Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~105


__ADS_3

Pagi itu Victor bangun dengan semangat dua kali lipat, ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta.


Sekarang statusnya bukan lagi jomblo abadi seperti perkataan readers eh Demian, tapi kini ia sudah mempunyai seorang kekasih.


Kekasih? Victor ingin rasanya tertawa jika mengingat bagaimana ia semalam telah memaksa Nina untuk menjadi kekasihnya.


Bukannya gadis keras kepala seperti Nina memang harus sedikit di paksa dan di ancam agar menurut? apalagi mengingat gadis itu bukan seperti gadis kebanyakan di luar sana.


Di matanya Nina sangat unik, meski tubuhnya mungil tapi nyalinya sangat besar. Semalam gadis itu telah menghajar laki-laki yang sudah mengganggunya dan ia juga sempat merasakan bagaimana kerasnya tamparan tangan gadis itu di pipinya yang sampai sekarang masih terlihat memerah.


Nina juga seorang pekerja keras seperti dirinya, gadis itu seperti tak kenal lelah bekerja sepanjang hari dan yang membuat Victor mengagguminya, Nina tidak pernah mengeluh meski lelah bahkan gadis itu selalu menunjukkan senyum cerianya.


Sepertinya Nina memang gadis yang paling cocok dengannya, mengingat bagaimana sepak terjangnya selama ini yang selalu melawan bahaya sebagai orang kepercayaan sekaligus kaki tangan seorang pengusaha konglomerat yang mempunyai banyak sekali musuh.


Victor yakin Nina pasti akan menjadi istri yang tangguh untuk mendampinginya kelak.


"Aku bersumpah takkan membiarkan mu hidup kesusahan lagi, tolong bersandarlah padaku maka aku yang akan menanggung semua bebanmu selama ini." gumam Victor.


Kemudian ia beranjak dari ranjang king sizenya dan segera berlalu ke kamar mandi, pagi ini ia akan mengantar Nina bekerja atau mungkin membujuk gadis itu untuk tidak perlu bekerja lagi.


Saat baru keluar dari kamar mandinya, Victor langsung mengangkat teleponnya saat Demian menghubunginya.


"Vic, segera cari tahu tentang penerbangan pagi ini dari Sydney ke Jakarta karena di perkiraan pesawat itu telah jauh." Perintah Demian pada Victor saat laki-laki itu baru menjawab panggilannya.


"Baik tuan, segera saya kabarkan." sahut Victor.


"Pastikan juga bagaimana keadaan Monica dan Olive karena mereka berada di dalam pesawat itu." perintah Demian lagi.


"Baik, tuan." sahut Victor setelah itu Demian mematikan panggilannya.


Dengan masih memakai handuk sebatas pusarnya dan membiarkan tubuh atasnya terbuka Victor segera menyalakan laptopnya.


"Semoga mereka baik-baik saja." gumam Victor, kemudian ia nampak menghubungi seseorang melalui ponselnya.


Sementara itu Nina yang sedang berdiri di depan gang kosnya nampak sedang menunggu kedatangan Victor yang katanya semalam mau menjemputnya.


Hingga hampir satu jam dia menunggu, namun belum juga ada tanda-tanda kedatangan laki-laki itu.


"Sial, bodohnya aku mau mempercayainya. Semua orang kaya memang sama saja suka mempermainkan orang miskin."


Akhirnya Nina memutuskan untuk mencari angkutan umum saja karena ia takut akan terlambat masuk kerja.


"Loh Nin, kamu mau berangkat kerja ?" tanya Yudo saat menghentikan mobilnya di dekat Nina.

__ADS_1


"Eh bapak, iya saya sedang menunggu angkot." sahut Nina yang nampak terkejut saat melihat mobil atasannya itu tiba-tiba berhenti di depannya.


"Ayo aku antar sekalian." tawar Yudo.


"Tidak usah, Pak. Terima kasih." tolak Nina dengan halus.


"Astaga Nin kayak apa aja, ayo naiklah nanti kamu terlambat loh." bujuk Yudo seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Nina yang khawatir terlambat, akhirnya menerima tawaran Yudo.


"Baik, Pak. Terima kasih tumpangannya." ucapnya.


"Sudah ku bilang jangan panggil bapak kalau di luar jam kerja." ucap Yudo sambil mulai melajukan mobilnya kembali.


"Maaf pak, eh Mas." sahut Nina tak enak hati.


"Begitu lebih baik, apa kekasihmu tidak mengantarmu kerja hari ini ?" tanya Yudo kemudian.


"Ti-tidak."


"Aku tidak menyangka ternyata diam-diam kamu sudah mempunyai pacar, sepertinya aku terlambat." ujar Yudo seraya menatap Nina sekilas kemudian ia fokus ke depan lagi.


"Pria itu benar pacarmu kan ?" lanjutnya lagi saat tak ada tanggapan dari Nina.


Nina nampak mendesah pelan, haruskah ia jujur mengenai hubungannya dengan Victor? tapi ia juga tidak mau memberikan kesempatan pada laki-laki itu.


"Benar mas, pria itu pacar saya." sahut Nina pada akhirnya, meski saat ini ia masih belum yakin antara dirinya dan Victor ada hubungan.


Mungkin saja Victor hanya mempermainkannya saja, buktinya laki-laki itu mengingkari janjinya pagi ini. Bahkan nomor ponsel pun mereka tidak saling menyimpan.


"Oh, sepertinya dia bukan pria sembarangan." pancing Yudo.


"Hanya karyawan biasa kok mas, teman baik saya yang mengenalkan." sahut Nina.


"Benarkah ?" Sepertinya Yudo tidak puas dengan jawaban Nina, di lihat dari segi mana pun Victor terlihat seperti pria kalangan atas dan tatapan laki-laki itu sangat berbahaya menurutnya.


"Iya, mas."


"Ku harap kamu selalu berhati-hati Nin, jaman sekarang banyak sekali orang jahat di sekitar kita." nasihat Yudo.


"Terima kasih, mas. Kalau begitu saya turun dulu, atau mas mau mampir ngopi dulu kebetulan restoran sudah buka ?" ucap Nina saat sampai di restoran tempatnya bekerja.


"Boleh." Yudo langsung melepaskan seatbeltnya kemudian segera keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Baru juga Nina menutup pintu mobilnya, nampak seorang wanita paruh baya sudah menarik rambutnya dari belakang.


"Bagus ya sepertinya kamu tidak mendengarkan peringatan saya sebelumnya, sudah berapa kali saya bilang jauhi anak saya." hardik wanita itu.


"Mama apa-apaan sih." tegur Yudo seraya menjauhkan Mamanya dari Nina.


"Jadi kamu membela wanita murahan ini daripada Mama, hah ?"


"Ayo Ma, aku akan mengantar Mama pulang." Yudo langsung membawa ibunya masuk ke dalam mobilnya sebelum membuat keributan lebih jauh.


Sedangkan Nina nampak menghela napas panjangnya, baginya sudah biasa di hina atau di cela orang karena pekerjaannya dan ini yang membuatnya tidak mau berhubungan dengan orang kaya.


Sementara itu hingga malam hari Victor masih saja sibuk mencari informasi mengenai kecelakaan pesawat yang di alami oleh Monica dan Olive.


"Jadi semua penumpang di pastikan hilang ke dasar laut ?" tanya Demian malam itu saat Victor baru datang ke kediamannya di Mansion.


"Sebagian besar tuan, tapi jasad nyonya Monica sudah di temukan tadi pagi sedangkan suaminya dan Olive sampai sekarang belum di temukan." ujar Victor yang membuat Demian langsung terduduk lemas, ia semakin yakin bahwa Olive kini sudah tiada.


Sedangkan Ariana nampak terisak, kenapa secepat ini mereka tiada padahal ia belum sempat meminta maaf pada mantan istri suaminya tersebut.


Ricko yang mendengar perkataan Victor dari lantai atas nampak melangkahkan kakinya kembali ke dalam kamarnya.


Kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya.


"Kenapa kamu pergi secepat itu? bahkan aku belum memberitahumu kalau aku mau menjadi temanmu." gerutu Ricko kesal seraya memandang sebuah kalung dengan liontin berbentuk separuh hati yang di berikan oleh Olive saat ia akan pindah bersama ibunya.


Flashback on


"Kamu mau apalagi ?" ucap Ricko kesal saat Olive mendekatinya, kebiasaan Olive yang suka mengganggunya membuat Ricko sangat kesal padanya.


"Ambilah, hari ini aku mau pindah dari sini." Olive mengulurkan sebuah kalung pada Ricko.


"Aku tidak mau." tolak Ricko.


"Apa kamu tidak mau menerima kenang-kenangan dari saudarimu ini? kamu tenang saja setelah ini kita tidak akan bertemu lagi." Olive langsung menarik tangan Ricko lalu memberikan kalung tersebut.


Ricko nampak menatap Olive juga memakai kalung yang sama dengan yang di berikan padanya.


"Bye saudaraku setelah aku pergi jangan merindukanku ya." ledek Olive setelah itu ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan sekolahnya tersebut.


Flashback off


Semenjak saat itu harusnya Ricko senang karena kini tidak ada lagi yang mengganggunya apalagi ia bisa memiliki ayahnya seorang diri.

__ADS_1


Nyatanya kepindahan Olive dari sekolahnya membuatnya merasa kehilangan, apalagi saat mengetahui selama ini Olive mengganggunya hanya ingin mendapatkan perhatian darinya.


"Bahkan aku belum mengatakan kalau kita bisa kok berbagi Daddy." gumam Ricko berkaca-kaca.


__ADS_2