Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~139


__ADS_3

"Kalau tidak peduli kenapa masih bekerja di kantor calon suamiku atau kamu sengaja ingin menjadi pelakor ya ?" ucap Sera mengejek, ekor matanya nampak menatap Edgar yang sedang menaiki anak tangga.


Ia langsung tersenyum miring, entah apa yang sedang ia rencanakan.


"Oh astaga, jangan-jangan bayi harammu itu hasil kamu jadi pelakor makanya sampai sekarang tidak jelas di mana bapaknya." ejek Sera lagi hingga membuat Dena langsung bereaksi dengan melayangkan tamparannya.


Sera nampak terhuyung, lalu ia sengaja menjatuhkan dirinya ke lantai saat Edgar sudah berada di ujung tangga.


"Dari dulu aku yang akan selalu menang." gumam Sera dalam hati, nampak senyum kemenangan di sudut bibirnya.


"Dena, apa yang kamu lakukan ?" teriak Edgar nyaring saat melihat wanita itu menampar kekasihnya hingga terjatuh ke lantai.


Dengan cepat Edgar langsung membantu Sera berdiri. "Kamu baik-baik saja ?" ucapnya khawatir.


"Aku nggak apa-apa kok sayang, mungkin aku yang salah karena memaksa membantu kak Dena padahal dia tidak mau." ucap Sera memelas.


Edgar menatap tajam Dena, sedangkan Dena membalasnya dengan sinis. Pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat, namun Kemudian Dena segera berlalu pergi dengan membawa barang-barang ibunya.


Sesampainya di lantai bawah Dena menatap lekat kedua orangtuanya Edgar, seakan ia ingin memastikan kalau kakek dan neneknya putranya itu orang baik atau sama saja seperti keluarganya.


Dena sedikit mengangguk ketika pandangan mereka bertemu, setelah itu ia segera melangkahkan kakinya keluar.


"Tunggu !!" hardik Tuan Winata saat putri sulungnya itu melewatinya begitu saja.


Dena langsung berhenti tanpa berbalik badan, ia sungguh muak dengan keluarganya itu. Ia berharap ini pertemuan terakhir mereka.


"Apa begitu caramu bersikap pada orangtua, hah ?" bentak tuan Winata yang langsung membuat Dena berbalik badan menatapnya.


Dena tersenyum sinis. "Saya bersikap sesuai dengan perbuatan lawan bicara saya, jadi jika saya bersikap seperti ini harusnya anda introspeksi diri." cibir Dena.


Plakkk


Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi putih Dena hingga meninggalkan bekas telapak tangan di sana, bahkan ujung bibir Dena nampak mengalir darah segar.


Edgar yang sedang menuruni tangga bersama Sera, tiba-tiba dadanya terasa sesak saat melihat itu.


"Dasar anak kurang ajar, sudah di besarkan tapi tidak tahu terima kasih. Begini caramu membalas kebaikan Papa selama ini, Apa salahnya Mamamu dan juga Sera hingga bertahun-tahun kamu memusuhi mereka ?" hardik tuan Winata.


"Salahnya Papa tidak pernah mempercayaiku." sahut Dena menatap tajam ayahnya, kemudian ia segera meninggalkan Mansion mewahnya tersebut tanpa mau berdebat lebih lama.


Karena jika itu terjadi maka ibu tirinya itu pasti akan mulai berakting tersakiti dan pada akhirnya ia yang akan tetap bersalah.


Dena mengusap sudut bibirnya yang terasa basah dan berbau anyir, lalu segera masuk ke dalam mobilnya


Kemudian ia memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, Dena seakan sedang menantang kematiannya. Namun di saat wajah putranya menari-nari di pikirannya, dengan perlahan ia mengurangi kecepatannya.

__ADS_1


"Maafkan Mama Nak."


Sepertinya Dena tidak bisa langsung pulang saat keadaannya kacau seperti ini, ia harus menenangkan dirinya dan dia tahu di mana tempat yang membuatnya merasa lebih baik.


Dena menatap sebuah bangunan megah berlantai tiga di depannya itu, nampak dua pria berbadan kekar sedang berdiri di pintu masuk.


Sudah lama sekali ia tidak pernah menginjakkan kakinya di sini.


"Selamat datang Nona Dena, sudah lama sekali anda tidak kemari." sapa seorang pria berbadan kekar dengan tersenyum ramah.


Dena hanya membalasnya dengan tersenyum tipis, kemudian ia memberikan beberapa lembar uang pada mereka lalu ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam bar tersebut.


"Hai Jem ?" sapa Dena saat duduk di depan meja bartender.


"Oh Astaga apa gue sedang bermimpi ?" seorang bartender bernama Jem nampak terkejut saat melihat Dena sudah duduk di hadapannya.


"Anggap saja mimpi." sahut Dena dengan senyum masamnya.


Melihat Dena yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja, Jem urung bertanya lebih jauh lagi. Ia langsung memberikan wanita itu segelas alkohol racikan favoritnya.


"Dimana Nina ?" tanya Dena seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut bar tersebut.


"Nina sudah lama berhenti." sahut Jem.


"Pulang kampung ?" tanya Dena penasaran.


"Benarkah? aku ikut senang, semoga dia selalu bahagia. Dia terlalu bekerja keras selama ini." ujar Dena mengingat bagaimana wanita yang bernama Nina itu tak pernah lelah bekerja siang dan malam.


Dena mengenal Nina di Bar ini juga, Dena sebagai pengunjung dan Nina sebagai pelayan waktu itu.


Dulu Nina sering sekali mengantarnya ke hotel atau pulang ke rumahnya saat dirinya mabuk berat.


Sejak saat itu mereka mulai berteman, bahkan Dena tak segan berbagi cerita dengan wanita itu.


Namun sejak ia menikah dengan Arhan, Dena jarang sekali ke Bar. Apalagi sejak dirinya hamil, ia sama sekali tak pernah datang lagi.


Dena nampak membawa gelasnya ke sebuah meja kosong, ia mulai menyalakan pematik rokoknya.


Dena sadar perbuatannya ini tidak benar, tapi ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya berhenti. Setiap ada masalah ia hanya melampiaskannya pada minuman atau benda pipih berwarna putih itu.


Saat Dena akan menyesap minumannya kembali, tiba-tiba gelasnya di rebutan oleh seseorang. Dena langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berani mengganggunya.


Dena selalu membayar beberapa security di sana untuk melindungi dirinya saat mabuk, maka dari itu Dena selalu merasa aman.


"Ck." Dena langsung berdecak kesal saat melihat mantan suaminya itu tanpa permisi duduk di hadapannya.

__ADS_1


Dena ingin merebut gelasnya yang masih menyisakan sedikit isinya, namun Arhan langsung meneguknya hingga tandas.


Dena yang kesal nampak mengangkat sebelah tangannya ke arah Jem yang langsung di sambut oleh laki-laki itu dengan acungan jempolnya.


"Kenapa selalu melakukan ini, apa kamu tidak kasihan dengan anakmu ?" ucap Arhan menatap miris Dena.


Wanita itu benar-benar berantakan, wajahnya polos tanpa make up dan hanya mengenakan celana pendek serta kaos rumahan yang kebesaran.


Pipinya terlihat merah memar, di sudut bibirnya masih terlihat bekas darah yang mengering. Bagi Arhan itu bukan pertama kalinya ia melihat Dena seperti itu.


Karena setiap bertengkar dengan Ayahnya, Dena selalu terlihat berantakan seperti saat ini.


"Lebih kasihan lagi jika anakku melihatku sedih dan menangis, paling tidak setelah ini aku akan pulang dalam keadaan tersenyum di depannya." sahut Dena seraya mengambil gelasnya yang di bawakan oleh seorang pelayan sebelum mantan suaminya itu merampasnya kembali.


Dena langsung meneguknya hingga tandas meski kini tenggorokannya terasa terbakar, namun ia merasa lebih baik setelah itu.


"Menikahlah denganku Dena, aku janji akan membuatmu melupakan bagaimana rasanya bersedih." ujar Arhan memohon.


Selama ini Arhan sudah berusaha untuk melupakan Dena, namun tidak bisa. Hidupnya di penuhi rasa sesal karena telah menyakiti wanita itu.


"Kamu tahukan prinsip hidupku? tidak ada kesempatan kedua untuk sebuah penghianatan." sahut Dena yang mulai merasakan pengar di kepalanya.


"Bagaimana kalau kita mulai berteman, kamu mau kan berteman denganku ?" mohon Arhan, ia akan mendekati Dena pelan-pelan.


Dena tak menghiraukan Arhan ia terus saja menyesap minumannya hingga mulai mabuk.


"Stop Dena, kamu sudah terlalu banyak minum." Arhan menahan tangan Dena saat hendak mengambil gelasnya kembali.


"Memang kenapa kalau aku banyak minum, bukannya ada kau teman. Teman akan mengantarku pulang kan." racau Dena yang sepertinya mulai mabuk.


"Tentu saja aku akan mengantarmu pulang." Arhan nampak menjauhkan gelas berisi alkohol tersebut, kemudian ia membantu Dena berdiri.


Namun dua orang security serta Jem langsung mendatanginya.


"Mau anda bawa kemana nona Dena, tuan ?" hardik Jem.


"Tentu saja mengantarnya pulang." sahut Arhan.


"Nona Dena tanggung jawab kami, kami yang akan mengantarnya pulang." tegas salah satu security tersebut yang memang biasanya selalu mengantar Dena saat wanita itu sedang mabuk seperti saat ini.


"Saya bukan orang lain, saya mantan suaminya. Biar saya yang mengantarnya pulang." Arhan menunjukkan foto pernikahannya bersama Dena yang masih ia simpan di dalam dompetnya.


Setelah melihat itu security tersebut nampak menganggukkan kepalanya pada Jem dan membiarkan Arhan membawa Dena pergi.


Namun ketika Arhan akan beranjak pergi, beberapa orang sudah menghadangnya.

__ADS_1


"Dena akan pulang bersama saya." tegas Edgar bersama dengan Juno dan beberapa laki-laki bertubuh kekar di belakangnya.


__ADS_2