
"Kamu ?" tuan Anggoro nampak memucat ketika melihat seorang anak remaja berbadan kurus sedang berdiri di hadapannya.
Ia tidak menyangka kalau hari yang paling ia takuti akhirnya akan terjadi juga.
"Papa janjikan akan datang ke asrama, tapi kenapa sudah beberapa bulan ini Papa tidak datang. Bahkan raportku tidak di bagikan karena Papa tidak ada ?" keluh anak remaja itu yang tanpa ia sadari nampak seorang wanita yang berada tak jauh darinya sedang menatapnya penuh dengan amarah.
"Dia siapa Pa, kenapa memanggil kamu dengan sebutan Papa ?" geram nyonya Anggoro.
"Ma, Papa bisa jelasin semuanya."
"Jelasin apa Pa? mau jelasin dia anak dari selingkuhanmu? jadi benar Papa selama ini menghianati Mama ?" pekik nyonya Anggoro dengan emosi tertahan.
"Apa itu benar, Pa ?" kali ini Demian membuka suaranya.
"Maafkan, Papa." sahut tuan Anggoro penuh penyesalan yang langsung membuat istri dan anaknya itu menatap kecewa padanya.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Pa." Nyonya Anggoro nampak melempar pakaian bayi yang dia pegang ke arah suaminya, kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Ma..." Tuan Anggoro ingin mengejar sang istri, namun Demian langsung mencegahnya.
"Kami tunggu penjelasan Papa di rumah dan bawa sekalian anak itu." ujar Demian kemudian menatap anak remaja yang terlihat ketakutan menatapnya.
Setelah itu Demian segera keluar dari toko tersebut, mengejar sang ibu yang sudah berlalu pergi bersama istrinya.
"Maafkan Dean, Pa." anak remaja yang bernama Dean itu nampak merasa bersalah.
"Kamu tidak salah Nak, Papa yang salah. Maaf beberapa bulan ini Papa tidak menjengukmu di asrama." ujar Tuan Anggoro.
Ia memang sengaja tidak menemui putranya dari wanita masa lalunya itu, karena ia curiga Ariana sudah mulai mengetahui rahasia yang sudah ia simpan rapat selama ini.
Sementara itu nyonya Anggoro yang sudah sampai rumahnya, nampak bergeming di kursinya. Wanita itu terlihat begitu syok dengan kenyataan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
"Ma, minum dulu." Ariana memberikan segelas air pada ibu mertuanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian nampak tuan Anggoro dan Dean masuk ke dalam kediamannya tersebut.
"Bisa Papa jelaskan sekarang ?" ujar Demian tak sabar, ia tidak menyangka sosok laki-laki yang menjadi panutannya selama ini tega menghianati ibunya. Apa kenakalannya terdahulu juga menurun dari ayahnya tersebut?
"Duduklah, Nak." perintah tuan Anggoro kemudian pada Dean.
Dean nampak ragu, apalagi ketika menatap Demian maupun nyonya Anggoro yang seakan ingin menerkamnya sekarang juga. Namun ketika menatap sang Ayah, ia langsung mendudukkan dirinya.
"Terima kasih." sahutnya dengan sopan.
"Maafkan Papa, mungkin kesalahan Papa tidak akan bisa termaafkan. Tapi Papa sudah sangat menyesalinya." ujar Tuan Anggoro membuka suaranya.
"Siapa wanita itu ?" tanya nyonya Anggoro dingin.
"Asti." sahut tuan Anggoro.
"Asti, sekretarisnya Papa dulu? jadi Papa selingkuh dengan wanita kampung itu ?" pekik nyonya Anggoro tak percaya.
Asti adalah wanita yang berasal dari kampung dengan wajah standar menurutnya dan jauh dari kriteria sang suami.
"Maafkan Papa, Ma." Tuan Anggoro nampak menyesali perbuatannya.
"Kenapa kamu tega melakukan itu Pa, apa aku kurang cantik di mata Papa ?" kali ini nyonya Anggoro membiarkan air matanya mengalir deras setelah ia tahan sebelumnya.
Melihat istrinya menangis tuan Anggoro merasa sangat kasihan dan ingin memeluknya, karena sebelumnya ia memang tidak pernah membuat wanita itu menangis.
Namun kesalahannya sangat besar hingga membuatnya merasa tidak pantas untuk sekedar menyentuh wanita itu.
"Maafkan Papa, Ma. Papa khilaf waktu itu karena terlalu terbuai dengan perhatian Asti yang tidak pernah Papa dapatkan dari Mama selama ini." ucap tuan Anggoro jujur, mengingat bagaimana dulu ia mendapatkan perhatian lebih dari sekretarisnya tersebut yang lama kelamaan menimbulkan benih-benih cinta diantara mereka.
Tapi karena perasaan bersalahnya pada sang istri, ia segera mengakhiri hubungan gelapnya lalu memecat sekretarisnya tersebut.
Namun tanpa ia tahu Asti pergi membawa sebuah janin dari hasil buah cinta mereka, kemudian setahun yang lalu ia begitu terkejut ketika ada seorang anak remaja menemuinya dan mengaku sebagai putra kandungnya.
__ADS_1
Tuan Anggoro yang tak percaya begitu saja, langsung memerintahkan Victor untuk mencari informasi termasuk melakukan tes DNA dan ternyata Dean memang putra kandungnya.
Nyonya Anggoro nampak menghela napas panjangnya, meskipun selama ini ia jarang memperhatikan sang suami. Namun bukan berarti suaminya itu bisa seenaknya berselingkuh di luar sana.
Ia kira selama ini rumah tangganya baik-baik saja, karena suaminya itupun tidak pernah protes dengan sikapnya yang ia akui memang terlalu cuek dan lebih memilih sibuk dengan kegiatannya sendiri.
"Apa kalian masih bersama ?" ucapnya kemudian dengan nada getir.
"Ibu sudah tiada sejak melahirkan saya." Kali ini Dean yang menjawabnya setelah sekian lama hanya bergeming di tempat duduknya.
Mereka semua nampak menatap Dean dengan pandangan terkejut, kecuali tuan Anggoro yang sudah tahu sebelumnya.
"Maaf, sebenarnya saya tidak berniat untuk mengganggu keluarga Papa atau mendapatkan pengakuannya. Karena itu memang amanah dari mendiang ibu, tapi sejak nenek yang merawat saya tiada, saya merasa sebatang kara di dunia ini. Jadi maafkan saya jika kehadiran saya mengusik keluarga anda. Mungkin setelah ini saya akan kembali ke kampung saja." ucapnya lagi dengan polos.
Mendengar ucapan Dean, nyonya Anggoro nampak bergeming. Meski ada kelegaan di hatinya karena suaminya sudah meninggalkan wanita itu cukup lama tapi tetap saja penghianatan laki-laki itu sudah melukai hatinya.
"Tidak, jangan lakukan itu. Kamu punya hak tinggal di sini." celetuk Ariana tiba-tiba, entah kenapa ia merasa nasib Dean persis dengan Ricko sebelumnya. Namun karena ucapannya itu ia langsung mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.
"Kamu akan tetap tinggal di asrama dan melanjutkan sekolah di sana Dean, ini sudah menjadi keputusan Papa." tegas tuan Anggoro kemudian.
Sifat Dean sungguh seperti ibunya, penurut dan tidak banyak protes. Bahkan ketika waktu itu ia memutuskan sepihak hubungan gelapnya dengan wanita itu, Asti sama sekali tak protes kepadanya.
Bahkan wanita itu cenderung menyalahkan dirinya sendiri karena perbuatannya yang sudah berani bermain api dengannya.
"Maafkan aku, Asti."
Kini tuan Anggoro hanya bisa menyesali perbuatannya, Asti pasti sudah banyak menderita karena kehamilannya hingga membuatnya stres dan meninggal saat melahirkan Dean waktu itu.
"Mama, ingin sendiri." Nyonya Anggoro nampak bangkit dari duduknya kemudian berlalu pergi dari sana.
Sedangkan Demian yang terlihat begitu kecewa juga berlalu pergi.
Dan semenjak kejadian itu nyonya Anggoro lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Tak ada wajah yang di poles make up atau dandanan glamornya, wanita itu nampak pucat tak terawat.
__ADS_1
Begitu juga dengan Demian, kenyataan ayahnya menghianati ibunya. Membuatnya malas bertemu dengan laki-laki itu, hingga ia sering pulang larut malam hanya karena ingin menghindari ayahnya tersebut.
Namun di balik sikapnya itu, justru Ariana merasa kesepian saat ini. Karena Demian lebih banyak mendiamkannya dan berkata seperlunya padanya, mungkin laki-laki itu masih marah karena perkataannya waktu itu pada Dean. Seakan dirinya lebih membela anak dari hasil selingkuhan ayahnya tersebut.