
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, namun Olive masih sibuk mengerjakan tugas skripsinya. Seharian ia harus bekerja dan malam harinya ia baru bisa belajar.
Ia ingin segera menyelesaikan kuliahnya dan setelah itu ia akan kembali ke Indonesia.
Keesokan harinya....
"Aku sangat lelah." gumamnya saat memasuki kampusnya.
Sebenarnya hari ini ia malas sekali datang ke kampus, namun dosen pembimbingnya menyuruhnya untuk masuk.
Karena kebetulan hari ini ada seorang pengusaha muda sekaligus mahasiswa dari salah satu universitas di kotanya tersebut akan menjadi pembicara di kampusnya.
Dan dosennya itu mewajibkannya untuk mengikuti seminar tersebut sebagai tambahan referensi tugas skripsinya.
"Semangat Olive, demi masa depan cerah."
Olive nampak menyemangati dirinya sendiri saat baru masuk ke dalam aula kampusnya tersebut, di sana sudah banyak sekali mahasiswa seangkatannya maupun juniornya.
"Tumben banyak yang hadir, macam presiden saja yang datang." gumamnya seraya mengedarkan pandangannya.
"Astaga Olive, kenapa terlambat untung saja sudah ku amankan satu kursi untukmu." ucap Jenifer, satu-satunya sahabat dekat Olive di kampusnya tersebut.
"Terima kasih, semalam aku mengerjakan tugas hampir pagi." sahut Olive seraya duduk di salah satu bangku kosong sebelah Jenifer.
"Ngomong-ngomong ini bangku kosong punya siapa ?" imbuhnya lagi saat melihat bangku kosong di sebelahnya.
"Eh, i-itu milik profesor Oskar." Jenifer nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa? kamu sengaja menjualku ?" Olive mendadak kesal.
"Bukan begitu Olive, aku tadi juga bangun kesiangan gara-gara semalam kekasihku mengajak clubbing. Tadi waktu kesini semua bangku sudah full tapi tiba-tiba profesor Oskar menawariku bangku ini dengan syarat aku mengajakmu juga." Jenifer nampak merasa bersalah.
Sedangkan Olive hanya bisa menghela napas panjangnya, profesor Oskar adalah salah satu dosen di kampusnya.
Duda berusia 45 tahun itu sudah menyukai dirinya sejak awal masuk kampus ini, namun selalu Olive tolak. Mana mungkin ia menjalin hubungan dengan pria seusia ayahnya.
Namun yang bikin Olive bersyukur, pria itu tidak pernah bersikap kurang ajar. Malahan sangat baik padanya, tapi tetap saja ia tidak mau memberikan harapan.
"Ngomong-ngomong siapa sih yang jadi tamu pembicara tumben banyak sekali yang datang ?" tanya Olive penasaran.
Karena baru kali ini seminar di kampusnya banyak di hadiri oleh para mahasiswanya, terutama mahasiswa perempuan dan dandanan mereka seperti akan melihat konser musik saja.
"Aku juga tidak tahu, tapi menurut yang aku dengar beliau ini seorang pengusaha muda dari Asia dan kamu tahu dia ganteng banget." Jenifer nampak antusias seperti teman-temannya yang lain, karena dia salah satu mahasiswi pemuja pria tampan.
"Sudah lihat orangnya ?" tanya Olive.
__ADS_1
"Memang kamu nggak lihat posternya di depan tadi ?" tanya balik Jenifer.
Olive menggelengkan kepalanya. "Aku masuk lewat belakang tadi, lagipula nggak penting juga siapa dia." sahut Olive tidak peduli.
"Oh astaga kamu benar-benar cocok memang sama Mr.Oskar." cibir Jenifer yang langsung mendapatkan cubitan keras dari sahabatnya itu.
"Sakit, Olive." protes Jenifer dengan wajah meringis.
"Bicara begitu lagi ku tumbuk juga mukamu." sungut Olive kesal, namun itu justru membuat Jenifer terkekeh mendengarnya karena sudah berhasil menggodanya.
Beberapa saat kemudian nampak beberapa dosen masuk ke dalam aula tersebut dan bisa di pastikan acara akan segera di mulai.
"Hai Oli, kamu baru datang ?" sapa Mr.Oskar yang baru duduk di samping Olive.
"Selamat pagi, Pak Oskar." balas Olive dengan canggung.
"Kalau sedang berdua, panggil saja Oskar. Oh ya sepertinya kamu kurang tidur ?" ucap Mr.Oskar menatap Olive.
"Sedikit." sahut Olive, rasanya ia ingin kabur ke pluto dan menghilang dari pandangan pria itu.
"Saya tidak di sapa, pak ?" ucap Jenifer dengan nada sindiran.
"Oh ya selamat pagi Jeni." sapa Mr.Oskar menatap Jenifer sekilas.
Meski acara sudah di mulai, Olive rasanya tidak bisa berkonsentrasi dengan acara tersebut. Karena Mr.Oskar selalu mengajaknya berbicara dan membahas hal tidak penting.
"Oh astaga, tahu seperti ini lebih baik aku melanjutkan tidur di rumah." gerutu Olive.
"Olive, lihat itu Mr.Ricko datang." teriak Jenifer antusias, karena salah satu pembicara yang di nanti-nanti oleh para mahasiswa di sana, akhirnya muncul juga.
Deg!!
"Ricko? jadi dia pengusaha muda yang jadi idola itu." gumam Olive menatap Ricko.
Tempat duduknya yang berada di baris kedua memudahkannya melihat laki-laki tampan itu dari dekat.
Pesona Ricko memang tidak bisa di pungkiri, laki-laki itu sangat tampan mirip ayahnya waktu muda dulu.
Cara bicaranya pun sangat tegas dan lugas, hingga membuat semua peserta seminar di sana nampak terpanah menatapnya.
"Padahal dia seumuran kita ya, tapi pesonanya sangat meresahkan. Orang sukses memang sangat beda auranya, dia seperti malaikat." puji Jenifer mengagumi Ricko.
"Ck, malaikat. Zaman sekarang banyak iblis berwajah malaikat." cibir Olive, mengingat bagaimana pedasnya mulut Ricko saat berbicara padanya waktu itu.
"Apa kamu bilang ?" Jenifer langsung melotot ke arah sahabatnya itu.
__ADS_1
"Tidak, lupakan." sahut Olive.
"Syukurlah kalau kamu tidak mengagumi pria itu seperti yang lainnya." kali ini Mr.Oskar yang menimpali, ia merasa senang saat melihat Olive tidak tertarik dengan ketampanan Ricko.
Mendengar ucapan dosennya itu, Olive hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Saya memang tidak mengagguminya pak, tapi saya mencintainya." gumam Olive dalam hati, ingin rasanya ia mengatakan itu tapi dosennya itu pasti tidak akan mempercayainya.
Sementara itu saat Olive terlihat akrab dengan Mr.Oskar, Ricko nampak menatapnya dengan sinis.
"Dasar murahan, bahkan dosennya pun dia gaet." gumam Ricko dari atas panggung.
Sedari tadi ia memang sudah mengetahui keberadaan Olive yang berada tak jauh dari panggung, ia tidak menyangka pelayan yang dia temui di restoran depan kampusnya ternyata seorang mahasiswi di kampus ini.
"Bagaimana bisa seorang pelayan bisa kuliah di kampus elit seperti ini, kecuali dia menjadi simpanan Om-Om." gumamnya lagi, entah kenapa ia tiba-tiba merasa sangat kesal saat melihat Olive.
Sejak melihat Ayahnya berbicara akrab dengan gadis itu di hotel waktu itu, ia selalu berpikir buruk padanya.
Beberapa saat kemudian seminar telah usai, tapi Olive sama sekali tak mendapatkan bahan referensi dari para pembicara di sana. Karena sedari tadi Mr.Oskar selalu saja mengajaknya berbicara.
"Oli-Oli, kamu marah ?" Mr.Oskar nampak mengejar Olive sampai parkiran karena gadis itu terlihat kesal.
"Tidak, saya hanya sedikit kesal. Bapak menyuruh saya datang ke seminar tadi agar bisa menambah referensi tugas skripsi saya, tapi sepanjang acara bapak justru sibuk mengajak saya bicara hal tidak penting." sungut Olive melampiaskan amarahnya.
"Maafkan saya, nanti masalah referensi akan saya kirim ke kamu." Mr.Oskar nampak bersalah.
"Kalau memang seperti itu kenapa tadi bapak menyuruh saya untuk datang? tahu begini lebih baik saya kerja saja." ucap Olive kesal.
"Maafkan saya, saya hanya ingin merasakan bagaimana kencan denganmu tapi kamu selalu menolak setiap kali saya ajak." tukas Mr.Oskar jujur.
"Pak, tolong mengertilah. Saya tidak bisa menerima perasaan bapak, jadi lebih baik bapak mencari wanita lain yang benar-benar menyukai anda." mohon Olive.
"Itu tidak mungkin Oli, kecuali kamu mempunyai kekasih yang layak baru saya akan melepaskan mu." tukas Mr.Oskar dengan serius.
Olive sepertinya hilang kesabaran karena dosennya tersebut tak pernah menyerah meski sudah ia tolak beberapa kali.
"Jadi bapak akan berhenti mengganggu saya, kalau saya mempunyai kekasih ?" tanya Olive memastikan.
"Dengan terpaksa, asal pria itu pantas buat kamu." sahut Mr.Oskar.
Mendengar perkataan dosennya tersebut, Olive nampak berpikir keras. Ia harus mencari cara agar pria itu berhenti mengganggunya.
Tiba-tiba ia melihat Ricko sedang menuju parkiran seorang diri dan tanpa berpikir panjang, Olive segera mendekati pria itu.
"Kamu..." Ricko nampak terkejut saat melihat Olive berjalan mendekatinya, namun ia lebih terkejut lagi saat gadis itu tiba-tiba berjinjit lalu mencium bibirnya.
__ADS_1