
Malam itu Demian nampak menatap layar monitor di depannya dengan pandangan sinis.
Sebuah berita online memuat kasus perceraiannya hari ini, mereka menganggap kalau dirinya dan Monica bercerai karena ia mandul dan tidak bisa memberikan keturunan pada Monica dan mereka juga curiga jika Olive bukan anak kandungnya.
"Berita sampah." gerutu Demian sembari mematikan puntung rokoknya di dalam asbak.
Tak berapa lama Victor mengetuk pintu dari luar, belum juga Demian menyuruhnya masuk laki-laki itu sudah membuka pintunya terlebih dahulu.
Ketika baru masuk bau asap rokok langsung menusuk hidung Victor.
"Anda merokok lagi tuan ?" ucapnya seraya melangkah ke arah Demian.
Sedangkan Demian nampak berdecak kesal melihat asistennya itu.
"Bukannya anda juga di larang oleh dokter minum minuman keras." Victor langsung menyingkirkan botol whiskey beserta gelasnya dan juga sebungkus rokok dari atas meja kerja Demian.
"Cih, kamu bertingkah layaknya istriku saja." gerutu Demian kesal.
Alih-alih menanggapi perkataan Demian, Victor justru menatap berita di layar monitor atasannya tersebut.
"Saya akan membereskan semua berita yang beredar hari ini tentang perceraian anda tuan, entah siapa yang menyebarkan berita itu tapi akan saya pastikan pelakunya menerima hukumannya." ujar Victor.
Demian nampak menghela napasnya dengan kasar. "Pulanglah Vic, malam ini saya akan menginap di sini." perintahnya.
"Tapi jangan melakukan hal yang tidak sehat tuan, anda sudah tahu kan rokok dan alkohol sangat di larang oleh dokter." ujar Victor mengingatkan.
"Ck, kamu cerewet sekali Vic. Lalu apa yang bisa di lakukan oleh seorang pria yang sedang patah hati ?" cibir Demian.
"Saya tidak tahu, tuan. Saya tidak pernah patah hati." sahut Victor polos.
"Makanya jangan terlalu sibuk, sekali-sekali berkencanlah maka kamu akan merasakan bagaimana rasanya patah hati." cibir Demian lagi, bagaimana bisa orang yang tak mengerti cinta mengguruinya.
"Bagaimana saya tidak sibuk tuan, pekerjaan saya hampir 24 jam." gerutu Victor dalam hati.
"Sepertinya saya tidak berniat untuk berkencan tuan, melihat anda seperti ini saya jadi berfikir wanita itu sangat merepotkan." sahut Victor.
"Ck." Demian nampak berdecak kesal.
"Segera kamu urus hak asuh Ricko atas nama saya." ucapnya kemudian yang langsung membuat Victor membulatkan matanya terkejut.
"Anda serius, tuan ?" ucap Victor.
"Kamu pikir saya becanda ?" hardik Demian kesal, asistennya itu selalu saja menjawabnya.
"Apa anda tidak kasihan dengan nyonya Ariana tuan, 8 tahun lebih beliau mengandung dan membesarkan Ricko seorang diri dan sekarang anda akan mengambilnya." ujar Victor menasihati.
"Kamu pikir aku rela anakku tinggal dan memanggil si brengsek itu dengan sebutan ayah, hanya aku satu-satunya ayahnya." sahut Demian, ia nampak mengepalkan tangannya ketika mengingat Edgar.
"Pak Herman juga Ricko panggil ayah, tuan." ucap Victor dengan menahan tawanya, sepertinya bossnya itu lupa ada laki-laki lain yang di panggil Ricko dengan sebutan ayah.
__ADS_1
"Sialan, baiklah mulai sekarang dia harus memanggilku Daddy." ucap Demian tak mau kalah.
"Dan sekarang pergilah dari sini Vic, kepalaku rasanya mau pecah mendengar ocehanmu." geram Demian.
"Baik tuan, sebenarnya saya ada berita penting tapi sepertinya anda sedang tidak ingin mendengarnya mungkin lain kali saja saya sampaikan." sahut Victor seraya melihat reaksi Demian yang nampak memejamkan matanya dan bersandar di kursi kerjanya.
"Pergilah, saya sedang malas mendengar apapun itu." sahut Demian tanpa membuka matanya.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Victor langsung pamit undur diri, namun ketika sudah di ambang pintu Demian langsung memanggilnya kembali.
"Tunggu, Vic." panggil Demian dan langsung membuat Victor menarik sudut bibirnya ke atas, kemudian ia berbalik badan menatap atasannya tersebut.
"Iya, tuan ?" sahutnya kemudian.
"Sepertinya saya berubah pikiran, katakan berita apa yang kamu bawa ?" tanya Demian yang nampak masih bersandar dengan malas di kursi kerjanya.
Victor segera melangkahkan kakinya ke arah Demian, kemudian ia menyerahkan sebuah flashdisk pada laki-laki itu.
"Apa ini ?" tanya Demian tak mengerti, tapi ia langsung menyambungkannya pada komputernya.
"Sepertinya beberapa hari yang lalu nyonya Ariana menghadiri undangan makan siang komunitas para kolega anda tuan." ucap Victor seraya menunggu rekaman dalam flashdisk tersebut memuat.
"Astaga siapa yang mengizinkan wanita itu dandan begitu cantik tanpa aku di sisinya, Vic ?" hardik Demian marah ketika melihat Ariana nampak melangkahkan kakinya dengan anggun memasuki sebuah privat room.
Sepertinya Demian lupa kalau beberapa jam yang lalu hubungan mereka sudah putus, hingga kemarahannya itu sangat tidak wajar.
"Nggak usah cerewet Vic, saya juga belum pikun." cibir Demian membela diri, laki-laki itu memang tidak pernah mau mengalah meskipun salah.
Sedangkan Victor hanya menghela napas panjangnya, memaklumi sifat bossnya tersebut.
Demian nampak mengepalkan tangannya ketika melihat perundungan yang di lakukan oleh ibunya beserta teman-temannya pada Ariana di pertemuan tersebut.
"Bagaimana Ariana bisa kesana, Vic? bukannya yang bisa masuk kesana harus membawa undangan ?" geram Demian.
"Maaf tuan, sepertinya nyonya besar dalang dibalik semua kejadian itu." sahut Victor, ia juga menunjukkan cctv di sekolahnya Ricko kalau sehari sebelumnya nyonya Anggoro telah bertemu dengan Ariana di sana.
"Mama." Demian menggeram kesal.
"Jadi apa karena ini Ariana lebih memilih memutuskan hubungan kami." imbuhnya lagi.
"Seperti yang sering anda katakan tuan, selain polos nyonya Ariana juga sangat baik hatinya. Beliau ingin anda berbakti pada nyonya besar dan lebih merelakan perasaannya." ujar Victor menanggapi.
"Lalu apa dia tidak memikirkan perasaanku dan Ricko ?" Demian nampak emosi.
"Justru karena beliau memikirkan anda dan Ricko, makanya beliau lebih memilih tidak membawa Ricko pergi jauh dan membiarkan anda dekat dengan anak anda. Mungkin nyonya Ariana ingin membuktikan bahwa orangtua yang berpisah pun tetap bisa membesarkan anak bersama-sama." sahut Victor menanggapi.
"Dan mengorbankan perasaannya? itu namanya naif Vic, Arianaku memang sangat naif. Aku jadi merasa bersalah karena tadi membentaknya." Demian nampak meraup wajahnya dengan kasar, kemudian ia bangkit dari duduknya.
"Anda mau kemana, tuan ?" tanya Victor ketika melihat Demian menyambar kunci mobilnya.
__ADS_1
"Tentu saja menemui Arianaku." sahut Demian.
"Sepertinya lebih baik anda menahannya dulu, tuan ?" saran Victor.
"Maksud kamu ?"
"Jika anda kembali bersama dengan nyonya Ariana, maka nyonya besar akan semakin membencinya." sahut Victor.
"Aku tidak peduli."
"Tapi nyonya Ariana peduli, tuan. Bagaimana kalau anda mengikuti permainan nyonya besar saja yang akan menjodohkan anda dengan nona Jessica ?" saran Victor.
Demian nampak mendengus kesal, lagi-lagi ibunya itu menjodohkannya dengan seorang wanita pilihannya.
"Dari info yang saya dapat perusahaan keluarga Jessica hampir kolep, saya rasa mereka sedang merencanakan sesuatu dengan menjodohkan Jessica pada anda." lanjut Victor lagi.
"Baiklah, sebenarnya aku juga tidak peduli mama setuju atau tidak dengan Ariana. Aku bukan remaja yang bisa di atur-atur seperti dulu. Tapi kali ini aku akan melakukannya demi Ariana." ujar Demian.
"Aku juga ingin memberi pelajaran pada wanitaku, berani-beraninya dia memutuskan ku sepihak." imbuhnya lagi sembari tersenyum penuh arti.
Setelah itu Demian menyambar kunci mobilnya, kemudian segera pergi dari kantornya tersebut.
Sesampainya di rumah Ariana, Demian langsung menuju kamar Ricko setelah ARTnya mengatakan kalau Ariana berada di sana.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Demian langsung membuka kamar Ricko. Dua orang kesayangannya itu nampak terkejut melihat kedatangannya.
Namun tak berapa lama, Ariana langsung pergi meninggalkan kamar tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tapi Demian pura-pura tak mempedulikannya, ia lebih memilih menemani Ricko yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya.
"Ricko tunggu di sini ya, Nak. Daddy mau bicara sama ibumu sebentar." ujar Demian setelah menemani Ricko membuat PR.
Demian dan Ricko sepertinya sudah membuat kesepakatan tentang panggilan ayah menjadi Daddy.
"Baik Dad, Ricko juga mau siap-siap untuk tidur."
Ricko nampak menguap beberapa kali, sepertinya bocah kecil itu sangat lelah setelah mengerjakan PRnya.
Setelah itu Demian segera melangkahkan kakinya keluar, di lihatnya kamar Ariana tertutup rapat. Ketika Demian akan membukanya, pintu tersebut terkunci dari dalam sepertinya wanita itu sudah merubah passwordnya.
Namun Demian nampak tersenyum sinis, selain menggunakan password pintu dengan teknologi tinggi itu bisa ia buka dengan sidik jarinya.
Setelah membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam, Demian nampak mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Sepertinya Ariana sedang mandi saat ini.
Demian langsung saja mendudukkan dirinya di sofa, ia nampak mengedarkan matanya menjelajahi setiap sudut kamarnya tersebut.
Dan tak berapa lama pintu kamar mandi di buka, Ariana yang hanya memakai bathrobe dan membungkus rambutnya dengan handuk langsung terperanjat ketika melihat Demian sedang duduk di sofa kamarnya seraya menatap dirinya.
"A-apa yang kamu lakukan di kamarku ?" pekik Ariana.
__ADS_1