Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~89


__ADS_3

Ariana terlihat kelelahan setelah menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri, meski sang suami melakukannya dengan pelan tapi tetap saja dia merasa lelah.


Karena laki-laki itu tidak akan pernah puas jika hanya melakukannya sekali dan menjelang dini hari ia baru memejamkan matanya.


Namun baru beberapa jam terlelap, Ariana yang terbiasa bangun pagi kini ia justru sibuk di dapurnya.


"Nyonya, lebih baik anda beristirahat saja." mohon koki dan beberapa ART disana.


"Aku sangat sehat chef, biarkan aku yang memasak. Kamu hanya cukup membantuku saja, aku lelah kalau hanya rebahan saja." tolak Ariana seraya sibuk dengan penggorengannya.


"Baik nyonya, saya akan membantu anda memotong sayur." Sepertinya koki tersebut sudah lelah membujuk nyonya mudanya itu.


Beberapa saat kemudian Ariana terlihat bangga dengan hasil masakannya, apalagi ketika sang suami dan ayah mertuanya itu memujinya.


"Ini terakhir kalinya aku mengizinkan mu memasak di sini." tegas nyonya Anggoro dengan nada sinis.


"Tapi Ma...."


"Jangan karena kamu pintar memasak terus abai dengan kandunganmu." sela nyonya Anggoro, rasanya ia tidak rela jika menantunya itu mendapatkan pujian terus menerus dari anak dan suaminya.


"Jika terjadi apa-apa dengan cucu-cucuku, apa kamu mau bertanggung jawab ?" imbuhnya lagi.


"Baik, Ma." Ariana terlihat kecewa, ia suka sekali memasak dan tidak merasa lelah karena itu.


Mengingat saat mengandung Ricko dahulu ia bahkan sibuk bekerja tapi tetap sehat-sehat juga, lagipula sekarang ada koki dan beberapa ART yang membantunya.


"Benar kata Mama, sayang. Kamu tidak perlu capek-capek memasak ya, kan sudah ada koki. Aku juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandunganmu. Ingat ada dua bayi kecil kita di dalam perut kamu sekarang." tegas Demian pada Ariana yang langsung membuat Nyonya Anggoro tersenyum penuh kemenangan.


"Baiklah, aku akan diam saja di kamar." sahut Ariana.


"Itu lebih bagus, sayang." ucap Demian.


"Dasar tidak peka, dia tidak tahu apa 24 jam di kamar itu sangat membosankan."


Ariana nampak menghela napas panjangnya.


"Ricko hari ini Mommy antar sekolah ya." ucapnya kemudian.


"Beneran, Mom ?"


"Hmm." angguk Ariana.


"Boleh ya, Mas ?" imbuhnya lagi menatap sang suami.


Demian balik menatapnya, nampak rasa keberatan di wajahnya. Namun melihat istrinya memelas, ia jadi tidak tega.


"Baiklah, setelah itu langsung pulang ya. Jangan lelah-lelah." sahut Demian.


"Terima kasih." Ariana langsung mengulas senyumnya dengan lebar, seakan baru saja mendapatkan sebuah hadiah.


Tapi tidak dengan Demian, laki-laki itu sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


Beberapa saat kemudian setelah menyelesaikan sarapannya, mereka kembali beraktivitas.

__ADS_1


Demian pergi ke kantornya bersama dengan Victor, Ariana mengantar Ricko sekolah dengan sopirnya dan nyonya Anggoro sibuk dengan salon-salonnya. Sedangkan tuan Anggoro meski sudah pensiun dari pekerjaannya, tapi beliau masih sering bertemu dengan kolega-koleganya di luar.


"Jangan keluar pagar sebelum pak sopir jemput ya, Nak." pesan Ariana ketika mengantar Ricko sampai sekolahnya.


"Baik Mom, adik-adikku yang hebat jaga Mommy ya." sahut Ricko, kemudian mengusap perut sang ibu.


"Baik, kakak." sahut Ariana dengan nada yang di buat-buat.


Setelah Ricko masuk ke dalam kelasnya, Ariana segera meninggalkan area sekolah tersebut.


"Rin." panggil seseorang yang membuat Ariana urung masuk ke dalam mobilnya.


"Edgar ?" Ariana nampak terkejut sekaligus senang bertemu sahabatnya itu, terakhir mereka bertemu saat pernikahannya dulu.


"Bagaimana kabarmu? aku dengar kamu sedang hamil, selamat ya." ucap Edgar dengan mengulas senyumnya, meski ada rasa nyeri di hatinya.


"Baik Ed, ya begitulah. Kamu sendiri bagaimana kabarnya ?" tanya balik Ariana.


"Aku baik juga."


"Kamu kok di sini, sedang mengantar Bryan ?" tanya Ariana lagi.


"Tidak, Bryan sedang tidak enak badan."


"Oh, semoga lekas sembuh." sahut Ariana.


"Rin ?"


"Aku akan menetap di Jerman, kamu jaga diri baik-baik ya." sahut Edgar.


"Oh, ya tentu saja. Kamu juga ya." sahut Ariana.


"Hmm." angguk Edgar.


"Rin ?"


"Hm, iya ?"


"Aku masih sangat mencintaimu dan kepergianku kesana berharap bisa melupakan perasaan ini." ucap Edgar kemudian.


"...." Ariana terdiam, sebesar itukah cinta Edgar padanya.


"Ku harap kamu akan selalu bahagia bersama kak Demian." lanjut Edgar lagi.


"Terima kasih, semoga kamu cepat menemukan wanita yang tepat." sahut Ariana.


"Entahlah." sahut Edgar.


"Baiklah, aku harus segera pergi. Sepertinya pesawatku sebentar lagi akan take off ." Edgar nampak menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Hati-hati Ed, sampai kapanpun kamu akan selalu menjadi sahabat terbaikku." ucap Ariana.


"Terima kasih." sahut Edgar setelah itu ia berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


"Kamu orang baik Ed, semoga kelak mendapatkan wanita yang baik juga."


Ariana nampak menghela napas panjangnya, namun tiba-tiba ia merasakan sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang.


"Mas ?" ucapnya ketika menebak yang sedang memeluknya saat ini adalah suaminya, karena sejak kehamilannya suaminya itu selalu memakai parfumnya.


"Hm, katakan apa kamu diam-diam berselingkuh dengan Edgar ?" ucap Demian tanpa melepaskan pelukannya.


"Siapa yang selingkuh sih Mas, Edgar cuma mau berpamitan. Hari ini dia akan berangkat ke Jerman." sahut Ariana menjelaskan.


"Aku sudah tahu, bukannya itu lebih baik daripada mengharapkan istrinya orang." sinis Demian.


"Nah itu Mas tahu, lalu kenapa menuduhku berselingkuh ?" Ariana melepaskan pelukan Demian di perutnya, kemudian ia berbalik badan menatap laki-laki itu.


"Memastikan saja, hatimu tidak berselingkuh." sahut Demian.


"Siapa juga yang mau sama aku Mas, emak-emak beranak tiga." ketus Ariana.


"Aku mau, sayang."


"Tentu saja, kamu kan bapaknya anak-anakku." sungut Ariana yang langsung membuat Demian terkekeh.


"Ke kantor yuk." ajak Demian kemudian.


"Jangan macam-macam Mas, aku sangat lelah." sahut Ariana, karena seingatnya setiap ia ke kantor suaminya pasti akan berakhir dengan bercinta di sana.


"Siapa yang macam-macam sih sayang, hanya saja sejak hamil kamu tidak pernah ke kantor lagi kan. Kebetulan hari ini aku sedang tidak sibuk atau kamu mau jalan-jalan saja, aku akan menemanimu." bujuk Demian.


"Ke kantor sajalah, aku juga sedang bosan di rumah. Tapi jangan macam-macam ya, bukannya semalam kamu sudah puas melakukannya."


"Aku nggak pernah puas sama kamu sayang, maunya lagi dan lagi." sahut Demian yang langsung mendapatkan cubitan dari sang istri.


"Sakit sayang." Demian nampak meringis kesakitan.


"Makanya jangan mesum."


"Mesum sama istri sendiri juga."


"Mas !!"


"Iya sayang, iya. Hanya ke kantor dan tidak lebih dari itu, oke ?" sahut Demian meyakinkan.


Kemudian Ariana segera masuk ke dalam mobilnya sang suami yang terparkir tak jauh dari mobilnya.


"Apa kamu tadi mengikutiku ?" tanya Ariana penasaran.


"Nggak, kebetulan saja lewat sini." dusta Demian, padahal ia sengaja mengikuti sang istri. Karena ia tahu hari ini Edgar akan berangkat ke Jerman dan ia yakin laki-laki itu pasti akan menemui istrinya.


"Oh, kebetulan sekali." ucap Ariana, namun matanya tak sengaja menangkap sosok ayah mertuanya sedang berbincang dengan anak laki-laki berseragam sekolah putih abu-abu.


"Papa ?"


Gumam Ariana, namun karena mobil terlalu kencang dia tak bisa memastikan kembali penglihatannya tapi ia sangat yakin itu ayah mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2