
"Sayang, kalau kamu tidak ingin cepat menikah bagaimana kalau kita bertunangan dulu." ucap Sera yang langsung membuat Edgar terkejut menatapnya.
"Ser, apa ini tidak terlalu terburu-buru." sahut Edgar yang langsung membuat Sera beranjak dari pangkuannya.
"Kita hanya bertunangan sayang, bukan menikah. Sebagai wanita aku hanya menginginkan kepastian, agar wanita di luar sana tidak menggodamu. Aku sangat mencintaimu Ed, aku akan sabar menunggumu sampai kamu siap." ucap Sera dengan lembut dan terdengar menenangkan di telinga Edgar.
Edgar nampak menghela napasnya, Sera wanita yang baik harusnya ia bersyukur di cintai oleh wanita itu. Bukannya justru tergoda oleh pesona Dena yang belum tentu menyukainya.
"Baiklah akan ku pikirkan, bukannya masalah ini harus di bicarakan oleh keluarga besar." sahut Edgar kemudian.
"Terima kasih sayang, aku akan menunggu hari itu tiba." Sera langsung memeluk Edgar.
"Maafkan aku Ser yang sempat mencoba untuk berpaling darimu, Dena hanya masa lalu yang tak di sengaja dan kamu mungkin masa depanku."
Sepertinya Edgar sudah memutuskan pada siapa hatinya akan berlabuh, meski ia masih bimbang dengan perasaannya tapi Sera sudah terlebih dahulu hadir dalam hidupnya jauh sebelum Dena dan ia tidak bisa menyakiti Sera lebih jauh.
Beberapa hari setelah itu, Edgar selalu menjaga jarak dengan Dena mereka hanya bicara seperlunya mengenai pekerjaannya.
Edgar mencoba untuk mengingkari perasaannya sendiri dan ia yakin hanya Sera wanita terbaik dalam hidupnya.
Dena yang merasa Edgar menghindarinya ia tidak ambil pusing, justru itu lebih bagus karena keberadaan sang putra akan baik-baik saja.
Hari minggu adalah hari yang paling Dena tunggu, namun saat ini ia tidak bisa leluasa mengajak putranya untuk bermain di luar.
Jadi ia hanya rebahan seharian di Apartemennya, menemani putranya bermain hingga sore hari.
"Non, tuan menyuruh anda untuk datang ke rumah nanti malam."
Dena nampak menatap pesan yang di kirim oleh ARTnya sang ayah yang memang sampai saat ini mereka sering berkomunikasi.
"Katakan saya tidak bisa." balas Dena, ada angin apa ayahnya itu tiba-tiba menyuruhnya pulang setelah dua tahun berlalu sejak ia di usir malam itu.
"Tuan akan membicarakan rencana pertunangan Non Sera dengan keluarga kekasihnya, untuk itu Non Dena di suruh hadir." balas ARTnya tersebut.
"Saya bilang tidak bisa." balas Dena lagi dan setelah itu tak ada balasan lagi dari ARTnya itu.
"Masa bodoh mereka mau bertunangan atau menikah itu bukan urusanku." gumam Dena kesal, seketika ingatannya tertuju pada peristiwa beberapa hari yang lalu di mana saat itu dengan lancang Edgar menciumnya.
Dena tanpa sadar memegang bibirnya, namun kemudian ia menghela napasnya dengan kasar. Edgar memang mempesona kalau tidak bagaimana mungkin saudara tirinya itu tergila-gila pada pria itu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian terdengar suara notifikasi dari ponselnya, dengan malas Dena meraih ponselnya lalu melihat isi pesan tersebut.
"Non Dena, tuan bilang jika Non tidak datang malam ini maka semua barang-barang peninggalan ibunya Non akan di buang."
Dena langsung meremas tangannya sendiri saat membaca pesan dari ARTnya tersebut.
"Sialan."
Dengan amarah yang membuncah, Dena segera meninggalkan Apartemennya tersebut lalu melajukan mobilnya dengan kencang menuju kediaman sang Ayah.
Tak peduli dengan penampilannya yang hanya mengenakan celana pendek serta kaos rumahan yang kebesaran.
Sampai di depan rumahnya ia melihat mobil mewah yang terparkir di sana.
Dena tak peduli mereka sedang mengadakan acara apa, saat ini yang ada di pikirannya hanya bagaimana menyelamatkan beberapa barang peninggalan ibunya yang tidak sempat ia bawa di saat malam pengusirannya dulu.
Dena membuka pintu rumahnya tersebut dengan kasar hingga beberapa orang yang berada di dalam sana nampak terkejut menatapnya.
"Dena ?" Tuan Winata memicing saat melihat Dena masuk dengan penampilan yang kurang sopan.
"Kenapa papa terkejut melihatku, bukannya papa yang menyuruhku datang kemari." ujar Dena saat melihat Ayahnya menatap geram padanya.
"Maaf mengganggu acara kalian, aku kemari hanya ingin mengambil barang-barang ibuku." sahut Dena seraya menatap Edgar dan keluarganya sejenak.
Setelah itu ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, ia tidak peduli dengan pandangan keluarga Edgar terhadapnya.
Jika ia bersikap baik pun percuma, karena pada akhirnya ibu tirinya dan Sera pasti akan menjelek-jelekkan dirinya di belakang seperti yang mereka lakukan selama ini.
"Maaf kalian harus melihat ini semua, sejak ibunya meninggal Dena susah sekali di atur dan selalu membuat malu keluarga. Untuk itu saya sedikit keberatan saat anda ingin mengenalnya." ujar Tuan Winata pada calon besannya itu.
Edgar nampak menatap datar Dena yang menaiki anak tangga, tebakannya sepertinya tepat kalau sekretarisnya itu tidak akur dengan keluarganya.
Mungkin yang di katakan oleh Sera dan tuan Winata benar adanya, kalau Dena enggan menerima Sera dan ibunya hingga wanita itu bersikap seperti itu.
"Tidak apa-apa tuan Winata saya mengerti, kami tidak akan ikut campur masalah keluarga anda. Lagipula sebentar lagi kita akan menjadi keluarga jadi lebih baik jika saling tahu dari sekarang." sahut King ayah dari Edgar.
"Meski kak Dena seperti itu, tapi sebenarnya dia baik kok Tante, Om." ucap Sera seraya menatap Putri ibunya Edgar.
"Kamu baik banget sih Ser, semoga kakakmu itu bisa berubah baik seperti kamu." sahut Putri menatap bangga pada Sera, ia melihat Sera dan Dena bagaikan bumi dan langit.
__ADS_1
Sera terlihat begitu baik dan lemah lembut dalam bertutur kata, sedangkan Dena hanya dengan melihatnya saja wanita itu terlihat pembangkang.
"Begitulah Jeng, selama ini saya sudah berusaha menjadi ibu yang baik bagi Dena tapi Dena sedikitpun tak menganggap saya." ujar Sita ibu dari Sera, wanita itu nampak terisak.
"Sabar ya Jeng, semoga Dena cepat berubah menjadi baik." ujar ibunya Edgar menenangkan.
Sedangkan Dena yang mendengar obrolan mereka dari lantai atas, nampak tersenyum sinis. Begitulah ibu tirinya dan saudara tirinya itu, mereka akan bersikap seolah menjadi orang yang paling tersakiti.
Dena yakin seandainya mereka menjadi bintang hollywood, pasti akan mendapatkan piala oskar karena kepiawaiannya dalam berakting.
"Saya mau melihat kak Dena dulu siap tahu butuh bantuan." ucap Sera kemudian seraya beranjak dari duduknya.
Dena nampak berada di dalam kamarnya yang kini berubah menjadi gudang, sepertinya ayah dan ibu tirinya itu benar-benar sudah tak menganggapnya sebagai anak.
Ia mengambil sebuah bingkai foto mendiang ibunya yang ia simpan di dalam lemarinya yang sudah berdebu itu, setelah membersihkannya ia segera beranjak dari sana.
Namun ia terkejut saat melihat Sera sudah berdiri di ambang pintu kamarnya dengan tangannya bersendekap di dada dan menatap angkuh padanya.
"Apa kamu sengaja datang kesini hanya ingin mengacaukan acaraku ?" hardik Sera dengan pandangan mengejek.
"Kalau kalian tidak mengancam akan membuang barang-barang ibuku, aku juga tidak akan sudi datang kemari." sahut Dena tak kalah tajam.
"Alasan, kamu cemburu kan karena pada akhirnya aku akan bertunangan dengan Edgar." ketus Sera.
Dena nampak tersenyum mengejek. "Bukan urusanku dan aku tidak peduli." tegas Dena.
Sera yang melihat Dena bersikap biasa saja ia nampak geram, bukan ini yang dia inginkan. Sera ingin melihat Dena hancur karena kebahagiaannya.
Maka dari itu ia sengaja menyuruh ARTnya untuk mengancam Dena agar mau datang ke rumahnya, agar wanita itu melihat kebahagiaannya dan Edgar yang akan segera bertunangan.
"Kalau tidak peduli kenapa masih bekerja di kantor calon suamiku atau kamu sengaja ingin menjadi pelakor ya? oh astaga jangan-jangan bayi harammu itu hasil kamu jadi pelakor makanya sampai sekarang tidak jelas di mana bapaknya." ejek Sera yang langsung membuat Dena melayangkan tamparannya.
Plakkk
Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi mulus Sera, hingga membuat wanita itu terhuyung lalu jatuh ke lantai.
"Dena, apa yang kamu lakukan ?" teriak Edgar nyaring saat melihat wanita itu menampar kekasihnya.
.
__ADS_1
Babang Ed enaknya di apain ya guys, gemes mau nyemplungin ke kolam lele aja 😏