
"Sayang, kamu nggak apa-apa kan aku tinggal sendiri di sini? tuan Demian sedang membutuhkan ku." ujar Victor sesampainya di Apartemennya.
"Nggak apa-apa kok, kamu hati-hati ya. Aku menunggumu di rumah." sahut Nina, ia memahami bagaimana pekerjaan suaminya yang pasti akan selalu sibuk.
"Ini peganglah, kamu bisa belanja sesukamu. Kalau lapar kamu bisa order di restoran bawah." Victor menyerahkan sebuah kartu tanpa limit pada istrinya tersebut, namun Nina sepertinya enggan menerimanya.
"Aku masih punya uang kok." tolak Nina yang langsung membuat Victor menatap gemas.
"Kamu istriku sayang, kamu berhak memakai uangku berapa pun yang kamu mau." ucapnya kemudian.
Lalu Victor mengeluarkan beberapa kartu lagi dari dompetnya.
"Sekarang pilihnya kamu mau ambil yang mana ?" perintahnya seraya mengulurkan 4 buah kartu di tangannya.
Nina nampak bingung kemudian ia mengambil satu kartu berlogo bank pemerintah.
Victor mengernyit. "Kenapa mengambil yang itu ?" tanyanya penasaran.
"Hanya ini yang ku kenali." sahut Nina polos yang membuat Victor jadi semakin gemas.
Sungguh polos istrinya itu, padahal kartu yang lainnya adalah jenis kartu tanpa limit.
"Baiklah kamu hati-hati di rumah ya." ucap Victor kemudian mengecup kening sang istri dengan sayang.
Setelah itu ia segera pergi menuju rumah sakit di mana Dean sedang di rawat.
"Syukurlah Vic kamu segera datang, maaf sudah mengganggu malam pertamamu." ucap Demian saat Victor baru datang.
"Ini sudah menjadi tugas saya, tuan." sahut Victor.
"Apa kamu sudah menemukan pendonor untuk adikku ?" tanya Demian kemudian.
Dean memiliki golongan darah berrhesus negatif, salah satu golongan darah langkah.
"Orang-orang saya sedang mengusahakannya, tuan." sahut Victor seraya menatap kaca di mana Dean sedang berjuang untuk bertahan hidup.
Beberapa saat kemudian tuan Anggoro nampak berjalan tergesa-gesa ke arah mereka.
"Nak." ucapnya saat melihat Demian terduduk lemas di kursi.
"Pa." Demian terkejut padahal dirinya tak mengabari sang ayah mengenai keadaan Dean.
"Maaf tuan, saya memberitahu tuan besar." Victor menjelaskan, bagaimana pun tuan Anggoro adalah ayah kandung dari Dean.
"Maafkan Papa, Nak." ujar Tuan Anggoro dengan nada penyesalan.
"Semua sudah terjadi, Pa." sahut Demian.
__ADS_1
"Terima kasih sudah merawatnya, karena perasaan bersalah Papa terhadap Mamamu, Papa kurang mempedulikan anak itu." ucap tuan Anggoro menyesal.
Kemudian ia beralih menatap putra keduanya itu dari balik kaca dengan perasaan bersalah.
Hingga menjelang pagi hari tiga laki-laki tersebut nampak menjaga Dean yang belum juga bangun dari komanya setelah sebelumnya mengalami kritis.
"Tuan, apa anda sudah mendapatkan pendonornya? Pasien tidak akan bertahan lama jika tidak segera melakukan transfusi darah." ujar Dokter pagi itu setelah memeriksa keadaan Dean.
"Kami belum mendapatkannya, Dok." sahut Demian frustrasi, begitu juga dengan Victor.
Sedangkan tuan Anggoro pagi sekali sudah pulang, beliau tidak mau jika istrinya akan salah paham. Karena hingga kini wanita paruh baya itu belum bisa menerima Dean.
"Dokter, detak jantung pasien melemah." teriak seorang perawat dari dalam kamar Dean.
Lalu Dokter tersebut segera masuk kembali untuk memberikan tindakan.
"Tolong secepatnya dapatkan pendonor itu tuan atau kalau tidak nyawa adik anda tidak akan tertolong." mohon Dokter tersebut.
Demian nampak frustrasi, seberapa banyak uang yang dia punya nyatanya tak bisa menyelamatkan nyawa adiknya.
"Ambil saja darah saya dok, saya rhesus negatif." ucap seorang wanita cantik berjalan ke arah mereka.
"Anda siapa ?" tanya Demian memicing.
"Saya kebetulan pengunjung di rumah sakit ini, saya melihat papan informasi di bawah katanya sedang membutuhkan darah berrhesus negatif." ucap wanita muda tersebut.
Demian seakan menemukan secercah harapan, tanpa berpikir panjang ia langsung menyetujuinya.
"Terima kasih nona, berapa pun yang kamu minta akan saya berikan." ucapnya antusias.
"Tidak perlu tuan, saya tidak sematre itu. Kita sebagai makhluk sosial bukannya harus saling membantu." sahut wanita tersebut.
"Oh ya kenalkan nama saya Jenny." wanita itu mengulurkan tangannya pada Demian dan juga Victor.
"Kalau nona sudah siap, bisa langsung ikut kami melakukan pemeriksaan." ujar Dokter tersebut yang langsung di anggukin oleh Jenny.
Setelah kepergian Jenny, Demian nampak saling pandang dengan Victor.
"Apa kamu merasa ada yang aneh, Vic ?" tanya Demian kemudian.
"Saya juga berpikir seperti itu, tuan." sahut Victor.
"Segera cari tahu siapa wanita itu, kita tidak bisa mempercayai seseorang begitu saja." perintah Demian.
"Tentu saja, tuan." sahut Victor.
Tak berapa lama kemudian nampak Ariana datang menemui suaminya, perutnya yang semakin membesar membuatnya tak bisa bergerak bebas.
__ADS_1
"Astaga sayang, kenapa kamu kesini ?" Demian terlihat khawatir saat melihat istrinya itu datang.
"Aku baik-baik saja, Mas. Aku membawakan kalian sarapan pagi." sahut Ariana.
"Kamu harus banyak istirahat, sayang."
"Aku hanya hamil Mas, bukan sakit. Lagipula dedek kembar sangat merindukan Daddynya." cebik Ariana.
Demian langsung memeluk istrinya itu, dia juga sangat merindukan wanita itu. Karena kesibukannya menjaga Dean, ia jadi kurang perhatian padanya.
"Dedek kembar atau mommynya yang rindu, hm ?" ledek Demian setelah mengurai pelukannya.
Ariana yang sedang melingkarkan tangannya di pinggang sang suami nampak mendongakkan kepalanya menatap laki-laki itu.
"Hm, ketiganya mungkin." sahutnya nyengir.
Demian terlihat gemas, lalu di kecupnya bibir tipis sang istri yang selalu membuatmu candu itu dengan sayang.
Tapi sepertinya sebuah kecupan saja tak cukup bagi mereka, karena kini keduanya sudah saling memanggut dan berbagi saliva.
Victor yang melihatnya langsung memalingkan wajahnya dan lebih memilih mengecek pekerjaannya di ponselnya.
Biasanya ia akan mengumpat saat melihat pemandangan yang memancing hasratnya tersebut, namun sejak ia jatuh cinta pada sang istri Victor jadi mengerti.
Karena mengungkapkan cinta pada orang yang di sayang itu memang tak mengenal tempat dan situasi.
Victor jadi merindukan istrinya itu, membayangkan kejadian semalam membuatnya menghela napasnya dengan berat.
Tubuh setengah polos Nina selalu menari-nari di kepalanya, seakan mengundangnya untuk segera pulang dan menyentuhnya.
"Ah sial." umpatnya pada akhirnya.
Kemudian ia memutuskan untuk menunggu di cafetaria di rumah sakit tersebut, paling tidak segelas kopi dan rokok akan membuatnya lebih baik.
Sementara itu Nina yang biasanya selalu sibuk dengan pekerjaannya, ia merasa bosan di Apartemen seorang diri.
Victor yang dari semalam pergi pun, belum juga kembali. Nina memahami bagaimana pekerjaan suaminya itu dan ia akan mencoba untuk mengerti.
Pada akhirnya ia memilih untuk merapikan Apartemennya tersebut, menata ulang isinya dan membersihkan debu-debunya.
Tidak banyak ruangan di sana, hanya sebuah kamar tidur dan sebuah ruang fitnes. Sepertinya suaminya itu rajin sekali berolahraga dan Nina penasaran seberapa sispack pria itu.
Membayangkan hal itu membuat Nina jadi tersipu sendiri. "Ah otakku." lirihnya.
Tak berapa lama kemudian ia mendengar bel berbunyi, Nina langsung bersemangat itu pasti suaminya. Namun saat ia membuka pintu senyumnya langsung menyurut.
"Di mana kak Victor ?" ucap seorang gadis dengan angkuh menatap Nina.
__ADS_1