Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~141


__ADS_3

"Ayo El, bobo lagi ya." bujuk Bik Mina seraya membawa Elkan masuk ke dalam Apartemennya.


Juno yang masih berdiri di tempatnya nampak terpaku saat melihat wajah Elkan yang begitu mirip dengan Edgar.


"Apa tuan Edgar pernah berhubungan sebelumnya dengan Dena, bagaimana bisa anak itu sangat mirip dengannya."


Keesokan paginya.....


"Aaaarrggghhh."


Bukkk


Pagi itu terdengar teriakan suara seorang wanita dan di sertai sebuah dentuman khas suara sesuatu yang jatuh.


"Apa yang bapak lakukan di kamar saya ?" teriak Dena saat melihat dirinya tidur satu ranjang dengan seorang pria, bahkan mereka juga berpelukan.


Edgar yang di tendang Dena hingga terjatuh di lantai, nampak berdiri memegangi pinggangnya yang terasa sakit.


"Astaga Dena apa yang kamu lakukan, kamu pikir ini kamar siapa ?" tukas Edgar.


Dena nampak mengedarkan pandangan, menyadari bukan kamarnya ia langsung menarik selimutnya untuk menutup tubuhnya.


"Kenapa saya bisa di sini ?" tanyanya bingung.


"Pikir sendiri." sahut Edgar.


Ia yang masih mengantuk langsung merebahkan tubuhnya kembali di samping Dena hingga membuat wanita itu beringsut menjauh.


Dena berpikir keras, namun masih saja tidak ingat apa-apa.


Edgar yang sedang tidur nampak melirik Dena yang masih kelihatan bingung, seketika senyumnya mengembang. Jika seperti itu Dena terlihat sangat polos, berbeda jauh dengan sikapnya yang selalu sok kuat.


"Saya tidak ingat, awas saja kalau bapak mengambil kesempatan saat saya mabuk." tuding Dena seraya melepaskan selimut yang membalut tubuhnya, nampak raut kelegaan saat melihat pakaiannya masih lengkap menutupi tubuhnya.


"Kesempatan apa? bukannya kamu yang sudah mengambil kesempatan itu." cibir Edgar dengan tersenyum miring.


"Bapak jangan menuduh sembarangan." sungut Dena tak terima.


Edgar yang merasa gemas langsung bangkit dari tidurnya.


"Siapa yang menuduh, apa kamu tidak ingat dua tahun yang lalu sudah mengambil kesempatan itu ?" cibirnya yang langsung membuat Dena gelagapan.


"Apa maksud bapak? saya tidak mengerti." tukas Dena seraya membuang wajahnya ke sembarang arah.


Edgar semakin gemas untuk menggoda wanita itu, dengan perlahan ia mendekati Dena yang sudah beringsut ke tepi ranjang.


"Beneran kamu tidak mengerti, hm ?" Edgar langsung mengungkung Dena sebelum wanita itu berhasil turun dari ranjangnya.

__ADS_1


"Bapak apa-apan sih, iya saya tidak tahu dan tidak mengerti bapak ngomong apa." sahut Dena menghindar, di saat seperti ini ia ingin sekali mendadak amnesia.


"Saya tanya sekali lagi beneran kamu tidak ingat ?" tegas Edgar, tatapannya lekat ke arah Dena.


"Saya tidak ingat." Dena membuang wajahnya yang sudah bersemu merah, untuk pertama kalinya ia tidak berani menatap lawan bicaranya.


Edgar tersenyum geli saat melihat Dena yang salah tingkah seperti itu. "Baiklah akan saya ingatkan." sahutnya.


"Dua tahun yang lalu kamu sudah memperkosa saya, mengambil sesuatu yang berharga dari diri saya dan kamu juga sudah merendahkan saya karena waktu itu kamu meninggalkan uang 100 juta. Kamu pikir saya jual diri, hah ?" lanjut Edgar lagi.


"Mampus."


Dena nampak menelan ludahnya sendiri, bagaimana mungkin ia melupakan peristiwa itu. Bahkan karena peristiwa itu ia mempunyai seorang bayi lucu.


"Saya bisa menuntutmu kalau saya mau." lanjut Edgar lagi dengan nada mengancam.


Dena langsung mati kutu, ia tidak mempunyai alasan lagi untuk mengelak.


"Ayo otak, berpikirlah. Nggak banget kan masuk penjara gara-gara perkosa boss sendiri."


"Kan waktu itu saya sedang mabuk pak, jadi mana bisa saya mengingatnya. Mungkin waktu itu saya melakukannya di luar kesadaran saya." elak Dena.


"Wow di luar kesadaran tapi bisa seliar itu? saya jadi penasaran bagaimana kalau sedang sadar seperti sekarang apa lebih liar lagi ?" ejek Edgar seraya mendekatkan wajahnya hingga Dena bisa merasakan napas hangat laki-laki itu menyapu wajahnya.


"Ba-bapak mau ngapain ?"


"Pertanggung jawaban seperti apa pak? kan saya sudah membayar anda waktu itu." mohon Dena.


"Ck, 100 juta itu? kamu sengaja mau merendahkan saya ?" kesal Edgar,


Ia langsung beranjak dari atas tubuh Dena kemudian membuka laci nakasnya, lalu ia mengambil uang yang di berikan oleh wanita itu dulu yang masih bersegel bank.


"Ini ku kembalikan uangmu, itu sangat-sangat kurang dan lebih baik kamu membayarnya dengan cara lain." ucap Edgar lagi.


Dena menelan ludahnya saat Edgar melempar uang itu ke sisi bantalnya.


"Membayar dengan cara lain? jangan bilang dia minta hal yang sama. Sialan."


Dena langsung beranjak dari kasur, sangat bahaya jika laki-laki itu tiba-tiba menyerangnya.


"Saya pasti akan membayarnya, tapi beri saya waktu. Berapa yang bapak minta saya berjanji akan membayarnya." mohon Dena yang kini sudah berdiri jauh dari Edgar.


Edgar nampak tersenyum miring. "Kalau saya minta hal yang sama bagaimana? bukannya itu akan impas." ucap Edgar seraya melangkahkan kakinya ke arah Dena.


"Anda jangan macam-macam, Pak. Ingat sebentar lagi anda akan bertunangan." Dena mengingatkan, ia nampak menyilangkan tangannya di depan dadanya.


Saat Edgar akan mendekati Dena lagi, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Setelah melihat siapa yang menghubungi, Edgar langsung mengangkatnya.

__ADS_1


"Ya, Jun ?" sahutnya saat menjawab panggilan dari Juno.


Dena yang merasa aman ia langsung menyamber tasnya lalu berlari keluar kamarnya, lebih baik dia harus segera kabur dari Apartemen bossnya itu.


"Ingat Dena, kamu masih punya hutang sama saya." teriak Edgar saat Dena berlalu keluar dari kamarnya.


"Ya Jun, baiklah kita bahas di kantor saja." sahut Edgar, kemudian menutup panggilnya tersebut.


Saat Edgar keluar dari kamarnya, ia tidak melihat keberadaan Dena di sana. Pasti wanita itu sudah pulang, pikirnya.


Edgar menghela napasnya kasar, rahangnya nampak mengeras saat mengingat pembicaraannya dengan asistennya di telepon tadi.


"Jika itu memang benar, kalian harus membayarnya dengan mahal." geramnya.


Hari ini Dena memutuskan untuk libur bekerja, sepertinya ijin sehari itu tak masalah. Ia masih belum siap bertemu Edgar lagi, laki-laki itu sepertinya serius dengan ucapannya.


"Dasar laki-laki gila harusnya dia bersyukur sudah menikmati kesucianku waktu itu bukannya bersikap seperti korban begitu."


Dena nampak merutuki kesalahannya dulu, namun saat mengingat Elkan ia langsung tersenyum.


"Paling tidak aku sudah mendapatkan Elkan baby shark ku."


Dena nampak menatap Elkan yang masih tertidur pulas di ranjangnya.


"Bu, ada tamu di luar." ucap bik Mina saat masuk ke dalam kamarnya.


"Baiklah, tolong temani El ya bik." ucap Dena, setelah itu ia berlalu keluar kamarnya.


Saat melihat Juno dari layar kamera yang ada di pintunya, Dena nampak berdecak kesal.


"Pagi pak Juno." sapa Dena saat membuka pintunya.


"Pagi Dena, hari ini tuan Edgar menyuruh saya menjemputmu ke kantor. Mobilmu masih berada di Bar kan ?" ucap Juno.


"Tapi saya hari ini ijin libur pak." tolak Dena.


"Tidak bisa Dena, hari ini tuan Edgar ada meeting penting dan kamu harus hadir." ujar Juno.


"Tapi pak....."


"Tuan Edgar berpesan, jika hari ini kamu masuk kerja maka bisa mengurangi sedikit hutangmu padanya." sela Juno yang langsung membuat Dena tersenyum senang.


"Baiklah pak saya akan bersiap-siap dulu." Dena langsung bersemangat.


"Pak Juno tunggu saja di dalam." ucapnya lagi, saking semangatnya ia melupakan peraturannya sendiri untuk tidak menerima tamu masuk ke dalam rumahnya.


Beberapa saat kemudian Dena sudah rapi dengan stelan kerjanya, namun ia langsung terkejut saat melihat Elkan sudah berada di pangkuan Juno.

__ADS_1


"Mampus, aku."


__ADS_2