
Nina terus saja memejamkan matanya, rasanya masih tak sanggup menatap calon suami yang tak di inginkannya itu.
"Ayo nduk buka matamu, apa kamu tidak mau melihat wajah calon suamimu ?" perintah ibunya Nina dengan lembut bercampur gemas.
Nina sudah membayangkan pria yang akan menjadi calon suaminya adalah pria yang sama yang ia lihat tadi.
Laki-laki paruh baya, berkepala botak, kumis tebal dan perutnya buncit. Duh membayangkannya saja Nina langsung berkeringat dingin.
"Ayo nduk buka matamu." desak Ibunya Nina tak sabar.
"Ti-tidak mau." teriak Nina.
"Tidak ?" ulang seorang pria seraya menatap gemas calon istrinya itu.
"Jadi kamu tidak mau menikah denganku ?" lanjut pria itu lagi.
"Suara itu."
Nina yang merasakan suara tak asing di telinganya ia segera membuka matanya.
"Apa ini mimpi ?" gumamnya saat melihat Victor berada tepat di hadapannya.
Lalu ia mengalihkan pandangannya dan matanya tak sengaja menatap pria botak yang ia kira akan menjadi suaminya tadi nampak tersenyum juga padanya.
"A-aku mau menikah denganmu saja." refleks Nina langsung memegang jas Victor, tentu saja ia lebih memilih Victor daripada laki-laki botak berkumis itu.
Victor pria yang tampan, meski hidupnya penuh misteri tapi Nina lebih rela mendampinginya. Paling tidak bangun tidurnya akan lebih menyenangkan saat melihat suami tampannya itu dan ia tidak bisa membayangkan jika harus berbagi ranjang dengan pria botak itu.
"Sepertinya kamu sudah tidak sabar ya sayang, bahkan acaranya pun belum di mulai." bisik Victor dengan tersenyum mesum menatap Nina.
"Dasar mesum." umpat Nina dalam hati, ia langsung menatap kesal pria itu.
Sedangkan Victor terkekeh gemas dan itu membuat Nina langsung terpesona menatapnya.
Laki-laki yang selalu memasang wajah kaku itu nampak berkali lipat tampannya saat memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Baiklah ku ulangi, apa kamu mau menikah denganku ?" tegas Victor dengan wajah serius.
Tanpa berpikir panjang Nina menganggukkan kepalanya yang langsung membuat Victor maupun kedua orangtuanya merasa lega.
"La-lalu, dia ?" Nina menunjuk laki-laki botak berkumis yang berdiri tak jauh dari Victor.
"Itu Om Sandy, beliau sudah ku anggap sebagai pengganti mendiang Ayahku selain tuan Anggoro tentunya. Harusnya tuan Anggoro juga ikut datang hanya saja beliau sedang ada urusan keluarga mendadak." sahut Victor menjelaskan.
"Asem, kalau tahu begitu aku takkan setakut tadi." gerutu Nina kesal, sia-sia saja ketakutannya.
"Kamu bilang apa, sayang ?" tanya Victor mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa." sahut Nina nyengir.
"Apa bisa kita mulai sekarang acaranya ?" lanjutkan lagi.
"Sepertinya ada yang sudah tidak sabar ingin menjadi istriku." sindir Victor menggoda.
"Apaan sih, aku lelah berdiri terus." sewot Nina yang langsung membuat Victor terkekeh gemas.
Setelah itu mereka segera melanjutkan acara pernikahan tersebut, lalu di lanjutkan lagi dengan acara resepsinya hingga selesai.
"Apa kamu yang merenovasi rumah ini ?" tanya Nina penasaran, mereka kini nampak duduk bersandar di ranjang pengantin setelah kelelahan mengikuti ritual adat pernikahan.
"Hm, aku hanya ingin yang terbaik buat keluargamu." sahut Victor dengan menggenggam tangan Nina.
"Sejak kapan? bukankah membangun rumah ini butuh waktu lama ?"
"Sebulan yang lalu." sahut Victor.
"Tapi sebulan yang lalu kita belum sedekat ini."
"Tapi pada akhirnya kita sekarang dekatkan ?" ujar Victor menatap lekat gadis yang baru beberapa jam menjadi istrinya itu.
"Terima kasih." ucap Nina tulus.
Victor nampak semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Nina dan tak menunggu lama bibir mereka saling menempel.
Mereka nampak memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut bibir mereka yang membuat tubuh mereka mulai menghangat.
Puas bermain-main di bibir lembut sang istri, Victor menurunkan bibirnya pada leher jenjang gadis itu. Menghirup aromanya dalam-dalam yang mungkin selanjutnya akan menjadi candu baginya.
Nina mengerang saat suaminya itu memberikan sebuah tanda kepemilikan di leher putihnya yang ia yakini esok hari akan berubah menjadi keunguan.
Mendengar sang istri mendesah membuat Victor semakin menggila, ia nampak memberikan beberapa lagi tanda merah di sana.
Kemudian ia turunkan lagi bibirnya menyusuri tulang selangka gadis itu seraya melepaskannya kimono yang di pakainya.
"Tu-tuan." Nina mencengkeram kimononya saat Victor hendak melepaskannya, ia rasanya malu sekali saat ini.
Karena sebelumnya ia tidak pernah membuka pakaian di hadapan laki-laki.
"Tuan ?" ulang Victor mengernyit, ia tak suka jika istrinya itu memanggilnya seperti itu.
"Mas." ucap Nina kemudian.
"Ya begitu lebih baik, mau panggil sayang juga tidak keberatan." sahut Victor menggoda, kemudian ia kembali menarik kimono sang istri.
Namun Nina justru mencengkeramnya dengan erat.
__ADS_1
"Kenapa malu, hm? bukannya kita sudah menikah ?" lirih Victor dengan suara seraknya, tangannya dengan lembut mengusap pipi sang istri yang nampak kemerahan.
"Tapi tetap saja malu." sahut Nina gugup, nampak keringat dingin membasahi dahinya.
"Astaga, baru pemanasan saja rasanya sudah panas dingin begini. Bagaimana kalau sudah mulai."
Victor tersenyum, istrinya benar-benar sangat polos. Meski bekerja di Bar tapi gadis itu tetap saja polos padahal ia yakin setiap hari Nina melihat banyak pasangan mesum di tempat kerjanya.
Victor yang merasa gemas langsung melahap bibir istrinya itu dengan lembut namun sedikit menuntut hingga membuat Nina terbuai.
Perlahan Victor melepaskan tali ikatan kimono yang di pakai oleh istrinya tersebut dengan bibirnya masih melum😘t bibir gadis itu.
Setelah itu Victor menarik kimono tersebut lalu melemparkannya ke sembarang arah.
Nina yang di butakan permainan bibir Victor, tak menyadari jika dirinya kini hanya memakai pakaian dalamnya saja.
Nampak dua gundukan indahnya sedikit menyembul dari balik bra yang membungkusnya.
Victor mendesah kasar, gairahnya memuncak saat melihat milik Nina yang ia yakini lumayan besar.
Ia tak sabar, kini tangannya mulai merayap melepaskan pengait bra tersebut dan di saat ia siap untuk menikmatinya tiba-tiba ponselnya berdering nyaring.
"Sial." umpatnya dalam hati.
"Sebentar sayang." ucapnya seraya bangkit dari atas tubuh istrinya tersebut.
Nina yang menyadari kekacauan pada dirinya ia segera menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang hampir polos.
"Hampir saja, sumpah aku belum siap." gumam Nina.
Ia segera mengaitkan branya kembali sebelum suaminya itu melihat isinya yang menurut teman-teman wanitanya punyanya itu lumayan besar dan membuat mereka iri.
Iri apanya yang ada membuatnya risih karena tatapan nakal dari pria-pria hidung belang.
"Vic, maaf mengganggumu. Saya mohon please kamu kembali secepatnya. Dean sedang kritis saat ini dan membutuhkan golongan darah rhesus negatif kalau tidak nyawanya tidak akan tertolong."
Demian nampak memohon dari ujung telepon, Victor yang mendengar itu hatinya seakan di cubit. Baru kali ini tuan mudanya itu terlihat frustrasi.
"Sayang, segera siap-siap kita akan kembali secepatnya." perintah Victor pada istrinya tersebut.
"Sekarang ?" Nina terkejut, namun ada perasaan lega di hatinya.
Sungguh ia belum siap jika harus melakukan malam pertama sekarang, karena pernikahannya pun amat terburu-buru dan dia belum menyiapkan mentalnya.
"Maaf ya." ucap Victor kemudian mengecup bibir istrinya itu.
"Nggak apa-apa kok." sahut Nina dengan mengulas senyumnya.
__ADS_1
Kemudian ia segera beranjak dari ranjangnya, Victor yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah asal tidak melihat tubuh setengah polos istrinya.
Ia harus menekan hasratnya, demi sebuah tugas.