
Mendengar perkataan Demian, Ariana nampak menelan ludahnya. Sepertinya laki-laki itu sedang marah padanya gara-gara Edgar tadi.
Demian nampak menutup pintu mobilnya dengan kasar, perkataan Edgar sungguh menyinggung perasaannya.
Sebenarnya ia juga belum ingin menunjukkan hubungannya dengan Ariana pada khalayak umum, apalagi melihat reaksi pemilik toko perhiasan tadi yang seakan menyamakan Ariana dengan wanita-wanita yang ia kencani sebelumnya.
Namun jika Ariana sendiri yang mengajaknya ke Mall tersebut, bagaimana dia bisa menolaknya. Ia begitu mencintai Ariana dan apapun akan ia lakukan untuk wanita kesayangannya itu.
"Mas, kenapa tidak jalan ?"
Ariana melihat Demian nampak diam seraya memegang stir mobilnya padahal mesin mobilnya sudah dia hidupkan dari tadi.
"Sejak kapan kamu dekat dengan Edgar ?" tanyanya kemudian, seraya menatap lekat Ariana.
Ariana menelan ludahnya, ia melihat api cemburu di mata laki-laki itu.
"Sejak aku pulang dari rumah sakit waktu itu, kebetulan kami ketemu di lobby dan dia menawari tumpangan." sahut Ariana jujur.
"Kenapa kamu mau, padahal kalian sebelumnya belum kenal dekat kan ?" cercah Demian.
"Aku hanya tidak enak saja padanya, Mas. Lagipula kenapa kamu peduli, bahkan waktu itu kamu sama sekali tak ada kabarnya." sahut Ariana memberikan alasan.
Demian nampak mendesah kasar, ia tidak mungkin menceritakan pada Ariana kalau waktu itu ia sedang menjalani pengobatan di luar negeri. Ia tidak mau Ariana khawatir padanya.
"Maafkan aku, tapi aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan Edgar." ucapnya kemudian dengan nada ancaman.
Ia tahu Edgar menaruh hati pada Ariana dan ia juga takut Ariana menyukai laki-laki itu. Laki-laki yang usianya jauh lebih muda dari dirinya dan tentu saja menjadi saingan terberatnya karena yang dia tahu selama ini Edgar tidak pernah bermain-main dengan seorang wanita.
Jadi jika laki-laki itu menyukai seseorang, itu berarti perasaannya sangat serius.
"Aku tidak dekat-dekat dengan dia, Mas." sanggah Ariana.
"Lalu kenapa dia memintamu untuk menghubunginya jika memerlukan bantuan, itu berarti kamu punya nomor ponselnya kan ?" cercah Demian lagi.
Ariana nampak menghela napasnya pelan, sepertinya Demian benar-benar sedang cemburu saat ini.
"Wa-waktu itu kami bertemu di sekolahnya Ricko dan...." Ariana menjeda perkataannya ketika Demian langsung menyelanya.
"Oh jadi kalian sering janjian bertemu di sekolahnya Ricko." sela Demian dengan berasumsi sendiri.
"Bu-bukan begitu, Mas. Kami hanya sekali saja bertemu dan..."
"Dan berbagi nomor ponsel ?" sela Demian dengan menahan emosinya.
"Edgar yang memaksa memberikan...."
__ADS_1
"Jangan pernah sebut nama dia di depanku." sela Demian dengan menaikkan suaranya beberapa oktav dan tentu saja itu membuat Ariana terperanjat.
Ariana langsung diam membisu, lebih baik dia diam saja saat ini daripada membuat Demian semakin marah.
"Kenapa diam ?" tanya Demian dingin.
Ariana hanya menggelengkan kepalanya sembari menunduk, kemudian Demian mengulurkan tangannya lalu mengangkat dagu Ariana hingga wanita itu menatap dirinya.
Lalu Demian mendekatkan wajahnya, menatap wanita yang berada beberapa senti di hadapannya itu yang terlihat sedang berkaca-kaca dan mungkin sebentar lagi akan menangis.
"Aku mencintaimu sayang dan aku tidak suka jika kamu berhubungan dengan Edgar atau laki-laki manapun." ucapnya dengan tegas.
Kemudian Demian langsung melahap bibir Ariana dengan kasar, tak lembut seperti biasanya. Sungguh Demian sangat emosi saat ini, baginya Ariana adalah miliknya.
Dia sudah menunggu wanita itu selama 8 tahun dan dia bersumpah takkan membiarkan laki-laki manapun merebutnya. Kecuali Ariana sendiri yang ingin melepaskan diri darinya dan ia rasa itu tidak akan mungkin.
Meski wanita itu tidak pernah mengatakan kata cinta padanya, tapi Demian bisa merasakan cinta yang begitu besar dari wanita itu untuknya.
Setelah emosinya mereda Demian segera melepaskan panggutannya, ia melihat bibir Ariana sedikit bengkak karena ulahnya.
"Maafkan aku." ucapnya kemudian, setelah itu ia membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Tolong bersabarlah sebentar, mungkin beberapa hari lagi proses perceraian ku selesai dan kita akan segera menikah." imbuhnya lagi.
Ariana nampak mendongakkan kepalanya menatap Demian, ia melihat keseriusan di mata laki-laki itu dan tentu saja dia sangat senang apalagi melihat laki-laki itu yang mencemburuinya tadi.
"Nggak apa-apa." sahut Ariana.
"Jadi kamu mau main rahasia-rahasiaan ?" ujar Demian.
Ariana menggelengkan kepalanya sembari mengulas senyumnya, kemudian dia memberanikan diri mengecup Demian.
Namun ketika ia akan menjauhkan bibirnya, justru laki-laki itu langsung menahan tengkuknya dan semakin memperdalam ciumannya.
"Kamu yang memulainya sayang, jadi jangan salahkan aku jika mengikuti permainanmu." ucap Demian lirih setelah itu ia menautkan bibirnya kembali.
Demian nampak merebahkan kursi yang di duduki Ariana, lalu ia mengungkung Ariana di sana dan melum😘t bibirnya dengan rakus tak peduli wanita itu terengah-engah karena kehabisan napas.
Namun beberapa saat kemudian kaca mobilnya nampak di ketuk dari luar, Demian yang tengah asyik dengan kegiatan yang membuat tubuhnya panas dingin itu langsung mengumpat.
"Sial."
Ia segera beranjak dari tubuh Ariana, ketika melihat seorang security sedang berdiri di samping kaca mobilnya.
Ariana yang menyadari itu langsung merapikan pakaiannya yang berantakan dan segera merapikan kancing pakaiannya yang nampak terlepas karena ulah Demian.
__ADS_1
"Sayang berikan dompetmu ?" pinta Demian.
"Untuk apa ?"
"Uang kesku sudah tidak ada sayang, aku harus membungkam mulut laki-laki sialan itu berani-beraninya mengganggu kita."
Ariana langsung mengulurkan dompetnya, kemudian Demian mengambil beberapa lembar kertas berwarna merah lalu ia memberikan pada security itu.
Security tersebut yang ingin menegurnya langsung terdiam ketika Demian tanpa berkata apapun langsung memberikannya uang beberapa lembar.
Tentu saja itu rezeki nomplok baginya, niat ingin marah dia justru mendapatkan uang banyak.
Setelah itu Demian segera melajukan mobilnya meninggalkan parkiran Mall tersebut.
Sembari mengemudi Demian nampak menggenggam erat tangan Ariana dan sesekali menciumnya.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan di rumah saja, sayang." ucapnya kemudian.
Glek
Ariana langsung menelan ludahnya, tidak ini tidak boleh terjadi. Sepertinya ia harus mencari cara agar laki-laki itu segera melupakan keinginannya tersebut.
"Mas, bukannya kita harus menjemput Ricko pulang les ?" ucapnya.
"Bukannya ada Victor yang sudah menjemputnya, sayang." sahut Demian seraya mengecup punggung tangan Ariana yang sedari tadi ia genggam, namun matanya tetap fokus pada jalanannya di depannya yang lumayan macet itu.
"Tapi semalam aku sudah janji akan menjemputnya, aku takut anak itu akan ngambek." mohon Ariana.
"Baiklah, ayo kita jemput." ucap Demian pada akhirnya.
Ariana merasa lega, semoga saja besok laki-laki itu kembali bekerja dan tidak mengurungnya lagi di rumahnya.
Disisi lain nyonya Anggoro malam itu nampak berdandan cantik dengan memakai lingeri yang beliau beli tadi siang.
Meski usianya sudah memasuki kepala 5 tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap terjaga berkat perawatan mahal yang beliau lakukan setiap bulannya.
"Pa, sampai kapan kerja terus, bukannya sudah ada Demian yang mengurusi perusahaan." rajuknya ketika melihat suaminya masih berkutat dengan berkas-berkas di tangannya.
Tuan Anggoro nampak mengangkat kepalanya untuk melihat sang istri yang malam ini ia akui sangat menggoda.
"Sebentar lagi." sahutnya, kemudian kembali lagi menatap berkas di tangannya tersebut.
"Sepertinya berkas itu lebih menarik dari Mama ya." sindir nyonya Anggoro seraya duduk di meja kerja suaminya.
"Sebentar Ma, ini menyangkut proyek terbaru perusahaan kalau untung besarkan Mama juga yang senang. Mama bisa shopping dan jalan-jalan sama teman-temanmu itu." ujar Tuan Anggoro matanya nampak fokus pada berkas di tangannya tersebut.
__ADS_1
Nyonya Anggoro nampak mencebik, bagaimana pun juga malam ini ia harus bisa membuat suami tercintanya itu bertekuk lutut padanya.
Agar tuan Anggoro mau berada di pihaknya untuk memisahkan Ariana dari Demian dan membujuk Demian menikahi Jessica anak dari sahabatnya itu setelah putranya tersebut resmi bercerai tentunya.