Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~232


__ADS_3

"Pak, anda jangan macam-macam." Olive nampak tersentak saat Ricko tiba-tiba saja memeluknya.


"Astaga badannya panas sekali." imbuhnya lagi, setelah itu ia membantu Ricko masuk ke dalam Apartemennya.


"Apa bapak sudah sarapan ?" tanya Olive setelah itu.


"Belum." sahut Ricko.


"Bapak tunggu di sini sebentar, akan saya buatkan bubur." tukas Olive, kemudian ia segera berlalu ke dapur.


"Banyak sekali bahan makanan di sini, apa pak Ricko hobby memasak ?" gerutunya saat membuka lemari pendingin yang penuh dengan buah dan sayuran.


Setelah itu ia segera mengambil beberapa bahan untuk membuatkan bossnya itu bubur.


Setengah jam kemudian, Olive nampak membawa semangkok bubur dan segelas air ke dalam kamar Ricko.


"Bapak makan dulu, baru minum obat." ucapnya sembari membantu Ricko untuk bangun.


"Saya sudah membuatkan bapak bubur." Olive memberikan semangkok bubur pada Ricko.


"Tangan saya sangat lemas, bisa kamu menyuapiku ?" pinta Ricko yang langsung membuat Olive melebarkan matanya.


"Bapak hanya demam bukan stroke, jadi silakan makan sendiri dan segera minum obatnya. Setelah itu saya harus kembali ke kantor." tukas Olive sedikit kesal.


"Saya tidak suka di bantah." tegas Ricko menatap tajam Olive.


"Astaga bapak, sudah sakit masih saja galak." kesal Olive kemudian mengambil mangkuk tersebut dari tangan Ricko lalu mulai menyuapi bossnya tersebut.


Ricko yang sedang menatap Olive dari jarak sedekat itu nampak merasakan jantungnya berdegup kencang.


Ia merasakan perasaan aneh yang selama ini tidak pernah ia rasakan pada lawan jenis, perasaan yang sulit ia deskripsikan namun terasa membahagiakan.


"Apa ini yang di namakan jatuh cinta ?" gumamnya dalam hati seraya menatap lekat Olive.


"Lagipula bapakkan sudah mempunyai tunangan yang seksi itu, kenapa tidak minta tolong padanya saja untuk mengurus bapak ?" saran Olive sembari menyuapi sang atasannya tersebut.


"Saya tidak ingin mengganggunya." sahut Ricko.


"Terus bapak senang mengganggu saya gitu, gara-gara bapak pekerjaan saya di kantor jadi menumpuk." gerutu Olive dengan kesal namun itu justru membuat Ricko terkekeh menatapnya.


"Saya akan menyuruh pak Jeff untuk membawa pekerjaanmu kemari." balas Ricko.


"No, setelah ini saya akan kembali ke kantor." tolak Olive.


"Ini perintah." tegas Ricko.


"Mau bapak apa sih, saya bukan sekretarisnya bapak ya. Jadi bapak jangan semena-mena sama saya. Bapak sudah mempunyai Pras sebagai asistennya bapak, bapak juga mempunyai kekasih yang seksi itu lalu bapak juga masih mempunyai keluarga jadi kenapa tidak minta tolong pada mereka saja untuk mengurus bapak." akhirnya Olive bisa mengeluarkan segala keluh kesahnya pada bossnya tersebut.


"Kamu cerewet sekali." ucap Ricko, kemudian ia langsung menarik tengkuk Olive lalu membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya.

__ADS_1


Olive nampak melotot saat tiba-tiba bossnya itu menciumnya, ia merasakan dejavu. Kejadian dua tahun yang lalu seakan terputar kembali di otaknya.


Bagaimana saat itu untuk pertama kalinya Ricko menciumnya, sejenak ia melupakan jika laki-laki itu adalah milik wanita lain dan ia mulai menikmati bagaimana Ricko mencium dan *****@* bibirnya dengan lembut.


Namun kenyataan tetaplah kenyataan bahwa pria itu tetap milik wanita lain.


"Pak, tolong lepaskan saya." Olive langsung mendorong tubuh Ricko menjauh.


"Sepertinya bapak sudah sembuh, saya akan kembali ke kantor." Olive segera beranjak berdiri lalu membawa mangkuk yang sudah kosong keluar dari kamar tersebut.


Ricko yang melihat kepergiannya hanya bisa terpaku, ia juga tidak tahu kenapa tak bisa mengendalikan dirinya saat berada di dekat gadis itu.


Padahal Sarah tak kalah seksi darinya, namun ia sedikitpun tak tertarik padanya.


Keesokan harinya...


"Pak Dean." Olive nampak berteriak senang saat melihat Dean masuk kantor kembali pagi itu.


"Kapan kembali pak ?" tanyanya lagi.


"Baru saja, karena sudah sangat merindukanmu jadi aku langsung kesini." sahut Dean sembari terkekeh.


"Nggak rindu saya juga pak ?" timpal Pras menggoda yang langsung membuat Dean dan Olive tertawa bersama.


Ehmm


Mendengar seseorang berdehem mereka langsung berhenti tertawa lalu mencari sumber suara tersebut.


"Kemarin Sarah menghubungiku mengatakan jika kamu sedang sakit." imbuhnya lagi.


"Aku baik-baik saja sekarang." sahut Ricko.


"Tentu saja, Sarah pasti sudah merawatmu penuh dengan cinta." tukas Dean.


"Begitulah." sahut Ricko seraya melirik ke arah Olive.


"Pak Dean katanya ada oleh-oleh buat saya ?" tanya Olive kemudian.


"Tentu saja, aku membawa oleh-oleh spesial buat kamu." sahut Dean lalu menyerahkan sebuah paper bag pada gadis itu.


"Terima kasih, pak." tukas Olive senang.


"Hanya itu saja ?" Dean menaikkan sebelah alisnya menatap Olive.


"Terima kasih, banyak." tukas Olive lalu memeluk Dean, sejak dua tahun terakhir ini hubungan Olive dan Dean memang sangat akrab. Olive seakan menemukan sosok kakak pada diri Dean.


"Jika kamu nanti menjadi istriku, akan ada banyak hadiah untukmu." ucap Dean seraya mengusap lembut puncak kepala Olive.


Sedangkan Ricko yang melihat itu nampak tak suka, ingin sekali ia menjauhkan Dean dari Olive sekarang juga.

__ADS_1


Ehmm


"Apa kantor ini sudah berubah menjadi tempat kencan ?" sindirnya dengan nada dingin.


Dean yang mendengar itu hanya terkekeh menanggapinya, kemudian ia melepaskan pelukan Olive.


Lalu ia memberikan sebuah paper bag lagi buat Pras. "Ini buatmu, terima kasih sudah membantu Olive saat aku tidak ada." ucapnya.


"Terima kasih, pak." sahut Pras dengan senang.


"Cepat kembali bekerja, perusahaan ini tidak membayar pemalas." ucap Ricko, kemudian berlalu pergi masuk ke dalam ruangannya.


"Sudah biarkan saja, jangan di ambil hati perkataan manusia es itu. Jadi bagaimana kalau kita nanti makan siang bersama ?" tukas Dean yang langsung di anggukin Olive.


"Saya juga, pak ?" timpal Pras.


"No." sahut Dean, kemudian ia masuk ke dalam ruangannya.


Sementara itu Ricko yang sedang berada di dalam ruangannya, nampak menggerutu kesal saat mengingat bagaimana kedekatan Dean dan Olive.


"Pak Jeff, ke ruangan saya sekarang." perintahnya saat menghubungi orang kepercayaannya itu.


Dan tak berapa lama kemudian, pria 40 tahun itu langsung masuk ke dalam ruangannya.


"Apa ada masalah, tuan? sepertinya mood anda sedang tidak bagus. Padahal saham kita hari ini naik pesat." ucapnya seraya mendudukkan dirinya di kursi.


"Apa pak Jeff pernah jatuh cinta ?" tanya Ricko yang langsung membuat pria itu tercengang.


"Tentu saja pernah, tuan. Saya jatuh cinta pada istri saya." sahutnya.


"Bagaimana rasanya ?" tanya Ricko tak segan, baginya pak Jeff sudah seperti ayahnya sendiri.


Pria itu sudah mendampinginya sejak pertama kali ia masuk ke kantor ayahnya di saat usianya baru menginjak 15 tahun waktu itu.


"Saya merasa bahagia ketika bersama istri saya, bahkan jantung saya terasa berdetak lebih cepat ketika saya menatapnya atau berada di dekatnya dan saya marah jika ada pria lain yang mendekatinya." sahut pak Jeff.


"Aku juga merasa seperti itu, jadi apa aku sedang jatuh cinta padanya." gumam Ricko.


"Apa anda mulai menyukai nona Sarah, tuan ?" tanya pak Jeff.


Pria paruh baya itu teramat prihatin dengan Ricko, masa remaja laki-laki itu hanya di habiskan untuk bekerja dan belajar.


Apalagi sang ibu yang selalu membatasi pergaulannya terutama dengan perempuan, hingga membuatnya tumbuh menjadi pria yang dingin dan kesepian.


"Belum." sahut Ricko.


"Baiklah, pak Jeff boleh pergi sekarang." imbuhnya lagi.


"Baik, tuan." Pak Jeff segera beranjak dari duduknya, sebenarnya ia masih penasaran dengan wanita yang di maksud oleh bossnya itu.

__ADS_1


"Semoga bukan nona Olive, karena itu akan menimbulkan masalah dengan tuan Dean." gumamnya sembari berlalu pergi.


__ADS_2