Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~191


__ADS_3

"Sayang, hari ini kamu sibuk ya ?" tanya Dena saat baru menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri pagi itu, entahlah akhir-akhir ini suaminya sering meminta jatahnya pagi hari atau bahkan sore hari setelah pulang kerja.


"Mungkin stay terus di kantor sampai sore sayang, kenapa memangnya ?" sahut Edgar seraya mengusap lembut puncak kepala sang istri yang sedang bersandar di dada bidangnya.


"Nggak apa-apa, siapa tahu kamu meninjau proyek lagi seperti kemarin." sahut Dena.


"Nggak sayang, hari ini aku ada meeting di kantor." ujar Edgar menanggapi.


"Ya udah sana mandi, nanti terlambat loh. Nanti aku saja yang menjemput Elkan, kamu fokus aja di kantor, oke ?" balas Dena lalu menjauhkan badannya agar sang suami segera beranjak.


"Baiklah, kamu jangan lelah-lelah ya ?" sahut Edgar kemudian.


Setelah itu ia segera berlalu ke kamar mandi, Dena yang menatap kepergiannya nampak mengulas senyumnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan.


Siang harinya setelah menjemput Elkan sekolah lalu mengantarnya pulang, Dena langsung bergegas ke kantor sang suami sebelum jam makan siang tiba.


"Sayang." panggilnya saat baru masuk ke dalam kantor Edgar, ia sempat terkejut saat melihat keberadaan Anita di sana.


Meski tidak ada yang aneh dengan mereka, tapi berdua saja di dalam ruangan itu sangat tidak baik. Meski posisi mereka saling berjauhan, Edgar yang sedang duduk di kursi kerjanya dan Anita duduk di kursi depan mejanya.


"Sayang, kamu kesini ?" Edgar terkejut, namun wajahnya nampak senang lalu ia segera beranjak dari duduknya untuk mendekati istrinya tersebut.


Edgar tak sungkan memberikan pelukan dan sebuah kecupan di bibir Dena meski ada Anita yang dari tadi menatap ke arah mereka dengan tatapan datar.


"Tadi bibik masak makanan kesukaanmu, jadi aku bawa saja kesini." sahut Dena yang masih berada di pelukan sang suami.


Kemudian ia mengulas senyumnya saat menatap Anita yang terlihat salah tingkah karena menyaksikan kemesraan sepasang suami istri tersebut.


"Dia Anita, sayang. Konsultan baru di kantor ini." Edgar langsung memperkenalkan Anita saat menyadari tatapan sang istri pada wanita itu.


"Oh hallo aku Dena." Dena langsung mengulurkan tangannya pada Anita lalu wanita itu langsung menyambutnya dengan tak kalah ramah.


Sepertinya benar yang Dena duga, wanita ini sangat pintar karena cepat sekali menguasai keadaan.


"Sayang aku ada meeting sebentar, nggak apa-apa kan aku tinggal ?" ucap Edgar kemudian.


"Baiklah, apa nona Anita juga ikut meeting ?" tanya Dena.


"Nggak, aku ada meeting dengan departemen keuangan." balas Edgar.


"Baiklah, tapi bolehkan ku pinjam nona Anita sebentar? aku pasti bosan di ruangan ini sendiri." mohon Dena dengan manja yang langsung membuat Edgar terkekeh gemas.


"Tentu saja boleh, sayang. Bahkan kalau mau akan ku panggilkan ketiga temanmu itu untuk menemanimu di sini." sahut Edgar menatap lekat istrinya tersebut.


"No, mereka hanya akan membuat rusuh." tolak Dena sembari terkekeh.


"Baiklah aku pergi dulu ya, sayang." ucap Edgar, setelah mencuri sebuah kecupan di bibir istrinya ia segera meninggalkan ruangannya tersebut.

__ADS_1


Anita yang melihat kemesraan Edgar dan Dena nampak tak suka, namun sepertinya ia sangat pandai menyembunyikan perasaannya.


Setelah mengantar kepergian suaminya sampai pintu, Dena segera melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada di sana.


"Ayo duduklah di sini, kita bisa ngobrol-ngobrol." perintah Dena saat melihat Anita masih berdiri mematung di depan meja kerja Edgar.


"Ah baiklah, terima kasih nyonya." sahut Anita lalu duduk tak jauh dari Dena.


"Jadi sudah berapa lama bekerja di sini ?" tanya Dena kemudian dengan ramah.


"Baru satu bulan, nyonya." sahut Anita.


"Betah kerja di sini ?" tanya Dena lagi.


"Saya suka bekerja di sini, nyonya. Semua karyawan sangat ramah dan baik." sahut Anita.


"Tentu saja, termasuk suami saya ya ?" ujar Dena dengan menekankan kata suami.


"Hah, ya tentu saja nyonya. Pak Edgar sangat baik...." Anita langsung menggantung perkataannya saat Dena memotongnya.


"Dan sangat ramah pada siapapun." potong Dena yang langsung membuat Anita mengangguk setuju.


"Karena sifatnya itu, banyak sekali wanita yang suka menyalah artikan kebaikan dan keramahan suami saya dan berakhir menyukainya walaupun mereka sadar menyukai suami orang itu tidak pantas." ucap Dena yang membuat wajah Anita langsung memerah.


"Benar begitu nona Anita ?" imbuh Dena lagi seraya menatap Anita dengan lekat.


"I-iya nyonya." sahut Anita salah tingkah.


"Saya mana berani nyonya." sahut Anita meyakinkan, namun di lihat dari wajahnya pun wanita itu sedang tidak baik-baik saja.


"Benarkah ?" Dena nampak mengulas senyumnya saat menatap Anita yang sedang salah tingkah.


"Lalu ini apa ?" Dena langsung memberikan beberapa foto dan bukti chat Anita pada suaminya.


"I-ini ?" Anita langsung mengambil foto-foto tersebut, ia terlihat sangat terkejut setelah melihatnya.


"Anita Maharani, menjadi konsultan muda di usia yang baru menginjak 25 tahun. Wow, saya yakin pasti tidak mudah bagi kamu untuk meraih itu semua bukan ?" ucap Dena.


"Apalagi bisa di katakan kamu berasal dari keluarga yang sederhana dan bisa saya pastikan keluarga kamu juga ikut bekerja keras sampai kamu berada di posisi ini, bukan ?" imbuhnya lagi.


Anita nampak terkesiap, ia tidak menyangka jika usahanya mendekati Edgar secepat ini ketahuan oleh wanita itu.


Selama ini yang dia dengar, Dena jarang sekali ke kantor semenjak hamil besar dan menurutnya ini adalah waktu yang pas buat masuk ke dalam hubungan mereka.


Namun siapa sangka, wanita itu sudah bergerak cepat bahkan sampai mengulik informasi tentang dirinya


"Te-tentu saja nyonya." sahut Anita mendadak gugup.

__ADS_1


"Saya tahu kamu sangat pintar oleh karena itu suami saya memilih kamu sebagai konsultan di sini, tapi bukan berarti kamu bisa menggodanya." tegas Dena yang membuat Anita langsung bungkam.


"Jika berita ini sampai tersebar, saya bisa pastikan karir kamu langsung hancur dan keluarga kamu pasti akan kecewa karena putri kebanggaan mereka adalah seorang pelakor bahkan perusahaan-perusahaan di luar sana pun akan berfikir jika ingin menerima mu bekerja." imbuhnya lagi tak memberikan kesempatan Anita untuk bicara.


"Maafkan saya nyonya, saya janji tidak akan melakukannya lagi. Tolong jangan hancurkan karir saya. Saya akui saya memang salah." ucap Anita dengan nada memohon.


"Hanya minta maaf ?" ucap Dena menaikkan sebelah alisnya menatap wanita itu.


"Saya janji tidak akan menggoda tuan Edgar lagi." sahut Anita meyakinkan.


"Ck, kamu tahu siapa saya ?" tanya Dena kemudian.


"A-anda istrinya tuan Edgar." sahut Anita.


"Saya adalah Dena Winata, saya pewaris tunggal perusahaan Winata jadi kamu tahu kan maksud saya ?" tegas Dena yang langsung membuat Anita memucat, tentu saja ia tahu perusahaan Winata. Sebuah perusahaan yang terkenal dengan banyak memelihara para preman.


"Maafkan saya nyonya." ucap Anita kemudian.


Tak berapa lama kemudian Edgar nampak masuk ke dalam ruangannya.


"Sepertinya kalian cepat akrab." ucap Edgar saat baru membuka pintu.


"Tentu saja sayang, bukan begitu Anita ?" sahut Dena dengan tersenyum manis.


Anita yang melihat kedatangan Edgar, segera menyimpan foto-foto tersebut ke dalam tasnya.


"Tentu saja nyonya, senang bisa mengenal anda." sahut Anita dengan seramah mungkin, meski kini hatinya sedang bergejolak.


"Karena pak Edgar sudah kembali, saya akan kembali ke ruangan saya." imbuhnya lagi seraya bangkit dari duduknya.


Setelah itu ia segera berlalu pergi dan Dena nampak tersenyum penuh kemenangan menatapnya.


"Kok cepat banget sayang meetingnya ?" tanyanya kemudian pada sang suami.


"Ini hampir satu jam sayang, sepertinya tadi kamu asyik sekali mengobrol sampai lupa waktu." sahut Edgar seraya berjalan mendekat.


"Begitulah." sahut Dena.


"Ayo makan." ajaknya kemudian.


"Baiklah, aku sudah sangat lapar." sahut Edgar.


Kemudian mereka segera makan siang bersama, Dena yang sedang menatap suaminya makan dengan lahap nampak tersenyum senang apalagi saat laki-laki itu menyuapinya.


Namun ia langsung meringis kesakitan saat tiba-tiba perutnya terasa mulas.


"Sayang, kamu baik-baik saja ?" Edgar langsung menghentikan makannya.

__ADS_1


"Entahlah, perutku tiba-tiba mules. Sepertinya aku mau melahirkan." sahut Dena.


"Apa ?"


__ADS_2