
Mattew hampir tak berkedip menatap wanita yang sedang berdiri di ambang pintu dengan tangan bersendekap itu.
Tak ada sedikitpun ketakutan di mata wanita cantik itu, sungguh wanita yang tangguh. Pantas saja bossnya langsung tertarik saat baru melihatnya.
Padahal selama ini, Martin tidak pernah tertarik dengan wanita manapun. Kadang ia menganggap bossnya itu pria yang tidak normal.
"Selamat siang Nona ?" sapa Mattew dengan sopan, tentu saja dia tidak akan menakuti wanita itu.
Karena jika sampai bossnya tahu ia hendak mengintimidasinya seperti perintahnya sebelumnya, bisa lenyap nyawanya. Karena Martin pasti tidak akan mengampuni jika ia mengusik wanitanya.
"Hm, mau apa? mau menawar lahan ini? saya tegaskan saya tidak akan menjualnya, mengerti ?" tegas Sera to the point.
"Nona, ini adalah penawaran yang sangat menarik. Boss kami akan membayar mahal lahan ini dan anda bisa membangun kembali di tempat lain." bujuk Mattew.
"Lalu kalian akan membangun hotel dan tempat wisata disini dengan merusak alam? tidak, sampai matipun saya tidak akan membiarkan itu dan satu lagi jangan panggil saya Nona, saya ibu dari 6 anak." tegas Sera yang langsung membuat Mattew menelan salivanya.
Kenapa ia jadi merasa tertarik juga dengan wanita itu, sangat pemberani menurutnya. Pantas saja bossnya itu memerintahkannya untuk mencarinya sampai dapat.
Namun dari informasi yang ia dapat, wanita ini bernama Mauren. Apa dia mantan istrinya tuan Mauren pemilik lahan ini sebelumnya? sepertinya ia harus mencari tahu.
Beberapa saat kemudian nampak keenam anak asuh Sera baru datang dari sekolahnya.
"Bunda." panggil mereka saat berjalan masuk ke halaman rumahnya.
"Mereka siapa bunda ?" tanya Alex sang anak asuh yang paling besar, bocah yang baru menginjak remaja itu nampak menatap Mattew dan kedua temannya dengan seksama.
"Mereka tamu bunda sayang, ayo ajak adik-adik mu masuk ke dalam. Segera ganti pakaian lalu makan siang ya." sahut Sera.
"Bunda baik-baik saja ?" Alex nampak khawatir.
"Bunda baik-baik saja, Nak. Ayo cepat masuk." sahut Sera meyakinkan, ia tidak mau anak-anaknya itu mendengar perdebatan mereka yang pastinya tidak akan baik untuk kejiwaannya.
"Baik bun, ayo semua cepat masuk." ucap Alex, kemudian mengajak adik-adiknya yang sedang bermain di halaman untuk segera masuk.
"Bunda, tadi Merry dapat nilai 50." Merry yang berjalan paling belakang langsung menghampiri ibunya dengan wajah muram.
"Bunda marah nggak, soalnya tadi pelajaran baru Merry belum mengerti ?" imbuhnya lagi seraya menatap sang ibu.
Sera nampak menaikkan sebelah alisnya menatap gemas putrinya itu, kemudian ia mengulas senyum tipisnya.
__ADS_1
"Bunda nggak marah sayang, sekarang kamu masuk dulu ya. Nanti setelah kamu istirahat kita bahas bersama, oke ?" sahut Sera dengan lembut.
"Baik, bunda." sahut Merry masih dengan wajah sedihnya.
"Om, jangan ketawain Merry ya." imbuhnya lagi saat melihat Mattew yang terlihat menatapnya sedari tadi.
Namun sebelum Mattew membuka suaranya, Merry sudah berlalu masuk ke dalam rumahnya.
"Astaga itu bocah kenapa mirip sekali dengan tuan Martin, semoga saja ini hanya kebetulan. Tapi, tatapan bocah itu sama mengintimidasinya seperti tuan Martin."
Mattew nampak memperhatikan Merry hingga bocah kecil itu hilang di balik pintu.
"Anda mau ngapain lagi di sini, saya tetap tidak akan menjual tanah ini." ucap Sera yang langsung membuat Mattew mengangkat kepalanya dan menatapnya.
"Baik, kami akan pergi. Jika anda berubah pikiran, tolong hubungi saya di nomor ini." Mattew nampak menyerahkan sebuah kartu namanya, namun Sera seperti tidak berminat untuk menerimanya.
"Sudah saya bilang, sampai mati pun saya tidak akan menjual tanah ini." ucapnya dengan tegas, kemudian ia segera masuk kembali ke dalam rumahnya.
Mattew mendesah kasar, kemudian ia memasukkan lagi kartu namanya ke dalam dompetnya kembali.
"Sangat menarik, sepertinya hanya boss yang bisa menghadapinya."
Sementara itu di kediaman Lusi, wanita itu terlihat sedang gelisah di dalam kamarnya. Ia harus mencari cara agar Martin mempercepat acara pertunangannya.
Ia ingin hubungan mereka segera di umumkan di publik agar statusnya jelas, mengingat bagaimana laki-laki itu di gilai oleh banyak wanita.
Selain karena kaya raya, Martin juga berwajah Asia sangat tampan dan berkharisma.
"Hallo Mauren, bisakah besok kamu datang ke rumah." ucapnya saat menghubungi Sera melalui sambungan teleponnya.
Setelah mematikan panggilannya, Lusi langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Dari dahulu ia memang sudah menyukai Martin, hanya saja ia mengalah demi kakaknya. Namun saat sang kakak tiada, tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati Martin.
Meski laki-laki itu belum mencintainya, tapi bukannya cinta bisa datang kapan saja jika ia mau berusaha.
Lagipula wanita yang sebenarnya Martin cintai pasti sudah tiada, mengingat sudah 8 tahun tak ada kabarnya. Kalau pun masih hidup wanita itu pasti sudah menikah dengan pria lain.
__ADS_1
Lusi nampak tersenyum dengan pemikirannya sendiri dan tak berapa lama kemudian ia nampak terlelap tidur.
Keesokan harinya....
"Jadi wanita itu bernama Mauren ?" ucap Martin saat mereka dalam perjalanan menuju rumah Sera.
"Benar tuan, wanita yang sama ketika bertemu di kereta waktu itu." sahut Mattew dari balik kemudinya.
"Namanya Mauren dan bukan Sera, tapi wajah mereka sangat mirip."
Martin nampak mengusap wajahnya dengan kasar, bertahun-tahun ia mencari keberadaan Sera namun tak kunjung bertemu juga.
Sesampainya di kediaman Sera, Martin segera keluar dari mobilnya di ikuti oleh beberapa orang anak buahnya.
Setelah cukup lama ia menekan bel dan mengetuk pintu, nampak seorang anak laki-laki membuka pintu.
"Ada apa, Om ?" tanya Alex.
"Apa nona Sera ada ?" tanya Martin to the point yang membuat Mattew mengernyit saat mendengar nama wanita yang di sebutkan oleh bossnya itu.
"Maaf Om, di sini tidak ada orang yang bernama Sera. Di sini hanya ada dua perempuan, bunda Mauren dan adikku Merry." sahut Alex.
"Jadi dia bukan Sera." gumam Martin nampak kecewa.
"Bisa kami bertemu dengan ibumu ?" kali ini Mattew yang bertanya.
"Bunda sedang ke kota." sahut Alex.
"Apa Om orang yang datang kemarin? bunda berpesan beliau tidak akan menjual lahan ini kepada siapa pun." imbuhnya lagi seraya menatap Mattew dan Martin bergantian.
Meski beberapa pria di hadapannya itu berbadan besar dan tinggi, Alex sama sekali tidak takut. Sebagai kakak tertua di panti tersebut ia harus bisa melindungi adik-adiknya dan juga ibunya.
"Tadi kakak memanggilku ?" tiba-tiba saja Merry datang mendekati sang kakak ketika tadi namanya di sebut.
"Nggak Dek, ayo masuk sana." sahut Alex menatap adiknya tersebut.
Namun Merry sepertinya enggan untuk pergi. "Om yang kemarin datangkan? Om yang menertawakan saat aku mendapatkan nilai 50 kan ?" ucapnya seraya menatap Mattew.
Martin yang melihat Merry nampak terpaku di tempatnya, ada apa dengan perasaannya tiba-tiba saja merasa terharu saat melihat bocah perempuan itu.
__ADS_1