Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~54


__ADS_3

"Loh Jeng, katanya ada urusan kok masih di sini ?" sapa temannya nyonya Anggoro ketika baru menghampirinya.


"Su-sudah selesai, Jeng. Jadi bagaimana apa kita jadi pergi spa ?" sahut nyonya Anggoro sedikit gugup, ia harus segera membawa teman-teman sosialitanya itu pergi dari sana.


"Jadi dong, eh ngomong-ngomong itu anaknya Jeng bukan sih ?" salah satu teman nyonya Anggoro tersebut nampak melihat laki-laki yang mirip dengan Demian di sebuah toko perhiasan langganan mereka juga.


"Oh bukan, mungkin mirip saja kali jelas putraku lebih cakeplah." sahut nyonya Anggoro.


"Ya sudah kalau begitu ayo kita pergi." imbuhnya lagi seraya mengajak teman-temannya itu untuk segera meninggalkan tempat tersebut.


"Hampir saja."


Nyonya Anggoro nampak lega setelah mereka kini berada di dalam mobilnya siap meninggalkan Mall tersebut.


"Jadi bagaimana proses perceraian anak Jeng apa sudah ketok palu ?" tanya nyonya Siska setelah mobil mereka mulai melaju.


"Mungkin sebentar lagi, Jeng."


"Wah sudah nggak sabar menunggu kita besanan, Jeng." nyonya Siska nampak antusias.


"Tenang saja, itu mah bisa di atur Jeng yang penting Demian bercerai dulu dari Monica." sahut nyonya Anggoro.


"Eh Jeng itu bukannya Monica ya." nyonya Siska langsung menepikan mobilnya ketika melihat Monica sedang bergandengan tangan dengan seorang laki-laki.


Nyonya Anggoro nampak meremas tasnya, ia tak menyangka jika menantu yang pernah menjadi kebanggaannya itu sudah berani menggandeng laki-laki lain di saat proses perceraiannya belum selesai.


"Kurang ajar."


Nyonya Anggoro langsung keluar dari mobil tersebut dan di ikuti oleh kedua temannya.


"Bagus ya, ternyata diam-diam kamu sudah berselingkuh di belakang Demian." hardik nyonya Anggoro, ia merasa harga diri Demian sudah di injak-injak oleh menantunya tersebut.


"Mama ?"


Monica terperanjat ketika tiba-tiba nyonya Anggoro menghadangnya bersama kedua temannya tersebut.


"Dasar wanita murahan." nyonya Anggoro ingin memukul Monica namun Leo langsung mencekal tangannya.


"Jangan kasar pada kekasih saya nyonya, Monica berselingkuh itu juga karena ulah putra anda sendiri. Sebagai laki-laki putra anda tidak becus membahagiakannya." hardik Leo seraya menatap tajam nyonya Anggoro.


"Kurang ajar, baguslah Demian cepat menceraikanmu karena kamu memang tidak pantas menjadi istri dari keluarga Anggoro." maki nyonya Anggoro dengan geram.


"Benar wanita seperti mu memang nggak pantas jadi istrinya Demian, sudah jatuh miskin tukang selingkuh lagi. Lebih baik Demian menikah dengan Jessica anakku." nyonya Siska ikut memaki Monica.


Sedangkan Monica nampak tersenyum miris, dahulu mereka semua pernah sangat baik padanya ketika dirinya masih berjaya dan menjadi menantu di keluarga Anggoro.


Namun kini mereka menganggapnya seakan seperti sampah, karena sudah tak di butuhkan lagi. Apalagi ia sekarang sudah jatuh miskin setelah kedua orangtuanya bangkrut dan meninggal.

__ADS_1


Semoga saja Demian dan Ariana bisa menghadapi mereka semua, para nyonya kelas atas yang sangat gila harta.


"Ayo sayang lebih baik kita pergi dari sini." Leo segera mengajak Monica meninggalkan mantan mertuanya tersebut.


Di sisi lain setelah menyelesaikan pembayarannya, Ariana dan Demian segera meninggalkan toko perhiasan tersebut. Mereka nampak berjalan saling bergandengan tangan.


Ariana yang masih penasaran dengan perkataan pemilik toko perhiasan tadi nampak diam membisu. Ia penasaran sebenarnya Demian memesan perhiasan untuk siapa, tidak mungkin kan untuk dirinya? karena laki-laki itu pun saat ini sudah membelikannya satu set perhiasan mahal.


Apa itu untuk ibunya atau wanita lain? entahlah, Ariana tidak mau berspekulasi meski saat ini hatinya sangat gelisah.


"Kamu kenapa sayang, kok diam saja dari tadi ?" tanya Demian ketika melihat Ariana tak seceria sebelumnya.


"Nggak." sahut Ariana, mereka nampak melangkahkan kakinya keluar dari Mall tersebut.


Demian menghela napasnya, tak biasanya wanitanya itu diam seperti itu. "Kamu nggak suka sama perhiasannya ya ?" tanyanya lagi.


"Sukalah, mahal lagi bisa ku jual nanti kalau kepepet." sahut Ariana seraya mengulas senyumnya, membayangkan uang 2M di tangannya.


"Apa ?" Demian langsung menghentikan langkah Ariana.


"Kamu jangan macam-macam sayang, memang uang yang aku kasih kurang ?" ucapnya kemudian.


"Kan aku bilang kalau kepepet, mas." sahut Ariana.


"Ku pastikan kamu tidak akan kekurangan, sayang. Mulai sekarang uangku adalah uangmu juga dan uangku takkan habis tujuh turunan meski kamu buat foya-foya sekalipun." ujar Demian dengan arogan.


"Beneran uangmu adalah uangku ?" ucapnya.


"Tentu saja." sahut Demian yakin.


"Baiklah mana dompetmu ?" Ariana mengulurkan tangannya.


"Untuk apa ?" Demian mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Sudah siniin."


Demian langsung mengambil dompetnya di kantong celananya lalu menyerahkannya pada Ariana.


Sejenak Ariana terkejut ketika melihat foto dirinya 8 tahun yang lalu, sepertinya laki-laki itu telah momotretnya diam-diam kala itu.


Di dalam dompet tersebut terdapat banyak sekali kartu entah itu kartu apa saja Ariana tak mengerti. Kemudian ia mengeluarkan semua uang kesnya, lalu mengembalikan lagi dompetnya pada Demian.


"Uangku juga kan ?" ucapnya menegaskan pada Demian seraya menunjukkan lembaran uang di tangannya.


"Tentu saja sayang, memang mau kamu gunakan untuk apa uang itu ?" Demian nampak bingung.


"Kalau begitu ayo ikut aku." Ariana langsung menarik tangan Demian, lalu membawanya ke pinggir jalan raya.

__ADS_1


Kebetulan di sana ada traffic light yang banyak sekali anak-anak mengais rezeki dengan cara mengamen.


"Uangmu akan sangat berguna jika anak-anak yang kurang beruntung itu ikut menikmatinya." Ariana langsung membagikan uang di tangannya itu pada anak-anak tersebut.


"Selesai."


Ariana menarik tangan Demian lagi untuk kembali ke dalam Mall tersebut lalu melangkahkan kakinya menuju parkiran mobilnya.


"Kamu tidak akan miskin kan hanya karena aku membagikan uangmu pada mereka? karena uang itu lebih berguna daripada kita buat berfoya-foya." ucap Ariana.


"Kenapa sih kamu baik sekali, sayang ?" Demian mencubit pipi Ariana yang kemerahan karena kepanasan di jalan tadi.


"Sakit, mas." teriak Ariana kesal.


"Iya maaf, habis kamu gemesin."


Mereka nampak melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir, namun tanpa sengaja mereka bertemu dengan seseorang yang tentunya membuat Demian langsung naik pitam.


"Ariana, kak Dem ?" Edgar nampak terkejut, namun kemudian ia mengulas senyumnya pada Ariana.


Namun sedetik kemudian Edgar langsung menyurutkan senyumnya ketika melihat tangan Ariana di genggam erat oleh Demian.


"Hai Ed, kamu di sini juga ?" sapa Ariana.


"Iya ada sedikit urusan." sahut Edgar ramah pada Ariana dan tentu saja itu membuat Demian menatap tak suka.


"Hai kak Dem apa kabar? lama ya tidak bertemu." sapa Edgar pada Demian.


"Tentu saja sangat baik, apalagi ada orang yang ku cintai bersamaku." sahut Demian tak ramah.


Mendengar perkataan Demian, Edgar nampak tersenyum sinis. "Kak Monica dan Olive bagaimana kabarnya kak? aku sangat merindukan bocah kecil itu." ucapnya kemudian, tentu saja dengan maksud tertentu.


Demian nampak memicingkan matanya, sepertinya laki-laki muda di depannya itu mulai mengibarkan bendera perang untuknya. Kenapa di saat seperti ini harus membahas mereka, kalau bukan untuk cari gara-gara.


Demian yang akan marah, langsung di cegah oleh Ariana. Tidak lucu kan kalau mereka selanjutnya akan baku hantam di parkiran tersebut.


"Ed, kami sedang buru-buru. Senang bertemu denganmu."


Ariana langsung menarik tangan Demian ke arah mobilnya.


"Jangan lupa hubungi aku kalau kamu butuh bantuan, Rin." teriak Edgar seraya tersenyum puas karena sudah berhasil membuat Demian marah.


Edgar memang sengaja menyinggung Demian dengan membahas anak dan istrinya, karena berani sekali laki-laki itu mengajak Ariana ke tempat umum di saat statusnya masih sah dengan Monica.


Apa laki-laki itu tidak berfikir bagaimana tanggapan orang lain tentang Ariana jika tahu wanita itu jalan dengan suami orang.


Sedangkan Demian nampak menatap Ariana dingin, ia tidak suka jika wanitanya itu tersenyum ramah pada laki-laki lain apalagi itu Edgar yang dengan terang-terangan menatapnya dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Kamu harus mendapatkan hukuman, sayang." ucapnya seraya membuka pintu mobil agar Ariana segera masuk.


__ADS_2