Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~233


__ADS_3

"Cara mendekati seorang wanita yang di sukai."


Ricko nampak membaca sebuah artikel di sebuah situs Internet.


"Ajak makan siang atau dinner dan berikan hadiah."


"Atau mau lebih sarkas, langsung saja lamar."


"Makan siang ?" Ricko nampak menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Baiklah aku akan mengajaknya makan siang aja, jika tidak berhasil maka aku akan menggunakan cara yang paling sarkas."


Ricko nampak bersemangat, ia segera beranjak dari duduknya kemudian merapikan kemejanya yang sedikit kusut.


Setelah itu ia segera mengambil kunci mobilnya lalu bergegas keluar dari ruangannya.


"Eh Rick, kami akan makan siang. Apa kamu mau gabung ?" timpal Dean saat melihat Ricko.


"Tidak." sahut Ricko, kemudian ia berlalu pergi.


Niat hati ingin mengajak Olive makan siang, namun ternyata Dean sudah mendahuluinya.


Sementara itu Dean dan Olive segera pergi menuju restoran untuk makan siang bersama.


"Makanlah yang banyak, aku lihat kamu semakin kurus." Dean nampak meletakkan potongan daging di atas piring Olive.


"Terima kasih, tapi ini akan membuatku kekenyangan." sahut Olive sembari terkekeh.


Mereka nampak makan sambil berbicara seperti sepasang kekasih yang sangat bahagia, namun tanpa mereka tahu Ricko dari tadi mengawasinya dari kejauhan.


"Kenapa harus dia." gumamnya sembari mengusap wajahnya dengan kasar, baru kali ini ia rela menjadi penguntit.


Dari kecil ia tidak pernah bertengkar dengan pamannya tersebut, ia sudah menganggap Dean seperti kakak kandungnya sendiri.


Mereka selalu berbagi dan saling mengalah entah tentang apapun itu, haruskah kali ini ia merelakan perasaannya demi kakaknya tersebut.


Beberapa saat kemudian Olive dan Dean kembali ke kantornya, karena jam makan siang sudah selesai.


"Selamat siang, pak ?" sapa Olive dan Pras saat Ricko berjalan melewati meja mereka, sepertinya bossnya itu baru pulang makan siang juga.


"Siang, Pras." sahut Ricko tanpa menatap Olive, setelah itu ia masuk ke dalam ruangannya.


"Ada apa dengannya ?" gerutu Olive saat merasakan Ricko mendiamkannya bahkan menatapnya saja tidak.


Beberapa saat kemudian nampak wanita cantik berjalan anggun ke arahnya.


"Apa Ricko ada ?" tanya Sarah.


"Beliau ada di ruangannya, nona." sahut Pras.


"Baiklah, terima kasih Pras." sahut Sarah, kemudian masuk ke dalam ruangan Ricko.


"Nona Sarah sering kesini ya ?" tanya Olive pada pras.


"Sering, sebelum mereka bertunangan nona Sarah adalah teman dekatnya tuan Ricko." sahut Pras.


"Oh." Olive hanya ber oh ria.


Hingga dua jam berlalu Sarah belum juga keluar dari ruangan Ricko dan itu membuat Olive merasa gelisah.


Bagaimana pun juga sampai saat ini ia masih mencintai Ricko, melihat kebersamaan mereka membuatnya cemburu.


Ingin sekali ia membuang Ricko dari hidupnya, namun perasaan itu tumbuh bukan dalam waktu yang sebentar.

__ADS_1


Bertahun-tahun ia memupuknya hingga sekarang bertahta kuat di hatinya, bahkan Dean yang sudah menemaninya selama dua tahun terakhir ini tak mampu menggesernya.


"Liv, pak Ricko menyuruhmu membawakan laporan keuangan bulan ini." ucap Pras setelah menutup panggilannya.


"Sekarang ?" tanya Olive.


"Tahun depan, ya iyalah sekarang. Kamu kenapa sih dari tadi melamun terus ?" ucap Pras.


"Nggak apa-apa." sahut Olive kemudian beranjak dari duduknya.


Setelah mengetuk pintu, ia segera masuk ke dalam ruangan bossnya tersebut.


"Selamat siang pak, saya membawa laporan keuangan yang anda minta." ucap Olive saat baru masuk.


Hatinya langsung memanas saat melihat Ricko dan Sarah sedang duduk bersisihan di sofa.


"Hm, letakkan saja di meja." sahut Ricko menatapnya sejenak, kemudian ia kembali fokus dengan ponsel Sarah.


Olive segera melangkahkan kakinya menuju meja kerja Ricko lalu meletakkan berkas tersebut di sana.


"Astaga wanita itu terlihat kesakitan." ucap Sarah mengomentari video yang sedang ia tonton bersama dengan Ricko.


"Tapi sepertinya dia juga menikmatinya dan terlihat bahagia lagi." sahut Ricko menatap video tersebut.


"Apa mereka sedang menonton blue film? dasar mesum." gumam Olive yang masih berdiri di sisi meja kerja Ricko.


"Kalau sudah tidak ada keperluan, kembalilah bekerja." tegur Sarah saat melihat Olive yang belum beranjak pergi.


"Baik, nona." sahut Olive, kemudian ia berlalu dengan wajah sedihnya dan itu membuat Ricko mengernyit menatap kepergiannya.


"Ada apa dengannya ?" batinnya.


"Oh astaga, bayinya sangat lucu." Sarah terlihat gemas saat melihat film dalam ponselnya tersebut.


"Aku harus kembali bekerja, Sar." ucap Ricko setelah film tersebut selesai, kemudian ia beranjak dari duduknya.


"Baiklah, boleh aku tidur sebentar di sini. Aku sangat mengantuk." tukas Sarah sembari merebahkan tubuhnya di sofa.


"Hm, terserah kamu." sahut Ricko, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya lagi.


Beberapa saat kemudian Ricko mengecek cctv di komputernya, nampak Olive sedang bekerja di sana tapi sepertinya gadis itu terlihat murung.


"Ada apa dengannya? apa habis bertengkar dengan kak Dean ?"


Hingga sore hari Ricko tidak bisa fokus bekerja, melihat Olive seperti itu membuat pikirannya tak tenang.


Sementara itu Sarah yang baru bangun nampak menggeliat di tempatnya. "Aku harus pulang." ucapnya sembari beranjak.


"Aku akan menyuruh sopir untuk mengantarmu." tukas Ricko.


"Tidak perlu, aku bisa menyetir sendiri." tolak Sarah.


"Baiklah hati-hati ya, salam sama Om dan tante." ucap Ricko.


"Hm, bye sayang." sahut Sarah, setelah itu ia berlalu pergi.


Sementara itu Pras yang melihat Sarah baru keluar dari ruangan Ricko langsung menyapanya.


"Mau pulang, Nona Sarah ?" ucapnya.


"Hm." sahut Sarah singkat, kemudian melangkahkan kakinya pergi.


"Selalu saja berantakan." gerutu Pras dengan pelan.

__ADS_1


"Apanya yang berantakan ?" Olive nampak penasaran.


"Penampilan nona Sarah." sahut Pras.


"Kok bisa ?"


"Astaga Olive kamu polos apa bodoh sih, sepasang kekasih yang seharian berduaan di ruangan kamu pikir mereka hanya akan diam-diaman saja ?" Pras mendadak gemas.


"Memang mereka ngapain ?" tanya Olive tak mengerti.


"Aku pikir tinggal di luar negeri akan membuatmu menjadi suhu tapi ternyata masih bocah prik." gerutu Pras gemas bercampur kesal.


"Beneran aku tidak mengerti." tukas Olive dengan jujur.


"Tentu saja mereka begini." ujar Pras sembari menautkan kedua jari telunjuknya.


"Oh." sahut Olive datar setelah mengerti apa yang di maksud oleh Pras.


"Benarkah mereka melakukan itu." gumam Olive, dadanya tiba-tiba terasa sesak membayangkan yang tidak-tidak tentang mereka.


"Woy malah melamun, di panggil boss tuh." ucap Pras membuyarkan lamunan Olive.


"Hm." Olive segera beranjak dari duduknya, kemudian berlalu ke ruangan Ricko.


"Selamat sore pak, anda memanggil saya ?" tanya Olive.


"Hm." sahut Ricko menatapnya.


"Apa kamu sakit ?" tanya Ricko kemudian.


"Saya baik-baik saja, pak."


"Apa kamu bertengkar dengan kak Dean ?" tanya Ricko tiba-tiba yang langsung membuat Olive menatapnya.


"Tidak." sahut Olive.


"Apa kamu mencintainya ?"


"Maksud bapak ?"


"Apa kamu mencintai kak Dean ?"


"Itu masalah pribadi saya pak."


"Jangan pernah mencintainya." ujar Ricko yang langsung membuat Olive melotot menatapnya.


"Itu bukan urusan anda, pak." ucapnya dengan kesal.


"Tapi itu akan menjadi urusan saya." tegas Ricko.


"Saya mencintai Dean atau tidak itu urusan saya, jadi apa hubungannya dengan bapak ?" sahut Olive dengan kesal.


"Karena saya mencintaimu." tegas Ricko yang langsung membuat Olive tercengang.


"Apa ?"


"Saya mencintaimu, Olive." ulang Ricko lagi dengan menatapnya serius.


Sedangkan Olive nampak tersenyum sinis. "Apa satu wanita saja tidak cukup buat bapak, setelah bermesraan dengan kekasih bapak lalu bapak berusaha merayu saya juga ?" cibir Olive.


"Saya tidak pernah bermesraan dengan siapapun." tegas Ricko namun itu justru membuat Olive tersenyum mengejek.


"Omong kosong." sahut Olive, kemudian ia berlalu pergi

__ADS_1


"Aku memang mencintaimu, tapi aku masih waras untuk tidak menjadi orang ketiga."


__ADS_2