Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~180


__ADS_3

"Papa baik-baik saja ?" Dena nampak memeluk ayahnya saat baru sampai di rumahnya, bagaimana pun juga ayahnya pernah bertahun-tahun mencintai ibu tirinya dan hidup bersamanya pasti ada rasa kehilangan di hatinya.


"Papa baik-baik saja, mungkin ini karma yang harus Sita terima akibat perbuatannya." Tuan Winata nampak tegar bahkan laki-laki paruh baya itu masih bisa tersenyum menatap Putri dan menantunya tersebut.


"Lalu bagaimana dengan Sera, Pa ?" tanya Dena, karena ia tidak melihat keberadaan Sera di sana. Apa wanita itu berhasil kabur.


"Sera pergi bersama Martin, mereka telah bersekongkokol untuk kabur dari sini tapi entah kenapa Sita di tinggal begitu saja. Karena berdasarkan pantauan cctv, Sita terlihat berlarian di tengah jalan sebelum kecelakaan itu terjadi." sahut tuan Winata.


"Sera pasti tidak akan tinggal diam Pa, kita harus berhati-hati." timpal Edgar khawatir.


"Justru aku merasa lega jika dia pergi bersama Martin." sahut Dena yang langsung membuat Edgar dan tuan Winata menatapnya.


"Kamu masih berteman dengannya? bukannya papa sudah melarangmu berteman dengan dia ?" tegur tuan Winata melebarkan matanya.


Martin adalah anak dari pelayannya, dari dulu ia selalu melarang Dena untuk bergaul dengan para pelayan atau seseorang yang statusnya lebih rendah.


"Meski Martin hanya anak pelayan, tapi dari kecil dia selalu ada buatku saat aku sedih Pa." sahut Dena membela Martin.


Mendengar perkataan putrinya, Tuan Winata nampak menghela napas panjangnya.


"Maafkan Papa, tapi Papa tidak akan memaafkan Martin jika sampai ia bekerja sama dengan Sera." ucapnya.


"Aku mengenal Martin dengan baik Pa, dia tahu bagaimana caranya membalas budi." ucap Dena.


"Lebih baik Papa beristirahat sekarang." imbuhnya lagi saat melihat Ayahnya itu terlihat lelah sepertinya dari semalam pria itu tidak tidur.


Setelah memastikan ayahnya beristirahat, Dena segera pergi ke rumah mertuanya bersama sang suami. Ia sudah sangat rindu dengan putranya tersebut, meski setiap saat melakukan panggilan video tapi tetap saja tak membuatnya puas.


"Sayang, siapa Martin ?" tanya Edgar sembari mengemudi.


"Bukannya Papa sudah menjelaskannya tadi, dia anak seorang pelayan di rumah kami. Aku mengenalnya sedari kecil, hanya saja Papa tidak menyukai aku bergaul dengannya. Tapi kami selalu mempunyai cara untuk diam-diam bertemu." sahut Dena, nampak seulas senyum di bibirnya saat mengingat masa kecilnya dengan Martin.


Lalu semenjak mereka tumbuh dewasa ia jarang sekali bertemu dengan Martin, karena laki-laki itu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja dengan ayahnya yang entah apa itu Dena tidak mengetahuinya.

__ADS_1


Namun ia sempat mendengar desas desus jika Martin adalah salah satu preman peliharaan ayahnya dalam mengawasi bisnis-bisnisnya.


"Apa Sera juga mengenalnya? bukannya kalian tumbuh bersama ?" Edgar nampak penasaran.


"Aku tidak tahu, mungkin dia tidak mengenalnya. Martin kan tinggal di perkampungan dan Sera mana level berteman dengan anak pelayan." sahut Dena.


"Jadi kalian bermain berdua saja sejak kecil ?" Edgar nampak menatap istrinya itu sekilas.


"Begitulah, saat tante Sita memarahiku aku kadang kabur ke rumah Martin. Dia selalu mempunyai cara buat menghiburku." sahut Dena namun itu justru membuat Edgar menatapnya tak suka.


"Kamu membuatku cemburu, sayang." ucapnya.


"Tidak usah berlebihan sayang, dia hanya teman kecilku dan yang jelas aku tidak pernah berpelukan dengan sahabatku sendiri." sahut Dena bernada sindiran yang langsung membuat Edgar menelan salivanya sendiri.


Sementara itu Sera yang di bawah oleh Martin ke Los Angeles, California kini sudah sampai di kota tersebut.


Wanita itu terus menerus menangis hingga matanya membengkak. "Sebenarnya apa salahku padamu ?" teriaknya saat Martin baru masuk ke dalam kamarnya.


"Cepat bersihkan dirimu dan gunakan pakaian ini !!" perintah Martin seraya melemparkan pakaian baru pada Sera.


Sera yang menatap pakaian kurang bahan itu nampak berdecih. "Aku tidak mau, lebih baik kamu bunuh saja aku." tolaknya seraya menatap tajam Martin.


Martin yang geram langsung berjalan mendekat lalu mencengkeram dagu Sera dengan kuat hingga membuat wanita itu menatap ke arahnya.


"Tidak semudah itu kamu mati, j*l*ng. Bertahun-tahun kamu sudah menyiksa sahabatku dan ini saatnya kamu mendapatkan balasannya." lirih Martin namun terdengar menusuk di telinga Sera.


"Sa-sahabat? sahabat apa? aku tidak mengerti maksudmu." balas Sera.


"Dena, dia sahabat kecilku. Setiap kamu dan ibumu menyiksanya dia selalu berlari padaku dan akulah yang selalu mengobati luka-lukanya." Martin semakin mengeratkan cengkeramannya pada dagu Sera hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Sa-sakit." ucap Sera mengadu kesakitan dengan pandangan berkaca-kaca menatap Martin.


Martin yang melihat itu langsung menghempaskan tangannya, matanya masih menatap tajam bagaikan anak pisau yang siap menghunus jantung Sera.

__ADS_1


"Cepat bersihkan dirimu dan segera ganti pakaianmu !!" perintahnya lagi dengan nada dingin, setelah itu ia berlalu keluar dari kamar tersebut.


Setelah Martin menutup pintunya kembali, Sera nampak luruh ke lantai. Sungguh ia sangat menyesali perbuatannya dulu, kalau saja waktu bisa di putar kembali ia pasti akan menjadi saudara yang baik bagi Dena.


"Ini semua salah Mama, kenapa mama membuatku seperti ini? kenapa mama tidak mengajariku menjadi gadis yang baik."


Sera nampak memukuli dirinya sendiri membayangkan ia akan menjadi budak nafsu para hidung belang di kota ini.


Setelah mendengar gedoran dari pintu luar, ia segera berlalu ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian setelah selesai membersihkan dirinya ia segera memakai pakaian yang di berikan oleh Martin tadi, lalu ia mengoles wajah pucatnya dengan sedikit make up.


Saat Martin membuka pintu dengan kasar, Sera terlonjak kaget. Pria itu terlihat tampan dengan kemeja navy membungkus tubuh kekarnya, namun tatapannya tetap menyeramkan seperti sebelumnya.


"Cepatlah j*l*ng aku sudah terlalu lama menunggumu." hardiknya tak sabar.


"Mau kamu bawa kemana aku ?" wajah Sera langsung pucat pasi.


"Tempat pelelangan." sahut Martin dengan tersenyum menyeringai.


"Tidak, aku tidak mau." Sera langsung beringsut menjauh namun gerakannya kalah cepat dengan Martin.


Pria itu langsung menyeretnya tanpa ampun keluar dari kamar tersebut lalu membawanya menuju mobil yang sudah ia siapkan sebelumnya.


"Aku tidak mau, tolong lepaskan aku." mohon Sera saat Martin memaksanya masuk ke dalam mobil.


"Diam." bentak Martin seraya menjambak rambut panjang Sera dengan kuat hingga membuat wanita itu mendongakkan kepalanya ke atas.


Sera mendesis kesakitan, ia merasakan rambutnya seperti di cabut dari kepalanya. Lalu dengan mata berkaca-kaca Sera memohon pada Martin berharap laki-laki itu sedikit saja berbelas kasihan padanya.


.


Duh Sera di maafin nggak guys 😅😅

__ADS_1


__ADS_2