Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~218


__ADS_3

"Kenapa? kamu setuju kan jika kita tinggal di indonesia ?" tanya Sera lagi saat suaminya tak menjawab permintaannya.


"Kamu boleh meminta yang lain, asal tidak menyuruhku tinggal di sana." tegas Martin.


"Tapi kenapa? apa kamu tidak merindukan negaramu sendiri? kamu tahu, aku merasa asing tinggal di sini dan aku berharap suatu saat bisa tinggal di sana." Sera mengingat bagaimana sulitnya ia hidup di negara ini, sendirian tanpa keluarga.


"Merindukan bukan berarti harus menetap di sana, pekerjaan ku ada di sini. Bagaimana bisa aku meninggalkan semuanya yang sudah ku rintis dari nol, jadi tolong mengertilah. Aku juga tidak mau kamu bernostalgia dengan masa lalumu yang tak berfaedah itu yang bisa saja menghancurkan rumah tangga kita." ucap Martin dengan tegas, ia beranjak dari ranjangnya kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Sera yang melihat kepergian suaminya itu nampak kesal. "Bernostalgia dengan masa lalu bagaimana ?" gerutunya tak mengerti.


Beberapa saat kemudian Martin nampak keluar dari kamar mandi dengan kimono tidur melekat di tubuhnya.


"Daddy, bernostalgia dengan masa lalu maksudnya bagaimana aku tidak mengerti ?" tanya Sera yang masih berada di atas ranjangnya.


"Tidurlah ini sudah malam, besok saja kita bahas." sahut Martin seraya merebahkan tubuhnya di sisih wanita itu, menatapnya dengan tegas berharap istrinya itu menuruti perkataannya.


"Bagaimana aku bisa tidur ?" gerutu Sera pelan, namun masih terdengar oleh sang suami.


"Tidur atau ku tiduri !!" tegas Martin menatap istrinya.


"Hm." Sera langsung memejamkan matanya, lebih baik tidur daripada melayani gairah suaminya yang tak ada habisnya.


Keesokan paginya....


"Jangan berebut sayang, semua kebagian." ucap Sera pagi itu saat berada di meja makan, suasana pagi yang ramai seperti ini sudah biasa ia alami semenjak tinggal di panti.


Mengurus enam anak dengan kepribadian yang berbeda memang tidak mudah, meski mereka sudah mandiri sejak kecil namun bagaimana pun juga mereka tetap anak-anak dengan segala tingkahnya yang menggemaskan kadang juga menjengkelkan.


"Merry tidak boleh pilih-pilih makanan." tegurnya lagi saat bocah kecil itu meletakkan beberapa potong wortelnya di atas piring Eric.


"Tidak apa-apa bunda, Eric suka wortel kok." sahut bocah dua tahun lebih tua dari Merry itu, bocah itu memang terlihat lebih menuruti apapun kemauan Merry dari pada kakak-kakaknya yang lain.


Sera yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya gemas, ia tidak suka jika Merry terlalu manja dengan kakak-kakaknya.


"Pagi kesayangan, Daddy." sapa Martin pagi itu saat baru bergabung di meja makan.


"Pagi, Dad." sahut anak-anaknya tersebut.


Sera yang masih kesal dengan sang suami, nampak enggan membalas sapaannya. Ia melayani pria itu dengan diam, setelah meletakkan semangkok sup dan kopi di hadapan pria itu Sera berlalu ke dapur untuk menyiapkan bekal buat anak-anaknya.


Martin yang merasa aneh dengan sikap istrinya pagi itu nampak mengernyit, biasanya setiap membuka matanya ia menemukan sang istri masih tidur di sebelahnya.

__ADS_1


Namun berbeda dengan pagi ini, saat ia bangun istrinya sudah tak ada di sampingnya. Wanita itu meninggalkannya sebelum ia bersiap dengan setelan kerjanya, berani sekali pikir Martin.


Meski ia sangat mencintai Sera, bukan berarti ia bisa di kendalikan oleh wanita itu. Mengingat bagaimana liarnya istrinya itu dulu, jadi ia takut wanita itu akan kembali ke wujud aslinya setelah ia beri kemewahan.


Bukannya Martin tidak mempercayai istrinya sudah berubah, tapi ia tipe pria dengan kewaspadaan tingkat tinggi dan sampai kapanpun wanita itu harus tetap berada dalam kendalinya.


"Bunda, sudah makan ?" tanya Martin pada anak-anaknya.


"Belum, Dad." sahut Alex yang nampak baru selesai makan.


"Baiklah, kalau sudah selesai sarapan cepat berangkat sekolah nanti terlambat." perintah Martin.


"Merry juga sudah selesai, Dad." sahut Merry lalu bangkit dari duduknya dan siap berangkat ke sekolah.


Setelah anak-anaknya berangkat, Sera segera membereskan bekas makan mereka di bantu oleh pelayannya. Namun Martin yang sudah jengah dengan sikap dingin istrinya itu, ia langsung menarik wanita itu hingga terduduk di pangkuannya.


"Dad, apa-apaan sih." protes Sera kesal.


"Katakan apa kamu sedang sariawan pagi ini, hm ?" tanya Martin seraya memeluk erat perut istrinya itu dari belakang lalu menyandarkan kepalanya di atas bahu wanita itu.


"Aku baik-baik saja." sahut Sera tanpa bergerak sedikitpun di atas pangkuan sang suami.


"Lagi malas." sahut Sera singkat.


"Tapi aku tidak suka dengan kemalasan." ucap Martin.


"Bik, tolong ambilkan nyonya sarapan." perintahnya kemudian pada sang pelayan.


"Baik, tuan." pelayan tersebut segera mengambilkan sup untuk nyonyanya tersebut.


"Silakan, nyonya." ucapnya seraya meletakkan semangkok sup di hadapan Sera.


"Terima kasih bik, tapi saya belum merasa lapar." ucap Sera menatap malas sup tersebut.


"Makan atau aku akan memakan mu." perintah Martin dengan nada dingin.


Sera yang mendengar itu hanya bisa menghela napasnya pelan. "Baiklah aku akan makan, tapi biarkan aku duduk sendiri." pintanya, namun sepertinya Martin tak mengindahkannya. Ia justru sibuk mengecupi kulit leher istrinya itu hingga membuat wanita itu meremang.


"Baiklah aku makan di sini, tapi tolong biarkan aku makan dengan tenang." ucap Sera lagi.


"Aku tidak mengganggu tangan dan mulutmu jadi makanlah dengan tenang." sahut Martin datar, kini ia tidak hanya mengecupi leher wanita itu tapi tangannya juga sudah menelusup masuk ke dalam kimononya. Merem@s gundukan favoritnya lalu memainkan puncaknya hingga membuat Sera tersentak seketika.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa makan dengan tenang, jika kamu menyentuhku di mana-mana, lagi pula apa kamu tidak malu di lihatin pelayan-pelayanmu itu ?" protes Sera dengan kesal.


"Mereka tidak akan melihat dan mendengar des@hanmu sayang, jadi cepat habiskan makananmu." sahut Martin dengan menahan kekehannya, sekali-sekali ia memang harus menghukum sang istri agar tidak bersikap kekanakan.


Sera benar-benar sangat kesal, ia harus mengunyah sambil sesekali meloloskan des@hannya karena ulah suaminya itu.


Sedangkan para pelayannya itu nampak berdiri sambil menunduk seperti patung seakan tidak terganggu dengan ulah gila majikannya.


"Aku sudah selesai." ucap Sera saat baru selesai menelan suapan terakhirnya.


"Jadi tolong lepaskan aku." imbuhnya lagi.


"Bagaimana aku bisa melepaskan mu sayang, kalau kamu sengaja membangunkan milikku." ucap Martin dengan tatapan mesumnya.


"Kamu...." Sera merasa sangat kesal, suaminya yang bertingkah tapi dengan seenaknya menuduhnya.


"Dan kamu harus bertanggung jawab." Tanpa aba-aba Martin langsung membawa istrinya itu masuk ke dalam kamarnya, menuntaskan hasratnya yang selalu menggebu setiap berada di dekat wanita itu.


Satu jam kemudian....


"Aku melarangmu untuk tinggal di Indonesia bukan berarti aku tak mengizinkan mu untuk berkunjung kesana. Saat anak-anak libur sekolah kita bisa liburan kesana, tolong mengertilah pekerjaan ku ada di sini dan kita harus tetap tinggal di sini." ucap Martin saat baru tuntas dengan hasratnya, ia nampak membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Jadi aku boleh pergi ke Indonesia ?" tanya Sera memastikan, ia pikir suaminya itu sama sekali tak mengizinkannya ke negara kelahirannya tersebut.


"Tentu saja boleh sayang, tapi harus menunggu anak-anak libur sekolah dulu." sahut Martin.


Sera langsung menjauhkan kepalanya lalu menatap suaminya itu. "Terima kasih, aku pikir kamu tak mengizinkan untuk kesana. Aku nggak masalah kok tinggal di sini, bukannya istri memang harus mengikuti kemana pun suaminya pergi." ucapnya kemudian.


Mendengar ucapan sang istri Martin nampak terkekeh, kemudian ia membawa wanita itu ke dalam pelukannya kembali.


Setelah itu ia mengambil sesuatu di atas nakas, lalu memberikannya pada wanita itu.


"Dena akan merayakan hari pernikahannya di Jerman, kalau kamu mau kita bisa kesana. Hitung-hitung sekalian honeymoon, siapa tahu setelah pulang dari sana akan ada makhluk kecil tumbuh di dalam rahimmu." ucapnya sembari memberikan sebuah undangan pada sang istri.


"Benarkah? iya aku mau ke Jerman." sahut Sera senang, di sana ia pasti akan bertemu dengan keluarganya.


Sungguh ia masih sangat merindukan ayah dan saudarinya, karena setelah menghadiri pernikahannya waktu itu keluarganya itu memang langsung berangkat ke Jerman karena ada urusan pekerjaan.


.


Wah Jerman, bagaimana kabarnya Olive sekarang ya ?

__ADS_1


__ADS_2