
"Sayang." sapa Sera sore itu saat masuk ke dalam ruangan Arhan, ia langsung menghampiri laki-laki itu lalu memeluknya.
"Aku merindukanmu." ucapnya lagi, namun Arhan langsung menjauhkan tubuh Sera darinya.
"Ser, kamu apa-apan sih." protes Arhan dengan wajah kesalnya.
"Sayang, tidak bisa kah kita kembali seperti dulu lagi? sepertinya hanya kamu yang terbaik untukku. Aku minta maaf atas kesalahanku dulu." mohon Sera dengan penuh penyesalan.
Arhan nampak menghela napas panjangnya, sepertinya ia harus memberi pelajaran pada mantan kekasihnya itu.
Wanita itu sudah membuatnya berpaling dari Dena, lalu setelah itu diam-diam berselingkuh di belakangnya dan sekarang dengan tak tahu malunya memintanya untuk kembali setelah dia di campakkan oleh Edgar.
"Seandainya Dena yang mengatakan itu dengan senang hati pasti akan ku terima, tapi sayangnya itu kamu bukan dia dan asal kamu tahu aku sudah tidak tertarik padamu." cibirnya kemudian.
"Aku benar-benar menyesal sayang, ku mohon kembalilah padaku." mohon sera lagi.
"Pergilah Ser, aku sudah tidak ingin berhubungan lagi denganmu." usir Arhan, namun sepertinya Sera enggan untuk pergi.
Wanita itu justru dengan tak tahu malunya langsung duduk di pangkuan Arhan kemudian melingkarkan tangannya di leher laki-laki itu lalu meraup bibir mantan kekasihnya itu dengan rakus.
Arhan terkejut, namun selanjutnya ia nampak tersenyum sinis dan membiarkan Sera berbuat semaunya padanya.
Masih dengan saling memanggut Sera nampak melepaskan kancing kemeja Arhan satu persatu lalu melemparkannya ke sembarang arah.
Hingga tangannya kini beralih ke ikat pinggang laki-laki itu dan tanpa perasaan malu Sera langsung melakukan penyatuannya di atas pangkuan mantan kekasihnya itu.
"Wow sepertinya tingkat bercintamu semakin meningkat, apa Edgar yang mengajari mu ?" cibir Arhan saat membiarkan Sera menguasai dirinya, ia tahu Edgar tidak pernah menyentuh wanita itu.
Namun Sera tak menghiraukannya, ia justru nampak menaik turunkan tubuhnya di atas pangkuan laki-laki itu.
"Aku tahu kamu pasti tidak akan menolakku." lirih Sera di tengah desahannya.
"Karena kamu selalu tergila-gila pada tubuhku." ucapnya lagi lalu ia melahap bibir Arhan lagi dengan rakus.
Arhan yang terbawa suasana nampak sangat menikmati percintaannya itu, bahkan kini tangannya sudah menguasai dua gundukan kenyal milik Sera hingga membuat wanita itu meracau tak karuan.
Merasa kurang leluasa, Arhan langsung membawa mantan kekasihnya itu ke sofa yang ada di ruangan itu lalu melanjutkan penyatuannya di sana.
__ADS_1
Mengingat tak memakai pengaman laki-laki itu nampak membuang cairan percintaannya di atas perut wanita itu saat mencapai puncaknya.
Setelah itu ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sera yang merasa berhasil memperdaya Arhan, nampak tersenyum senang. Semoga saja laki-laki itu akan mau menerimanya kembali setelah ini.
"Cepat pakai bajumu kembali." perintah Arhan saat baru keluar dari kamar mandi, ia nampak baru selesai membersihkan dirinya bahkan pakaiannya pun sudah berganti dengan yang baru.
"Aku bisa lebih memuaskan lagi kalau kamu mau." goda Sera yang masih nampak berbaring di atas sofa.
"Aku bilang pakai bajumu atau mau ku panggilkan security biar mereka yang memakaikan bajumu." sarkas Arhan menatap tajam Sera yang langsung membuat wanita itu beranjak dari tidurnya.
Sera nampak memunguti pakaiannya lalu segera memakainya kembali dengan cepat.
"Sialan." gerutunya dalam hati.
"Katakan ada perlu apa kamu datang kemari ?" tegas Arhan seraya mendudukkan dirinya di kursi kerjanya, lalu merapikan beberapa berkas di atas mejanya yang berantakan karena aktivitas panasnya tadi.
"Sudah ku bilang kan tadi, aku ingin kita balikan." sahut Sera.
"Aku tidak tertarik." ujar Arhan yang langsung membuat Sera menatapnya geram.
Arhan langsung menatapnya lalu ia tersenyum mengejek. "Seorang pria hanya butuh nafsu untuk menikmati tubuh wanita." ejeknya.
"Dasar laki-laki bajingan." hardik Sera seraya berjalan mendekat lalu melayangkan tamparannya, namun dengan cekatan Arhan langsung mencekal pergelangan tangannya.
"Oh ya? dan kamu lebih rendah dari seorang p*lac*r, kamu tahu kenapa? mereka masih mematok harga untuk tubuhnya namun kamu justru mengobralnya secara cuma-cuma benar-benar tak berharga." cibir Arhan seraya menghempaskan tangan Sera.
"Kamu..." Sera langsung menyerang Arhan, namun ia segera di hentikan oleh dua orang security yang baru masuk.
"Lepaskan, sialan." teriak Sera saat kedua security tersebut memegang tangannya.
"Bawa wanita ini pergi dan jangan biarkan dia berkeliaran di kantor ini lagi." perintah Arhan.
"Saya harap kamu tidak pernah muncul di hadapan saya lagi." imbuhnya lagi seraya menatap tegas Sera.
"Dasar brengsek, kamu tidak bisa membuangku begitu saja." teriak Sera tak terima, namun Arhan hanya menanggapinya dengan seringaiannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian nampak seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan Arhan saat Sera di seret keluar oleh dua security tersebut.
"Sayang, ada apa ini ?" ucapnya bingung.
"Bukan apa-apa sayang, hanya wanita gila yang mencoba mengganggu." sahut Arhan.
Sedangkan Sera yang masih berada di ambang pintu nampak sangat geram, namun ia tak bisa berbuat sesuatu karena ia langsung di seret keluar.
Sementara itu beberapa hari kemudian Edgar nampak sangat senang setelah mendapatkan kabar dari asistennya jika tuan Winata sudah menyetujui akan memberikan sebagian besar sahamnya pada Dena.
Meski dalam lubuk hatinya ia juga sangat sedih karena waktu untuk melepaskan Dena semakin dekat. Karena sudah tidak ada alasan lagi baginya untuk menahan wanita itu tetap di sisinya.
Ia akan membiarkan Dena bahagia dengan pilihan hidupnya dan ia rela daripada membiarkan wanita itu tetap berada di sisinya namun ia tak bisa memiliki hatinya.
"Pa-pa, pa-pa." Elkan langsung berlari saat melihat Ayahnya itu baru pulang.
Edgar langsung membawanya ke dalam gendongannya. "Anak Papa kenapa belum bobo sih ?" ucapnya seraya menciumi putranya itu dengan gemas.
"Pa-pa, ma-ma." ucap Elkan seraya menunjuk ibunya yang sedang duduk di atas sofa sembari memainkan ponselnya.
Wanita itu terlihat tak peduli dengan kedatangan suaminya, ia masih marah karena suaminya itu tak mengizinkan dirinya pulang.
Edgar hanya tersenyum menatapnya, kemudian ia segera membawa Elkan masuk ke kamarnya dan menemani putranya itu tidur.
Selepas suaminya pergi, Dena nampak menghentakkan kakinya kesal.
"Dasar suami tidak peka, datang-datang bukannya merayu tapi pergi begitu aja." gerutunya dengan kesal.
Setelah malam panasnya waktu itu, keesokan paginya Edgar justru pergi meninggalkannya selama beberapa hari karena ada pekerjaan penting di luar kota dan itu membuat Dena semakin kesal.
Dirinya merasa seperti di asingkan oleh suaminya, bagaimana ia bisa membalas dendam kalau seperti itu. Karena ia masih tidak yakin suaminya akan membantunya.
Kini laki-laki itu tiba-tiba pulang, namun menyapanya saja tidak. Sepertinya putranya lebih penting darinya dan ia merasa cemburu akan hal itu.
Setelah itu Dena nampak diam-diam mengintip dari celah pintu kamar putranya, ia penasaran apa yang di lakukan oleh suaminya di kamar anaknya.
Dan ia semakin kesal saat mengetahui laki-laki itu justru tertidur bersama Elkan, padahal ia berharap Edgar akan merayunya. Karena ia sangat merindukannya saat ini.
__ADS_1
Ia jadi menyesal karena telah mendiamkan suaminya beberapa hari ini, bahkan telepon dan pesan dari laki-laki itu tidak pernah ia jawab.
"Menyebalkan." gerutunya seraya menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya.