Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~211


__ADS_3

"Mau berdansa denganku ?" tawar Reymond yang langsung membuat Sera tersedak oleh minumannya sendiri.


"Maaf." ucap Sera tak enak hati seraya meletakkan gelasnya kembali di atas meja.


"Pelan-pelan minumnya." Reymond nampak terkekeh melihat sikap polos Sera.


"Jadi mau berdansa denganku, nona Mauren ?" tanya Reymond kembali.


"Maaf tuan, saya tidak bisa berdansa." dusta Sera, sepertinya ia harus segera menghindari pria asing tersebut.


"Aku akan mengajarimu." Reymond langsung menarik tangan Sera lalu membawanya ke lantai dansa.


"Tapi tuan." Sera ingin menolak tapi sepertinya Reymond tipe pria agresif.


"Seperti ini saja, gerakan tubuhmu dengan pelan mengikuti irama musik." ucap Reymond seraya memegang pinggang Sera.


"Hah, i-iya." mau tak mau Sera mengikuti arahan Reymond, sepertinya dia juga butuh teman bicara malam ini untuk meredakan gejolak hatinya karena pertunangan Martin.


Sedangkan Martin yang menatap Sera dari kejauhan, nampak mengeraskan rahangnya.


"Sayang, nona Mauren terlihat cocok dengan tuan Reymond ya. Semoga mereka berjodoh." ucap Lusi yang juga sedang menatap pasangan baru kenal itu.


"Hm." sahut Martin tak peduli.


"Ada apa denganmu? apa kamu lelah ?" Lusi nampak menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.


"Hm." sahut Martin lagi dengan singkat yang membuat Lusi nampak kecewa.


"Apa kamu tak bahagia ?" tanya Lusi.


"Menurutmu? kamu tahu kan dengan siapa aku akan bahagia." sahut Martin.


"Maaf, tapi tolong belajarlah mencintaiku karena aku sangat mencintaimu. Kak Helena pasti sedih melihat kita seperti ini." lirih Lusi.


Martin nampak menghela napas panjangnya, ia selalu lemah jika menyangkut Helena. Bahkan saat wanita itu sudah tiada, ia masih tak bisa menolak permintaannya.


"Lagipula wanita yang kamu cari itu kan tidak ada, kalau pun ada pasti sudah menikah dengan pria lain dan mempunyai banyak anak." bujuk Lusi.


Sedangkan Martin nampak diam membisu, ingin sekali ia mengatakan jika Mauren adalah Sera wanita yang ia cari selama ini.


Tapi Sera telah melarangnya mengatakan siapa dirinya hanya karena ingin menjaga perasaan Lusi. Kenapa sifat wanita begitu rumit.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, aku akan ke toilet sebentar" ujar Lusi kemudian saat tak ada tanggapan dari Martin.


Setelah kepergian Lusi, Martin langsung melangkahkan kakinya mendekati Sera dan Reymond yang sedang berdansa sembari asik mengobrol.


"Ikut denganku." ucapnya seraya memegang lengan Sera.


"Tu-tuan Martin." Sera nampak menelan ludahnya saat melihat Martin menatap tajam dirinya.


"Tuan Martin apa yang anda lakukan pada teman dansa saya ?" tegur Reymond tak suka.


"Saya mengundang anda bukan berarti anda boleh menyentuhnya." tegas Martin lalu membawa Sera keluar dari tempat pesta tersebut.


Reymond nampak mengernyit melihat kepergian Sera dan Martin. "Sepertinya menarik." gumamnya, entah apa yang sudah ia pikirkan.


"Lepaskan." teriak Sera saat Martin menyeretnya melewati lorong kamar hotelnya.


"Apa sudah menjadi kebiasaan mu menggoda laki-laki, hah ?" hardik Martin dengan emosi.


"Itu bukan urusan anda, tuan. Lagipula anda sudah bertunangan, jadi hak saya mau dekat dengan siapa saja." sahut Sera yang langsung membuat Martin semakin naik pitam.


Laki-laki itu nampak mendorong Sera ke tembok lalu memepetnya di sana.


"Tapi bukan dengan pria brengsek itu." hardiknya dengan menatap tajam Sera.


"Apa yang sebenarnya terjadi." gumamnya, akhirnya ia menyembunyikan dirinya di balik dinding agar bisa mencuri dengar pembicaraan mereka.


"Kamu mengatakan pria itu brengsek, lalu kamu apa? bukannya kalian sama-sama brengsek." balas Sera menantang.


"Kamu...." Martin yang di penuhi emosi langsung memegang tengkuk Sera lalu melahap bibirnya dengan rakus, tak peduli wanita itu memberontak. Ia hanya ingin melampiaskan amarah dan cemburunya.


Lusi yang melihat itu nampak kaget, ia membungkam mulutnya sendiri agar tak berteriak.


"Sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka, kenapa dengan mudahnya Martin mencium dan menyentuhnya. Sedangkan denganku dia selalu menghindar." gumamnya tak percaya.


"Kenapa kamu seperti ini ?" lirih Sera dengan isak tangisnya saat Martin baru melepaskan ciumannya, bibirnya nampak sedikit bengkak karena ciuman brutal dari laki-laki tersebut.


"Karena aku mencintaimu sayang, aku mencintaimu Sera Winata. Aku merasa cemburu saat pria lain menyentuhmu." tegas Martin.


Lusi yang mendengar itu nampak terkesiap. "Ja-jadi wanita itu Sera Winata." gumamnya tak percaya.


"Maafkan aku tapi kamu harus kembali pada Lusi, karena dia sangat mencintaimu. Dia yang sudah menemanimu selama ini, jadi tolong jangan hancurkan perasaannya." mohon Sera.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan perasaanmu? apa kamu senang seperti ini ?" hardik Martin.


Sera nampak terisak, ia juga tidak senang seperti ini. Tapi ia tidak mau berbuat jahat lagi dengan menghancurkan perasaan wanita lain.


"Katakan apa kamu senang seperti ini? apa kamu benar-benar tidak mencintaiku ?" hardik Martin lagi.


"Maafkan aku, aku memang mencintaimu. Aku sangat mencintaimu dari dulu, tapi aku tidak bisa menyakiti orang lain lagi. Ku mohon mengertilah, kamu akan bahagia bersamanya." ucap Sera dengan menatap lekat Martin.


"Kamu mencintaiku? benarkah kamu mencintaiku ?" Martin nampak sangat senang, ia menangkup kedua pipi Sera untuk meyakinkan kalau dirinya tidak salah mendengar.


"Hm." angguk Sera.


"Tapi kita tidak....hmpptt." Sera tak dapat melanjutkan perkataannya karena Martin sudah membungkam bibirnya dengan bibir pria itu.


Mereka nampak saling berciuman dengan penuh emosi dan perasaan yang membuncah, saling membalas dan berbagi saliva bersama.


Namun tanpa mereka sadari, Lusi yang sedari tadi melihatnya dari kejauhan nampak berurai air mata. Kemudian wanita itu berlalu pergi dari sana.


"Aku ingin pulang." ucap Sera saat mereka baru melepaskan panggutannya.


Sedangkan Martin nampak mengusap lembut pipi wanita itu, ada perasaan senang, bahagia sekaligus lega di hatinya. Ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


"Menginaplah di sini untuk semalam, besok pagi aku akan mengantarmu pulang." mohon Martin.


"Aku harus mengejar kereta terakhir, anak-anakku pasti menungguku sekarang." sahut Sera.


"Kamu jangan khawatir, aku sudah mengirim orang untuk menjaga mereka. Ku mohon hanya satu malam, aku janji tidak akan berbuat apapun padamu. Hanya tidur, oke ?" mohon Martin lagi.


"Asal kamu tahu, meski aku sudah mengungkapkan bagaimana perasaanku tapi kita tetap tidak bisa bersama." tegas Sera.


"Sssttt, jangan pikirkan itu. Sekarang masuklah ke kamar dan istirahat, jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali setelah berpamitan pada para tamu." perintah Martin kemudian.


Setelah memastikan Sera masuk ke dalam kamarnya, Martin segera berlalu pergi ke tempat acaranya tadi.


"Dimana Lusi, aku tak melihatnya ?" tanya Martin pada Mattew.


"Sepertinya sudah di kamarnya tuan, tadi beliau mengeluh capek." sahut Mattew.


"Baiklah, besok saja aku bicara dengannya. Dia pasti akan mengerti." batin Martin, setelah itu ia kembali ke kamarnya.


.

__ADS_1


Hey readers kesayangan, menurut kalian cerita Sera & Martin lebih baik segera di tamatin atau di buat agak panjang lagi ya? tolong komentarnya dong ✌


__ADS_2