Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~117


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar mandi, Ariana segera duduk berselonjor di atas sofa. Mengambil pewarna kuku lalu memakaikannya pada kuku kakinya.


"Sayang, mau ku bantu pakaikan ?" tawar Demian saat melihat istrinya itu nampak kesusahan memakai pewarna kukunya.


Ariana yang menyadari suaminya itu ada maunya nampak tersenyum jahil dalam hati, tak biasanya pria itu memperhatikan hal-hal kecil yang ia lakukan seperti saat ini.


Mengingat masalah Jenny, ia jadi kesal sendiri. Sepertinya memberikan suaminya itu sedikit pelajaran tak masalah.


"Boleh." Ariana yang sedang berselonjor di atas sofa langsung mengangkat kakinya agar laki-laki itu bisa duduk, lalu ia meletakkan kembali kakinya di atas paha suaminya tersebut yang hanya memakai boxer saja pagi itu.


Ariana yang masih memakai kimono mandi sengaja melakukan sedikit gerakan agar kimononya bisa tersingkap ke atas hingga menampakkan pahanya yang putih nan mulus itu.


Demian yang melihatnya tenggorokannya langsung kering dan suhu tubuhnya mendadak panas, ingin sekali ia menerkam wanita itu dan memenuhinya dengan miliknya yang sudah mulai mengeras.


Namun sejak istrinya itu hamil ia tidak bisa bersikap semaunya untuk menyentuhnya. Sebelum melakukannya ia harus minta ijin dahulu dan memastikan keadaannya wanita itu baik-baik saja.


"Mas yang fokus dong nanti tidak rata jadi jelek loh." tegur Ariana saat suaminya itu diam-diam menatap pahanya yang terbuka.


"Iya sayang nih aku juga sedang fokus." sahut Demian namun matanya tetap saja curi-curi pandang ke arah paha istrinya itu.


Ariana yang menyadari itu nampak menaikkan sudut bibirnya, lalu ia sedikit mengendorkan tali kimononya hingga dadanya yang semakin membesar sedikit menyembul.


"Mas coba lihat leherku kok gatal ya." pinta Ariana sedikit mecondongkan tubuhnya ke depan.


Demian yang baru selesai mengecat kuku istrinya, langsung mengangkat kepalanya, lagi-lagi tenggorokannya tercekat saat melihat pemandangan di depannya itu.


"Ga ada semut kok, sayang." ucap Demian namun pandangan matanya lurus ke belahan dada wanita itu.


"Semutnya di leher Mas bukan di dadaku." sungut Ariana.


"Eh." Demian langsung tersenyum nyengir.


"Kamu sih sayang menggodaku terus, sudah tahu beberapa hari ini suami di anggurin." lanjut Demian lagi.


"Nggak ada yang anggurin Mas, kamu saja yang terlalu sibuk." sanggah Ariana.


"Tapi sekarang bolehkan ?" Demian memasang wajah memelas seperti seorang anak kecil yang sedang meminta mainan.


"Hm, boleh nggak ya ?" Ariana nampak pura-pura berpikir, namun ia langsung tertawa geli saat tangan sang suami sudah merayap masuk ke dalam kimononya.


"Astaga kamu nggak pakai sayang ?" Demian semakin senang saat mengetahui sang istri nampak polosan di balik kimononya.


Ariana hanya menanggapinya dengan tersenyum menggoda.

__ADS_1


Demian yang melihat lampu hijau dari wanita itu langsung saja membawanya ke atas ranjangnya.


Dan setelah itu sepertinya mereka akan melakukan olahraga pagi di atas ranjangnya yang tentu saja akan membuat mereka penuh dengan peluh keringat.


Sementara itu di rumah sakit tuan Anggoro beserta istrinya dan Ricko nampak menjenguk Dean.


Sebenarnya nyonya Anggoro enggan, namun atas bujukan cucu kesayangannya akhirnya ia luluh juga.


"Papa, Ricko." sapa Dean saat melihat Ayahnya dan juga Ricko masuk ke dalam ruangannya.


"Nyo-Nyonya." lirihnya lagi saat melihat nyonya Anggoro mengekor di belakang ayahnya, nampak wajah sinis yang di tunjukkan wanita itu.


"Om Dean apa sudah membaik ?" tanya Ricko seraya melihat keadaan Dean yang masih penuh dengan perban.


Beruntung keadaan Dean tak begitu serius, hanya karena kehabisan banyak darah membuatnya koma sebentar. Namun sekarang bocah remaja itu terlihat baik-baik saja, hanya menunggu pemulihan saja.


"Masa panggil Om, kayak aku berwajah Om-Om saja." protes Dean.


"Kan Om adiknya Daddy." sahut Ricko.


"Tapi usia kita cuma beda tujuh tahun, Ricko." protes Dean lagi.


"Baiklah untuk sementara Ricko panggilnya kakak saja, nanti kalau sudah tumbuh kumis baru Ricko panggil Om." ucap Ricko.


"Baiklah sepertinya aku akan mencukur kumis setiap hari." celetuk Dean yang langsung membuat Tuan Anggoro dan Ricko tertawa bersamaan.


Dean yang menyadari itu ia langsung menyapa istri dari ayahnya tersebut.


"Nyonya ?" panggilnya.


"Hm." sahut nyonya Anggoro malas.


"Tolong maafkan ibu saya, sebagai gantinya saya akan melakukan apapun untuk nyonya." ucap Dean memohon.


"Dean...." sela tuan Anggoro namun Dean langsung menggelengkan kepalanya saat menatapnya.


"Kenapa harus kamu yang bertanggung jawab? bukannya ibumu yang melakukan kesalahan. Paling-paling ibumu sekarang diatas sana juga sudah mendapatkan karmanya." sahut nyonya Anggoro dengan sinis.


Sungguh sangat pedas perkataan yang keluar dari bibir wanita paruh baya itu.


"Karena saya putranya, meski saya tidak pernah melihatnya sejak lahir tapi sebagai putranya saya wajib membela dan menanggung kesalahan ibu saya." sahut Dean dengan tegas.


"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, kamu tadi bilang mau melakukan apapun itu kan ?" ujar nyonya Anggoro dengan mimik serius.

__ADS_1


"Benar, nyonya." sahut Dean.


"Ma...." sela Tuan Anggoro rasanya tidak tega jika darah dagingnya itu akan di perlakukan tidak baik oleh istrinya, namun kesalahan besar yang ia perbuat membuatnya tidak bisa berbuat banyak untuk membela putra keduanya tersebut.


Sedangkan nyonya Anggoro hanya mengangkat tangannya agar suaminya itu tidak ikut campur.


"Apapun yang akan nyonya perintahkan kepada saya, saya janji tidak akan membantah." lanjut Dean lagi meyakinkan.


"Baiklah pertama jangan panggil saya nyonya, kamu pikir saya nyonyamu ?" ujar nyonya Anggoro, lagi-lagi dengan nada sinis.


"Baik, tante ?" ucap Dean.


"Kamu pikir saya tante kamu." sungut nyonya Anggoro yang langsung membuat Dean menggaruk kepalanya bingung, ia nampak berpikir keras harus memanggil wanita itu apa.


"Kanjeng ?" lirih Dean ragu-ragu, bukannya orang kaya yang di tv-tv sering di panggil dengan sebutan itu.


Namun nyonya Anggoro langsung melotot menatapnya.


"Kamu pikir saya lahir jaman dinasti kerajaan." sinis nyonya Anggoro lagi.


Dean semakin bingung. "Mbak atau kakak ?" ucap Dean. Mungkin wanita itu tidak ingin di anggap terlalu tua.


"Kamu mau menghina saya ?" pekik nyonya Anggoro dengan mata melotot.


"Ma...." sela tuan Anggoro yang juga bingung dengan kemauan sang istri.


"Diamlah Pa jangan ikut campur." sahut nyonya Anggoro sembari mengangkat tangannya.


"Ma-maaf, saya tidak berniat untuk menghina anda. Jujur anda memang masih sangat cantik." ucap Dean seraya menatap lekat wanita itu.


Berkat perawatan mahal setiap bulannya, tentu saja wanita itu masih sangat cantik, bahkan berkat alat berteknologi tinggi itu sedikit kerutan pun tak nampak di wajah dan tubuhnya.


"Tidak usah merayu saya, sekarang kamu pikirkan mau memanggil saya apa ?" ketus nyonya Anggoro.


Dean nampak menelan ludahnya, otaknya yang biasanya cemerlang kini mendadak tumpul.


"Ibu ?" ucapnya pada akhirnya, karena sudah tak ada kata lagi yang ia temukan.


"Ck, kampungan." cibir nyonya Anggoro, namun itu justru membuat Dean nampak tercengang.


Wanita itu sepertinya tak begitu marah saat ia memanggilnya dengan sebutan 'ibu,' apa itu berarti beliau memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan 'Mama'?


"Ma-Mama ?" lirih Dean ragu-ragu bercampur takut karena sudah lancang memanggil wanita itu layaknya Demian memanggilnya.

__ADS_1


.


Duh mau nulis babang Edgar belum ada feel ya guys 😅😅😅


__ADS_2