Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~130


__ADS_3

"Masuk !!" perintah Edgar saat melihat Dena masih berdiri di depan lift.


Dena yang tidak merasa di panggil nampak diam seraya menatap ke arah lain.


"Dena apa kamu tuli, saya bilang masuk." perintah Edgar lagi kali ini dengan suara nyaring.


Dena yang merasa di bentak nampak mengepalkan tangannya, namun ia bisa apa dirinya hanya karyawan rendahan.


"Baik pak." sahut Dena lalu melangkahkan kakinya masuk.


Biasanya lift yang membawanya ke lantai 7 tempatnya bekerja terasa cepat, namun karena satu lift bersama atasannya itu lift terasa sangat lama bagi Dena.


Dena nampak berdiri di belakang Edgar seraya bermain ponsel, ia terlihat sibuk membalas chat teman-temannya yang menanyakan keberadaan dirinya karena sebentar lagi meeting akan di mulai.


Edgar yang melihat bayangan Dena dari pantulan dinding di depannya itu langsung memicingkan matanya saat melihat wanita itu nampak senyum-senyum sendiri dengan ponselnya.


"Iya sayang sebentar juga sampai, ku jitak juga kepalamu itu." ucap Dena lirih bahkan hampir setengah berbisik saat Nay menghubunginya.


Edgar yang mendengar kata 'sayang' yang di ucapkan oleh Dena entah kenapa ia tiba-tiba merasa kesal sendiri.


Tak berapa lama kemudian lampu lift nampak kedap kedip dan setelah itu langsung mati yang di ikuti oleh berhentinya lift, Dena yang mempunyai trauma dengan kegelapan langsung beringsut ke pojok lantai.


Ia nampak duduk sembari memeluk lututnya, tubuhnya mendadak dingin dan gemetar.


"Sialan, ada apa ini Jun ?" umpat Edgar.


"Sepertinya lift sedang gangguan tuan, saya sudah menekan tombol darurat sebentar lagi maintenance pasti akan segera datang." sahut Juno seraya menyalakan penerangan di ponselnya.


Edgar yang melihat Dena dari pantulan dinding depannya itu nampak terkejut saat melihat wanita itu duduk di pojokan lift tersebut. Seketika Edgar langsung berbalik badan untuk melihatnya.


"Dena, kamu baik-baik saja ?" tanya Edgar.


Namun sepertinya Dena tidak mendengarnya karena wanita itu seakan sedang berada di dunia lain, tubuhnya sangat dingin.


Edgar yang khawatir langsung menunduk untuk melihat keadaannya, di lihatnya wanita itu nampak ketakutan.


Entah ada dorongan darimana, tiba-tiba Edgar langsung melepaskan jasnya lalu menyelimutkan pada wanita itu.


"Tenanglah ada saya di sini." lirih Edgar sembari memeluk Dena.


Perlahan tubuh Dena terasa hangat, begitu juga dengan Edgar entah kenapa ia merasa begitu nyaman saat memeluk wanita itu.


"Jun kenapa lama sekali." ucap Edgar kesal.

__ADS_1


"Maintenence sedang memperbaikinya, tuan." sahut Juno.


"Apa Dena baik-baik saja, tuan ?" ucapnya lagi seraya menatap Dena yang berada dalam pelukan bossnya itu, Juno nampak heran dengan sikap peduli Edgar yang biasa selalu cuek dengan orang sekitarnya.


"Badannya sangat dingin, sepertinya dia phobia dengan kegelapan." sahut Edgar.


"Kamu tidak usah berpikir macam-macam Jun, saya hanya tidak ingin karyawan saya mati di area kerja saya." imbuhnya lagi dengan tegas.


"Baik tuan." sahut Juno seraya menaikkan sudut bibirnya ke atas, kentara sekali bossnya itu sedang salah tingkah.


Edgar nampak mencium aroma harum bayi di tubuh Dena, semakin ia mengendusnya dengan kuat semakin menusuk ke hidungnya.


"Apa Dena sudah menikah dan mempunyai anak ?" gumam Edgar, entah kenapa ia jadi merasa kesal sendiri saat membayangkan Dena sudah menikah dan mempunyai anak.


Tentu saja pasti Dena sudah menikah, kebanyakan wanita seusia Dena pasti sudah menikah. Bahkan Sera kekasihnya pun yang mungkin seusia dengan Dena sudah di desak oleh orang tuanya untuk menikah.


Ngomong-ngomong tentang Sera, Edgar masih belum bisa memberikan kepastian pada wanita itu. Ia masih belum yakin dengan perasaannya sendiri, namun ia juga tidak tega melihat wanita itu nampak sedih saat menceritakan bagaimana orangtuanya mendesaknya untuk segera menikah.


Di matanya Sera wanita yang sangat lembut seperti Ariana ataupun ibunya, wanita itu tidak pernah menuntut apapun padanya selama ini. Bahkan wanita itu yang justru selalu perhatian padanya meski terkadang sikapnya pada wanita itu terlalu cuek.


Namun sampai saat ini entah kenapa Edgar masih belum bisa mempercayakan hatinya sepenuhnya untuk wanita itu.


Edgar menyadari, dirinya memang tipe laki-laki yang sangat cuek. Bahkan di usianya yang hampir 30 tahun ia tidak pernah pacaran sebelumnya.


Edgar dan Sera berkenalan saat mereka sama-sama menghadiri sebuah pesta para pembisnis, ayahnya Edgar dan ayahnya Sera adalah relasi bisnis.


Sejak pertemuan itu Edgar mencoba untuk membuka hatinya, apalagi kedua keluarga tersebut sudah memberikan lampu hijau pada mereka.


Beberapa saat kemudian lampu lift langsung menyala, namun sepertinya lift masih berhenti.


Edgar langsung melepaskan pelukannya, ia jadi salah tingkah sendiri saat Dena menatapnya.


"Kamu jangan berpikir macam-macam, saya hanya tidak ingin kamu mati." ucapnya seraya bangkit dari duduknya yang di ikuti oleh Dena.


"Maaf pak saya tidak berpikir seperti yang bapak katakan, terima kasih atas pertolongannya tadi." sahut Dena dengan tegas seraya menatap Edgar, kebiasaan Dena adalah selalu menatap lawan bicaranya tak peduli siapa pun itu.


Edgar yang di tatap Dena seperti itu langsung membuang mukanya, tatapan Dena bagaikan pisau yang perlahan menusuk hatinya.


Bagaimana bisa ada seorang wanita seperti itu, beberapa saat lalu wanita itu begitu rapuh. Namun sekarang bagaikan elang yang siap mencabik-cabik mangsanya.


Kentara sekali tatapan tak bersahabat dari wanita itu, berbeda sekali dengan Sera kekasihnya yang selalu menatapnya dengan lembut.


"Kembalikan jas saya." ucap Edgar dingin.

__ADS_1


Dena yang baru menyadari ada sebuah jas menutupi bahunya, ia langsung mengambilnya.


"Saya akan mencucinya dulu, pak. Maaf sudah merepotkan anda." ucap Dena.


"Tidak perlu, jas saya sangat mahal tidak sembarangan mencucinya." sahut Edgar seraya mengambil jasnya yang sedang di pegang oleh Dena.


"Sombong amat." gerutu Dena kesal.


Setelah itu suasana nampak hening sampai lift berjalan kembali dan berhenti di lantai 7.


"Saya permisi duluan, pak." ucap Dena kemudian melangkahkan kakinya keluar.


Edgar yang sedang kesal nampak malas menjawabnya.


"Silakan Dena." sahut Juno.


Setelah kepergian Dena, Edgar nampak menghela napasnya dengan kasar.


"Biar saya bawa jasnya ke jasa loundry, tuan." ucap Juno kemudian.


"Tidak perlu." sahut Edgar.


"Tapi bukannya anda bilang akan mencucinya tuan ?" tanya Juno tak mengerti.


"Saya akan mencucinya sendiri, loundry langganan Mama sepertinya lebih bersih." sahut Edgar dengan tegas.


"Baik, tuan." Juno nampak mengerutkan dahinya heran dengan sikap tuannya itu.


Sesampainya di dalam ruangannya, teman-temannya Dena itu langsung menggiring Dena ke kursi kerjanya.


"Woy apa-apaan ini." teriak Dena saat Anggi, Nay dan Marlina siap menginterogasinya.


"Kami mendapatkan informasi katanya loe tadi terjebak di dalam lift bersama pak Edgar dan juga pak Juno, apa itu benar ?" selidik Anggi.


"Bagaimana bisa loe satu lift dengan iblis tampan dan asistennya itu ?" kali ini Nay juga ikut menimpali.


"Ya benar, sebelumnya tidak ada karyawan yang berani satu lift dengan pak Edgar apalagi karyawan rendahan seperti kita ?" Marlina yang biasanya tidak kepo kali ini juga ikut-ikutan.


Jangan-jangan kabar dirinya yang satu lift bersama CEOnya itu sudah menyebar seantero kantor.


"Seperti yang loe pikirkan, grup penggemar iblis tampan sudah pada heboh membicarakan kamu di grup chat." tambah Nay lagi.


Dena nampak terduduk lemas di kursinya, apa hebatnya si bossnya itu hingga mempunyai fans yang sangat banyak.

__ADS_1


__ADS_2