
Tujuh tahun kemudian.....
Semua orang pasti mempunyai masa lalu kelam, begitu juga denganku. Jika mereka adalah orang baik yang kurang beruntung, aku juga seperti itu. Namun aku dulu bukan orang baik, aku adalah orang yang serakah.
Sejak kecil ibuku selalu berkata, jadi orang itu harus serakah kalau tidak kamu akan berakhir menjadi gelandangan. Sejak saat itu aku selalu ingin menang sendiri, tak peduli harus menyakiti orang lain.
Namun dengan berjalannya waktu dan banyak peristiwa yang ku alami, aku jadi mengerti ternyata apapun perbuatan kita maka karma akan selalu mengiringinya.
Aku bersyukur Tuhan masih memberikan ku kesempatan untuk menebus semua dosa-dosaku dan membuatku menjadi orang yang lebih baik.
Kak Dena, Papa. Tolong maafkan aku, di setiap napasku aku selalu berdoa untuk kebaikan kalian.
"Ayo anak-anak, berhenti mainnya sudah waktunya mandi." teriak Sera memanggil beberapa anak yang sedang bermain di tanah lapang.
"Baik, bunda." sahut anak-anak tersebut yang berjumlah 6 orang.
Diantara ke 6 anak tersebut nampak nyempil bocah perempuan satu-satunya berusia sekitar 7 tahun.
"Merry, kamu mandi di kamar bunda ya. Anak perempuan tidak boleh mandi bersama anak laki-laki." cegah Sera saat bocah kecil bernama Merry itu mengikuti langkah kelima kakak lelakinya.
"Tapi kenapa bunda? bunda selalu saja melarang Merry mandi bersama mereka. Mereka kan kakak-kakak Merry juga." tanya Merry merajuk dan bundanya itu pasti akan selalu menjawab dengan jawaban yang sama.
"Merry sayang, Merry kan anak perempuan. Anak perempuan itu harus menjaga kehormatannya, harus mempunyai rasa malu dari kecil. Merry itu perempuan sedangkan kakak-kakak Merry itu laki-laki." sahut Sera dengan lembut dan penuh keibuan.
Merry langsung mengangguk, kemudian ia melangkahkan kakinya ke kamar sang ibu.
Saat anak-anak tersebut sedang mandi, Sera bergegas menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Ayo berbagi sayang tidak boleh rebutan, bunda ingin kalian selalu rukun dan saling menyayangi." tegur Sera saat ke enam anak-anaknya itu nampak berkumpul di meja makan.
Mereka saling berbagi dan tidak ada yang berantem, Sera yang melihat itu nampak berkaca-kaca.
__ADS_1
Wanita itu saat ini berada di sebuah panti asuhan sederhana di pinggiran kota California. Sejak kabur dari rumah Martin bersama janin dalam kandungannya beberapa tahun silam, di sinilah ia tinggal.
Saat itu ia hampir tewas saat beberapa hewan buas menyerangnya di tengah hutan, namun beruntung ia bertemu dengan orang baik yaitu seorang laki-laki paruh baya yang waktu itu sedang berburu.
Sera di bawa ke sebuah panti asuhan miliknya, namun dua tahun kemudian pria itu meninggal dunia dengan meninggalkan banyak anak panti yang masih kecil-kecil.
Sera yang sudah terlanjur sayang dengan mereka, ia bekerja keras banting tulang menghidupi anak-anak tersebut. Hingga satu persatu dari mereka di adopsi oleh orang kaya dan sekarang hanya tersisa 5 anak laki-laki yang sudah berusia 10 tahunan.
Sera yang merasa sendiri di dunia ini, merasa ikhlas bekerja keras menghidupi mereka. Baginya mereka adalah keluarganya, ia akan melakukan apapun agar anak-anak tersebut bisa hidup layak.
"Bunda, kenapa bunda melamun ?" Merry yang hendak tidur nampak melihat sang ibu sedang melamun di atas kursi jahitnya.
"Eh, nggak apa-apa Nak. Ayo tidur, mau bunda temani ?" sahutnya menatap lembut putrinya tersebut.
"Hm." Marry langsung mengangguk.
Setelah menemani Marry tidur, Sera segera mengecek beberapa kamar yang di tempati oleh anak-anaknya yang lain.
Kemudian Sera kembali ke ruang kerjanya, sudah beberapa tahun ini Sera menjadi seorang desainer di pinggiran kota. Ia bersyukur dulu pernah sekolah desainer, meski waktu itu ia lebih memiliki menjadi seorang model.
Ia biasanya memasarkan pakaian buatannya melalui media online dan dari hasil penjualannya itu ia bisa menghidupi ke lima anak asuhnya dan seorang putri kandungnya.
Merry adalah Putri kandungnya bersama Martin, namun Sera berharap ia tidak akan bertemu lagi dengan pria itu.
Meski saat ini ia masih sangat mencintainya, apalagi wajah Merry mirip sekali dengan sang Ayah hingga membuatnya tak bisa melupakan laki-laki itu.
Konyol memang, meski 7 tahun sudah berlalu tapi perasaannya masih tetap sama seperti dulu. Harusnya ia membenci laki-laki yang sudah menculik dan menodainya berkali-kali itu.
"Bunda ?" panggil Alex, Alex adalah anak asuhnya paling besar di sana. Remaja berusia 11 tahun itu nampak berjalan mendekati Sera.
"Kok belum tidur, apa ucapan selamat tidur dari bunda masih kurang ?" sahut Sera dengan nada meledek.
__ADS_1
"Apa bunda tidak lelah, sebaiknya bunda segera tidur besok bisa di lanjutkan lagi." sahut Alex merasa iba dengan Sera, wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungannya sendiri itu tak pernah lelah mengasuhnya dan adik-adiknya.
"Besok pagi bunda sudah harus mengantar pesanan ini ke kota Nak, jadi bunda harus menyelesaikannya sekarang." sahut Sera.
"Baiklah, kalau begitu bunda jangan terlalu malam tidurnya ya." ucap Alex, setelah itu ia berlalu ke kamarnya.
Keesokan harinya....
"Sayang, bunda pergi dulu. Alex jaga adik-adik ya Nak. Jangan kemana-mana, jika ada orang tidak di kenal jangan di bukakan pintu oke ?" ujar Sera pagi itu.
Setiap hari minggu saat anak-anaknya libur sekolah, Sera selalu mengantarkan pesanan para pelanggannya di kota.
Setelah berpamitan dan mencium mereka satu persatu, Sera segera pergi menuju stasiun kereta. Ia bersyukur mempunyai anak-anak yang patuh dan mandiri seperti mereka.
Sesampainya di stasiun, Sera segera masuk ke dalam kereta dengan menenteng tas besar berisi pakaian buatannya.
Melihat kursi kosong, Sera langsung mendudukkan dirinya. Semalam hampir pagi ia baru tidur dan saat ini ia merasa sangat mengantuk.
Baru juga ia duduk, ia sudah nampak terlelap di sandaran kursinya, bahkan saking lelapnya ia tak mendengar beberapa orang di sekitarnya sedang berbicara.
"Nona, kursi ini sudah kami pesan. Cepat pergi dari sini ?" nampak laki-laki bertubuh tinggi besar mencoba membangunkan Sera.
"Ada Apa ini ?" tiba-tiba seorang pria dengan suara berat nampak menegur tiga pria yang hendak membangunkan Sera.
"Maaf tuan, kursi yang anda pesan sudah di duduki oleh wanita ini." sahut laki-laki bertubuh besar itu pada sang tuan.
Martin yang menatap Sera sedang terlelap tidur, nampak memicing. Benarkah wanita itu Sera atau hanya mirip saja.
Martin segera mengangkat tangannya, memberi kode agar anak buahnya itu membiarkannya saja. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya di kursi di depan Sera.
Biasanya Martin tidak menyukai berbagi tempat duduk dengan orang lain, namun kali ini ia ingin benar-benar memastikan siapa sebenarnya wanita itu.
__ADS_1