghubungi asistennya tersebut.
"Jun, cepat kemari istriku mau melahirkan." perintahnya kemudian.
"Sayang, kenapa kamu memanggil Juno memang dia dokter ?" tanya Dena dengan mulut penuh makanan, astaga Dena-Dena perut sudah mulas masih sempat-sempatnya makan.
"Astaga, maaf sayang." Edgar nampak menepuk dahinya sendiri saking paniknya, kemudian ia menghubungi Juno lagi.
"Jun, kamu tidak perlu kesini tapi siapkan saja mobilnya dan segera hubungi dokter." perintahnya kemudian namun tiba-tiba pintu ruangannya sudah terbuka.
"Baik, tuan. Mobil sudah siap dan saya juga sudah menghubungi dokter." sahut Juno seraya menunjukkan ponsel di tangan satunya lalu ia mematikan panggilannya pada ponsel lainnya.
"Astaga, kamu sudah di sini rupanya." Edgar menatap tak percaya asistennya tersebut yang secepat kilat.
Dena yang melihat itu langsung terkekeh meski menahan sakit di perutnya.
"Sayang kamu kok tertawa sih memang sudah tidak sakit ?" tegur Edgar kemudian.
"Masih, ya udah ayo." Dena segera beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya dengan di gandeng sang suami.
Sesampainya di rumah sakit, Dena segera di periksa oleh dokter kandungan yang biasa memeriksanya setiap bulan.
"Hanya kontraksi palsu ya pak dan ini memang sering terjadi di saat akhir semester." ucap Dokter tersebut menjelaskan.
"Jadi istri saya belum mau melahirkan ya, dok ?" tanya Edgar penasaran.
"Menunggu hari perkiraan lahir ya pak, masih beberapa hari lagi. Di usahakan ibu jangan terlalu stres karena bisa mengakibatkan kontraksi seperti ini." sahut Dokter tersebut.
"Baik dok, terima kasih." sahut Dena dengan mengulas senyumnya, mungkin dari kemarin ia terlalu banyak memikirkan rencana untuk menyingkirkan Anita hingga membuatnya sedikit stres.
"Maafkan aku, nak." gumamnya kemudian seraya mengusap perutnya dengan lembut.
Setelah itu mereka kembali pulang. "Sayang kamu mikirin apa sih sampai bisa stres begitu ?" tanya Edgar saat mereka sudah sampai di rumah.
"Nggak ada kok, mungkin kepikiran sebentar lagi melahirkan." sahut Dena seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Jangan banyak pikiran ya ada aku di sini." Edgar nampak menenangkan sang istri dengan memberikan pelukan hangat hingga membuat wanita itu tertidur tak berapa lama kemudian.
Setelah memindahkan istrinya ke atas ranjangnya, Edgar langsung mengganti pakaiannya. Lalu ikut merebahkan dirinya di samping wanita itu.
Keesokan harinya...
"Apa? kamu serius ?" ucap Edgar pagi itu saat Juno menghubunginya.
"Benar tuan, baru saja nona Anita menyerahkan surat pengunduran dirinya." sahut Juno dari ujung telepon.
"Baiklah, segera cari penggantinya. Sudah ku bilang dari awal cari pegawai itu laki-laki yang suka dengan tantangan jangan seorang wanita, dapat tantangan sedikit langsung menyerah." gerutu Edgar dengan kesal.
__ADS_1
"Baik tuan, segera saya cari penggantinya." sahut Juno.
"Secepatnya saya tidak mau tahu." perintah Edgar, kemudian menutup panggilannya tersebut.
"Kenapa sayang ?" tanya Dena saat baru keluar dari dalam kamar mandi.
"Anita mengundurkan diri, dari awal aku sudah tidak sreg dengannya tapi kata Juno cuma dia saat ini yang kinerjanya terbaik. Terbaik apanya baru dapat tantangan sedikit sudah menyerah." sahut Edgar setengah menggerutu.
"Jadi Anita mengundurkan diri? baguslah, lagipula siapa juga yang mau hidupnya terancam. Ck, ada gunanya juga aku menjual nama perusahaan Papa yang terkenal dengan memelihara banyak preman seperti Martin." lanjutnya lagi dalam hati.
"Ngomong-ngomong soal Martin, bagaimana kabarnya? semoga dia tidak benar-benar melenyapkan Sera."
Dena nampak menghela napas panjangnya, meski ia membenci Sera tapi ia berharap di manapun wanita itu berada akan baik-baik saja dan bisa berubah lebih baik.
Namun jika sudah Martin yang bertindak, tidak ada jaminan orang tersebut bisa selamat. Martin adalah tangan kanan sang Ayah dan ia tahu laki-laki itu bisa lebih kejam daripada ayahnya.
"Hey kok melamun ?" ucap Edgar yang langsung membuat Dena terkesiap, entah sejak kapan laki-laki itu sudah berada di hadapannya sekarang.
"Eh, nggak kok." sahutnya kemudian.
"Apa kamu sudah selesai, ayo turun sarapan." imbuhnya lagi.
"Tinggal merapikan berkas-berkas saja." sahut Edgar seraya melangkahkan kakinya menuju meja.
"Baiklah, kalau begitu aku siapkan sarapan dulu." ucap Dena, setelah itu ia segera berlalu pergi meninggalkan kamarnya.
Setelah merapikan berkas-berkasnya, Edgar nampak memeriksa beberapa laci di sana untuk mencari dokumen penting lainnya. Namun matanya tak sengaja menatap sebuah map cokelat yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Astaga apa ini? apa gara-gara ini Dena sampai stres. Lalu apa Dena yang membuat Anita mengundurkan diri ?"
Edgar nampak mengusap wajahnya dengan kasar. "Maafkan aku sayang, aku memang bodoh sedikitpun tidak peka. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Setelah itu Edgar segera turun dengan tas kerja di tangannya.
"Sudah selesai? ayo sarapan." ucap Dena saat melihat suaminya menuruni anak tangga.
Edgar nampak mengulas senyumnya. "Sudah." ucapnya, kemudian ia langsung memeluk Dena.
"Maafkan aku, sayang." ucapnya kemudian.
'Maaf? untuk apa ?" Dena mendongakkan kepalanya, ia nampak tak mengerti dengan perkataan sang suami.
"Anita, maafkan aku tidak menyadari jika sudah menyakitimu tapi sungguh aku tak pernah menganggapnya lebih selain hanya karyawan." sahut Edgar nampak menyesal.
"Nggak apa-apa lupakan saja, maaf jika aku terlalu kejam padanya." sahut Dena.
"Kamu nggak pernah salah sayang, aku yang lalai dan aku pastikan ini tidak akan terjadi lagi." balas Edgar kemudian.
"Udah lupakan saja, tidak baik jika di dengar oleh Elkan." ucap Dena seraya menatap putranya yang sedang berjalan mendekat.
Setelah itu mereka segera sarapan bersama-sama, namun baru beberapa suap Dena nampak mendesis kesakitan.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang? sakit lagi perutnya ?" tanya Edgar yang langsung di anggukin oleh Dena.
"Jangan telepon Juno, dia bukan dokter." tegur Dena saat Edgar beranjak dari duduknya.
"Aku tahu sayang." sahut Edgar lantas membawa istrinya itu ke dalam gendongannya.
"Sayang, di rumah dulu sama bibik ya. Mama mau melahirkan." imbuhnya lagi pada sang putra.
"Achiap Papa." sahut Elkan dengan mulut penuh makanan.
Kemudian Edgar bergegas membawa Dena pergi ke rumah sakit dan benar saja kali ini istrinya itu mau melahirkan beneran.
"Baru pembukaan tiga ya bu, masih lama. Ibu bisa pakai buat jalan-jalan atau banyak gerak saja biar cepat pembukaannya." ucap dokter tersebut menjelaskan.
"Memang menunggu berapa lama dok ?" tanya Edgar tak sabar.
"Masih lama ya pak, tergantung kondisi pasien bisa cepat bisa juga lama." sahut Dokter tersebut.
"Baik dok, terima kasih." ucap Edgar, namun ia langsung terkejut saat mendengar teriakan dari ruangan sebelahnya.
Terdengar suara seorang wanita sedang meraung kesakitan, hingga membuat Edgar langsung berkeringat dingin.
"Itu kenapa ya sus ?" tanyanya pada seorang suster yang sedang mengambil darah istrinya.
"Sedang menunggu pembukaan juga pak." sahut suster tersebut.
"Sesakit itu ya." gumam Edgar yang semakin berkeringat dingin.
"Kamu juga sakit ya, sayang." ucapnya saat mendekati sang istri.
"Menurutmu? dia perempuan aku juga perempuan orang sama-sama mau melahirkan pasti sakitlah." sahut Dena.
"Tapi kenapa kamu tidak berteriak? teriak aja seperti wanita itu jika sakit." ucap Edgar seraya mengusap keringat di dahi sang istri yang nampak meringis saat rasa sakit itu datang.
"Kalau dia teriak lalu aku teriak juga, bisa pingsan kamu." cibir Dena saat melihat suaminya nampak berkeringat dingin dan memucat.
"Aku nggak apa kok, teriak saja kalau sakit." ucap Edgar yang nampak kasihan melihat istrinya itu menahan sakit saat rasa mulasnya datang.
Meski Dena tidak berteriak-teriak seperti pasien lainnya, tapi ia tahu istrinya itu menahan rasa sakit luar biasa dan itu ia rasakan dari genggaman kuat wanita itu di lengannya.
"Jangan di tahan sayang, berteriaklah kalau sakit." ucapnya lagi.
"Kenapa harus berteriak, kita buatnya aja diam-diam masa giliran ngeluarin harus teriak-teriak." seloroh Dena, dalam situasi seperti ini pun wanita itu masih saja bisa bercanda.
"Aku serius sayang, apa dulu waktu melahirkan Elkan juga sesakit ini ?" ucap Edgar kemudian.
"Entahlah aku lupa, mungkin lebih sakit karena untuk pertama kalinya atau sama sakitnya ya." sahut Dena sembari meringis.
"Makanya kalau sakit teriak saja." ucap Edgar lagi.
"Diamlah, sayang !!" teriak Dena kesal, sebenarnya yang mau melahirkan dirinya atau suaminya itu sih.
__ADS_1