
Martin nampak terkekeh saat badan kurus tak bertenaga itu memukuli tubuh kekarnya secara membabi buta. Bukannya sakit justru rasa gemas menyelinapi hatinya.
Dengan sekali tarikan Martin membawa Sera ke dalam pangkuannya, memegang kedua tangannya dengan erat hingga membuat wanita itu tak berdaya.
"Tonton baik-baik apa aku ada memperkosamu ?" ucapnya kemudian.
Sera yang terjebak dalam dekapannya, mau tak mau menonton video tak senonoh itu. Wanita itu nampak bersemu merah saat melihat dirinya sendiri begitu menikmati percintaan tersebut.
"Ah dasar sialan, bisa-bisanya aku melakukan itu semua. Apa ini efek lama tak di sentuh." Sera nampak merutuki dirinya sendiri.
"Apa seperti itu yang di sebut memperkosa? sepertinya berhubungan di dalam mimpi itu kurang memuaskan, bagaimana kalau kita melakukannya lagi sekarang pasti akan lebih nikmat." ledek Martin yang langsung membuat Sera bersungut-sungut.
"Kau? apa memiliki satu wanita saja tidak cukup bagimu ?" balas Sera dengan sinis.
"Tentu saja cukup." sahut Martin.
"Mempunyai dua wanita akan sangat merepotkan." imbuhnya lagi.
"Kalau memang cukup lalu kenapa masih menggodaku, bukannya kamu sudah mempunyai Lusi bahkan sebentar lagi kalian akan bertunangan." rutuk Sera.
"Kalau kamu mau, kamu yang akan menjadi pengantinku malam ini." sahut Martin dengan enteng hingga membuat Sera melebarkan matanya.
"Lalu Lusi ?" ucap Sera tak percaya.
"Tentu saja aku akan membatalkan pertunangan ku dengannya." sahut Martin.
Sera nampak menghela napas panjangnya, begitu mudah laki-laki itu mengatakan hal itu tidak kah ia memikirkan bagaimana perasaan Lusi.
"Aku tidak mau menikah denganmu, aku tidak mau menikah dengan pria yang dengan mudahnya mengganti pasangan seperti mengganti pakaian." tolak Sera kemudian.
"Aku tidak pernah melakukan itu." sahut Martin.
"Ck, tidak pernah melakukannya? jelas-jelas kamu dulu menghianati Helena dengan memperkosaku berkali-kali. Apa anda lupa tuan Martin yang terhormat ?" sarkas Sera dengan menatap tajam Martin.
"Aku tidak pernah menghianatinya, dia mengijinkan ku." sahut Martin tanpa perasaan bersalah.
"Apa? kamu sedang membual ya? mana ada wanita di dunia ini mengijinkan kekasihnya meniduri wanita lain." ingin rasanya Sera merem@s wajah pria itu kalau saja kedua tangannya tak di pegangi.
"Sejak Helena di vonis sakit, kami tidak pernah bercinta lagi dan karena itu ia mengizinkan ku melakukannya dengan wanita lain asalkan tidak memakai perasaan." sahut Martin jujur.
"Dan kamu melakukannya ?" Sera nampak tersenyum sinis.
"Awalnya aku tidak mau tapi semenjak kamu membuka pakaian mu di hadapan ku kala itu, kenapa aku tidak melakukannya saja dengan mu toh waktu itu aku sangat membencimu dan aku yakin aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu." sahut Martin.
"Tapi aku lupa jika cinta dan benci itu jaraknya sangat tipis, di saat rasa benci itu menguasai otak dan hatiku. tanpa ku sadari perasaan cinta juga mulai merasuk hingga mengikis kebencian itu." imbuhnya lagi dengan lirih namun murni dari hatinya paling dalam.
"Ck, apa kamu sedang belajar jadi pujangga ?" ejek Sera.
"Terserah kamu percaya atau tidak." sahut Martin pasrah.
"Bagaimana aku bisa percaya dengan perkataanmu, bahkan dulu saat tinggal di hutan aku pernah mendengar kalian bercinta dengan hebat padahal waktu itu Helena sedang sakit kan ?" tukas Sera.
"Apa kamu cemburu waktu itu ?" bukannya mencari alasan, Martin justru membalasnya dengan sebuah pertanyaan.
"Nggak." sahut Sera tegas, padahal waktu itu ia cemburu. Tapi ia tidak akan mengakuinya karena itu hanya akan membuat pria itu besar kepala.
__ADS_1
"Sudah ku katakan aku tidak pernah bercinta dengan Helena bahkan jauh sebelum aku membawamu kesana." tukas Martin meyakinkan.
"Lalu waktu itu apa? bahkan hewan di hutan saja panas mendengar suara kalian." cibir Sera dengan geram.
"Hewan atau kamu ?" goda Martin dengan menahan senyumnya.
"Apa? dasar mesum." rutuk Sera.
Martin nampak terkekeh, kemudian ia menyentil kening Sera pelan tapi sukses membuat wanita itu meringis.
"Sakit tahu." keluhnya, ingin rasanya membalas tapi apa daya tangannya masih di pegang erat oleh pria itu.
"Makanya jangan menuduh sembarangan, Helena waktu itu hanya memuaskan ku dengan cara lain." ucap Martin.
"Bukan urusanku, jadi sekarang lepaskan aku. Kamu harus bersiap-siap bukan ?" Sera mencoba mengingat pria itu.
"Aku akan bersiap-siap jika kamu juga bersiap-siap." sahut Martin.
"Aku akan datang terlambat." ucap Sera.
"Kamu akan datang bersamaku, karena kita akan menikah malam ini." tegas Martin yang langsung membuat Sera melotot menatapnya.
"Kamu sudah gila." hardiknya tak percaya.
"Aku memang gila karena mencintaimu." sahut Martin dengan menatap lekat wanita di pangkuannya itu.
"Sayangnya aku tidak percaya." rutuk Sera.
"Kamu percaya atau tidak itu terserah kamu, karena cinta itu di rasakan bukan di jelaskan."
"Tapi aku tidak pernah mencintainya." sahut Martin.
"Kalau kamu tidak mencintainya kenapa kamu mau menikahinya ?" cibir Sera dengan kesal.
"Aku melakukannya karena Helena, dia memintaku untuk menjaga Lusi dan menikahinya."
"Ya sudah nikahi saja dia."
"Tapi Helena juga menyuruhku menikahimu." sahut Martin dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Jadi kamu mau menikah dengan dua wanita? dasar sinting." Sera nampak kesal.
"Aku hanya akan menikahimu." tegas Martin.
"Tapi aku tidak mau menikah denganmu, jadi sekarang lepaskan aku." pinta Sera.
"Kenapa kamu tidak mau menikah denganku? apa kamu tidak mencintaiku ?" tanya Martin dengan menatap lekat wanita itu.
"Tidak, aku tidak mencintaimu." dusta Sera, mungkin ini lebih baik.
Sungguh Sera tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Lusi, wanita itu terlihat sangat mencintai Martin.
Mendengar perkataan Sera, Martin nampak mengendurkan genggaman tangannya hingga membuat wanita itu langsung melepaskan dirinya lalu beranjak dari pangkuannya.
"Apa, katakan sekali lagi ?" ucap Martin masih tak percaya.
__ADS_1
"Aku tidak mencintaimu tuan Martin." sahut Sera dengan tegas hingga membuat Martin nampak kecewa, sebelumnya ia mengira Sera juga mempunyai perasaan yang sama seperti dirinya.
"Tapi bagaimana kalau kamu hamil ?"
"Terus kenapa kalau aku hamil, nyatanya dulu aku baik-baik saja tanpamu." sarkas Sera.
Martin nampak mengepalkan tangannya, ia tidak menyukai Sera yang kuat dan mandiri seperti saat ini. Ia ingin Sera yang selalu bergantung padanya, namun waktu telah mengubah wanita itu.
"Baiklah, jika itu membuatmu puas. Aku akan menikah dengan Lusi." ujar Martin, setelah itu ia meraih kaosnya kemudian berlalu pergi dengan membanting pintu dengan keras.
"Maafkan aku."
Sera nampak melihat kepergian Martin dengan dada sesak, ia memang mencintainya tapi ia juga tidak mau melukai wanita lain yang sudah lama menemani pria itu.
Beberapa saat kemudian acara pertunangan di mulai, banyak sekali tamu yang hadir di sana.
Selama ini Sera tidak mengetahui bagaimana kehidupan Martin, bahkan saat masih menjadi tangan kanan sang Ayah dulu, wanita itu tak begitu peduli padanya.
Namun saat melihat bagaimana para tamu yang di undang malam ini, Sera yakin Martin bukan orang sembarangan.
Laki-laki itu begitu sulit di tebak, kadang sangat mengerikan. Kadang juga sangat lembut dan konyol.
Sedangkan Martin yang hendak tukar cincin dengan Lusi, nampak menatap Sera dengan amarah. Wanita itu telah menolaknya padahal ia sudah melakukan berbagai cara.
Sepertinya selama ini cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, wanita itu justru menyuruhnya untuk menikahi Lusi padahal jelas-jelas ia lebih memilih dia.
"Cium."
"Cium."
Teriak beberapa tamu undangan saat Martin dan Lusi baru saja bertukar cincin pertunangan.
Martin yang mencuri pandang ke arah Sera, nampak tersenyum sinis.
"Ini kan yang kamu mau ?"
Martin langsung mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Lusi, hanya sebuah kecupan namun itu sukses membuat dada Sera terasa sesak.
Kemudian ia langsung memalingkan wajahnya dan menjauh dari kerumunan para tamu.
"Aku kira aku akan baik-baik saja, ternyata sesakit ini melihat orang yang ku cintai mencium wanita lain."
Sera nampak mengalihkan pikirannya dengan mengambil segelas minuman yang di tawarkan oleh para pelayan.
Namun saat ia mengulurkan tangannya untuk mengambil, sebuah tangan kekar juga nampak mengambil minuman tersebut hingga kini tangan keduanya saling bersentuhan.
"Maaf, silakan anda duluan." ucap Sera pada seorang pria yang kini nampak tersenyum padanya.
"Lady first." sahut pria itu seraya memberikan segelas minuman tersebut pada Sera.
"Terima kasih." sahut Sera menerima minumannya.
Kemudian pria itu mengulurkan tangannya. "Reymond." ucapnya memperkenalkan diri.
Sera nampak terkejut, namun saat melirik Martin yang tak berpaling menatapnya. Sera langsung membalas jabat tangan Reymond.
__ADS_1
"Mauren." sahut Sera dengan tersenyum ramah dan itu sukses membuat Martin terbakar cemburu.