Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~221


__ADS_3

"Silakan."


Dengan memaksakan senyumnya Olive menawarkan minuman pada para tamu undangan di pesta tersebut.


"Pelayan kemarilah." Sarah yang melihat Olive tak jauh darinya langsung memanggilnya.


"Berikan kami minuman itu." ucapnya lagi ketika Olive berjalan mendekatinya.


"Silakan Nona." Olive menunjukkan nampannya agar Sarah bisa memilih minumannya.


"Rick, kamu mau minum apa ?" tanya Sarah.


Ricko yang sedang sibuk dengan ponselnya langsung mengangkat kepalanya menatap Sarah.


"Cola saja." sahut Ricko menatap nampan yang di bawah oleh Olive.


"Aku juga." Sarah langsung mengambil dua gelas berisi Cola.


Setelah itu Olive segera menjauh dari sana, namun tanpa ia tahu Ricko nampak menatap kepergiannya.


"Nona, bisa berikan saya minuman itu." pinta Demian saat melihat Olive melewatinya.


"Silakan, tuan." dengan ramah Olive menyerahkan minuman yang di minta oleh Demian.


"Kamu bekerja di sini juga ?" Demian nampak terkejut saat melihat Olive, padahal tadi siang gadis itu bekerja di restoran tapi malamnya masih bekerja lagi di hotel ini.


"Benar, tuan." sahut Olive lagi-lagi dengan senyum ramahnya, ia nampak senang bisa bertemu dengan ayahnya lagi.


"Kamu gadis pekerja keras." puji Demian.


"Terima kasih, tuan. Kalau begitu saya permisi." sahut Olive, kemudian ia berlalu pergi sebelum air matanya tumpah karena begitu merindukan pria itu.


Beberapa saat kemudian setelah semua tamu sudah terlayani dengan baik, Olive yang berdiri di pojok ruangan nampak memperhatikan Ricko yang sedang bercanda gurau dengan Sarah.


Dadanya rasanya sesak melihat pemandangan itu, kemudian ia memutuskan untuk berlalu pergi ke belakang. Sepertinya ia butuh istirahat sejenak, karena tubuhnya terasa sangat lelah.


"Kamu bagaikan rembulan, hanya bisa ku lihat namun tak bisa ku sentuh." gumam Olive seraya menatap bulan yang bersinar terang di angkasa.


"Wanita itu sepertinya lebih pantas bersamamu, derajat kalian sama. Sedangkan aku siapa, hanya seorang pelayan rendahan." gumamnya lagi, tak terasa air matanya menetes tanpa bisa ia cegah.


"Kamu baik-baik saja ?"


Olive yang sedang duduk di area belakang hotel tersebut nampak tercengang saat Demian tiba-tiba berbicara padanya, ia langsung menyeka air matanya lalu beranjak dari duduknya.


"Tu-tuan ?" ucapnya kemudian saat menatap Demian.


"Kamu baik-baik saja ?" tanya Demian lagi.


"Sa-saya baik-baik saja, tuan." sahut Olive.


"Tapi kamu terlihat pucat." Demian menatap lekat Olive.


"Saya baik-baik saja, tuan." sahut Olive meyakinkan.

__ADS_1


"Kalau sakit pulanglah, biar saya bicara dengan Manager kamu." tukas Demian merasa kasihan pada Olive, gadis itu sepertinya terlalu bekerja keras.


"Saya baik-baik saja, tuan. Terima kasih atas perhatiannya." sahut Olive dengan sopan.


"Wajahmu terlihat pucat." Demian memperhatikan wajah Olive lagi.


"Saya hanya sedikit sedih, karena hari ini ulang tahun ibu saya." sahut Olive beralasan.


Meski sebenarnya hari ini memang hari ulang tahunnya Monica mendiang ibunya, tapi mungkin Demian tidak akan pernah mengingatnya. Karena ayahnya itu memang tidak pernah peduli dengan ibunya.


"Kalau begitu pulanglah, temui ibumu di rumah." tukas Demian.


"Tapi ibu saya sudah tiada." sahut Olive berkaca-kaca, namun ia segera memalingkan wajahnya agar ayahnya itu tidak melihat kesedihannya.


"Baiklah, saya harus kembali bekerja. Permisi." imbuhnya lagi, kemudian berlalu pergi meninggalkan Demian yang masih berdiri mematung.


Gadis itu bukan siapa-siapa baginya, bahkan ia baru bertemu hari ini tapi entah kenapa ia merasa seperti pernah dekat sebelumnya.


"Mungkin hanya perasaanku saja." gumam Demian, setelah itu ia kembali masuk ke dalam hotel tersebut.


Namun tanpa ia tahu, Ricko nampak mengawasinya dari kejauhan.


Beberapa hari kemudian....


Setelah pesta anniversary pernikahan Dena waktu itu, Martin dan Sera kembali ke California. Begitu juga dengan Demian dan Ariana, mereka juga kembali ke Indonesia.


"Maaf tuan, anda mau pesan apa ?" tanya Olive saat Ricko baru masuk ke dalam restorannya.


Ricko yang sebelumnya tak pernah menatap Olive secara langsung, kini pria tampan itu sengaja menatap gadis di depannya itu. Namun tatapannya dingin dan tak bersahabat.


Deg!!


Olive melebarkan matanya, ia nampak tak percaya dengan ucapan yang keluar dari bibir pria yang diam-diam ia cintai itu.


"Apa maksud anda, tuan ?" tanyanya kemudian.


"Kamu sengaja kan mencari perhatian ayahku agar pelan-pelan kamu bisa menjeratnya, tingkah wanita murahan sepertimu mudah terbaca oleh ku nona." cibir Ricko lagi.


Plakk


Olive yang tidak terima dengan ejekan pria itu, ia langsung menamparnya dengan keras.


"Kamu boleh menghina pekerjaanku, tapi jangan pernah sekali-sekali menghina harga diriku." geramnya dengan menatap tajam Ricko.


Sedangkan Ricko nampak tersenyum sinis menatapnya.


"Murahan." geramnya, kemudian ia langsung mengambil tas punggungnya lalu segera meninggalkan restoran tersebut dengan kesal.


"Sialan, padahal tubuhnya kecil tapi keras juga tamparannya." gerutunya dalam hati seraya memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan gadis itu tadi.


Setelah kepergian Ricko, Olive langsung berlari ke belakang. Ini yang ia takutkan selama ini jika berkata jujur pada Demian.


Dari dulu Ricko tidak pernah menyukainya karena menganggap dirinya telah merebut ayahnya, maka dari itu jika ia mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya ia takut Ricko akan semakin membencinya.

__ADS_1


"Tuhan, apa aku mencintai orang yang salah? Jika itu benar, tolong bantu aku untuk melupakannya."


Sejak kejadian itu, Tuhan seakan menjawab doa Olive. Karena Ricko tidak pernah datang ke restorannya lagi.


Namun ternyata tak semudah itu Olive bisa melupakannya, cintanya sudah bercokol bertahun-tahun di hatinya dan dia butuh waktu untuk menghapusnya.


"Nona, berikan kami minuman hangat." ucap beberapa pria saat baru masuk ke dalam restorannya.


"Baik, tuan." sahut Olive berjalan ke arah mereka sambil membawa buku menu, namun langkahnya langsung terhenti saat melihat Ricko juga Sarah ada bersama mereka.


"Silakan mau pesan apa ?" ucapnya kemudian setelah memberikan buku menu.


"Lima cappucino dan hotdog." sahut seorang pria.


"Baiklah, tunggu sebentar ya." Olive nampak mencatat pesanan tersebut, kemudian ia segera menyiapkan pesanan mereka.


Beberapa saat kemudian, Olive kembali dengan nampan di tangannya.


"Nona, apa kamu orang Asia ?" tanya seorang pria saat Olive meletakkan pesanan mereka di atas meja.


"Benar tuan, tapi saya besar di negara ini." sahut Olive.


"Kamu sangat cantik, Nona." puji temannya Ricko tersebut.


"Terima kasih, tuan. Semua wanita pasti cantik." sahut Olive.


"Tidak, sepertinya kamu lebih cantik. Wajahmu imut tahu nggak dan aku sepertinya tidak akan bosan memandangmu." rayu pria tersebut.


"Dasar buaya." gumam Olive.


"Terima kasih tuan atas pujiannya, kalau tidak ada yang di pesan lagi saya permisi." ucapnya dengan tersenyum ramah, kemudian ia berlalu pergi.


"Dasar murahan." gumam Ricko menatap kepergian Olive.


"Pelayan itu benar-benar cantik, kenapa aku baru menyadarinya." ucap pria bernama Rafael itu.


"Seleramu terlalu rendahan." cibir Ricko yang tiba-tiba merasa kesal saat sahabatnya itu kagum pada Olive.


"Sepertinya dia gadis yang baik." Rafael makin memujinya.


"Sebaiknya lupakan pelayan itu, sepertinya dia lebih menyukai pria yang lebih tua." ucap Ricko menanggapi.


"Dari mana kamu tahu ?" kali ini Sarah yang menimpali.


"Siapa tahu dia mau memperbaiki hidupnya." sahut Ricko menatap kesal pada Olive yang nampak sedang melayani pelanggan lainnya.


Gadis itu terlihat ramah saat menyapa dua pria dewasa yang baru masuk ke dalam restorannya.


"Nona kamu sangat cantik." puji pria tersebut.


Sedangkan Olive hanya menanggapinya dengan senyuman ramahnya, baginya sudah biasa mendapatkan pujian atau rayuan seperti itu.


"Benar-benar murahan." gumam Ricko menatapnya dengan kesal.

__ADS_1


.


Maaf ya guys telat update, kemarin Othor lagi kurang sehat 🤗🤗


__ADS_2