
Sementara itu Edgar yang masih berada di dalam ruang kerjanya, nampak menceritakan keluh kesahnya pada sang Ayah.
"Dena tidak pernah mencintaiku, pa." ucapnya yang langsung membuat King terkejut.
"Apa ?" ucapnya.
"Hm, dia mau menerima pernikahan ini karena hanya ingin membalas dendam pada keluarganya." sahut Edgar.
"Tapi bodohnya aku sangat mencintainya." lanjutnya lagi seraya menertawakan dirinya sendiri.
King nampak menghela napas panjangnya, ternyata kisah cinta putranya tak kalah rumit dengan kisah cintanya dulu.
"Sekeras apapun batu jika terus menerus di tetesi air maka lama kelamaan akan terkikis juga, begitu juga dengan Dena. Papa yakin jika kamu lebih bersabar lagi pasti dia akan membalas ketulusanmu." ujar King menasihati.
"Lagipula di antara kalian sudah ada Elkan, kamu hanya tinggal sedikit berusaha saja." imbuhnya lagi meyakinkan.
"Papa benar, tentu saja aku akan berusaha untuk itu." sahut Edgar, meski dirinya kurang yakin.
Karena dulu ia juga pernah berusaha meluluhkan hati Ariana, namun wanita itu tetap tidak mencintainya.
"Kapan kamu akan membawa mereka pulang ?" tanya King kemudian.
"Untuk sementara lebih baik kami menetap di sini, Pa. Tempat ini lebih aman buat mereka. Setelah Dena mendapatkan haknya, biar dia yang memutuskannya sendiri." sahut Edgar.
"Baiklah, kita lihat sampai kapan Winata akan bertahan. Bahkan pihak bank pun bisa ku jamin tidak akan ada yang mau memberikan pinjaman." ucap King.
Dirinya dan Winata memang bersahabat sejak lama, namun mengingat bagaimana perlakuan istri sahabatnya itu terhadap ibu dari cucunya tentu saja ia tidak terima.
"Semoga saja Om Winata mau memberikan 70% sahamnya buat Dena." ucap Edgar.
"Jika dugaan Papa benar jangankan 70% bahkan 100% pun pasti akan menjadi milik Dena." sela King yang langsung membuat Edgar menatapnya bingung.
"Bagaimana bisa Pa, itu tidak mungkin. Karena sepertinya Om Winata lebih sayang sama Sera daripada Dena." ucapnya kemudian.
"Lain ceritanya jika Sera bukan anak kandung Winata." King nampak tersenyum sinis.
"Apa Papa yakin ?" Edgar nampak terkejut.
"Baru dugaanku saja." sahut King.
"Jika itu benar, maka rencanaku akan semakin sukses. Tapi bagaimana cara membuktikan jika Sera bukan anak kandung om Winata ?" Edgar nampak berpikir.
"Kamu tenang saja, itu akan menjadi urusan Papa. Kadang untuk melawan sebuah kelicikan kita juga harus sedikit licik." sahut King.
"Terima kasih, Pa." ucap Edgar senang, ternyata berbicara dari hati ke hati dengan Ayahnya bisa mengurangi sedikit beban pikirannya.
__ADS_1
Di sisi lain tuan Winata nampak mendatangi kantor Arhan, dia berharap laki-laki itu mau membantunya. Meski mereka sudah tidak mempunyai hubungan keluarga tapi paling tidak laki-laki itu harus ikut bertanggung jawab karena perbuatannya dengan Sera hingga berdampak negatif pada perusahaannya.
"Om ?" Arhan nampak terkejut saat melihat kedatangan mantan mertuanya itu di dalam kantornya.
"Saya ingin bicara, apa kamu ada waktu ?" ujar Tuan Winata menegaskan.
"Silakan masuk, Om." Arhan langsung bangkit dari duduknya lalu mengajak laki-laki paruh baya itu duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya tersebut.
"Harusnya saya sudah pensiun jika saja kamu masih menjadi menantu saya." ujar Tuan Winata seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan Arhan yang terlihat mewah itu.
"Saya minta maaf Om, atas beredarnya berita memalukan itu. Sungguh saya tidak tahu siapa yang sengaja membuat berita itu, lagipula itu hanya kisah masa lalu yang tidak perlu di besar-besarkan." ucap Arhan dengan nada penyesalan, namun itu justru membuat Tuan Winata tersenyum sinis menatapnya.
"Tidak perlu di besar-besarkan, katamu? justru karena berita itu, sangat berdampak besar terhadap perusahaan saya." sinis tuan Winata.
"Maaf Om sebelumnya, saya juga tak habis pikir kenapa bisa berdampak pada perusahaan Om. Apa Om tidak merasa curiga sepertinya ada seseorang yang sengaja memanfaatkan keadaan ini untuk menghancurkan perusahaan Om ?" ucap Arhan.
"Saya juga berpikir seperti itu, tapi selama ini saya tidak pernah mempunyai musuh jadi siapa yang sudah tega menusuk saya dari belakang." geram tuan Winata.
"Kalau masalah itu, mungkin Om sendiri yang tahu." sahut Arhan tak ingin ikut campur.
"Perusahaan saya benar-benar sedang genting, apa kamu bisa membantu saya. Saya janji apapun yang kamu minta akan saya berikan. Kamu menyukai Sera kan? baiklah akan saya izinkan jika kamu ingin berhubungan dengan anak itu." mohon tuan Winata.
"Hubungan saya dengan Sera sudah menjadi masa lalu Om, seandainya Om menawarkan Dena pada saya tentu saja saya mau tapi rasanya itu tidak mungkin." sahut Arhan.
"Tapi saya tidak mau berurusan dengan Edgar, Om." sahut Arhan.
Mengingat perusahaannya juga hampir tumbang saat Edgar mengetahui perbuatannya dulu yang sengaja merebut proyek-proyeknya akibat ia sakit hati karena Sera berselingkuh dengan pria itu dan waktu itu juga Edgar langsung membalasnya tanpa ampun.
"Tapi...."
"Maaf saya tidak bisa membantu Om." potong Arhan.
Tuan Winata nampak menghela napas panjangnya, ia juga tidak bisa memaksa Arhan.
Laki-laki paruh baya itu nampak sangat frustrasi, haruskah ia menerima tawaran Edgar memberikan 70% sahamnya atas nama Dena.
"Baiklah mungkin itu jalan yang terbaik, lagipula setelah perusahaan membaik aku bisa membujuk Dena untuk melepaskan sahamnya."
Sementara itu Dena yang sangat merindukan rumahnya, ia ingin membujuk suaminya agar segera mengajaknya pulang.
Lagipula rehabilitasinya sudah selesai, dengan perlahan dirinya juga sudah mulai bisa mengelola emosinya tanpa mengandalkan alkohol lagi.
"Sayang, bisakah kita pulang? aku sangat merindukan rumah." bujuk Dena malam itu saat suaminya baru pulang ke Villanya.
Wanita itu nampak berjalan mengekori suaminya yang melangkah masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Edgar yang sedang melepaskan kemejanya nampak menaikkan sebelah alisnya saat menatap istrinya yang seperti anak kecil yang sedang merengek.
"Aku bosan di sini terus, lagipula Mama Putri juga sudah kembali. Aku jadi merasa kesepian." keluhnya lagi.
Edgar nampak menaruh kemejanya di atas sofa, kemudian ia melangkahkan kakinya mendekati istrinya itu.
"Beberapa hari lagi ya, setelah pekerjaanku selesai." bujuknya seraya memeluk pinggang wanita itu.
Sebenarnya pekerjaannya sudah selesai hanya saja ia menginginkan Dena untuk tinggal di Villanya sementara waktu sampai urusannya dengan ayah mertuanya itu selesai.
"Tapi aku ingin pulang secepatnya." mohon Dena.
"Apa kamu tidak senang tinggal di sini bersamaku, hm ?" tanya Edgar kemudian.
"Tentu saja senang, sayang. Hanya saja aku lebih senang tinggal di rumah." sahut Dena.
Selain rindu dengan rumahnya sebenarnya ia juga kasihan pada suaminya karena harus bolak balik gara-gara ia tinggal di Bali.
Dan entah kenapa sampai sekarang suaminya itu juga belum jujur pada dirinya kalau dia telah diam-diam membantunya membalas dendam pada keluarganya.
Ia pasti akan senang akan hal itu karena ia tak perlu bekerja keras lagi membalas mereka.
"Pulang ya." mohon Dena lagi.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan, sayang ?"
Edgar nampak menatap lekat istrinya itu, meski sekarang Dena sudah terlihat lebih baik dan tidak tergantungan lagi dengan alkohol tapi Edgar yakin wanita itu masih menyimpan dendam pada keluarganya.
Ia bukannya tidak mau jujur jika sudah membantunya, Edgar hanya tidak ingin wanita itu terus menerus memikirkan dendamnya dan menganggap membalas dendam adalah hal yang wajib di lakukan.
Edgar ingin Dena hidup seperti manusia normal dan menganggap kehancuran keluarganya karena sebuah karma dari Tuhan bukan karena dirinya yang telah membantu melakukannya.
Ia ingin ke depannya istrinya itu menjalani hidupnya dengan lurus, meski mungkin tanpa dirinya di sisinya kelak.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya besok pagi kita harus pulang." ucap Dena saat suaminya tak menanggapinya, kemudian ia berjalan menjauh namun Edgar langsung merengkuh tubuhnya kembali lalu langsung meraup bibir istrinya itu dengan rakus.
Dena yang mendapatkan serangan tiba-tiba nampak terkejut, namun kemudian ia membalas ciuman suaminya itu.
Sejak beberapa hari menjalani rehabilitasinya, Edgar tidak pernah menyentuhnya dan saat ini ia sangat merindukan laki-laki itu.
Mereka nampak saling memanggut dan berbagi saliva bersama, Edgar yang juga sangat merindukan istrinya itu langsung melucuti pakaian tidur wanita itu lalu membawanya naik ke atas ranjangnya.
Dan setelah itu hanya terdengar suara ******* dari keduanya saat mereka berbagi peluh demi mencapai puncak kenikmatan bersama.
Berkali-kali Edgar menumpahkan cairan percintaannya di rahim istrinya dengan perasaan kecewa karena ia tahu itu tidak akan membuahkan apapun mengingat wanita itu telah mengkonsumsi obat pencegah kehamilan sebelumnya.
__ADS_1