Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~225


__ADS_3

Ricko yang sedang berada di dalam rumah mungil milik Olive nampak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah tua tersebut.


Berdasarkan informasi yang ia dapat, gadis itu seorang yatim piatu dan di asuh oleh mendiang kakeknya di rumah ini.


Tak ada barang istimewa di rumah tersebut, hanya sebuah lukisan tua yang telah usang.


Karena bosan kemudian ia melangkahkan kakinya menuju dapur di mana Olive berada, ia melihat wanita itu nampak menggerutu kesal.


"Apa kamu bilang ?" ucapnya saat tak begitu jelas mendengar ucapan gadis itu.


Deg!!


"Apa dia mendengar ucapanku tadi ?" gumam Olive seraya menggigit bibirnya.


Melihat Olive menggigit bibir bawahnya, gejolak dalam tubuh Ricko kini hadir kembali.


"Kenapa dia begitu seksi."


"Apa sudah menjadi kebiasaanmu berbicara sendiri ?" tanyanya kemudian.


"Bukan urusanmu." ketus Olive.


"Tunggulah di sana, aku akan segera selesai." imbuhnya lagi sembari memilih sayuran.


"Kamu mengusirku ?" Ricko berjalan mendekat.


"Bukan begitu, kamu hanya mengganggu ku jika ada di sini." kilah Olive.


"Aku jadi curiga, kamu tidak sedang memasukkan racun dalam makanan ku kan ?" tuduh Ricko.


"Jaga bicaramu." Olive terlihat kesal, ingin rasanya ia memukul pria itu dengan penggorengannya.


"Aku jadi tidak berselera makan masakan mu." ucap Ricko yang langsung membuat Olive menatapnya senang.


"Baguslah, jadi aku tidak perlu capek-capek masak." sahutnya dengan melemparkan sayuran di tangannya ke dalam keranjangnya kembali.


"Oh, jadi kamu tadi melakukannya dengan terpaksa? ingat kesalahan mu belum termaafkan ?" cibir Ricko dengan kesal, bukannya berusaha merayunya gadis itu justru menantangnya. Benar-benar cari masalah.


Harga dirinya sebagai laki-laki tentu saja sangat di rendahkan, lalu ia berjalan mendekati gadis itu untuk menggertaknya.


"Menjauhlah a-apa yang kamu lakukan ?" Olive nampak mendorong tubuh Ricko agar menjauh namun tenaganya yang tak seberapa membuat pria itu sedikitpun tak berpindah dari posisinya.


Tadinya Ricko hanya ingin menggertak gadis itu, namun saat berdekatan dan menatapnya ia merasakan gejolak dalam dirinya.


"Kenapa bibir itu terlihat manis sekali, aku jadi penasaran dengan ucapan kak Dean. Apa benar rasanya berbeda jika aku melakukan lebih dari waktu itu."


Entah setan apa yang merasukinya, Ricko tiba-tiba mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya pada bibir Olive yang langsung membuat gadis itu melebarkan matanya terkejut.


Bukan hanya sekedar kecupan seperti sebelumnya, namun dengan insting dan rasa penasarannya Ricko nampak *****@* bibir Olive dengan lembut dan penuh perasaan.

__ADS_1


Hingga menimbulkan desiran aneh dalam tubuhnya yang membuatnya merasa candu dan menginginkan lagi dan lagi.


Kini mereka yang baru merasakan bagaimana berciuman nampak saling memanggut dan bertukar saliva, namun Olive langsung mendorong tubuh Ricko saat menyadari kesalahannya.


Plakk


Dengan refleks ia langsung menampar pipi laki-laki itu, ia memang mencintainya tapi dalam hidupnya hanya harga diri yang dia punya dan ia akan menjaganya sampai kapanpun.


"Kamu memanfaatkan ku ?" Olive nampak berkaca-kaca menatap Ricko.


"Sial, gadis ini membuatku hilang akal." gerutu Ricko dalam hati.


"Anggap saja kita impas." tegasnya kemudian, setelah itu ia segera berlalu meninggalkan rumah Olive tanpa perasaan bersalah.


"Apa dia bilang tadi? impas ?" Olive seakan tidak percaya dengan ucapan Ricko barusan.


"Dasar playboy, sialan."


Olive nampak merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya terbuai dengan sentuhan pria itu, ternyata cinta tak hanya membuatnya bodoh tapi juga hilang akal.


Sementara itu, Ricko yang menghentikan mobilnya di tepi jalan nampak memukul stirnya berkali-kali.


Sebenarnya ia tidak bermaksud untuk menyentuh gadis itu, tapi rasa penasarannya begitu menguasai pikirannya dan bahkan rasa ciumannya tadi masih mempengaruhi tubuhnya hingga sekarang.


"Kak Dean sialan, menyesal aku bertanya padamu." gerutunya kemudian, karena ternyata mencium bibir seorang wanita itu rasanya begitu nikmat hingga menjalar ke seluruh tubuhnya.


Beberapa saat kemudian, ponselnya nampak berdering. Setelah melihat siapa yang menghubunginya ia langsung menjawabnya.


"Aku sudah selesai kuliah, apa kamu bisa menjemputku ?" pinta Sarah dari ujung telepon.


"Hm baiklah, tunggu sebentar." sahut Ricko setelah itu ia menutup teleponnya, kemudian melajukan mobilnya kembali menuju kampusnya.


Beberapa hari setelah itu Olive tidak pernah bertemu lagi dengan Ricko, sekarang ia bebas pergi kemana pun tanpa perasaan khawatir lagi.


Sore ini setelah pulang dari kampusnya, ia akan berjalan-jalan di taman sebentar untuk melepas penatnya dari tugas skripsi yang sedang ia kerjakan.


Melihat taman ini mengingatkannya pada beberapa tahun lalu, waktu itu ia melihat Ricko di taman ini. Saat itu ingin sekali ia mendatanginya lalu mengatakan dirinya adalah Olive.


Namun ia cukup tahu diri jika ia hanya orang lain yang kebetulan masuk ke dalam keluarganya saat itu.


Ternyata waktu begitu cepat berlalu, kini sahabat kecilnya itu telah tumbuh menjadi pria tampan yang di idolakan oleh banyak wanita.


Memikirkan hal itu Olive mendadak insecure, meski ia pernah berciuman dengan pria itu tapi bukan jaminan kalau Ricko juga menyukainya. Apalagi saat ini laki-laki itu telah mempunyai kekasih.


"Bodoh kenapa aku bisa berpikiran seperti itu, lihatlah bahkan dia sedang asyik kencan dengan kekasihnya."


Olive nampak menatap Ricko bersama dengan Sarah dan seorang pria yang entah ia tak tahu sedang berada di taman itu juga.


Saat Olive ingin meninggalkan taman tersebut, tiba-tiba tangannya di cekal oleh seseorang dari belakang.

__ADS_1


"Hai Nona, bukannya kamu gadis waktu itu kan ?" tukas Dean saat Olive berbalik badan lalu menatapnya.


"Maaf tuan, saya tidak mengenal anda." sahut Olive, sebenarnya ia mengingatnya namun ia paling malas bertemu pria modus seperti itu.


"Kalau begitu kita bisa berkenalan, namaku Dean." Dean mengulurkan tangannya.


Olive nampak ragu namun saat melihat Ricko menatap dingin padanya ia langsung menyambut jabat tangan Dean.


"Olive." sahut Olive.


"Olive ?" Dean nampak mengernyit lalu menatap Ricko.


"Olive Hudson." ucap Olive lagi.


"Nama yang cantik, secantik pemiliknya." puji Dean dengan masih menggenggam tangan Olive.


Ricko yang mendengar itu rasanya ingin muntah, adik dari ayahnya itu memang terkenal perayu ulung.


Ehmm


Ricko nampak berdehem nyaring saat melihat kedua tangan mereka masih saling bertaut.


"Oh ya kenalin dia Ricko dan itu Sarah kekasihnya." tukas Dean setelah melepaskan tangan Olive.


Ricko nampak menggeram dengan ucapan Dean, namun Dean tak peduli, baginya hubungan Ricko dan Sarah sudah seperti sepasang kekasih karena kedekatan mereka selama ini.


"Hai, sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya." sapa Sarah.


"Sebelumnya aku pernah bekerja sebagai pelayan di restoran dan hotel xx, mungkin kamu pernah melihat ku di sana." sahut Olive dengan jujur.


"Oh." Sarah nampak ber oh ria setelah mengetahui gadis cantik di hadapannya itu ternyata berasal dari kalangan rendahan.


"Kamu sangat pekerja keras." puji Dean kagum.


"Terima kasih, kalau begitu aku duluan." Olive akan beranjak pergi namun Dean langsung menahannya.


"Bagaimana kalau ku traktir minum teh, nona." bujuk Dean.


"Tidak, terima kasih." tolak Olive.


"Ayolah aku bukan penjahat." bujuk Dean lagi, kemudian ia memberikan kartu namanya.


"Dean Network ?" Olive nampak terkejut, dari dulu impiannya adalah bekerja di perusahaan Dean Network. Perusahaan yang bergerak di bidang IT tersebut.


Salah satu perusahaan Indonesia yang berada di negaranya saat ini, jika ia bekerja di perusahaan tersebut. Maka peluang untuknya kembali ke Indonesia sangatlah besar.


Ia sangat merindukan negara kelahirannya itu, merindukan kakek neneknya dan juga Demian ayah angkatnya.


"Baiklah, aku mau." sahut Olive dengan mengulas senyumnya senang.

__ADS_1


"Dasar matre." gerutu Ricko, entah kenapa ia tiba-tiba merasa kesal dengan kedekatan Dean dan gadis itu.


__ADS_2