
Melihat Olive yang tengah becanda dengan beberapa karyawan pria di kantornya, Ricko yang mendadak panas segera melangkahkan kaki panjangnya ke arah mereka.
Ehmmm
"Apa kalian sudah bosan bekerja ?" tegasnya dengan suara baritonnya.
Sedangkan Olive dan ketiga pria itu langsung menoleh ke arahnya, mereka nampak menelan ludahnya saat melihat Ricko yang siap menerkamnya.
"Kalau sudah bosan, silakan angkat kaki dari kantor ini. Karena di luaran sana masih banyak orang yang membutuhkan pekerjaan." imbuhnya lagi dengan menekankan kata-katanya.
"Maaf, pak. Kalau begitu kami permisi." Kevin dan teman-temannya langsung melipir ke ruangannya masing-masing.
Sedangkan Olive nampak jengah melihat Ricko yang bersikap arogan, kemudian ia juga ikutan pergi dari sana.
Namun baru beberapa langkah, Ricko langsung meneriakinya.
"Tunggu." ucapnya yang langsung membuat Olive berbalik badan menatapnya.
"Apa lagi ?" Olive menatapnya dengan malas.
"Buat kamu." Ricko nampak menyerahkan bungkusan makanan pada mantan istrinya itu.
"Apa itu ?" Olive hanya menatapnya tanpa berniat menerimanya.
"Tadi pagi kamu hanya sarapan sediki, ambillah. Tenang saja aku tidak memasukkan racun di dalamnya." tukas Ricko menatap dalam wanita itu.
"Sadar Olive jangan terpesona, meski pria itu peduli padamu."
"Ehm, baiklah terima kasih." Olive langsung mengambil makanan tersebut.
Setelah itu ia nampak tersenyum sendiri sembari melihat kepergian mantan suaminya itu.
"Astaga Olive baru di perhatikan sedikit saja sudah ge'er. Ingat dia pernah tega mencampakkan mu."
Olive nampak berperang dengan pikirannya sendiri, namun ia langsung membuang mukanya saat Ricko berbalik badan lagi lalu menatapnya kembali.
"Kenapa senyum-senyum begitu ?" ucapnya menatap aneh Olive.
"Ah tidak, aku sedang ingat suami aja. Aku sangat merindukannya." Olive nampak tersenyum nyengir.
"Oh, yaudah lanjut kerja. satu jam lagi kita ada meeting dengan departemenmu." sahut Ricko kemudian ia berbalik badan lalu pergi.
"Apa kamu juga tidak merindukan ku." gerutunya kemudian.
Beberapa saat kemudian Olive yang menjabat sebagai direktur keuangan nampak mengumpulkan karyawannya yang berada di bawah naungannya.
Mereka nampak berkumpul di ruang meeting menunggu kedatangan CEO perusahaan tersebut.
__ADS_1
"Lama tidak bertemu, sepertinya pak Ricko semakin galak ya." ucap Michael pada Olive.
"Santai aja, kalau kerja kita benar ngapain takut." sahut Olive.
"Ngomong-ngomong hari ini kamu cantik sekali."puji Michael yang setiap hari tak henti-hentinya mendekati dan merayu Olive.
"Terima kasih, kamu juga tampan." balas Olive tak kalah manis, begitulah mereka selalu saja becanda setiap saat.
Ehmmm
Ricko nampak berdehem nyaring saat melihat bagaimana kedekatan mereka dan itu membuat hatinya langsung memanas.
"Selamat pagi, Pak." semua karyawan yang ada di tempat meeting tersebut langsung berdiri menghormatinya.
"Pagi." sahutnya, kemudian ia duduk di kursi kebesarannya.
Setelah itu mereka mulai meeting dan sepanjang meeting pandangan Ricko hanya tertuju pada mantan istrinya itu.
Ia tidak menyangka setelah dua tahun ia tinggal, Olive berubah menjadi sosok wanita dewasa dan sangat pintar hingga siapa saja yang menatapnya enggan untuk berpaling.
"Sialan." umpatnya saat mendapati mata para pria begitu mengaggumi Olive sebagai sosok pemimpin mereka, ingin rasanya Ricko mencolok mata mereka satu-persatu agar tidak jelalatan lagi pada sang mantan.
Meeting pagi ini sukses membuat moodnya berantakan dan setelah meeting ia berlalu begitu saja dengan perasaan kesal.
"Pak Ricko sepertinya lagi PMS, moodnya berubah-ubah." timpal Michael saat mereka hendak keluar dari tempat meeting.
"Sembarangan ngomong, jika beliau dengar kamu tinggal nama di sini." sahut Olive menanggapi dan itu membuat Michael langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ini tidak seberapa sayang, aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku."
Siang harinya, Olive yang baru kembali setelah makan siang nampak menghampiri meja sekretarisnya Ricko.
"Apa bapak sudah makan ?" tanyanya kemudian.
"Sejak kembali meeting tadi pagi beliau belum ada keluar, bu." sahut Nana sekretarisnya Ricko.
"Kebiasaan." gerutu Olive, mantan suaminya itu jika sudah bekerja pasti akan lupa waktu.
Kemudian Olive segera memesan makanan lalu membawanya ke dalam ruangan pria itu.
"Ada apa ?" tanya Ricko dengan nada dingin, sepertinya rasa cemburunya masih belum juga pergi.
Olive yang baru masuk itu langsung melangkah mendekatinya, ia nampak tersenyum lembut menatap mantan suaminya dan tentu saja itu membuat mood Ricko mendadak membaik.
"Aku membawakan mu makan siang, sekretarismu bilang kamu belum makan." Olive meletakkan bungkus makanan tersebut di hadapan Ricko.
"Terima kasih." sahut Ricko dengan senyum yang mengembang di wajah tampannya, ia tidak menyangka Olive yang begitu dalam ia sakiti masih saja sangat perhatian padanya.
__ADS_1
Apa wanita itu masih mencintainya, Ricko tiba-tiba jadi menghayal setinggi langit.
Namun senyumnya langsung menyurut saat wanita itu nampak menghubungi seseorang melalui selulernya.
"Iya aku udah makan kok, kamu jangan telat makan juga ya. Hm, aku juga merindukan mu. Love u too." ucapnya lalu mematikan panggilannya tersebut dan tentu saja itu hanya panggilan palsu pada Dean untuk memanasi Ricko.
Dan sepertinya sukses karena pria itu mendadak geram karena cemburu.
Inilah yang Ricko takutkan jika kembali ke negaranya, ia takut tidak bisa membendung perasaannya pada mantan istrinya itu.
Ia sudah mencoba untuk merelakannya, namun ternyata itu sangat sulit.
"Kenapa tidak di makan, ayo makanlah. Aku memesan makanan kesukaan mu loh ini" Olive nampak membuka bungkusan nasi padang itu lalu meletakkannya di atas piring.
Melihat Olive yang berada di samping mejanya, jantung Ricko mendadak berdetak dengan kencang. Napasnya memburu saat aroma parfum wanita itu menusuk hidungnya.
Entah setan dari mana yang merasukinya, Ricko langsung menarik tubuh Olive hingga wanita itu jatuh di atas pangkuannya.
Lalu dengan tak sabar ia langsung m3lum@t bibir mantan istrinya itu dengan sangat rakus, seakan tiada hari esok.
Ricko nampak menekan tengkuknya hingga membuat ciuman mereka semakin dalam, sedangkan Olive yang terkejut nampak tersenyum dalam hati.
Meski tidak membalasnya, namun ia membiarkan pria itu menguasai bibirnya. Menyesapnya lalu mencecapnya dengan rakus hingga membuatnya merasakan desiran aneh namun terasa nikmat.
Puas merasai bibir mantan istrinya itu, Ricko nampak menurunkan ciumannya pada leher putih wanita itu.
Rambut Olive yang di kucir kuda, memudahkannya untuk mengecupinya dan meninggalkan banyak jejak kepemilikan di sana.
Sungguh Olive sangat terbuai dengan sentuhan pria itu, ingin sekali ia menghentikannya tapi tubuhnya menginginkan lebih dari itu.
Mendengar erangan yang keluar dari bibir seksi wanita itu membuat Ricko semakin gelap mata.
Sepertinya laki-laki itu sudah lupa dengan komitmennya sendiri untuk melupakan mantan istrinya itu.
Ia begitu di kuasai oleh nafsu serta perasaan rindu yang menggebu hingga membuat akal sehatnya tak berfungsi.
Masih dalam posisi Olive di atas pangkuannya, Ricko nampak mencumbu wanita itu dengan ganas.
Bahkan kini beberapa kancing pakaian wanita itu nampak terlepas, saat merasakan r3m@san pada bulatan kenyal miliknya. Olive nampak tercekat sekaligus terkejut.
Ingin sekali ia membiarkan mantan suaminya itu atau mungkin saja masih berstatus suami karena sang ibu tidak pernah menunjukkan surat cerai mereka untuk melakukan lebih dari itu.
Namun Olive langsung menghentikannya lalu mendorong kepala Ricko yang hampir saja melahap gundukan miliknya yang kini hampir terpampang bebas di hadapan pria itu.
Kemudian ia segera bangkit lalu menampar dengan keras pipi pria itu hingga nampak kemerahan. "Lancang." hardiknya menatap tajam mantan suaminya itu sembari tangannya merapikan pakaiannya kembali serta menurunkan rok spannya yang tadi tak luput dari perbuatan pria itu.
Kemudian Olive segera berlari keluar dari ruangan tersebut. "Maafkan aku, tamparan itu tidak seberapa bahkan aku ingin sekali menghajarmu hingga babak belur. Karena berani sekali kamu dulu meninggalkan ku di saat sayang-sayangnya aku."
__ADS_1
Sementara itu Ricko yang masih berada di kursi kerjanya nampak mengacak rambutnya dengan kasar, lalu ia memegangi pipinya yang terasa begutu panas karena tamparan Olive tadi.
"Sungguh kamu membuatku gila, sayang." gumamnya seraya bangkit dari duduknya kemudian berlalu ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya yang telah memuncak.