
Setelah kepergian Martin, Sera masih nampak terisak di atas ranjangnya. Ia menarik selimutnya lalu menutupi tubuh polosnya.
"Maafkan aku." gumamnya, meski Martin tak pernah mengatakan cinta padanya tapi ia tahu laki-laki itu sedang cemburu buta.
Apa berarti laki-laki itu juga mencintainya? tapi sejak kapan, bahkan pertemuan mereka terakhir kalinya 8 tahun silam tidak baik-baik saja.
Setelah berpikir keras dan tak menemukan jawabannya, ia segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Hingga beberapa hari kemudian, Martin tak terlihat batang hidungnya. Mungkin saja laki-laki itu sedang marah padanya atau sedang mempersiapkan hari pernikahannya atau mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Namun yang membuat Sera lega, Martin masih mengingat putrinya. Laki-laki itu mengirimkan banyak sekali makanan dan nominal uang yang cukup banyak.
"Harusnya kamu tidak perlu melakukan ini." gumam Sera saat melihat notifikasi di ponselnya, Martin baru saja mengirimkan sejumlah uang padanya.
Beberapa saat kemudian ketika ia akan menyimpan ponselnya, bendah pipih itu kembali berdering.
"Hallo, selamat pagi." sapanya saat mengangkat panggilannya tersebut.
"Hallo nona Mauren maaf pagi-pagi menghubungimu, apa gaun yang ku pesan sudah selesai ?" tanya Lusi to the point dari ujung telepon.
"Sudah nona Lusi, setelah anak-anakku pulang dari sekolah. Saya akan segera mengantarnya." sahut Sera.
"Baiklah, terima kasih. Hari pertunangan ku di majukan nanti malam, jadi kalau belum selesai saya akan mengambil gaunnya dari butik lain." ucap Lusi.
"Semua gaun yang anda pesan sudah selesai nona Lusi." sahut Sera.
Setelah berbincang sebentar dan Lusi memintanya menghadiri acara pertunangannya, mereka segera mengakhiri obrolannya.
Sera nampak menghela napas panjangnya, dadanya terasa sesak saat mengetahui Martin akan segera menikah. Pria itu akan mengadakan pertunangan dahulu lalu beberapa hari setelahnya mereka akan menikah.
"Semoga ini yang terbaik."
Siang harinya setelah semua anak-anaknya pulang dari sekolah, Sera segera pergi ke kota. Meski seorang desainer ia nampak berpakaian sederhana dan tidak mencolok.
Ia tidak mau menarik perhatian orang lain terutama kaum pria di pesta tersebut, karena fokusnya sekarang hanya untuk anak-anaknya.
Sesampainya di kota, Sera segera menuju hotel di mana pesta akan di adakan. Ia bersyukur tidak harus ke rumah Martin, entah kenapa ia tidak menyukai rumah tersebut yang terkesan sedikit mengerikan dengan banyak sekali para bodyguard.
"Nyonya Sera, Nona Lusi menyuruh saya mengambil pakaiannya." ucap Mattew saat melihat Sera baru sampai di hotel.
"Silakan." Sera menyerahkan dua buah paper bag pada Mattew.
__ADS_1
"Terima kasih, kami juga sudah menyiapkan kamar hotel bagi tamu dari luar kota. Jadi mari ikut saya." ucap Mattew yang langsung membuat Sera nampak lega.
Tadinya ia bingung harus menunggu acara pertunangan itu di mana karena hari masih sore, ingin check-in hotel tapi sayang dengan uangnya.
Lebih baik ia menggunakan uang tersebut untuk keperluan anak-anaknya sekolah. Begitulah Sera beberapa tahun terakhir ini ia jarang sekali memperhatikan dirinya sendiri, semua kebutuhan anak-anaknya ia utamakan.
"Terima kasih tuan Mattew." ucap Sera saat baru sampai kamar hotelnya.
"Sama-sama nyonya, silakan beristirahat." sahut Mattew, setelah itu ia berlalu pergi.
Sera segera masuk ke dalam kamar hotelnya, saat baru membuka pintunya ia nampak takjub karena kemewahannya.
Dirinya yang dulu pernah hidup mewah, tahu jika kamar hotelnya tersebut tipe president suite dengan harga puluhan juta permalam.
"Kamar ini pasti sangat mahal." gumam Sera, lalu matanya tak sengaja melihat beberapa paper bag di atas ranjangnya.
"Milik siapa? jangan-jangan aku salah masuk kamar."
Sera nampak bingung saat melihat paper bag tersebut, namun ia segera membaca sebuah note yang berada di sana.
"Pakailah gaun ini, saya tidak suka penolakan." sebuah tulisan tangan di note tersebut.
"Selalu saja memaksa." gerutu Sera sembari menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Kemudian ia mengambil sebuah botol air mineral dari atas nakas, mungkin fasilitas dari hotel pikirnya. Lalu ia segera meminumnya karena tenggorokannya sedari tadi sudah sangat kering.
Setelah itu ia merebahkan tubuhnya yang lelah, karena semalaman ia harus menyelesaikan pakaian Lusi dan beberapa pelanggan lainnya.
Beberapa saat kemudian ia tiba-tiba merasa sangat mengantuk dan tak menunggu lama ia sudah terlelap mengarungi mimpinya.
Sera yang sedang bermimpi tiba-tiba meremang saat merasakan sentuhan di tubuhnya, kenapa ia harus memimpikan pria itu.
Jujur sejak sentuhan terakhir yang Martin lakukan waktu itu, Sera tidak bisa melupakannya. Laki-laki itu begitu memuja tubuhnya sama seperti saat mereka terakhir bercinta beberapa tahun silam yang mengakibatkan dirinya hamil.
Meski saat itu ia kecewa karena Martin selalu meneriakkan nama Helena saat menyentuh tubuhnya, pria itu seakan sedang bercinta dengan Helena.
Mungkin waktu itu karena Martin sedang mabuk dan menganggap dirinya Helena, tapi kalau sedang mabuk dan tak ingat apa-apa lalu kenapa pria itu bisa langsung menebak jika Merry adalah putrinya.
Sampai sekarang Sera masih bertanya-tanya akan hal itu dan mungkin hanya Martin yang bisa menjawabnya. Tapi ia tidak berniat untuk bertanya.
Dalam mimpinya Sera merasakan di cumbu oleh Martin sama seperti waktu itu, hanya saja kali ini ia tidak memberontak.
__ADS_1
Ia ingin merasakan di cintai dan mencintai meski hanya dalam mimpi, karena setelah ia bangun nanti ia harus menghadapi kenyataan jika pria itu sudah menjadi milik wanita lain.
Mereka saling mel😘mat dengan lembut dan penuh gairah, Sera nampak menjambak lalu menenggelamkan kepala Martin saat merasakan gundukan kenyalnya berada dalam kuasa pria itu.
Sera merasakan tubuhnya begitu di puja, setiap jengkal kulit mulusnya tak luput dari kecupan pria itu.
Hingga ia merasakan gelombang kenikmatan untuk pertama kalinya karena permainan jari-jari nakal laki-laki itu, kenikmatan yang sempat tertahan sebelumnya karena Martin meninggalkannya begitu saja.
Kini di dalam mimpinya wanita itu merasakan kenikmatan yang sesungguhnya.
"Aku sangat menginginkan mu, bolehkan aku melakukannya ?"
Nampak terdengar samar-samar suara Martin dalam mimpi Sera, ia yang juga menginginkan pria itu hanya mengangguk pasrah.
Sera nampak meringis sakit saat laki-laki itu mulai memasuki dirinya untuk pertama kalinya setelah 8 tahun silam, menenggelamkan miliknya hingga pusaran paling dalam.
Menghujamnya dengan lembut dan dalam, hingga nikmatnya menjalari seluruh tubuh mereka.
"Aku mencintaimu." lirih Martin di tengah hujaman tubuhnya.
"Aku juga mencintaimu." balas Sera, ia ingin mengekspresikan perasaannya walau hanya dalam mimpi.
Karena saat ia kembali pada dunia nyata, ia akan mengubur perasaan itu dalam-dalam.
"Love u more." ucap Martin lalu mel😘mat kembali bibir tipis itu dengan lembut namun penuh gairah.
Sera begitu menikmati percintaan dalam mimpinya itu, bahkan ia tak segan membalas setiap sentuhan Martin hingga membuat laki-laki itu semakin gila di buatnya.
Hingga keduanya merasakan akan sampai pada puncaknya, Martin langsung menghentakkan tubuhnya dengan cepat sampai gelombang kenikmatan itu mereka rasakan secara bersama-sama.
Beberapa saat kemudian Sera nampak mengerjapkan matanya, ia menatap langit-langit kamarnya dengan setengah sadar
"Ternyata hanya mimpi." gumamnya, setelah itu ia memejamkan matanya lagi. Padahal hanya mimpi tapi ia merasa sangat lelah sekali hingga ia terlelap kembali.
Dua jam kemudian, Sera nampak mengerjapkan matanya kembali. Tubuhnya terasa lebih segar sekarang dan ia akan bersiap untuk menghadiri pesta tersebut.
Namun saat akan beranjak bangun, ia nampak terkejut saat merasakan kulit tubuhnya bersentuhan dengan kulit seseorang.
"Aaaargghh, tuan Martin apa yang sedang anda lakukan di sini ?" pekik Sera saat melihat pria itu tidur di sampingnya dengan tubuh setengah polos.
"Ja-jadi apakah tadi bukan mimpi ?"
__ADS_1