Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~112


__ADS_3

Nina menatap gadis yang pernah bersama dengan suaminya di Bar waktu itu dengan sinis.


"Ada perlu apa ?" tanya Nina dengan tangannya bersendekap di dada.


Ia tak perlu beramah tama menghadapi gadis seperti sisil, tipe-tipe wanita parasit menurutnya.


Masih teringat jelas di ingatan Nina, wanita itu dengan tak tahu malunya sudah merayu Victor agar di belikan sebuah tas mahal.


Apa wanita itu sudah menjual tubuhnya pada suaminya? entahlah, Nina bukan tipe wanita yang mempermasalahkan masa lalu seseorang baik itu suaminya sendiri.


Karena pada hakekatnya sebuah pernikahan itu membuka lembaran baru dan menutup kisah lama.


Namun jika kisah lama memaksa ikut di lembaran barunya maka ia tidak akan tinggal diam begitu saja.


Sisil masih menatap Nina dengan angkuh, nampak aura permusuhan tersirat di wajahnya.


"Dimana kak Victor ?" ucapnya lagi.


"Ada perlu apa mencari suami saya ?" tanya Nina balik.


Sisil tersenyum sinis, berani juga wanita di hadapannya ini. pikirnya.


"Bukan urusanmu." sahutnya kemudian.


"Mulai sekarang urusan suami saya adalah urusan saya." tegas Nina tak kalah sinis.


"Baiklah, serahkan ini pada kak Victor. Suruh cepat transfer karena aku membutuhkan bukti pembayarannya." Sisil nampak menyerahkan selembar tagihan pada Nina.


"350 juta, hanya untuk sebuah tas ?"


Nina nampak meremas tangannya sendiri, sungguh wanita tidak tahu malu. Apa wanita itu sudah menukar tubuhnya dengan tas seharga satu unit rumah?


"Jangan karena kamu menjadi istrinya, kamu bisa melarang kak Victor membelikanku sesuatu." ucap Sisil lagi saat Nina tak menanggapinya.


"Jangan khawatir nona, suamiku sangat dermawan kok. Dia pasti akan segera mentransfer uangnya, tapi...." Nina menggantung ucapannya sejenak, lalu ia menatap Sisil dengan pandangan mengejek.


"Aku hanya miris saja sih melihat wanita cantik sepertimu, bukannya kerja yang benar, tapi justru lebih suka morotin suami orang." lanjutnya lagi dengan nada ejekan.


"Kamu....." Sisil nampak geram.


"Dasar jal😏ng, yang kerja tidak benar itu kamu. Memang ada wanita baik-baik kerja di Bar ?" Balas Sisil.


"Paling tidak aku bekerja nona, bukan jadi parasit seperti kamu. Aku jadi penasaran apa suamiku memberikan mu barang-barang mahal itu secara cuma-cuma atau dengan sebuah imbalan ?" ejek Nina meski dadanya terasa sesak saat mengatakan itu, ia takut kalau ucapannya itu benar adanya.

__ADS_1


"Apa maksud kamu ?" geram Sisil.


"Jaman sekarang tidak ada yang gratis nona, bisa saja kan kamu membuka kedua pahamu lebar-lebar untuk merayu suamiku. Jika itu benar, jadi siapa yang jal😏ng di sini ?" sahut Nina yang langsung membuat Sisil melayangkan tamparannya.


Namun bukan Nina kalau tidak bisa mengelak, ia langsung mencekal pergelangan tangan Sisil dengan menggunakan sedikit tenaganya hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Lepaskan, sialan." pekik Sisil wajahnya memerah menahan sakit.


"Itu bukan cara memohon yang baik, Nona." cibir Nina tanpa melepaskan cekalan tangannya, bahkan kini ia sedikit menambahkan tenaganya hingga membuat Sisil langsung terpekik.


"Arrghh, sakit." teriak Sisil hampir menangis.


"Jadi...." Nina menaikkan sebelah alisnya.


"Baiklah, ku mohon lepaskan aku." mohon Sisil dengan mengiba, ia tidak menyangka wanita di hadapannya ini bukan sembarang wanita.


Nina segera melepaskan cekalan tangannya, nampak pergelangan tangan Sisil merah lebam.


Melihat itu Nina sampai menelan ludahnya, padahal ia tak terlalu kuat mencekalnya. Semoga saja wanita itu tidak membuat pengaduan ke kantor polisi.


Lalu dengan amarah tertahan, Sisil langsung meninggalkan unit milik Victor tersebut.


Melihat kepergian Sisil, Nina nampak menghembuskan napas kasarnya.


Isinya tak lebih dari dua ratus juta, hanya separuh dari harga tas tersebut.


Nina tahu beberapa kartu yang di tawarkan Victor padanya adalah kartu tanpa limit dan hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai.


Nina sengaja tidak mau menerimanya, karena ia memang tidak membutuhkannya. Ia bisa berhemat dengan memasak sendiri atau membeli makanan di kaki lima seperti biasanya.


Punya suami kaya bukan berarti ia bisa berfoya-foya, karena hidup terus berjalan dan pastinya suatu saat mereka akan mempunyai anak.


Dan Nina ingin menabung sebanyak-banyaknya untuk sang anak, agar kelak tidak seperti dirinya. Karena ketidakmampuan orangtuanya ia harus putus sekolah dan menghabiskan masa remajanya dengan bekerja dan bekerja.


Hinaan demi hinaan pun sudah menjadi makanannya sehari-hari.


Terkadang kita bekerja di tempat yang buruk bukan berarti kita buruk, tapi karena tuntutan hidup yang membuat kita harus melakukan itu.


Tak terasa butiran kristal jatuh dari pelupuk matanya, kemudian ia segera mengusapnya. Mencoba untuk tersenyum adalah cara yang paling ampuh untuk melupakan kesedihannya.


Ia percaya jika suaminya itu tidak akan berbuat macam-macam di belakangnya.


Sementara itu disisi lain setelah dari rumah sakit Victor segera pergi ke kantornya, ia harus mengecek beberapa pekerjaannya sebelum pulang.

__ADS_1


Baru menginjakkan kakinya di lobby, Sisil nampak menghampirinya dengan isak tangis.


"Kak, Victor." rengek Sisil ingin memeluknya, namun Victor segera menahan tangannya.


Victor sadar dirinya sudah menikah dan ia tidak akan mengizinkan wanita manapun menyentuhnya.


"Kamu kenapa ?" tanya Victor kemudian.


"Kakak lihat tanganku, hampir patah karena ulah istrimu itu." sahut Sisil mengadu.


Victor melihat pergelangan Sisil nampak lebam, ia tidak ingin mempercayai ucapan gadis itu tapi mengingat bagaimana Nina membuat seorang pria babak belur di Bar waktu itu membuatnya jadi ragu.


Kemudian Victor mengajak Sisil duduk di sebuah kursi tunggu tak jauh dari meja resepsionis, ia nampak mengambil kotak p3k lalu mengolesi tangan gadis itu dengan salep.


"Sekarang katakan apa yang terjadi ?" ucapnya kemudian.


"Aku tadi ke unit kakak, mau memberikan tagihan tas tapi istri kak Victor itu justru memaki-makiku dan menyerangku. Katanya pekerjaanku hanya morotin duit kakak saja." sahut Sisil dengan tangis yang di buat-buat.


Victor nampak menghela napas panjangnya, Sisil bukanlah orang yang baru dia kenal. Ia mengenal gadis itu sejak lahir dan sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Namun terkadang sikap kekanak-kanakannya membuatnya gemas.


Disisi lain Nina juga istrinya, meski ia belum mengenal dekat wanita itu tapi ia tak percaya jika wanitanya itu tega melakukan itu.


"Mana tagihannya, biar ku transfer." ucap Victor kemudian.


Beruntung Sisil mempunyai salinannya, jadi ia langsung memberikannya pada Victor.


"Sudah ku transfer, kamu bisa langsung mengambil barangnya." ucap Victor yang langsung membuat Sisil tersenyum senang.


"Terima kasih, kak." Sisil ingin memeluknya, namun lagi-lagi Victor menahannya dengan tangannya.


"Aku sudah menikah, Sil. Tolong mengertilah." ucap Victor.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." sahut Sisil seraya bangkit dari duduknya.


"Tunggu, Sil." cegah Victor saat gadis itu hendak melangkah pergi.


"Mungkin ini terakhir kali aku membelikan mu sebuah barang, karena setelah ini apapun yang ku lakukan harus atas persetujuan istriku." lanjut Victor menegaskan.


"Tapi kak....."


"Pulanglah, aku harus meeting." sahut Victor, kemudian ia segera melangkahkan kaki menuju lift.


Sedangkan Sisil yang menatap kepergian laki-laki itu nampak sangat geram.

__ADS_1


"Ku pastikan kalian akan segera berpisah."


__ADS_2