Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~133


__ADS_3

"Bayi 100 jutaku ku ku, bayi 100 juta ku ku, bayi 100 jutaku."


Dena nampak bernyanyi lagu baby shark namun ia plesetkan saat memandikan Elkan sore itu.


Hari ini ia pulang kantor lebih awal jadi bisa ikut membantu mengurus Elkan, bocah gembul itu hanya tertawa saja saat sang ibu bernyanyi.


Selama ini Dena menganggap bayinya itu adalah hasil membeli dari Edgar, jadi menurutnya tidak ada yang harus di pertanggung jawabkan oleh laki-laki itu.


Dena yakin mampu menjadi ayah sekaligus ibu bagi Elkan, lebih baik ia menjadi orang tua tunggal tapi bahagia karena jika ia bahagia maka sang putra juga pasti bahagia.


Meski terkadang mimpi buruk masa kelamnya masih sering menghantuinya, tapi ia selalu berusaha untuk kuat di depan anak lelakinya itu.


"Bu, ada seseorang mencari ibu." ucap bik Mina saat baru masuk ke kamarnya.


"Siapa, bik ?" Dena yang baru selesai memakaikan baju Elkan nampak terkejut karena selama ini tidak pernah ada yang datang ke rumahnya.


"Tuan Arhan." sahut Bik Mina.


"Mau ngapain dia kesini ?"


Dena tercengang sesaat, karena sejak perceraiannya dengan Arhan ia hanya pernah bertemu laki-laki itu sekali saat melahirkan Elkan.


"Baiklah, suruh tunggu sebentar." perintahnya kemudian.


Tak berapa lama Dena keluar dari kamarnya bersama Elkan yang terlihat sudah sangat segar.


"Den." sapa Arhan seraya bangkit dari duduknya.


"Duduklah." ucap Dena dengan pandangan datar.


"Apa kabar, sudah besar ya Elkan ?" Arhan melihat Elkan yang terlihat lucu itu.


"Seperti yang kamu lihat, ada apa hingga membuatmu repot-repot datang kemari ?" sahut Dena tak ramah, kini ia duduk di sofa seberang pria itu.


"Karena Aku merindukan kalian." sahut Arhan.


Sedangkan Dena hanya tersenyum sinis menanggapi perkataan Arhan.


"Mau ikut Papa, Nak ?" Arhan mengulurkan tangannya pada Elkan namun bocah kecil itu nampak ketakutan.


"Apa-apaan ini, sejak kapan kamu menjadi papanya dia ?" refleks Dena langsung menjauhkan Elkan dari Arhan.


"Meski dia bukan darah dagingku, tapi kamu juga harus ingat secara administrasi dia putraku." sahut Arhan.


Meski dulu ia menceraikan Dena, tapi Arhan membiarkan namanya di pakai sebagai ayahnya Elkan untuk menjaga nama baik keluarga besar Winata ketika suatu saat publik mengetahuinya.


Karena waktu itu ia masih berhubungan dengan Sera dan ia tidak ingin keluarga Winata mendapatkan malu karena kehamilan Dena yang tidak jelas dengan siapa.

__ADS_1


Namun siapa sangka justru karena itu, kini ia mempunyai alasan untuk bisa mendekati Dena lagi.


Arhan sangat menyesal dengan perbuatannya dulu, selama ini ia melihat Dena dan Sera seperti bumi dan langit. Dena selalu bersikap apa adanya tanpa di buat-buat bahkan terkesan bar-bar.


Lain halnya dengan Sera, ia tertipu dengan pembawaan Sera yang selalu lemah lembut namun menyimpan sisi lain yang mengerikan.


Sera mulai berubah saat dirinya dan Dena berpisah, wanita itu seakan menampakkan jati dirinya yang sebenarnya.


Sera sangat kasar jika sedang marah, tapi Arhan mencoba untuk selalu memahaminya demi rasa cintanya, namun penghianatan wanita itu yang diam-diam berselingkuh dengan Edgar membuatnya geram dan langsung memutuskan Sera.


Kini Arhan menyesal karena telah membuang berlian yang sangat mahal seperti Dena demi batu kali yang berkamuflase seperti berlian.


Dena nampak memberikan Elkan pada pengasuhnya dan menyuruhnya membawa pergi dari sana, karena sepertinya Elkan sangat takut dengan Arhan.


"Apa yang kamu inginkan ?" tanya Dena kemudian tanpa basa basi, pandangannya menusuk ke arah Arhan hingga membuat laki-laki itu mengalihkan pandangannya.


Arhan tahu Dena memang seperti itu ketika sedang marah, namun ia juga masih mengingat betapa lembutnya wanita itu saat menjadi istrinya dahulu.


"Aku mau meminta maaf dan aku ingin memperbaiki kesalahanku dulu, tolong beri aku kesempatan. Aku janji akan menjadi suami dan Ayah yang baik untuk Elkan." mohon Arhan.


"Cih, apa aku tidak salah mendengar tuan Bagaskara yang terhormat berbicara seperti itu ?" cibir Dena dengan tatapan mengejek.


"Dena aku serius, rujuklah denganku. Aku janji akan membahagiakan mu dan Elkan." mohon Arhan lagi.


Dena langsung tertawa mengejek. "Dulu kamu juga berjanji padaku akan belajar mencintaiku, namun apa aku justru melihatmu berada di atas tubuh adikku sendiri tanpa busana." sarkasnya.


"Tapi bukannya kamu juga sudah tidur dengan pria lain." ucap Arhan tak mau kalah.


"Kamu pikir aku melakukan itu bukan tanpa alasan hah? satu tahun kita menikah tapi sedikitpun kamu tidak pernah menyentuhku. Namun di saat kita merayakan anniversary justru kamu menghianatiku dengan saudaraku sendiri." sungut Dena.


"Kita sama-sama pernah melakukan kesalahan, bisakah kita menghapus semuanya dan mulai dari nol lagi ?" bujuk Arhan memohon.


Sedangkan Dena hanya menganggapinya dengan senyuman sinis.


"Sayangnya aku sudah membuat keputusan untuk tidak menjalin hubungan dengan pria manapun." sahut Dena, baginya tidak ada kesempatan kedua.


Dulu ia memang pernah mencintai laki-laki itu, tapi dengan berjalannya waktu cinta itu terkikis dengan sendirinya bersamaan dengan hatinya yang mulai mengeras.


"Tapi Elkan butuh seorang ayah." bujuk Arhan.


"Elkan akan baik-baik saja tanpa ayah." sinis Dena.


"Sepertinya kamu harus pulang sekarang Arhan, aku harus membuatkan Elkan makan malam." Dena beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju pintu unitnya.


Arhan yang merasa di usir nampak menghela napasnya dengan berat, ia tidak akan menyerah dan akan berusaha membuka hati wanita itu lagi.


Dena langsung membanting pintunya saat Arhan sudah meninggalkan unitnya tersebut.

__ADS_1


"Dasar laki-laki tak tahu malu." gerutunya.


Keesokan harinya....


"Selamat pagi pak." sapa Dena saat ia melihat Edgar berdiri di depan lift.


Tumben sekali laki-laki itu datang ke kantor lebih awal, padahal jam masuk kantor masih sepuluh menit lagi.


"Hm." sahut Edgar dingin, kemudian ia langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift.


Semua karyawan di sana hanya bisa menunggu pintu lift berikutnya terbuka karena tidak mungkin mereka berada satu lift dengan pemilik perusahaannya itu.


Apalagi melihat sikap pria itu yang selalu dingin dengan semua karyawannya.


"Semoga betah ya Den menjadi sekretarisnya pak Edgar." ucap beberapa karyawan di sana dengan nada dukungan atau pun mengejek.


Sejak beberapa bulan menjabat CEO di kantor tersebut, Edgar sudah memecat dua sekretarisnya dan itu yang membuat mereka bersimpati pada Dena. Semoga wanita itu tidak menjadi korban berikutnya.


Sesampainya di meja kerja barunya yang terletak tepat di depan pintu ruangan Edgar, Dena nampak menghela napas beratnya.


Ia tidak menyukai pekerjaan menjadi sekretaris atau lebih tepatnya ia tidak menyukai pekerjaan yang membuatnya selalu dekat dengan Edgar.


"Ke ruangan saya sekarang juga." perintah Edgar saat menghubungi Dena melalui sambungan telepon kantor.


"Baik pak." sahut Dena seraya memanyunkan bibirnya.


Hari-hari melelahkannya akan segera di mulai, ia harus semangat demi putranya..


"Anda memanggil saya, Pak ?" ucap Dena saat masuk ke dalam ruangan Edgar.


Edgar yang sedang berdiri menghadap ke jendela kantornya langsung berbalik badan menatap Dena.


Wanita itu terlihat angkuh menatap dirinya, sorot matanya sangat tajam seakan ingin menusuk jantungnya.


"Apa sedikitpun kamu tidak bisa bersikap sopan santun pada atasanmu ?" tegur Edgar, ia tidak suka dengan tatapan Dena yang sama sekali tak ramah.


"Maksud bapak ?" Dena tak mengerti.


"Apa kamu sedikit saja tidak bisa menunduk untuk menghormati saya ?" sinis Edgar.


"Anda bukan Tuhan jadi kenapa saya harus menunduk? lagipula saya masih sangat sopan dan menghormati anda. Kecuali saya melepaskan pakaian saya di hadapan anda itu baru tidak sopan." sarkas Dena namun itu justru membuat Edgar melotot tak percaya dengan keberanian wanita itu.


Edgar geram, kalau saja bukan Dena yang selalu membuatnya penasaran mungkin ia sudah langsung memecat wanita itu. Sepertinya memang wanita itu dengan sengaja ingin membuatnya kesal.


Namun kemudian seringaian nampak di wajah Edgar, ia melangkah mendekat ke arah Dena yang masih bergeming di tempatnya dengan tatapannnya yang selalu dingin.


"Dari cara bicaramu sepertinya kamu pernah ya melepaskan pakaianmu di hadapan seorang pria ?" sindir Edgar yang langsung membuat Dena menelan ludahnya bulat-bulat.

__ADS_1


__ADS_2