Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~237


__ADS_3

Hanya sebuah kecupan namun berhasil membuat Olive terdiam sejenak sekaligus tercengang kaget.


"A-apa yang bapak lakukan ?" protesnya setelah Ricko menjauhkan bibirnya.


"Hanya ingin merasakan apa rasa manisnya masih sama." sahut Ricko dengan cuek, kemudian ia berlalu sembari mengulas senyumnya.


"Apa? di kira aku cewek apaan." gerutu Olive, kemudian ia langsung mengejar Ricko yang hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Pak, tunggu dulu. Anda tidak bisa memperlakukan saya dengan seenaknya sendiri, itu namanya pelecehan." teriaknya.


"Saya lelah, saya ingin istirahat sebentar. Kalau kamu sudah selesai memasak, tolong bangunkan saya." perintah Ricko sembari melangkahkan kakinya menuju ranjangnya, lalu ia segera merebahkan tubuhnya di sana.


"Hah, apa dia bilang ?" merasa di abaikan Olive semakin kesal.


"Bapak dengar saya nggak sih, bapak tidak bisa seenaknya menyentuh saya." protesnya tak menyerah.


"Pak, jangan pura-pura tidur dong." Olive yang merasa kesal langsung menarik tangan pria itu agar segera bangun.


"Pak, bangun." teriaknya lagi.


"Anda jangan tidur dulu sebelum....." imbuhnya lagi namun terjeda karena tiba-tiba Ricko menarik tangan Olive hingga membuat gadis itu terjatuh menimpanya.


"Bapak apa-apaan sih." protes Olive yang mencoba untuk bangun namun Ricko justru memeluk pinggangnya dengan erat.


"Le-lepaskan saya." mohon Olive yang kini berada di atas tubuh Ricko, ia langsung mengangkat wajahnya agar tidak bersentuhan dengan dada bidang bossnya tersebut.


"Kamu tahu akibatnya jika mengganggu saya ?" tukas Ricko menatap lekat Olive.


"Bu-bukan begitu, sa-saya hanya ingin meminta pertanggung jawaban karena anda selalu mencuri ciuman saya." sahut Olive beralasan, napasnya naik turun beradu dengan napas bossnya itu.


"Tanggung jawab ?" Ricko nampak menaikkan sebelah alisnya.


"Hmm." angguk Olive dengan polos.


"Baiklah, jadi kapan kita akan menikah ?" tukas Ricko yang langsung membuat Olive melotot menatapnya.


"Bu-bukan tanggung jawab seperti itu maksud saya." balasnya kemudian.


"Lalu ?"


"A-anda harus meminta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi dan sebagai ganti ruginya anda harus melepaskan saya dan membiarkan saya kembali ke Jerman." sahut Olive yang langsung membuat Ricko mengeraskan rahangnya.


"Apa kamu lupa, jika kamu sudah menandatangani kontrak kerja selama lima tahun dengan opsi perpanjangan ?" tegas Ricko.


"Tapi kan saya bekerja untuk pak Dean, pak ?" sanggah Olive.


"Ck, omong kosong." Ricko langsung membalikkan tubuh Olive hingga kini wanita itu berada di bawahnya.


"Meski kamu bekerja untuk kak Dean, tapi yang membuat peraturan di perusahaan ini adalah saya." tegas Ricko.


"Dan cepat buatkan saya makanan, sebelum kamu yang saya makan !!" Ricko nampak tersenyum menyeringai menatap Olive, kemudian ia berguling ke sisi gadis itu.

__ADS_1


Olive yang merasa bebas segera bangun lalu berlari keluar dari kamar tersebut.


"Mengerikan sekali." gumamnya seraya berlari menuju dapur.


Beberapa saat kemudian Olive yang telah selesai memasak nampak ragu-ragu masuk ke dalam kamar Ricko.


Ia takut kejadian tadi akan terulang kembali, sepertinya untuk saat ini ia harus bersabar sampai Dean kembali.


Sesampainya di dalam kamar Ricko, ia tak menemukan keberadaan pria itu di ranjangnya.


"Dimana dia ?" gumamnya seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar yang lumayan luas itu.


Kemudian ia segera merapikan kasur yang terlihat berantakan karena bekas bossnya tidur tadi.


"Apa nona Sarah juga sering tidur disini ?" ucapnya kemudian.


Ehmm


Olive langsung berjingkat kaget saat mendengar deheman Ricko.


"Makan siangnya sudah siap, pak." ucapnya seraya menatap Ricko yang baru keluar dari kamar mandi.


Laki-laki itu terlihat segar setelah membersihkan dirinya dan berganti pakaian santai, kaos polo serta celana boxer.


Setelah itu Olive bergegas keluar dari kamar tersebut, sebelum sesuatu yang tidak ia inginkan akan terjadi.


"Bapak tidak kembali ke kantor ?" tanyanya saat Ricko baru bergabung di meja makan, kemudian ia mengambilkan sedikit nasi dan lauk di atas piringnya.


"Tidak." sahut Ricko di tengah mengunyah makanannya.


"Siapa yang mengizinkan mu kembali ke kantor ?" tanya Ricko dengan mengangkat wajahnya menatap Olive.


"Tapi pekerjaan saya di kantor masih menumpuk, pak." sahut Olive.


"Pak Jeff akan menyuruh sopir membawanya kemari." tegas Ricko.


"Tapi pak...."


"Saya tidak suka di bantah." sela Ricko menatap tajam Olive.


"Baiklah." akhirnya Olive hanya bisa pasrah.


"Menyebalkan." imbuhnya dalam hati.


Selanjutnya mereka terlihat makan dalam diam, Olive yang masih kesal nampak enggan berbicara.


Sementara itu Ricko sesekali mencuri pandang sembari mengulas senyum penuh kemenangan, karena sudah berhasil mengurung gadis itu di dalam Apartemennya.


"Ya, hallo. Sarah? hm, baiklah aku akan segera kesana." ucap Ricko saat baru menjawab telepon dari seseorang.


Kemudian ia bergegas bangkit dari duduknya, bahkan makanannya pun baru setengahnya yang habis.

__ADS_1


"Aku harus pergi sekarang, kamu jangan kemana-mana tunggu aku di sini." perintahnya kemudian pada Olive, setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan Apartemennya tersebut.


Olive yang melihat kepergiannya hanya bisa tersenyum miris, meski hampir sepanjang waktu ia bersama dengan Ricko tapi pria itu tetap milik wanita lain.


Sementara itu Ricko yang baru sampai di rumahnya langsung di sambut oleh kedua orangtuanya dengan wajah geram.


"Dimana Sarah ?" tanya Ricko dengan khawatir.


"Apa kamu peduli dengannya ?" Ariana bukannya menjawab tapi justru bertanya balik pada putranya tersebut.


"Tentu saja aku peduli padanya, Mom." sahut Ricko.


"Kalau peduli kenapa kamu mematahkan perasaannya dan tiba-tiba ingin mengakhiri pertunangan kalian ?" tegur Ariana dengan kesal.


"Jadi dia sudah mengadu pada Mommy ?" ucap Ricko yang langsung mendapatkan tamparan dari ibunya tersebut.


Plakk


Pipi Ricko langsung memerah, namun ia hanya bisa terdiam.


"Kalau kamu memang tidak mencintai Sarah lalu kenapa kamu mengajaknya bertunangan ?" kali ini Demian yang berbicara.


"Karena aku tidak ingin di jodohkan dengan wanita pilihan Mommy, Dad. Lagipula waktu itu Sarah yang memberikan ide itu." sahut Ricko.


"Dan kamu menyetujuinya? Nak, wanita itu makhluk yang sangat berperasaan. Sarah mau menolongmu karena dia sangat mencintaimu, pokoknya Mommy tidak setuju jika kalian berpisah. Perasaan wanita bukan untuk mainan, jika kamu tidak mencintainya mulai sekarang kamu harus bisa belajar mencintainya." keukeh Ariana.


"Tapi Mom, aku sudah mencintai wanita lain." protes Ricko.


"Apa dia sebaik Sarah? tapi ku rasa wanita baik-baik tidak akan merebut milik orang lain, Nak." tukas Ariana.


"Tapi Mom...."


"Mommy mu benar, Rick." potong Demian menatap putranya tersebut.


"Mom..." Ricko nampak mengiba pada ibunya tersebut.


"Mommy kecewa padamu Rick, Mommy menginginkan mu menikah muda agar kamu tidak berbuat maksiat di luar sana tapi ternyata kamu justru membohongi Mommy." Ariana nampak kecewa.


Wanita paruh baya itu sudah berusaha keras agar putranya itu tidak seperti ayahnya, namun sepertinya takdir berkata lain.


Mendengar perkataan ibunya, Ricko hanya bisa terdiam. Ia tidak bisa melihat ibunya itu menangis.


"Maafkan aku, Mom." Ricko langsung memeluk ibunya tersebut.


Di sisi lain, Olive yang masih berada di Apartemennya Ricko nampak jengah menunggu laki-laki itu.


Hingga pukul 9 malam Ricko belum juga kembali dan pada akhirnya ia memutuskan untuk pulang.


Namun baru beberapa langkah ia menyusuri jalan, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.


"Pak." ucapnya, ia tahu pria itu adalah Ricko karena ia sangat hafal dengan aroma parfumnya.

__ADS_1


"Menikahlah denganku." ucap Ricko dengan lirih.


"A-apa ?" Olive nampak terkejut.


__ADS_2