Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~51


__ADS_3

Ariana menatap dingin Demian, ia ingin tahu apa laki-laki itu akan berkata jujur padanya sebelum ia menyinggung bekas parfum yang tertinggal di kemejanya.


Sedangkan Demian nampak menelan salivanya ketika melihat Ariana menatapnya dengan dingin.


Tapi lebih baik dia berkata jujur daripada akan menimbulkan masalah di kemudian hari.


"Sebenarnya semalam Monica memelukku, maaf aku terpaksa mengizinkannya karena ku anggap ini sebagai salam perpisahan. Bagaimana pun juga kami saling mengenal sejak kecil dan aku berharap setelah berpisah hubungan kami akan baik-baik saja demi kejiwaan Olive. Hanya sebatas itu sayang, percayalah." ucapnya berharap Ariana mau mengerti dirinya.


Ariana memindai laki-laki di depannya itu, meski nampak kejujuran di setiap perkataan Demian tapi tetap saja dia cemburu.


Entahlah Ariana merasa bingung dengan perasaannya, ia sendiri juga heran ada apa dengan dirinya. Semakin lama bersama Demian ia merasa semakin mencintai laki-laki itu dan berharap hanya dirinya yang boleh memilikinya.


Memendam perasaannya selama 8 tahun membuat Ariana memiliki sikap posesif yang berlebih. Memang benar kata orang, tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang benar-benar real pasti salah satunya ada yang baper.


Delapan tahun yang lalu mungkin yang Demian tahu Ariana hanya menganggapnya sebagai teman, tapi tanpa laki-laki itu tahu sebenarnya Ariana diam-diam sudah mencintainya.


Namun perasaannya itu seketika hancur kala laki-laki itu menodainya dan sejak saat itu Ariana memupuk kebencian pada laki-laki itu. Tapi tanpa dia sadari semakin dia membenci, semakin juga dia mencintainya.


"Apa wanitaku yang cantik ini sedang cemburu, hmm ?" ujar Demian ketika melihat Ariana hanya diam menatapnya, laki-laki itu nampak melilitkan tangannya di pinggang wanita itu.


"Apaan sih, aku tidak peduli dengan apa yang kalian lakukan semalam. Lagipula status kalian masih suami istri, jadi apa hakku." sahut Ariana seraya memalingkan wajahnya.


Sedangkan Demian nampak terkekeh, ia tahu wanitanya itu sedang cemburu dan dia sangat senang.


"Benarkah kamu tidak cemburu, hmm ?" goda Demian seraya merapatkan pelukannya hingga tak ada celah di antara mereka.


"Nggak." ketus Ariana dan itu membuat Demian semakin gemas.


Ia nampak menyentuh dagu Ariana dan mengarahkan wajahnya padanya.


"Kami tidak melakukan apa-apa sayang dan percayalah hanya kamu satu-satunya wanita yang ku cintai." ucapnya seraya memandang lekat Ariana.


"Aku bilang nggak cemburu, mas." sanggah Ariana.


Demian yang melihat Ariana gengsi mengakui perasaannya, ia nampak semakin gemas. Jelas-jelas wanitanya itu sedang cemburu.


"Mas, kamu mau ngapain ?" Ariana tersentak ketika Demian mengangkat tubuhnya hingga ia terduduk di meja samping kompornya.


"Kamu pikir mau ngapain, hmm? tentu saja menghukum seseorang yang malu untuk mengakui perasaannya." sahut Demian seraya mengurung tubuh Ariana.


"Bagaimana kalau Ricko melihat kita ?" protes Ariana khawatir kalau putranya itu tiba-tiba muncul.


"Ini masih sangat pagi sayang, bahkan dia belum bangun." sahut Demian yakin.


Tentu saja ia yakin putranya tersebut belum bangun, karena sebelum dia menghampiri Ariana di dapur ia terlebih dahulu ke kamar Ricko.

__ADS_1


"Jadi benar kamu nggak cemburu atau malu mengakuinya ?" imbuhnya lagi dengan nada menggoda.


Sekarang tinggi mereka sama rata, hingga membuat laki-laki itu mudah menatap wajah Ariana.


"Siapa juga yang malu." Ariana nampak memalingkan mukanya.


Namun sepertinya wajahnya yang kemerahan tidak sesuai dengan ucapannya. Tentu saja Ariana malu, apalagi sekarang wajah Demian begitu dekat dengan wajahnya.


Bahkan hembusan napas Demian terasa hangat menyapu wajahnya, aroma mint yang khas dari napas laki-laki itu membuat Ariana terbuai.


"Kalau tidak malu kenapa pipi ini seperti tomat, sayang ?" Demian mengusap lembut pipi Ariana.


Selama beberapa saat pandangan mereka nampak terkunci, meski tak ada kata yang terucap tapi hati mereka saling berbicara.


Saling mengungkapkan perasaannya yang menggebu dan alam bawah sadar menuntun wajah mereka untuk saling mendekat.


Hingga bibir mereka saling menempel, lalu Ariana memejamkan matanya begitu juga Demian.


Mereka nampak saling melum😘t, menyesap dan menautkan lidah mereka. Menari-nari di dalam sana hingga membuat darah mereka berdesir seakan teraliri oleh arus listrik.


Kemudian Demian memegang tengkuk Ariana hingga ciuman mereka semakin dalam dan membuat wanitanya itu mendesah tak tertahan.


Dengan sekali hentakan laki-laki itu mengangkat tubuh Ariana yang kurus itu ke dalam gendongannya, kemudian membawanya masuk ke dalam kamarnya dengan bibir mereka yang masih saling memanggut.


"Aku mencintaimu, sayang." ucap Demian seraya menatap manik Ariana, hidung mancung mereka nampak bersentuhan dan saling menggesek.


Mereka seakan lupa dengan status mereka saat ini, gairah dan hasrat yang menggebu membuat mereka melupakan itu. Hujan deras pagi itu juga seakan mendukung mereka untuk melakukan dosa.


Entah sejak kapan pakaian tidur mereka sudah berserakan di lantai, hanya menyisakan selembar kain berbentuk segitiga sebagai satu-satunya penghalang.


Demian nampak melahap kedua gundukan indah milik Ariana dengan lahap, ia bagaikan seorang bayi yang sedang kehausan.


Sedangkan Ariana hanya bisa mendesah sembari meremas rambut laki-laki itu, sungguh ia sangat menikmati setiap sentuhan Demian pada tubuhnya.


Bahkan laki-laki itu tak segan membelai dan memainkan miliknya di bawah sana yang mulai lembab.


Di saat mereka akan melakukan lebih jauh lagi, terdengar ketukan pintu dari luar.


Demian dan Ariana nampak tersentak, seketika gairah yang menyelimuti akal sehat mereka seakan sirna begitu saja.


"Mas, apa yang telah kita lakukan ?" Ariana langsung menarik selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya.


"Maafkan aku, sayang." sahut Demian seraya mengacak rambutnya sendiri.


"Aku juga salah, mas." Ariana nampak menyesali perbuatannya, ia janji pada dirinya sendiri takkan melakukan itu lagi.

__ADS_1


tokk


tokk


Terdengar lagi ketukan pintu dari luar, kali ini sedikit lebih keras.


"Ibuk, ayah." panggil Ricko dari luar.


"Astaga, Ricko mas." Ariana langsung panik.


"Sayang, apa kamu akan keluar dengan keadaan seperti itu ?" Demian nampak terkekeh.


"Kamu di sini saja, biar aku yang lihat." imbuhnya lagi sembari memunguti pakaiannya di lantai dan setelah itu ia segera memakainya.


"Ayah." Ricko nampak tersenyum senang ketika melihat Demian, bocah kecil itu sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


Ia pikir ayahnya itu akan lama meninggalkannya dan memilih tinggal bersama Olive.


"Apa ibuk masih tidur ?" tanya Ricko kemudian.


"I-iya masih tidur, sayang." sahut Demian berbohong.


Ricko mengintip kamar ibunya yang masih nampak temaram.


"Apa ibuk sakit? biasanya ibuk ikut sarapan ?" tanya Ricko penasaran.


"Nggak sayang mungkin semalam kurang tidur karena nungguin ayah pulang." sahut Demian.


"Oh." Ricko hanya ber oh ria.


"Ricko, ayo berangkat sekarang Nak." ajak Victor seraya menatap jam di pergelangan tangannya.


"Baiklah." Ricko langsung mencium tangan Demian dengan takzim dan di balas kecupan gemas oleh ayahnya di pipi kanan dan kirinya.


"Tuan, hari ini anda ada meeting...." Victor menjeda ucapannya karena Demian langsung menyelanya.


"Hari ini aku tidak ke kantor Vic, jadi kamu saja yang pimpin meeting." sela Demian.


Sedangkan Victor hanya bisa menghela napasnya pelan, kemudian dia langsung mengangguk.


Dan setelah itu ia segera berlalu pergi meninggalkan atasannya itu yang sudah kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Apa semalaman mereka belum puas melakukan itu, hingga melanjutkan lagi seharian."


Gerutu Victor sembari melangkahkan kakinya pergi, tugasnya kini bertambah selain menjaga Ricko dia juga harus menghandel pekerjaan atasannya tersebut.

__ADS_1


Namun lelahnya itu seakan hilang ketika bersama Ricko, bocah kecil itu sepertinya sudah mencuri hatinya. Apapun yang di lakukan anak itu selalu berhasil membuatnya tertawa.


Dirinya yang sebelumnya kesepian kini ia merasa mempunyai seorang teman.


__ADS_2