Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~205


__ADS_3

"Anda menginginkan tanah ini kan? ambillah, saya menjualnya." ucap Sera.


Apa ?"


Martin nampak memicing setelah mendengar perkataan Sera yang tiba-tiba ingin menjual lahannya yang sebelumnya wanita itu mati-matian pertahankan.


"Apa yang sedang kamu rencanakan, Sera."


Martin langsung beranjak dari duduknya, lalu melangkahkan kakinya mendekati Sera.


"Jangan pernah berpikir untuk membawa putriku kabur, karena sampai ujung dunia pun saya akan mencarinya." ucapnya bernada ancaman yang langsung membuat Sera merasa gusar, sepertinya pria itu bisa membaca pikirannya.


"Me-memangnya kami mau kabur kemana, sangat riskan bukan membawa kabur ke enam anak-anakku itu. Lagipula tidak ada alasan bagi kami untuk kabur." sahut Sera beralasan, lebih baik ia mengalah dahulu sembari memikirkan rencana berikutnya.


"Baguslah." ucap Martin puas.


"Jika itu sampai terjadi, kamu akan menerima hukumannya." imbuhnya lagi dengan lirih tepat di telinga Sera hingga membuat wanita itu langsung meremang bercampur takut.


"Hu-hukuman apa? tuan jangan macam-macam ya, belum tentu juga Merry itu anak kamu." tukas Sera seraya menjauhkan dirinya dari Martin, mendengar kata hukuman seketika mengingatkan masa lalunya bagaimana pria itu menghukumnya dulu.


"Belum tentu juga? berarti bisa jadi benarkan ?" Martin nampak menautkan kedua alisnya menatap Sera.


"Itu berarti kamu benar-benar Sera Winata kan ?" imbuhnya lagi dengan nada meledek, ia nampak menatap lekat wanita di hadapannya itu.


Sera mendesah kesal, ia merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya keceplosan. Martin memang pandai sekali bermain kata hingga membuatnya terpaksa mengaku dengan sendirinya.


"Maafkan aku." ucap Sera pada akhirnya.


"Please, jangan usik kehidupanku lagi. Aku memang telah bersalah karena menyakiti banyak orang dahulu, tapi tidak bisakah aku mendapatkan kesempatan untuk berubah? Aku minta maaf atas kesalahanku, tapi selama di sini aku juga tidak mudah menjalani semuanya. Aku harus banting tulang sendiri buat anak-anakku, kalau tidak mereka akan kelaparan." imbuhnya lagi dengan nada memohon, ia berharap Martin bisa mengerti dan mempunyai sedikit belas kasihan padanya setelah ia mengakui kebenarannya.


"Jadi benar Merry putriku? putri kandungku ?" tanya Martin memastikan, namun Sera belum sempat menjawabnya Mattew sudah masuk ke dalam rumah tersebut.


"Tuan, ini hasil tes DNAnya." ucapnya seraya memberikan sebuah amplop berlogo rumah sakit pada Martin.


"Terima kasih Matt, kerjamu selalu cepat." puji Martin, tadi setelah mengantarkan dirinya ke rumah Sera asistennya itu langsung pergi ke rumah sakit.


"Baiklah mari kita lihat kebenarannya." ucap Martin sembari mulai membuka amplop tersebut.


Sera yang melihat itu nampak memucat, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Ia hanya bisa berdoa semoga Martin tidak akan mengambil putrinya darinya.


"Lihatlah, Merry memang putri kandungku dan kamu tidak bisa menyangkalnya lagi." Martin terlihat sangat puas saat melihat hasil tes DNA tersebut yang menyatakan kecocokan hingga 99%, kemudian ia memberikan hasil tes itu pada Sera.

__ADS_1


"Bunda." panggil Merry saat baru menginjakkan kakinya di halaman rumahnya, mata gelapnya nampak menatap Mattew yang sedang duduk di teras rumahnya.


"Daddy ?" imbuhnya lagi dengan terkejut saat melihat Martin berada di dalam rumahnya.


Namun ia langsung menutup mulutnya, ia lupa jika sudah berjanji pada ibunya tidak akan memanggil Martin dengan sebutan Daddy lagi.


Martin yang sedang berdiri di samping Sera langsung mengulas senyumnya saat melihat Merry.


"Hey putri Daddy, baru pulang sayang ?" ucapnya pada Merry.


Merry yang takut pada ibunya, nampak tak menghiraukan Martin.


"Kamu kenapa, baby ?" Martin langsung mendekati Merry saat melihat putrinya itu ketakutan.


"Nggak apa-apa Om, Merry hanya terkejut Om ada di sini." sahut Merry.


"Om ?" Martin menaikkan sebelah alisnya saat putrinya tersebut memanggilnya dengan sebutan Om.


"Panggil Daddy, sayang." ucapnya kemudian.


"Tapi bilang bunda, Daddynya Merry sudah meninggal." sahut Merry dengan polos, namun sukses membuat Martin naik darah.


Bagaimana tidak, bisa-bisanya Sera mengatakan pada putrinya dirinya sudah meninggal padahal ia masih sangat sehat.


"Bu-bukan begitu maksudku...." Sera nampak gusar.


"Ini Daddy sayang, Daddy kandung kamu." ucap Martin dengan lembut pada Merry.


"Benarkah? jadi Merry punya Daddy sekarang ?" sahut Merry antusias.


"Tentu saja sayang, kamu adalah putri Daddy." ucap Martin, kemudian ia membawa putrinya tersebut duduk di atas sofa.


"Apa Daddy juga ayahnya kakak-kakakku ?" tanya Merry ingin tahu.


"Bukan sayang, putri Daddy cuma kamu saja tapi mereka juga boleh kok memanggil Daddy juga." sahut Martin.


"Beneran Dad? hore kita semua punya Daddy." Merry terlihat sangat senang.


"Bunda tidak marah kan kalau kita mempunyai Daddy baru ?" ucapnya lagi sembari menatap sang ibu.


"Te-tentu saja tidak sayang, tapi Daddy tidak bisa tinggal di sini ya." sahut Sera memberi pengertian.

__ADS_1


"Tapi kenapa bunda? temannya Merry punya Daddy setiap hari ada di rumahnya." protes Merry.


"Ya karena Daddy harus bekerja sayang dan kerjanya Daddy itu sangat jauh di kota." Sera mencoba membujuk putrinya tersebut, bagaimana pun sangat tidak pantas jika mereka harus tinggal satu atap tanpa ada ikatan pernikahan.


"Mungkin aku akan tinggal di sini beberapa hari." ucap Martin kemudian.


"Tidak bisa." tolak Sera.


Merasa keadaan sedang tidak baik-baik saja, Martin langsung membujuk Merry.


"Sayang, apa kamu mau jalan-jalan pakai mobil dengan Om Mattew ?" bujuknya pada sang putri.


"Naik mobil Dad? iya Merry mau. Sama Daddy dan bunda juga kan ?" lagi-lagi Merry terlihat antusias.


"Daddy masih ada urusan dengan bunda, jadi Merry jalan-jalannya sama Om Mattew saja ya." bujuk Martin dengan lembut.


"Baiklah, Om Mattew tidak galakkan Dad ?" tanyanya seraya menatap Mattew yang nampak mengulas senyum ke arahnya.


"Om Mattew sangat baik, sayang." sahut Martin meyakinkan.


"Baiklah, kalau begitu Merry pergi dulu ya. Merry akan menjemput kakak-kakak di sekolah dengan mobil." ucap Merry kemudian.


Setelah bocah kecil itu pergi, Martin nampak menutup pintu rumah tersebut yang sedari tadi terbuka.


"Ke-kenapa pintunya di tutup ?" Sera nampak menelan ludahnya saat Martin melangkahkan kakinya ke arahnya.


"Kita perlu bicara." sahut Martin mendekat.


"Ta-tapi tidak perlu juga pintunya di tutup, bagaimana kalau anak-anakku pulang." Sera mulai panik, ia melangkah mundur saat Martin terus berjalan mendekatinya.


Lalu langkahnya terhenti saat punggungnya menabrak dinding di belakangnya.


"Kenapa? kamu takut, hm." lirih Martin yang kini nampak menghimpit Sera, lalu sebelah tangannya menyentuh dinding di sisi kepala wanita itu.


"Aku tidak takut, hanya saja posisi seperti ini tidak pantas di lakukan oleh orang yang tidak mempunyai hubungan jadi menjauhlah." Sera nampak memalingkan wajahnya saat Martin menatapnya dengan lekat, sungguh jantungnya saat ini berdegup sangat kencang. Ada perasaan takut sekaligus rindu yang menggebu.


"Tidak punya hubungan katamu? bukannya kita orang tua dari Merry ?" sahut Martin masih dengan tatapannya yang seakan ingin menelan Sera sekarang juga.


Jauh di dasar lubuk hatinya ia juga sangat merindukan wanita itu dan mulai saat ini ia tidak akan melepaskannya lagi.


"Tapi hubungan kita hanya sebatas orang tuanya Merry, tidak lebih dari itu. Jadi mengertilah, lagipula sebentar lagi kamu juga akan menikah." sahut Sera seraya membalas tatapan Martin yang sedari tadi tak berpaling padanya.

__ADS_1


Pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat dan entah siapa yang memulai namun kini mereka bagaikan sebuah magnet yang saling menempel jika di dekatkan.


__ADS_2